Brondong Meresahkan

Brondong Meresahkan
14. Cerita


__ADS_3

"O?" Tanya Laila yang sudah sangat ingin memukul kepala Akira. Kalau saja Akira hanya teman adiknya seperti beberapa tahu lalu, Laila sudah pasti akan memukul kepala manusia satu ini. Namun, kini Laila harus berfikir beberapa kali lagi untuk hanya sekedar menyentuk kulit mahal orang di sampingnya ini.


***


Laila memandang Wajah Akira cukup lama. Ia baru sadar bahwa Akira memiliki wajah yang tampan khas wajah orang jepang yang begitu kental.


"Ternyata kamu lumayan tampan juga ya!" Ucap Laila tanpa sadar.


Laila masih asik mengamati wajah Akira sambil menopang dagunya menggunakan kedua telapa tangannya.


Akira yang mendengar kalimat yang keluar dari mulut Laila, yang mungkin di ucapkan Laila secara tidak sadar itu, telah membuat jantung Akira berdegub tidak begitu normal.


"Ini kakak lagi serius atau mau ngeledek Akira aja?" Tanya Akira sambil menyentil hidung Laila.


"Bercanda apa?" Tanya Laila bingung. Pasalnya, Laila berfikir sejak tadi ia hanya berbicara di dalam hati saja.


"Nggak usah di bahas aja dec Kak!" Potong Akira.


"Kok nggak usah di bahas?" Tanya Laila.


"Kak Laila nggak mau nanya apa-apa gitu tentang acara pengenalan aku tadi disana?" Tanya Akira.


"Nggak perlu Akira!" Jawab Laila.


"Kak Laila nggak mau tahu tentang hidup Akira setelah kita berpisah?" Tanya Akira dengan muka sedih.


"Bukan nggak mau tahu!" Jawab Laila cepat.


"Lalu?" Tanya Akira dengan wajah sedikit tidak enak.


"Begini, kalau kamu mau cerita tentang hidup kamu yang sudah kamu lewati dulu..." Jawab Laila. Ia menghela nafas sejenak.


"Kamu akan cerita, tanpa harus aku tanya Kira!" Tegas Laila.


Akira tersenyum mendengar ucapan Laila.


"Kak, Laila selalu saja begitu!" Jawab Akira.


"Kakak kan emang begini, Kira!" Tegas Laila.


"Kak, Kira sebenarnya pengen banget cerita." Ucap Akira melirik sejenak Laila.


Akira lalu memandang langit malam yang hitam legam, di taburi oleh ribuan bintang di atas sana.


"Lalu, kenapa kamu nggak cerita ke kakak?" Tanya Laila.


Laila memandangi gedung hotel yang ada di depannya, Laila masih bisa melihat seluit beberapa orang yang berlalu-lalang di sana.

__ADS_1


"Kakak, akan punya banyak waktu nanti untuk mendengarkan cerita saya!" Ucap Akira.


Akira mema damandangi wajah cantik Laila yang begitu tegas. Akira tahu Laila menyimpan begitu banyak beban yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapapun.


"Sebenarnya kamu mau cerita nggak sih Kira?" Tanya Laila mulai geram sendiri dengan Akira.


"Kita balik kedalam aja yok, Kak!" Ajak Akira sambil berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Laila.


Laila menerima uluran tangan Akira, dan berdiri di samping Akira.


"Kalau disana pasti kakak, bakal dapat cerita lengkap dari kakek kan?" Tanya Laila.


"Bisa jadi iya, bisa juga nggak !" Jawab Akira penuh misteri.


"Kenapa iya, dan kenapa tidak?" Tanya Laila yang masih berjalan di samping Akira, dengan memandang wajah sebelah kiri milik Akira.


"Kalau iya, artinya Kak Laila harus bersiap-siap jadi istriku sesungguhnya." Jawab Akira dengan satu tarikan nafas cepat.


"Kalau nggak, artinya aku aman kan?" Tanya Laila.


"Siapa yang bilang?" Tanya Akira balik.


"Ya kalau kakek nggak cerita artinya aku bisa hidup damai lagi tanpa harus di ganggu oleh kisah cinta kamu kan?" Tanya Laila.


"Kalau Kakek tidak setuju, malah karir kaka yang akan hancur lebur, seperti abu yang di lepas dari atas gedung burj khalifah. Tau kan artinya apa?" Tanya Akira.


"Telat sekali kak Laila, dan yang paling..." Belum sempat Akira menyelesaikan kata-kata sudah di potong oleh Laila.


"Nama yang pernah ku miliki dalan dunia hukum hanya menjadi sebuah debu yang tak pernah terlihat, bahkan oleh teman satu kantorku dulu sekalipun?" Tanya Laila panik.


Laila pernah mendengar tentang Keluarga besar Akira yang seorang pengusaha terkenal. Yang tidak akan melepaskan siapapun orang yang telah mengusik hidupnya.


Laila yang memang sudah lama tahu tentang itu, tidak pernah berani berurusan langsung dengan perusahaan Kakek Akira hingga saat ini. Bukan, hingga tadi sebelum berangkat ke pesta ini.


Laila meneguk ludahnya sendiri untuk sedikit menenangkan hatinya yang sudah gundah gulana, dengan nasibnya nanti.


"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan kakak, kamu harus tanggung jawab Akira!" Omel Laila sambil mencubit pinggang Akira.


"Siap, Kira bakal tanggung jawab dengan semua perbuatan Akira kok!" Ucap Akira cukup keras karena kaget dengan cubitan Laila.


"Maksud kalian apa?" Tanya Kakek yang sudah berdiri di belang mereka berdua.


Laila yang cemas sendiri dengan nasibnya nanti, tidak sadar telah memasuki tempat cara sejak tadi.


"Nggak ada kok kek!" Ucap Laila sambil tersenyum.


"Kakek sudah makan?" Tanya Akira mengalihkan pertanyaan sang kakek.

__ADS_1


"Kalian tidak melakukan hal yang aneh-aneh di hotel ini kan?" Tanya Kakek penuh selidik.


"Aneh?" Tanya Laila yang takut.


Laila takut bahwa penyamarannya sebagai kekasih pura-pura Akira akan terungkap sebentar lagi, dan karir yang sudah di perjuangkan olehnya sejak dulu, akan hancur seketika.


"Aneh apa Kek?" Tanya Akira sambil mengerlingkan matanya. "Kalau yang kakek maksud 'aneh-aneh' itu.." Akira menjeda kata-katanya sambil mengisyaratkan kata aneh-aneh dengan tanda kutip menggunakan kedua tangannya.


Kakek yang melihat itu sedikit melotot dengan kelakuan nakal Akira. Kakek takut Akira kembali membuat lnar seperti saat mereka berada di jepang dulu.


"Adalah membuatku Kakek cici, Akira bisa saja melakukannya sekarang!" Ledek Akhir sambil tersenyum seperti iblis.


"Dasar tidak berubah!" Omel sang Kakek sambil memukul Akira.


"Apa yang tidak berubah kek?" Tanya Laila yang penasaran arah pembicaraan kakek dan cucu ini.


"Akira belum pernah cerita ke kamu?" Tanya Kakek mengambil lengan Laila dari genggaman Akira.


Laila menggelengkan kepalanya dan memasang muka sedih. Laila berfikir harus bisa mengambil hati Kakek, agar karirnya dapat berjalan dengan lancar. Hingga Akira dapat membawa sang pujaan hati ke hadapan kakeknya.


"Kalau begitu kita cari tempat duduk dulu!" Ajak Kakek menununtun Laila ke kursi terdekat dari tempat mereka berdiri. Meninggalkan Akira yang masih tegak di tempat tadi.


Laila membatu Kakek duduk di kursinya. Lalu Laila dengan semangat mengatur posisi untuk mendengarkan cerita apapun tentang Akira, selama mereka tidak bertemu bertahun-tahun ini.


***


bersambung


Maaf udah lama nggak upload, dunia nyata lagi tidak baik-baik saja. awalnya saya kira bisa lancar nulis ketika kerjaan selesai, ternyata kerjaan memang selesai tepat waktu, tapi masalah datang juga tepat waktu.


Baca karya aku yang lain juga yok ada




Ruang Dosen (14 bab)




JODOH: Cinta Pertama (46 bab)



__ADS_1


__ADS_2