
Laila sedang sibuk menyiapkan berkas-berkas untuk kasus selanjutnya, dibantu oleh 2 orang rekannya yang masing dalam tahap magang di kantor tersebut. Kedua rekan Laila itu bernama Abimanyu yang bisa di panggil Abi dan juga candani yang biasa di panggil Caca.
Laila sedang membaca berkas kliennya, menggunakan kaca mata baca. Laila sudah terlalu lelah, karena terlalu memaksakan diri untuk terus bekerja. Padahal dia butuh istirahat.
"Ca coba cek pengacara lawan kita siapa?" Laila meminta Caca untuk mengecek pengacara lawan.
"Kemaren udah Abi cek mbak, itu lho yang pengacara muda ganteng yang satu almet sama mbak!" Ucap Caca.
" Siapa, Bi?" Laila mengerutkan alisnya, mengingat siapa temannya yang kira-kira memegang kasus ini.
"Itu mbak kalau nggak salah dari firma hukum Mahendra yang terkenal pengacranya Pak Mahendra mbak!" Jelas Abi
" Maksud kamu Raffa Atha Mahendra atau yang mana?" Tanya Laila.
" Iya mbak, pengacara muda, ganteng yang kerja di firma hukum milik keluarga besarnya itu!" Jawab Caca semngat.
Secara tidak sadar Laila meremas kertas yang dia pegang dengan sangat kuat hingga sobek di beberapa bagian. Laila ingat betul siapa Raffa Atha Mahendra. Dia adalah anak dari seorang pengacara hebat yang memiliki firma hukum yang sangat besar dan terkenal hingga kini.
" Mbak kenapa?" Tanya Caca sambil menyentuh lengan tangan Laila yang terkepal kuat.
Laila terserah ketika merasakan sentuhan tangan Caca di lengannya.
" Kenapa?" Tanya Laila balik.
" Mbak kenapa ngelamun sambil ngerusak berkas kita?"
" Hah?"
Laila baru tersadar kertas dalam genggamannya sudah tidak berbentuk lagi.
"Ini masih ada salinannya?, aduh..."
" Masih ada filenya kok mbak!" Jawab Abi sambil menyerahkan flashdisk ke atas meja Laila.
" Sini aku printkan, mbak!" Ucap Caca ambil mengambil flashdisk dari atas meja Laila.
"Maaf ya, kalian jadi kerja dua kali!" Laila merasa bersalah atas tidakkannya yang tidak di sengaja itu.
" Mbak capek ya?" Tanya Abi.
" Mungkin, Ini udah jam berapa ini?"
" Jam 12.30, mbak" Jawab Abi sambil melihat jam tangan di pergelangan tangannya.
" Ca, printnya nanti ja!" Cegah Laila melihat Caca hendak keluar ruangan.
"Kenapa mbak?"
__ADS_1
" Udah waktu makan siang!. Makan dulu ja, nanti aku di bilang senior kejam lagi sama kalian berdua!" Canda Laila sambil tersenyum.
" Di traktir kami berdua, mbak?" Tanya Caca girang.
" Kamu jangan bikin malu Ca!" Bisik Abi yang merasa tidak enak dengan kebaikan Laila selama ini.
Laila tersenyum melihat mereka berdua, dulu ia juga sangat suka minta traktir seniornya disini. Karena uangnya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari saja.
" Boleh ja!. Tapi siapa yang lari ke lift terakhir yang traktir!" Ucap Laila langsung berlari dengan cepat keluar dari ruangannya.
Abi dan Caca yang mendengar itu dengan sigap cepat berlari, Walaupun mereka berdua telah di curangi oleh Laila.
Mereka bertiga berlari di koridor dengan semangat sambil tertawa. Laila sampai duluan di depan lift, dan langsung menekan tombol buka di lift. Ketika pintu lift terbuka ada seorang yang dikenal oleh Laila sedang berdiri disana.
Laila mengedipkan matanya beberapa kali, untuk meyakinkan pengelihatannya tidak salah.
Orang di dalam lift melambaikan tangannya, dan tersenyum kepada Laiila dan kedua orang yang berdiri di belakang Laila.
" Kamu ngapain di sini?" Tanya bingung.
" Emang nggak boleh?" Tanyanya balik.
Kedua orang di belakang Laila terlebih dulu masuk kedalam lift dan berteriak menyadarkan Laila.
" Mbak yang traktir" Teriak keduanya penuh semangat.
" Mbak pak ngelamun ngelihatin abang-abang ganteng dalam lift sich!" Jawab Caca.
" Gara-gara kamu!" Tunjuk Laila kepada orang yang telah membuatnya terkejut itu.
" Mbak kenal?" Bisik Caca kepada Laila.
" Ya kenal, dari dia masih belum bisa ngelap ingus!" Ejek Laila.
" Kenalkan saya pacarnya !"
Ucapan itu membuat semua yang ada di sana syok, pasalnya Laila tidak pernah dekat dengan siapapun dan hanya sibuk berkerja. Laila bahkan lembur di hari besar sekalipun.
" Akira!" Laila berteriak memperiati Akira yang mengarang bebas itu.
" Apa sayang?" Tanya Akira santai.
" Nggak usah aneh-aneh ya!" Ancam Laila.
" Jadi mbak suka yang agak jepang-jepang gini ya?" Ucap Abi sambil memperhatikan wajah Akira yang memang masih keturunan Jepang.
" Mbak kok bisa punya pacar, tapi nggak ngasih kita pajak jadian!" Tanya Caca sambil mendekat ke Laila.
__ADS_1
" Mbak pacarnya awet muda ya!" Abi memperhatikan tampilan Akira.
" Mbak jadiaannya kapan?" Tanya Caca heboh.
Dan banyak lagi pertanyaan yang membuat Laila pusing akan jawab yang mana dulu. Hingga akhirnya.
" Stop...stop!" Ucap Laila sambil merentangkan kedua tangan menutup mulut kedua orang bawahannya itu.
Seketika pertanyaan-pertanyaan kedua orang itu berhenti dan mereka menutup mulutnya dengan tangan.
Laila malu karena disana juga ada pengacara yang dulu ketika awal Laila disini dia mendekati Laila. Dan saat itu Laila tolak. Kini pengacara tersebut seperti tidak begitu suka berurusan dengan Laila, walupun sebenarnya dia juga sudah menikah.
" Akira tolong jelasin ke mereka berdua kamu ngapain disini dan kamu siapa!" Ucap Laila kepada Akira.
Laila tidak ingin drama ini berlanjut dan nantinya akan mempermalukan Laila di depan pengacara itu, yang sudah menatap Laila dengan tajam seakan mengejek Laila.
Akira yang masih santai menyaksikan drama didepannya, hanya menurunkan tangan yang tadi dilipat didepan dada. Memasukkan tangan di saku celananya, lalu dengan santai melirik ke Laila.
" Oke kita makan di lestoran depan, sebagai pajak jadian dari kami!" Jawab Akira sambil keluar dari lift yang baru saja berhenti.
Kedua orang rekan kerja Laila bersorak gembira dan berjalan mendahului Laila. Sedangkan Laila yang mendengar perkataan Akira hanya terbengong heran dengan kelakuan Akira.
" Hanya seperti itu selera kamu?" Kata-kata ejekan itu akhirnya keluar juga.
Laila hanya memandang dan masih diam saja, tidak ingin membuat keributan.
" Masih seperti anak kecil!" Ejeknya lagi.
" Bapak Aldiansyah yang terhormat, saya rasa pilihan saya bukan menjadi urusan bapak!" Ucap Laila tegas. "Lebih baik bapak urus saja pernikahan bapak yang sudah diambang 'perceraian' itu!" Laila sengaja menekan kata perceraian agar orang ini sadar bahwa masalahnya lebih besar dari Laila.
Laila lalu berlari mengejar ketiga orang di depannya sambil mengucapkan kata sayang dengan manja kepada Akira.
"Sayang....tunggu, aku kok di tinggal!" Ucap Laila dengan suara semanja yang dia bisa agar lebih meyakinkan.
Akira lalu berhenti merentangkan kedua tangannya kepada Laila dan tersenyum lembut sambil menatap tajam Aldiansyah di belakang Laila.
Laila menyambut hangat pelukan Akira agar lebih meyakinkan.
" Ingatkan kakak nanti, kalau sepulang dari sini aku jewer telinga kamu!" Ancam Laila.
Akira yang mendengar itu malah tersenyum lebar.
"Ingat kan aku untuk kabur, sebelum kamu ingat!" Ucap Akira memainkan matanya.
Sehingga yang melihat adegan mereka mengira mereka sedang membisikkan kata cinta.
***
__ADS_1