
Sehingga, dia tidak mengetahui bahwa orang yang sedang berbicara dengannya tadi adalah seorang pengusaha besar.
***
Setelah perkenalan dan sambutan dirinya sebagai pewaris dari perusahaan milik sang Kakek, Akira memilih untuk segera turun dari atas panggung dan mencari Laila.
Ada banyak orang yang ingin berkenalan dengan Akira, yang malah Akira abaikan saja. Karena fokus Akira kini adalah mencari keberadaan Laila, tadi Akira sempat melihat Laila yang pergi keluar ketika ia sedang menyampaikan sambutan sebagai pewaris sah satu-satunya semua perusahaan dan juga harta sang Kakek yang terkenal itu.
"Apa dia marah karena aku tidak bilang bahwa aku adalah pewaris seorang pengusaha besar?" Tanya Akira pada dirinya sendiri.
"Tapi itu bukan salahku!" Gumam Akira sambil mencari-cari keberadaan Laila.
"Tap" Akira melihat Laila
Laila yang berjalan keluar kearah taman hotel, melalui pintu samping yang langsung mengarah ke taman bunga yang cukup indah. Apalagi ketila malam hari seperti ini.
Akita bergegas hendak menyusul Laila dengan cepat. Namun malah harus bertahan ketika ada seorang yang menyapanya.
"Tuan Akira?" Sapa seorang laki-laki paruh baya yang Akira ingat sebagai investor besar di salah satu anak perusahaan milik kakeknya.
Sebenarnya Akira ingin mengabaikan saja sapaan itu. Namun itu akan sangat tidak sopan jika dia lakukan, mengingat bahwa orang yang sedang menyapa dirinya kali ini adalah juga masih kerabat dekat dari jalur neneknya.
Nenek yang sangat Akira cintai. Akira selalu mendengar semua cerita baik tentangnya dari sang Kakek. Jika Akira mengabaikan orang ini pasti Kakeknya akan sangat marah dan mencoretnya dari kartu keluarga malam ini juga.
Kakek adalah orang yang sangat sensitif jika berhubungan dengan sang nenek yang menjadi cinta terakhir dalam hidupnya hingga kini.
"Paman?" Tanya Akira sopan sambil memberi salam kepada lelaki yang menyapanya tadi.
"Sudah besar kamu sekarang?" Tanyanya basa-basi.
Akira tersenyum menanggapi ucapan orang tersebut.
"Iya paman. Paman apa kabar?" Tanya Akira agar terlihat sedikit sopan.
"Baik...baik" Jawabnya sambil menepuk pundak Akira.
"Sepertinya paman terlihat jauh lebih muda dari terakhir kita bertemu beberapa tahun lalu ya?" Tanya Akira basa-basi.
"Mulut kamu manis sekali ya!" Ucapnya sambil menunjuk Akira.
Akira tersenyum saja agar tidak lagi di ajak berbicara hal yang lebih tidak penting lagi.
"Pantas saja Kakek kamu itu memilih kamu menjadi penggantinya, daripada orang lain!" Ucapnya.
"Aku pasti memilih cucuku yang sangat berbakat ini untuk melanjutkan semua usaha yang aku dan mendiang istri tercintaku rintis dengan jeri payah kami berdua dari nol hingga sebesar sekarang ini." Jelas sang Kakek panjang lebar.
"Akira, cepat ambilkan apa yang tadi kakek pesan kepada kamu!" Perintah sang Kakek.
Akira mengernyitkan dahinya, seingat Akira dari tadi, Kakeknya tidak pernah menyuruhnya untuk mengambil apapun.
__ADS_1
Melihat Akira yang kebingungan sang Kakek menarik Akira sedikit mendekat ke arahnya, lalu berbisik dengan suara yang hanya mereka berdua saja yang mendengar di balik suara musik yang cukup keras sebagai penghibur.
"Bawa calon cucu menantuku kesini!" Ucap Kakek.
Kakek tahu Akira sedang mencari Laila. Ia hanya berniat membatu Akira keluar dari orang-orang yang sedang berusaha mengajak dia mengobrol panjang lebar tanpa henti.
Orang-orang yang menyapa Akira sekarang ini hanya untuk berbasa-basi saja, tidak ada hal penting yang akan mereka sampaikan.
"Baik kek, tunggu sebentar!" Ucap Akira kepada sang Kakek.
"Cepatlah, aku sudah tidak sabar!" Ucap Kakek.
"Baiklah, saya permisi dulu paman!" Pamit Akira undur diri dari sana.
Akira lalu berjalan menuju arah pintu samping, yang sempat Akira lihat Laila berjalan ke arah ini. Akira masih mencoba mencari di sekitar aula yang ia lewati ini.
Akira akhirnya keluar dari aula acara, menuju taman yang tepat berada di samping hotel ini. Akira melihat ke kanan dan ke kiri.
Suasana taman yang sangat cantik dengan lampu hias warna-warni, juga bunga-bunga berbagai jenis yang pasti adalah bunga-bunga kesukaan mendiang neneknya.
Akira berjalan ke arah kanan taman mencari keberadaan Laila, yang mungkin duduk di salah satu bangku taman di sana.
Dari jauh Akira melihat sluit seorang wanita yang sedang duduk di bangku taman yang cukup jauh dari jaraknya berdiri sekarang.
Akira bergegas kesana menghampiri wanita itu yang mungkin saja Laila.
"Iya?" Wanita itu menoleh, dan ternyata itu bukanlah Laila.
Wanita itu menatap Akira dengan wajah bingung.
"Ma... maaf...maaf!" Ucap Akira menangkupkan kedua tangannya di depan dadan sambil membungkuk.
"Tidak apa-apa!" Ucap wanita itu sambil tersenyum.
"Maaf sekali lagi sudah mengganggu anda!" Ucap Akira sambil mundur.
"Duk" Karena Akira berjalan mundur, tidak sengaja Akira menabrak sesuatu, san sepertinya itu adalah orang, pikir Akira.
Akira menoleh kebelakang dan mendapati Laila yang sedang jatuh terduduk di depannya.
"Kamu kalau jalan lihat-lihat dong!" Ucap Laila sebal.
"Maaf!" Ucapa Akira.
Akira mengulurkan tangannya untuk membantu Laila yang malah hanya di abaikan oleh Laila.
Laila berdiri sendiri, lalu berjalan duduk di bangku yang terletak paling dekat dengan mereka.
"Apa ada yang sakit?" Tanya Akira cemas, sambil melihat lengan tangan Laila yang mungkin saja ada yang terluka.
__ADS_1
"Tidak ada!" Jawab Lain santai sambil memandang langit malam.
"Syukurlah!" Ucap Akira.
"Kenapa kamu disini?" Tanya Laila.
"Apa ada larangan untuk aku berada disini?" Tanya Akira balik.
"Bukan begitu!" Bantah Laila.
"Lalu?" Tuntut Akira sambil menaikkan satu alisnya menatap Laila.
"Seharusnya kamu berada di dalam!" Ucap Laila.
"Untuk apa?" Tanya Akira sarkas.
"Untuk apa?" Ulang Laila tidak percaya dengan pertanyaan Akira.
"Iya untuk apa aku harus berada di dalam sana?" Tanya Akira.
"Itu acara yang di buat khusus kakek kamu untuk menyambut kedatangan kamu Akira!" Geram Laila pada Akira yang menganggap remeh acara sebesar itu.
"O.." Akira hanya ber'o' ria saja menjawab gerakan Laila.
"O?" Tanya Lain yang sudah sangat ingin memukul kepala Akira. Kalau saja Akira hanya teman adiknya seperti beberapa tahu lalu, Laila sudah pasti akan memukul kepala manusia stau ini. Namun, kini Laila harus berfikir beberapa kali lagi untuk hanya sekedar menyentuk kulit mahal orang di sampingnya ini.
***
bersambung
Maaf udah lama nggak upload, dunia nyata lagi tidak baik-baik saja. awalnya saya kira bisa lancar nulis ketika kerjaan selesai, ternyata kerjaan memang selesai tepat waktu, tapi masalah datang juga tepat waktu.
Baca karya aku yang lain juga yok ada
Ruang Dosen (13 bab)
JODOH: Cinta Pertama (36 bab)
__ADS_1