
Laila sedang membatu ibunya untuk menyiapkan makan malam. Laila di minta membuat sambal dan harus menggilingnya dengan cobek batu, itu membuat Laila agak protes karena selama ini Laila jarang sekali menggunakan alat masak satu itu. Laila biasanya selalu menggunakan blander ketika membuat sambal.
" Bu, pakai blander ja kenapa?" Tanya Laila malas harus berurusan dengan cabai yang di giling menggunakan cobek, pasti akan membuat tangan Laila panas setelahnya.
" Belajar masak, anak ibu harus pinter masak, La!" Jawab ibu sambil mengambilkan alat untuk Laila menggiling cabai itu.
" Nanti panas tangan Laila bu!" Protes Laila sambil memanyunkan bibirnya.
" Kalau nanti panas biar ibu ajarin buat ngobatinnya!" Rayu ibu sambil mengelus kepala Laila, Lalu pergi keluar untuk membeli beberapa bahan yang habis di rumah.
Ketika Laila sedang hendak mengambil batu giling, Lutfi masuk dari pintu belakang bersama dengan Akira membawa beberapa buku dan juga kotak pensil.
"Kak!" Sapa Lutfi manis, karena serang Lutfi sedang butuh bantuan sang kakak.
" Apa?" Jawab Laila ketus sambil mengacungkan batu giling ke arah Lutfi.
" Nanti malam bantu kami ngerjain PR ya?" Rayu Lutfi.
" Boleh!" Jawab Laila penuh pikiran licik di otaknya.
" Ye...!" Sorak Lutfi senang sambil berloncat-loncat.
" Tapi.." Laila memotong kesenangan Lutfi penuh misteri.
" Tapi apa?" Tanya Akira penasaran.
" Lutfi harus ngulek sambal ini!" Jelas Laila sambil memainkan batu giling di tangannya.
" Kok gitu?" Tanya Lutfi tidak terima.
" Mau nggak?" Tawar Laila cuek, dalam hati Laila bersyukur Lutfi datang tepat waktu, kalau tidak dia yang akan berkutat dengan cabai ini.
Lutfi dan Akira saling berpandangan meminta saling meminta pendapat, mereka harus bagaimana. Akira mengangguk saja. Sedangkan Lutfi juga setuju, karena PR ini sangat sulit bagi mereka berdua.
" Oke aku sama Akira yang buat sambal!" ucap Lutfi setuju.
" E... Siapa bilang kamu sama Akira?" Ucap Laila tidak terima, " Cuma kamu aja ya Lutfi adikku tersayang!" jelas Laila lagi.
__ADS_1
" Kok gitu?, kan nanti yang di bantu aku sama Akira?" Bela Lutfi.
" Karena tadi Akira sudah bantu kakak jadi sekarang kamu ja yang buat sambal!" Ucap Laila sambil menyerahkan alat membuat sambal kepada Lutfi.
Lutfi yang mendengar itu bertambah kesal dengan kakaknya, dan mengomel. "Yang adiknya itu aku apa Akira sich?" tanya Lutfi pelan.
" Ayo Akira, kita tunggu sambil nonton TV ja!" ajak Laila sambil menggandeng Akira yang sudah seperti saudara sendiri bagi Laila. Sebenarnya Laila sangat sayang kepada adiknya Lutfi, tapi Laila suka sekali membuat adiknya itu marah. Seperti sebuah hobi yang sangat susah di hilangkan.
Akira berjalan mengikuti Laila yang membawanya duduk di depan TV sambil menonton FTV yang sedang tayang di salah satu stasiun televesi swasta. Tapi selama menonton Laila malah hanya marah-marah saja.
" Kak Lai kenapa?" Tanya Akira bingung.
" Males banget lihat cerita yang cowoknya brondong gini, kayak nggal ada cewek lain ja!" Omel Laila sebal.
" Kenapa?" Tanya Akira bingung.
" Nggak suka aja, kalau cowoknya lebih muda pasti ribet, terus ceweknya yang ngalah. Kayak nggak ada yang lain ja!" Jawab Laila kesal.
Akira yang mendengar jawaban Laila dan melihat ekspresinya mulai menyimpan kenapa Laila tidak begitu suka, dan sebabnya. Tidak lama itu Akira mengangguk-anggukkan kepala memproses semua info dari Laila.
" Kamu pindah ke rumah samping sama siapa aja, Kira?" Tanya Laila.
" Terus ibu kamu kemana?" tanya Laila penasaran.
" Meninggal 2 tahun lalu, karena kecelakaan." Jawab Akira sedih.
" E...ma..af!" Ucap Laila sambil memegang pendak Akira, untuk memberikan kekuatan.
" Nggak pa-pa, Kak!" Ucap Akira sambil tersenyum, namun terkesan di paksakan.
" Kalau mau nangis, ya nagis ja!" Ucap Laila sambil bercanda kepada Akira. " Tapi jangan ada ingusnya ya!"
Mendengar ucapan Laila yang berusaha menghiburnya Akira tersenyum tulus. Akira seperti memiliki keluarga di rumah sahabatnya ini, seperti punya harapan baru untuk tetap tinggal disini.
***
Malamnya setelah selesai makan malam, Akira dan Lutfi belajar bersama di bantu oleh Laila sebagai guru bimbel dadakan. Tenyata PR yang mereka harus kerjakan adalah PR matematika yang harus di kumpulkan besok jam pertama.
__ADS_1
" Ini PR di kumpulin kapan?" Tanya Laila yang melihat PR itu sangat banyak.
" Besok, Kak" Jawab Akira sopan.
" Besok, besok pagi!" Jawab Lutfi hampir bersamaan dengan Akira, namun lebih cuek.
" Sebanyak ini?" Tanya Laila agak emosi, walaupun dia pernah ikut olimpiade matematika sampai tingkat provinsi (walupun tidak juara), PR sebanyak ini juga akan sulit dikerjakan secepatnya.
" Makanya kakak ja yang ngerjain, kami berdua tinggal salin ja!" Jawab Lutfi memberi solusi yang sangat tidak bermanfaat.
Mendengar itu Laila Lalu menjitak kepala sang adik sedikit keras, adik yang agak bikin emosi. Tapi walupun kesal dengan Lutfi, Laila tetap mengajarkan mereka cara mengerjakannya dengan sangat sabar dan juga teliti.
Sebenarnya soalnya hanya 5 nomer, namun setiap nomer memiliki anak pinak dari A, B, C dan D. Karna itu, Laila pada setiap nomer hanya memberi contoh yang A saja, lalu sisanya dari B, C dab D akan dibagi-bagi untuk Akira dan juga Lutfi. Mereka berdua. Akira dan Lutfi membagi soal untuk di kerjakan agar cepat selesai, Lutfi mengerjakan yang opsi C saja. Sedangkan sisanya, yaitu B dan D Akira yang akan mengerjakan.
Walaupun Akira mendapat soal separuh lebih banyak daripada Lutfi, tapi Akira selalu selesai lebih cepat.
" Ini kak!" Akira menyerahkan hasil dari soal yang sudah di kerjaannya kepada Laila untuk di koreksi.
" Akira disini kurang tanda minus, kan yang lebih besar nilai kurangnya!" Jelas Laila sambil mengoreksi kesalahan Akira. Sambil menjelaskan beberapa rumus dasar dari soal yang sedang mereka kerjakan.
" Kalau yang bawah bagaimana, kak?" Tanya Akira lagi, memastikan apa yang sudah dia kerjakan masih ada yang salah atau tidak.
Laila menjelaskan dengan sabar apa yang Akira kerja, mana yang salah dan harus bagaimana cara mengerjakan yang benar
Akira yang mendengar Laila menjelaskan itu merasa terpesona oleh kepintaran Laila. Laila dapat dengan lancar menjelaskan dan juga menjabarkan apa yang salah dalam tugas Akira. Sesekali Akira tersenyum melihat ekspresi Laila ketika menjelaskan semua tugas ini.
" Jadi kamu faham, Kira?" Tanya Laila, menyadarkan Akira dari rasa terpesonanya kepada Laila.
"E.. iya !" Jawab Akira agak gagap.
" Kamu kenapa, Akira?" Tanya Lutfi yang melihat Akira agak aneh malam ini.
" Nggak pa-pa!" jawab Akira cepat, sambil mengambil buku dan penanya. Lalu Akira melanjutkan mengerjakan soal lainnya.
Lutfi yang tidak begitu perduli, lebih memilih untuk lanjut mengerjakan soal bagiannya, agar nanti bisa bertukar dengan Akira. Sedangkan Laila yang belum begitu mengenal Akira menganggap itu hal wajar, mungkin Akira memang anak yang seperti itu pikir Laila.
***
__ADS_1
Cinta itu kadang aneh, tidak memandang apapun dari kamu. Hanya butuh kamu saja, cukup KAMU.