
Sebenarnya Laila terlalu malas dengan acara pesta ini. Sebelumnya Laila selalu beralasan untuk tidak datang ke acara-acara seperti ini. Tapi, karena di tantang oleh Ardiansyah dan juga untuk membatu Akira, Laila terpaksa harus ikuti datang.
Laila sudah mengenakan dress panjang berwana navi yang sangat cantik di tubuhnya ketika keluar dari butik sekaligus salon.
"Kira, kita pulang ja yuk!" Ajak Laila.
Laila menarik lengan baju Akira sambil hendak berablik ke arah parkir.
Akira menarik lengan Laila meanahannya, agar Laila tidak pergi.
"Kenapa?" Tanya Akira lembut.
"Kakak nggak pernah datang ke acara begini." Jelas Laila sambil meremas kedua tangannya.
"Coba tenang dulu ya!" Ucap Akira perlahan.
"Nggak bisa Kira!" Laila menggelengkan kepalanya sambil melihat ke arah kanan dan kirinya yang sudah begitu banyak orang.
"Coba tarik nafas dulu!" Perintah Akira sambil mengangkat tangannya.
Laila mengikuti perintah Akira dan menarik nafas sebanyak yang dia bisa, sambil menutup kedua matanya.
"Hembuskan!" Perintah Akira sambil menurunkan tangannya.
Laila menghembuskan nafasnya pelan sambil mengikuti intruksi Akira. Laila membuka kedua matanya melihat Akhir yang tersenyum di depannya, malah membuat jantung Laila berdetak tidak normal.
"Sudah mendingan?" Tanya Akhir sambil mensejajarkan wajahnya dan Laila.
"Nggak!" Ucap Laila frustasi.
"Biasanya kalau lagi sidang gini juga?" Tanya Akira aneh.
Laila hanya menggelengkan kepalanya sambil menahan tangis.
"Terus kenapa di sini jadi nggak bisa?" Tanya Akira.
"Beda Akira!" Ketus Laila sambil menghentakkan kakinya.
"Apa bedanya?" Tanya Akira lagi.
"Banyak orang mungkin?" Jawab Laila asal.
"Emang di ruang sidang nggak ada orang?, bukannya malah Kak Laila jadi pusat perhatian kalau di dalam ruang sidang?" Tanya Akira.
"Itu beda, Ki...ra!" Tegas Laila sebal.
"Kalau memang beda coba sebutkan bedanya?" Tantang Akira.
"Nggak tau!"
"Oke, kita masuk ya?" Ajak Akira lembut.
Laila menggeleng sambil menarik Akira menjauh dari tempat pesta tersebut.
"Anggap ja kita lagi di ruang sidang!" Ucap Akira.
"Emang boleh?" Tanya Laila samb tersenyum
__ADS_1
"Anggap ja bisa!" Akira menjawab asal.
Laila memasuki tempat acara bersama dengan Akira. Akira menggandeng lengan Laila, dan mengajak Laila bercanda.
"Cantiknya pacar aku!" Goda Akira sambil mencolek dagu Laila.
" Ish, nggak usah aneh-aneh, Kira!" Omel Laila sambil menepis tangan Akira.
Laila tersenyum mendengar ucapan Akira yang mengatakan cantik. Dalam hatinya Laila bahagia Akira menyebut dirinya cantik.
"Nggak aneh kok, cuman macem-macem ja, Sayang!" Akira mencoba mengajak Laila berbica dan menggodanya, agar Laila tidak terlalu tegang.
"Sama ja, Kira!" Omel Laila.
Akira tidak menanggapi lagi ucapan Laila, hanya tersenyum dan sesekali mengelus lengan Laila yang berada di genggamannya. Hal itu membuat Laila sedikit tenang.
Akira menuntun Laila menuju ketengah ruangan menemui beberapa kenalan Akira dan juga kolega-kolega perusahan sang kakek.
Akira menyapa temannya yang kebetulan juga datang ke acara itu.
"Bayu, apa kabar?" Tanya Akira sambil menjabat tangan lawan bicaranya.
"Baik...Baik. Sudah lama ya kita nggak ketemu!"
"Kenalkan dulu Laila!" Ucap Akira memperkrnalkan Laila kepada Bayu.
"Bayu, teman Akira sejak kuliah!" Ucap Bayu memperlakukan diri.
"Laila!" Ucap Laila tersenyum sopan.
"Wah, Akira yang selalu datang sendiri dan menolak gadis-gadis mendampinginya, akhirnya membawa bidadari juga?" Ucap Bayu menggoda Akira.
Akira hanya menanggapi dengan senyum, dan sesekali menoleh ke arah Laila.
" Jadi ini yang kamu simpan dari dulu?" Bisik Bayu yang masih bisa di dengar oleh Laila.
Laila yang mendengar itu mengerutkan kening dan hendak bertanya kepada Akira. Namun, hal itu di urungkan, karena takut malah akan membuat curiga Aldiansyah yang kebetulan ada disana juga.
"Jadi kalian kenal sudah lama?" Tanya Aldiansyah heran.
"Iya!" Jawab Akira tegas.
Akira sebenarnya malas berurusan dengan Aldiansyah, tapi mau tidak mau mereka tetap harus bertemu. Karena paling tidak Aldiansyah lah yang membuat Akira bisa mengajak Laila ke pesta ini.
"Jadi aku di tolak dulu gara-gara dia?" Ucap Aldiansyah menghina.
"Kalaupun iya, itu sudah tidak masalah lagi bukan untuk tuan Aldiansyah yang terhormat?" Tanya Laila balik dengan sarkas.
"Tentu saja tidak!" Jawab Aldiansyah sinis.
"Jadi ini beneran yang kamu cari-cari dulu?" Tanya Bayu sambil sedikit berbisik di telingan Akira. Namun, masih dapat di dengar oleh Aldiansyah maupun Laila.
Akira hanya tersenyum dan mengangguk saja menanggapi pertanyaan dari Bayu.
"Pantes kamu nggak mau sama yang lain, yang ini kualitas super oke!" Puji Bayu.
"Kami pamit dulu ya, Bay!" Ucap Akira menepuk pundak Bayu.
__ADS_1
"Mau kemana?" Tanya Bayu.
"Mau nemuin calon cucu menantu ke kakek dulu!" Ucap Akira sambil berlalu.
"Kira, kira beneran mau ketemu kakek kamu?" Tanya Laila berbisik.
"Iya, kan itu memang tujuan kita?" Ucap Akira sambil menoleh ke Laila.
Akira menarik Laila ke arah sang kakek.
"Kakek!" Sapa Akira setelah sampai di depan sang kakek.
"Kamu kenapa baru datang?" Tanya Kakek melihat Akira yang baru datang menayapanya, padahal acara pesta sudah di mulai sejak tadi.
"Sudah lama, tapi malas bertemu Kakek!" Goda Akira sambil merangkul sang Kakek penuh cinta.
"Dasar anak nama!" Kakek menjewer kuping Akira di depan semua tamu undangan yang ada disana dengan sangat gembira.
Akira adalah cucu kesayangan dari anak peremuan satu-satunya. Jadi Akira menjadi kesayangan sang Kakek.
Akita melepas rangkulan dari Kakek, lalu menggenggam tangan Laila yang beda tepat di belakangnya.
Kakek yang secara tidak sengaja melihat tangan sang cucu tercinta menggenggam tangan seorang gadis mengerutkan keningnya, dan bertanya.
"Jadi dia siapa?" Tanya Kakek sambil tersenyum.
"Ini adalah perempuan yang sering Akira cerita kan pada Kakek dari dulu!" Ucap Akira.
"Laila, Tuan!" Ucap Laila hormat, sambil mengulurkan tangan ke arah Kakek.
Kakek menerima uluran tangan Laila dengan senang, pasalnya Akira tidak pernah membawa wanita manapun dari dulu.
"Panggil kakek saja seperti panggilan Akira kepadaku!" Ucap Kakek sambil menepuk punggung tangan Laila yang ada pada genggamannya.
Laila tersenyum kikuk, merasa bersalah telah membohongi Kakek Akira dengan berpura-pura menjadi pasangannya.
"Baik...Tu...Kakek!" Ucap Laila yang belum terbiasa dengan panggilan Kakek.
****
bersambung
Maaf udah lama nggak upload, dunia nyata lagi tidak baik-baik saja. awalnya saya kira bisa lancar nulis ketika kerjaan selesai, ternyata kerjaan memang selesai tepat waktu, tapi masalah datang juga tepat waktu.
Baca karya aku yang lain juga yok ada
Ruang Dosen (10 bab)
JODOH: Cinta Pertama (29 bab)
__ADS_1