
"Yang tadi itu mantan ya?" Tanya Akira
Akira masih merangkul Laila, ia yang sudah beberapa kali menepis tangan Akira agar tidak membuat orang lain salah faham. Namun, Akira memang sengaja ingin membuat semua yang melihat mereka salah faham.
"Yang mana?" Laila berbalik menghadapi Akira.
"Tadi yang ngobrol di lift!" Jelas Akira.
"Aldiansyah?" Tanya Laila balik.
Akira sedikit tidak tenang bila orang tadi benar mantan pacar Laila.
"Bukan!" Laila menjawab dengan cuek sambil berjalan menghampiri kedua rekan kerjanya.
Mereka berempat memilih duduk dibagian luar lestoran, yang memang memiliki tempat didalam ruangan dan juga di luar ruangan.
"Ini beneran pajak jadian mbak?" Tanya Caca antusias.
"Nggak!" Jawab Laila, dia tidak ingin kesalah fahaman ini berlanjut dan bertambah panjang.
Abi dan Juga Caca yang mendengar jawaban Laila lesu seketika. Karena artinya mereka tidak bisa makan sepuasnya.
"Yah!" Ucap Abi dan Caca serempak.
Caca menggembungkan pipinya dengan lesu dan menghempaskan buku menu yang dipegangnya ke atas meja.
"Mbak Laila nggak asik" Sahut Abi.
"Ya memang bukan pajak jadian kok." Jeda Akira sambil melirik Laila, dan menarik tangan Laila.
Akira tersenyum manis, lalu menunjukkan jari manis Laila yang sudah terpasang cincin. Yang entah kapan cincin itu sudah berada disana.
"Mbak?" Abi dan juga Caca menjerit seketika melihat cincin yang sudah terpasang di jari manis Laila.
"Ini pajak untuk lamaran kami!" Ucap Akira santai.
Laila mencubit paha Akira dengan tangan satunya yang masih berada dibawah meja, sambil melirik Akira meminta penjelasan atas kelakuannya ini.
Sedang Akira yang di tatap Laila malah mengalihkan pandangan dan hanya tersenyum saja.
Caca yang melihat cincin yang di pakai Laila langsung menarik tangan Laila, dan mennatapnya kagum.
"Ya ampun, mbak!" Geram Caca, mengelus cincin yang di yakininya sangat mahal. "Inikan cincin mahal!" Teriak Caca heboh.
Caca ingat beberapa waktu lalu dia pernah melihat postingan brand ternama dunia memamerkan ini di acara promosinya. Tapi, Caca lupa pastinya harga benda ini.
Laila yang tidak tahu apa-apa, hendak marah kepada Akira. Namun, ditahanya ketika melihat Aldiansyah yang berjalan kearah mereka.
"Hai, boleh gabung?" Tanya Aldiansyah meminta izin kepada Laila dan yang lain.
"Silakan pak!" Ucap Abi mempersilakan Ardiansyah untuk duduk di sebelahnya.
Aldiansyah tersenyum lalu duduk di kursi yang memang masih kosong di antara Abi dan juga Akira.
__ADS_1
"Kalian sudah pesan?" Tanya Aldiansyah.
"Belum pak, ini kami baru mau pesan!" Jelas Abi sopan.
Laila malas menanggapi Aldiansyah dan lebih memilih mencatat pesanan dia, dan Akira.
"Kalau begitu saya saja yang traktir kalian untuk kali ini!" Tawar Aldiansyah.
"Tidak perlu pak, hari ini tunangan bu Laila yang traktir, karena susah di terima sama bu Laila!" Ucap Caca sopan.
Abi dan juga Caca biasa memanggil Laila dengan ibu bila berada diantara orang-orang kantor.
Dalam hati Caca sudah mencacimaki Aldiansyah yang sok akrab pada mereka, padahal biasanya juga suka cari masalah.
Laila yang mendengar jawaban Caca dan mendapat lirikan dari Aldiansyah hanya tersenyum sopan. Laila tidak ingin membuat masalah dengan Aldiansyah, walaupun dalam hati ia sangat ingin mencincang manusia itu.
"Oya, kita belum berkenalan, Aldiansyah...." Aldiansyah memperkenalkan diri.
" Pengacara hebat, menantu dari pengusaha kaya di indonesia." Lanjut Akira yang tahu sedikit tentang Aldiansyah.
"Wah, saya tidak tahu kalau saya seterkenal itu!" Sombong Aldiansyah sambil menjabat tangan Akira dengan angkuh.
" Akira" Ucap Akira sopan.
Akira tidak ingin begitu menanggapi kesombongan Aldiansyah. Karena menurut Akira itu tidak penting.
"Seperti pernah dengar nama itu!" Gumam Aldiansyah yang merasa familiar dengan nama Akira.
"Baru saja anda mendengar nama saya!" Ucap Akira santai.
"Sayang aku pesenin kamu seperti biasa ya?" Tanya Laila sambil memegang tangan Akira lembut.
Laila sengaja memotong pertanyaan Aldiansyah,karena tidak ingin Akira nantinya malah di hina oleh pria sombong itu. Akira yang hanya menejer lestoran. Pasti akan sangat di hina oleh Aldiansyah, Laila tidak ingin Akira adik kesayangannya ini mendapat masalah kedepannya.
Akira tersenyum lembut dan mengangguk pelan. "Iya!"
"Minumnya samain sama aku ja nggak pa-pa?" Tanya Laila lagi.
"Apapun yang kamu pesan aku makan sayang!" Ucap Akira.
Mereka melanjutkan berbincang ringan sambil menunggu pesan makanan.
"Kalian kenal dimana?" Tanya Caca kepo, karena tahu bahwa Akira pasti bukan orang asli indonesia.
"Di rumah!" Jawab Laila.
"Di Halte!" Jawab Akira bersamaan dengan Laila.
"Jadi kalian kenalan dimana?" Tanya Aldiansyah penuh selidik.
"Bukannya di rumah ya?" Tanya Laila kepada Akira ragu.
" Di halte, waktu kamu pulang kampung." Jelas Akira sambil memencet hidung Laila.
__ADS_1
" Sakit!" Laila menepis tangan Akira yang memencet hidungnya.
"Habisnya kamu gemes banget!" Ucap Akira gombal.
"Kenalan dikampung?" Tanya Aldiansyah mencemooh.
Laila kesal mendengar cemooh Aldiansyah yang menganggap orang kampung itu rendah. Rasanya Laila ingin sekali mematahkan tulang-tulang manusia satu itu.
"Iya, waktu orang tua saya ada tugas di kampung tempat kelahiran Laila. Sekitar 10 tahun lalu ya sayang?" Jelas Akira lagi.
"Masak udah 10 tahun sich, kayak baru kemaren kita ketemu lho!" Gombal Laila sengaja ingin membuat Aldiansyah jengkel.
Ketika Aldiansyah ingin menanyakan sesuatu lagi, pelayan datang membawakan pesanan makanan mereka. Sehingga Aldiansyah menahanya sejenak.
Akira melihat Laila memesan nasi goreng, langsung menarik piring milik Laila.
" Kamu pesan nasi goreng apa?" Tanya Akira.
"Nasi goreng biasa!" Jawab Laila.
"Kamu nggak biasa makan disini?" selidik Akira.
Laila hanya menggeleng. "Ini pertama kali,biasanya makan nasi padang atau kantin kantor!" Jelas Laila.
"Nasi goreng ini ada udang rebonnya.!" Ucap Akira.
"Kenapa?" Tanya Laila.
"Kamu lupa kalau kamu alergi makanan laut?" Tanya Akira.
"Tapi cuman sedikit!" Pinta Laila memelas.
"Kamu makan punyaku ja, atau pesen yang lain lagi!" Ucap Akira mutlak.
"Ish!" Laila hanya menggerutuk sambil memanyunkan bibirnya.
Akira yang melihat Laila seperti itu, menjadi gemas dan menarik bibir Laila kuat.
"Kira!" Teriak Laila sambil menepuk pundak Akira, yang hanya di tanggapi dengan tawa lebar oleh Akira.
Melihat kedekatan Akira dan juga Laila membuat Abi dan Caca tersenyum bahagia. Karena Laila ternyata memiliki sisi lain yang begitu manja dan juga menggemaskan bersama pasangannya.
Lain halnya dengan Aldiansyah yang malah menahan emosi dengan menggenggam erat sendok dalam genggamannya.
" Jadi kalian akan menikah dalam waktu dekat?" Tanya Aldiansyah, untuk memecahkan suasana romantis yang tak sengaja tercipta dengan kelakuan Laila dan juga Akira.
"Doakan saja!" Ucap Laila malas menanggapi.
"Kalian belum ada rencana, atau belum memiliki uang untuk resepsi!" Aldiansyah sengaja mencemooh kedua orang yang ia tanya.
" Sebenarnya susah ada tanggalnya, cuman Laila masih mau merahasiakannya. Tapi, karena bapak sangat penasaran mungkin kami akan memberitahu saja sekarang sambil meminta doa restu. Kami akan menikah 2 bulan lagi!" Ucap Akira panjang lebar yang sudah tidak tahan bermanis-manis dengan Aldiansyah.
****
__ADS_1
Terkadang kita akan secara tidak sadar menunjukkan rasa cinta, walaupun kita sendiri tidak sadar memiliki rasa cinta itu.