
"Jadi gimana?" Tanya Akira lagi setelah mereka sampai di depan rumah Laila.
"Apa?" Tanya Laila tidak begitu paham arah pembicaraan Akira.
"Kita menikah?" Tanya Akira.
"Bercandanya nggak lucu, Kira!" Jawab Laila, sambil hendak membuka pintu mobil di sampingnya.
Tangan Kanan Laila di tarik oleh Akira cukup kuat untuk menahan dia agar tidak bisa keluar dari mobil yang mereka tempati.
***
"Coba Kamu lihat dengan baik kedua mataku!" Perintah Akira tak ingin di bantah.
Laila yang kaget dengan perlakuan Akira akhirnya memilih untuk mengalah da menatap bola mata Akira dengan sungguh-sungguh.
Akira tahu bahwa Laila tidak mungkin menganggap apa yang ia katakan itu serius, karena bagaimana pun wanita di depannya ini pasti menganggap dirinya sebagai anak kecil teman adiknya.
"Lalu?" Tanya Lail jengah.
Laila menatap kedua bola mata Akira seperti mengatakan ketulusan dan juga kejujuran dari dalam hatinya.
"Apa kamu ada kebohongan dari kedua mataku?" Tanya Akira serius.
'Tidak ada kebohongan disana' Pikir laila.
'Deg...deg...deg..." Lalu Laila yang merasa debaran aneh di dadanya ketika memandang teman adiknya ini, mencoba mengalihkan pembicaraan aneh ini di antara mereka berdua dengan cara membenturkan keningnya ke arah kening Akira.
"Duk" Bunyi benturan kening keduanya cukup nyaring, menandakan bahwa benturan itu cukup keras.
"Aduh!" Keluh Akira sambil mengusap keningnya.
"Ha..ha.ha...ha.." Laila tertawa melihat Akira yang kesakitan.
"Kira kalau mau praktek ngajak cewek nikah jangan di mobil gini!" Omel Laila. " Kamu nggak romantis ah!" Ucap Laila memberi saran, agar ia tidak terbawa suasana yang sudah si bangun Akira tadi. Laila sempat meras sangat terhipnotis dengan kata-akta Akira.
"Aku harus gimana?" Tanya Akira pasrah, sambil masih mengusap keningnya.
"Ehmmm!" Laila berfikir sejenak sambil mengusap dagunya. "Gimana ya?"
"Gimana?" Tanya Akira menuntut.
"Coba kamu lihat drama-drama gitu, biasanya ada sesi lamaran kan. Coba kamu contoh" Ucap Laila memberi saran
"Sinetron?" Tanya Akira
"Bukan sinetron juga!"
"Lalu apa?" Tanya Akira.
"Drakor, Drama korea ?" Saran Laila kurang yakin, karena Laila sudah lama sekali tidak pernah menyentuh flim ataupun drama korea lagi sejak sibuk dengan semua masalah hidupnya.
__ADS_1
"Kalau kamu lamaran impiannya gimana?" Tanya Akira.
"Kok kamu tanya aku?" Tanya Laila balik.
"Cuma mau denger aja, siapa tahu bisa aku praktekkan ke cewek yang akan lamar besok!" Ucap Akira.
Mendengar ucapan Akira seketika hati Laila seperti di remas oleh tangan tak kasat mata. Sakit. Akira akan melamar perempuan lain dengan apa yang akan ia ceritakan.
"Jadi seperti apa?" Tanya Akira lagi.
"Aku tidak punya sebuah impian lamaran!" Ucap Laila Akhirnya
"Kenapa?" Tanya Akira penasaran dengan nada Laila yang begitu sedih.
Butiran bening seperti hendak mendobrak keluar dari kedua bola mata Laila yang sudah berkaca-kaca. Tapi selalu dapat Laila tahan.
"Dulu kisah cinta idamanku adalah kisah cinta dari kedua orang tuaku." Ucap Laila pelan, sambil menerawang bagaimana dulu kedua orang tuanya hidup bahagia berdua.
Akira yang tidak tahu pasti bagaimana kisah kedua orang tua Laila, hanya menatap Laila dengan sedih. Sambil mengambil kota tisu yang ada di depannya, dan di berikan kepada Laila.
"Ini!" Ucap Akira mengulur kan kotak tisu.
"Untuk apa?" Tanya Laila yang di beri kotak tisu.
"Kalau dengan menangis bisa membuat kamu lebih tenang, coba menangislah!" Ucap Akira sambil mengusap tangan Laila yang memegang kotak tisu.
"Mereka seperti tidak terpisahkan dulu!" Ucap Laila dengan tetesan air mata yang mulai mengalir dari kedua bola matanya.
Laila akhirnya tidak dapat membendung semua air matanya setelah beberapa tahun selalu di tahannya agar tidak keluar dan membuat sang adik akan mencemaskannya.
Laila mengahabiskan waktu cukup lama menangis di dalam mobil Akira hingga membuat sang adik yang menunggu kepulangannya, keluar dari salam dan melihat ada mobil Akira yang terparkir cukup lama di depan rumahnya.
Lutfi menunggu cukup lama sang kakak permpuannya keluar dari dalam mobil silver itu, namun setelah ditunggu hingga hampir 10 menit tidak ada tanda-tanda bahwa orang yang ada didalam mobil yang terparkir di depan rumahnya akan keluar, Lutfi memilih untuk menghampiri mob silver tersebut.
"Tok..tok..tok.." Ketukan di pintu mobil menyadarkan Akira dan juga Laila bahwa mereka sudah cukup lama berdiam diri di dalam mobil itu.
Laila yang dapat melihat sang adik berdiri di luar jendela, dengan cepat mengusap air matanya. Agar hal tersebut tidak membuat adiknya cemas akan kondisinya.
"Kak...ngapai di mobil Akita lama amat!" Ucap Lutfi sambil terus mengetuk kaca jendela mobil silver tersebut.
Akira hendak keluar, agar Lutfi tidak terus mengetuk kaca jendela, di tahan oleh Laila.
"Jangan bilang apapun kepadanya. Aku tidak ingin dia cemas dengan kondisiku!" Pindah Laila.
Akira yang tahu maksud Laila mengangguk tanda setuju, Lalu keluar dari mobilnya.
"Woy!" Ucap Akira setelah keluar dari pintu mobil di sebrang Lutfi.
"Lama amat di dalam mobil ngapain?" Tanya Lutfi sambil berjalan ke arah Akira.
"Ngelamar Kakak Laila!" Jawab Akira santai, samb berjalan ke arah pintu penumpang yang di duduki oleh Laila.
__ADS_1
"Gimana?" Tanya Lutfi yang takutnya salah dengar dengan ucapan Akira.
"Kamu nggak salah dengar!" Ucap Akira santai sambil membukakan pintu untuk Laila.
"Kakak habis di lamar dia?" Tanya Lutfi kepada Laila sambil menunjuk telat muam Akira.
"Iya." Jawab Laila santai, yang memang awalnya Akira mengucapkan kata-kata seperti lamaran kepadanya.
"Kakak terima lamaran dia?" Tanya Lutfi heboh.
"Menutu kamu gimana?" Tanya Laila.
"Plis kak, aku nggak mau punya kakak ipar kayak manusia satu ini ya kak!" Ucap Lutfi dengan wajah memelas.
Laila tersenyum mendengarkan ucapan Lutfi yang sangat tidak terima bahwa teman semasa remaja inj akan menjadi kakak iparnya.
"Manusia seperti apa memang aku ini?" Tanya Kita tidak terima dengan ejekan Lutfi kepadanya.
"Nggak penting!" Ucap Lutfi tidak lagi menghiraukan Akira yang masih menunggu jawabannya.
Lutfi memilih untuk menarik tangan kakak perempuan satu-satunya itu dari pada harus berdebat dengan Akira.
"Aku ini calon suami idaman kakak kamu Lutfi catatan itu!" Ucap Akira percaya diri walaupun sudah di tinggal oleh Lutfi masuk ke rumah.
***
bersambung
Maaf udah lama nggak upload, dunia nyata lagi tidak baik-baik saja. awalnya saya kira bisa lancar nulis ketika kerjaan selesai, ternyata kerjaan memang selesai tepat waktu, tapi masalah datang juga tepat waktu.
Baca karya aku yang lain juga yok ada
Ruang Dosen (21 bab)
JODOH: Cinta Pertama (60 bab)
Antonim (2 bab)
__ADS_1