Brondong Meresahkan

Brondong Meresahkan
bab 4 perempuan tangguh


__ADS_3

10 tahun kemudian


Laila sedang mendongakkan kepalanya memandanngi langit kota yang cerah penuh dengan awan putih. Sambil menghirup nafas lega, setelah keluar dari ruang sidang kasus yang baru saja di menangkannya. Kasus kali ini cukup menguras tenaga bagi Laila.


Laila sudah menyelesaikan kuliahnya 5 tahun lalu, sekarang dia berkerja disalah satu firma hukum menjadi pengacara handal. Laila selalu memenangkan kasus yang dia tangani, maka dari itu Laila tidak pernah sembarangan mengambil kasus untuk dia bela. Dia akan sangat selektif menerima kasus agar namanya sebagai pengacara muda yang cemerlang tetap terjaga dengan baik.


Laila sempat cuti kuliah dulu, ketika harus menghadapi permasalahan dalam keluarga. Sempat hampir bunuh diri karena depresi berat yang dia rasakan, sampai adiknya Lutfi menyadarkannya bahwa tidak hanya Laila yang terluka. Ada Lutfi yang sama terlupakanya seperti Laila, namun masih bisa berdiri tegak dan tersenyum bersamanya sambil terus memberi semangat untuk Laila.


Setelah kejadian itu Laila tidak pernah kembali kerumah. Jangankan untuk kembali kerumah tempat semua kenangan bersama keluarganya. Laila masih merasa sakit bila mengingat semua penghianatan dari cinta pertamanya, cinta pertama seorang anak perempuan yaitu ayah.


Ketika Laila masih mengenang rasa sakit yang begitu menggores luka yang dalam di relung hatinya, tiba-tiba dia di kagetkan oleh adiknya yang datang langsung memakaikan helm kepada Laila.


" Udah nggak usah ngelamun terus kakak cantik!" Ucap Lutfi sambil memasangkan kunci helm pada Laila.


" Bisa nggak buat orang jantung nggak sih dek?" Omel Laila sambil memcubit lengan adik tersayangnya, walaupun mereka akan terus saling bertengkar bila bersama.


" Bukan aku yang buat orang jantungan!" Bela Lutfi "Kakak tu, ngelamun terus." Ejek Lutfi sambil menepuk helm yang di pakai kakak perempuannya tersebut.


" Mana ada?" Elak Laila tidak terima. " Kamu ngapain jemput kakak ke sini?" Tanya Laila yang baru sadar Lutfi menjemputnya di kejaksaan tinggi, tempat sidang baru saja selesai.


" Aku mau ngajak kakak makan-makan dari gaji pertamaku!" Ajak Lutfi penuh semangat.


" Perasaan kamu udah sering gajian deh?" Laila tidak ingin adiknya ini menggunakan uang sembarangan, masih banyak hal yang harus Lutfi siapkan untuk masa depannya.

__ADS_1


"Ya, beda kak!" Ucap Lutfi sambil menarik kakak perempuannya itu ke arah motor yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Beda apanya?" Tantang Laila. Laila hanya ingin adiknya menggunakan uang untuk keperluannya saja, tidak perlu memikirkan Laila yang sudah bisa mencari uang sendiri.


" Ini pekerjaan pertama aku setelah lulus kuliah kak, kalau yang kemaren-kemarenkan cuma part time aja." Jelas Lutfi sambil melajukan motor bebek yang Laila beli dari hasil menabung dan juga simpanan sang ibu yang di berikan kepada Lutfi sebelum ibu meninggal.


" Cuman sekali ini ja ya dek!" Ucap Laila menasehati Lutfi. " Bulan depan kalau gajian di tabung sama buat keperluan kamu uangnya. Kalau nggak buat ganti motor, biar banyak cewek yang deketin kamu!" Nasihat Laila sambil menggoda sang adik.


"Kakak dulu ja cari pacar, nanti habis kakak nikah baru aku yang cari cewek!" Ucap Lutfi sambil tersenyum melihat sang kakak dari spion motor.


"Pacar ja nggak ada, mau nikah sama siapa?" Omel Kakak sambil menjital helm yang di gunakan Lutfi.


" Aduh, aku lagi nyetir jangan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga)!" Lutfi pura-pura kesakitan sambil megelus helm yang di gunakan.


" Alah lebay kamu.!" Cibir Laila sambil memeluk sang adik ketika berhenti di lampu merah.


" Kamu ngapain belok kesini?" Tanya Laila sambil mencubit pinggang Lutfi. " Cari tempat lain ja" Ucap laila tepat ketika Lutfi berhenti untuk memakirkan motor mereka.


" Makan disini kak!" Jawab Lutfi polos sambil melepas helm miliknya dan lalu juga melepaskan Hemm milik kakak perempuan setelahnya.


" Dek, disini mahal banget, nanti gaji kamu habis satu kali makan!" Ucap Laila mengingatkan. "Kakak tahu gaji kamu besar, tapi lebih baik buat yang lain." Nasihat Laila.


" Kakak udah ngeluarin banyak uang dan tenaga buat Lutfi selama ini." Ucap Lutfi sambil menarik nafas panjang. "Sekarang giliran aku yang cari uang buat nyensngin kakak, sebelum kakak menikah dengan laki-laki baik yang siap buat bahagiain kakak, Oke!" Lutfi merangkul Laila memasuki Lestoran yang begitu megah dan mewah.

__ADS_1


" Awas ya nanti, kalau kamu nggak bisa bayar makan pas udah pesen makan disini!" Ancam Laila sambil mengacungkan tangannya ke arah Lutfi.


" Kan ada kakak, yang siap bantu aku buat bayar semua tagihan nantinya!" Ucap Lutfi santai sambil berjalan terlebih dahulu melepas genggaman tangan Laila.


Laila yang mendengar itu melotot sambil menunyul adiknya, dan menjewer telinga Lutfi dengan sekeras-kerasnya.


" Dasar adik nggak punya ahklaq!" Omel Laila sambil kembali mengapit tangan Lutfi. Laila tadi tidak sengaja melihat pengumuman di teras depan lestoran ini ada diskon untuk pasangan yang datang kesini, karena hari ini adalah hari valentine. Khusus pasangan yang datang akan mendapat diskon.


"Hahaha!" Lutfi tertawa mendengar omelan kakak perempuannya ini sambil terus berjalan menggandeng tangan kakaknya agar nampak seperti pasangan.


" Kamu lihat pengumuman didepan?" Tanya Laila.


" Aku udah tau dari sosmed mereka, makanya aku ajak kakak kesini!" Ucap Lutfi sambil tersenyum bahagia dengan ide licik di kepalanya.


Sambil tertawa bersama Lutfi mengenang kejadian 7 tahun silam ketika keluarganya berantakan. Kakak perempuannya ini hancur nyaris depresi dengan keadaan yang seketika berubah drastis, hingga akhirnya Lutfi mencoba menenangkan Laila dengan hanya memeluknya saja sepanjang perjalanan keluar dari rumah menuju ke kos Laila di kota ini.


Mereka berdua hanya berbekal pakaian dan juga tabungan yang ada di rekening masing-masing yang hanya cukup untuk biaya hidup dan sekolah mereka selama 1 tahun kedepan saja. Lutfi bersyukur ibu mereka selalu mengajari mereka untuk berhemat dan menabung sedikit ketika memiliki uang.


Hingga tiba di kota kakak perempuannya ini sempat untuk cuti kuliah dan berkerja agar dapat membiayai kehidupan mereka berdua. Laila sempat berfikir untuk tidak melanjutkan kuliahnya, dan mementingkan adiknya saja yang sekolah tinggi. Namun Lutfi melarang itu. Lutfi belajar mati-matian agar bisa mendapatkan beasiswa murid berprestasi dari sekolahnya, walaupun hanya pembebasan SPP dan juga uang buku, setidaknya mereka bisa sedikit berhemat dengan itu.


Laila adalah sosok kakak perempuan kuat yang selalu membuat Lutfi bangga memilikinya dalam hidup ini. Mungkin jika bukan bersama Laila, Lutfi akan berfikir untuk berhenti memperjuangkan mimpi-mimpinya dan memilih terkubur bersama ibu yang merana di ujung hidupnya.


****

__ADS_1


bersambung


Cukup terima takdir hidup ini, karena kamulah yang terkuat menjalani takdir hidupmu.


__ADS_2