Brondong Meresahkan

Brondong Meresahkan
bab 5. bertemu Akira lagi


__ADS_3

Laila dan Lutfi makan bedua berakting seperti sepasang kekasih. Sesekali Laila menyuapi makanannya ke Lutfi agar meyakinkan pelayan lestoran tersebut bahwa mereka adalah pasangan kekasih yang sedang merayakan hari valentine.


Mereka berdua juga ikut permainan yang di adakan oleh lestoran tersebut, dengan hadiah makan gratis dan juga suvenir cantik dari lestoran yang bisa di bawa pulang. Acara ini di adakan untuk ajang promosi dan juga perayaan ulang tahun pemilik lestoran tersebut.


"Dek, kalau ibu tahu kita kayak gini. Pasti marah!" Ucap Laila berbisik ke Lutfi.


" Kita nggak ikut ngerayain valentine kok, cuman ikut ambil untung ja dari orang yang ngerayainnya!" Bisik Lutfi agak sedih mendengar Laila membahas lagi almarhumah sang ibu.


"Tapi kan sama ja dek!" Ucap Laila sambil cemberut.


" Nanti biar aku yang tanggung jawab kalau ibu marah!" Lutfi menengkan kakaknya itu sambil memegangi tangannya, agar tidak menangis.


Lutfi tahu Laila masih sering menangis tiba-tiba mengingat ibu mereka yang sudah tiada lagi. Apalagi mereka juga tidak pernah berziarah ke makam Ibu sejak memilih untuk angkat kaki dari rumah itu.


Ketika mereka sedang asik berbincang dan menikmati makanan yang disajikan oleh pelayan restoran itu, ada seseorang yang menghampiri mereka.


" Lutfi?" Tanya orang tersebut agak ragu, sambil menepuk bahu Lutfi dan mengulurkan tangannya.


Lutfi mengerutkan keningnya, dan berfikir siapa orang yang ada di depannya ini. " Akira?" Tanya Lutfi sambil menerima uluran tang Akira dan saling berpeluk sekilas.


" Sama siapa?" Tanya Akira.


" Pacar!" Ucap Lutfi usil.


" Kakak Lai?" Akira hendak memeluk Laila, tapi di tarik kerah bajunya dengan Lutfi.


" Mau ngapain?" Tanya Lutfi samb berkecak pinggang.


" Kangen..!" Ucap Akira memelas.


" Nggak usah aneh-aneh ya!" Ancam Lutfi. Lutfi tahu kalau Akira sangat menyukai kakak perempuannya ini sejak remaja. Bahkan dulu Lutfi selalu jadi tempat curhat Akira tentang betapa cantik, dan manisnya perempuan itu. Akira juga selalu menitip salam ketika Lutfi sedang menelpon ataupun pergi mengunjungi sang kakak ke tempat kuliahnya dulu, bersama kedua orang tuannya.


" Apaan sih dek!" Omel Laila sambil menepuk pundak Lutfi, hendak memeluk Akira. Laila sudah menganggap Akira seperti adiknya sendiri, karena Akira lebih penurut dan perhatian kepadamu dibandingkan dengan adik semata wayangnya ini.


"Nggak ada ya kak!" Kini Lutfi menarik kakak perempuannya itu dan berdiri di antara Akira serta Laila. Untuk menghalangi keduanya saling berpelukan.


" Kakak mau peluk adik kakak sendiri ja nggak boleh sih?" Ucap Laila sambil cemberut dan memutar dua bola matanya malas.

__ADS_1


" ha..hahaha" Lutfi seketika tertawa mendengar ucapan kakanya, dan menatap Akira dengan pandangan mengejek. 'Cuman dianggap adik'


"Tapi aku nggak mau jadi adik Kak Lai.." Ucap Akira tiba-tiba membuat Laila agak kaget, dan juga sedih.


Belum sempat Akira melanjutkan Kata-katanya, Lutfi lalu menarik Akira menuju ke arah luar lestoran, agar bisa bicara berdua dengan Akira.


" Kak, tunggu disini sebentar, aku ada urusan sama, Akira!" Ucap Lutfi sambil berjalan cepat.


"Mau ngapain?" Tanya Akira setelah agak jauh dari Laila.


Lutfi berhenti lalu berbalik dan ingin marah kepada Akira. "Kamu janji nggak akan bilang suka sama Kak Laila sampai kamu bisa buat dia bahagia Akira.!" Geram Lutfi.


" Kamu juga janji bakal terus ngasih kabar tentang kak Lai, tapi kamu nggak tepati janji itu!" Jawab Akira menimpali Lutfi


Dulu ketika Akira harus ikut pindah bersama sang ayah yang dipindah tugaskan kantor pusat, Lutfi janji akan terus memberikan informasi apapun tentang Laila kepada Akira. Pada awalnya Lutfi menepati janjinya kepada Akira. Sampai akhirnya Lutfi pindah dari sana dan juga membuang semua alat komunikasi agar ayahnya tidak bisa mencari mereka.


"Aku waktu itu ada masalah jadi nggak bisa komunikasi lagi sama kamu!" Ucap Lutfi sambil memohon maaf.


" Aku sempat kembali kedepan beberapa 2 tahun lalu, tapi kalian sudah tidak ada di rumah itu. Hanya ada wanita asing yang merawat ayah!" Jelas Akira yang sempat berkunjung ke rumah lama Lutfi dan Laila.


" Jadi adik ipar, aku sudah bisa PDKT sama calon istriku kan?" Tanya Akira mengalihkan pembicaraan. Akira tahu Lutfi sedang tidak ingin membahas apapun tentang desa dan juga masalah dalam keluaganya.


"Kalau kakakku mau, boleh ja sih!" Ucap Lutfi sambil memegang dagu, seolah berfikir apa yang menarik dari Akira.


" Tenang aku bisa usaha keras untuk itu!" Yakin Akira.


"Jangan terlalu percaya diri sobat, kakakku hanya menganggap kamu sebagai adik tercinta yang sangat penurut!" Ucap Lutfi mengejek Akira yang sudah sombong duluan.


" Kalian kenapa disini lama banget?" Tanya Laila yang sudah berada disebelah Akira.


Akira dan juga Lutfi saling pandang dan memberi isayat 'dia nggak dengarkan?'


"Kalian kok diem ditanyain juga?" Omel Laila sambil memutar bola matanya kesal.


"Kakak udah selesai makannya?" Tanya Lutfi.


" Sudah!" Ucap Laila.

__ADS_1


" Kalau gitu aku bayar dulu ya, kak!" Ucap Lutfi lembut sambil hendak pergi menuju kasir.


" Nggal usah di bayar, Lut!" Ucap Akira menahan langkah Lutfi.


Lutfi yang mendengar ucapan Akira berbalik dan mengerutkan alisnya. " Kamu kerja disini?" Tanya Akira penuh selidik.


" Kamu kerja jadi apa, Kira?" Tanya Laila penasaran. "Kamu nggak jadi programer atau hacker gitu?" Tanya Laila yang ingat sekali Akira selalu suka dengan hal yang berbau komputer dan program-program.


" Aku kerja di bagian IT kok kak..." Ucap Akira.


" Kamu kerja di bagian program disini?, pantes kamu bisa keluar masuk kesini ya!" Ucap Lutfi memotong ucapan Akira yang belum selesai.


"Adik kakak satu ini hebat ya!" Ucap Laila sambil memeluk Akira tiba-tiba.


Akira yang di peluk oleh Laila secara mendadak agak kaget dan sangat senang karna sedari tadi Ia sangat ingin memeluk Laila. Wanita yang sangat dia cintai sejak masih remaja.


" Jangan lama-lama!" Lutfi menarik kakak perempuannya itu menjauh dari Akira.


" Kamu apa-apaan sih, dek!" Omel Laila sambil menepuk tangan Lutfi yang menariknya.


"Aku nggak mau ja kakakku yang cantik ini deket-deket sama buaya darat kayak dia!" Ucap Lutfi sambil menunjuk Akira.


"Kamu cemburu kakak deket sama Akira, dek?" Tanya Laila yang aneh dengan sikap adiknya ini.


"Diakan emang cemburuan dari dulu kalau Akira dekat dengan kak Lai!" Ucap Akira sambil merangkul pundak Laila.


" Tunggu..tungg!" Laila tiba-tiba melihat kearah Akira sedikit mendongak. " Kamu kok sekarang tinggi Akira!"


" Bukan Akira yang tinggi kakak ja yang pendek!" Ledek Lutfi.


" Enak ja, kakak tu udah tinggi banget untuk standar cewek indonesia, kalian ja yang kebanyakan kalsium sampai tinggi kayak tiang listrik!" Omel Laila sambil menepuk sang adik.


Perdebatan antara Lutfi dan Laila tentang tinggi badan cukup panjang hingga akhirnya perdebatan itu di menangkan oleh sang pengacara cantik, Laila. Lutfi akhirnya kalau dengan berdebat dengan perempuan yang selalu benar dan seorang pengacara yang tidak akan mau mengalah.


Akira yang ada disana hanya melihat perdebatan mereka dan menikmati semua ekspresi Laila yang sangat ia rindukan.


***

__ADS_1


__ADS_2