Brondong Meresahkan

Brondong Meresahkan
15. Janji


__ADS_3

"Kalau begitu kita cari tempat duduk dulu!" Ajak Kakek menununtun Laila ke kursi terdekat dari tempat mereka berdiri. Meninggalkan Akira yang masih tegak di tempat tadi.


Laila membatu Kakek duduk di kursinya. Lalu Laila dengan semangat mengatur posisi untuk mendengarkan cerita apapun tentang Akira, selama mereka tidak bertemu bertahun-tahun ini.


***


"Kamu sudah begitu lama tidak bertemu dengan berandalan yang satu ini kan?" Tanya Kakek setelah duduk di depan Laila.


"Iya!" Jawab Laila cepat.


Belum sempat Laila mendengar apapun dari Kakek, Akira menghampiri mereka dan meminta untuk pergi dan meninggalkan acara itu terlebih dahulu. Karena masih ada urusan yang harus ia urus.


"Kakek, Akira tidak bisa mengikuti acara hingga selesai, dan harus pergi sekarang!" Ucap Akira pelan.


"Kalau kamu mau pergi, ya pergi saja!' Usir Kakek yang tidak mau melepaskan tangan Laila.


"Kalau begitu tolong kakek lepaskan Laila!" Pinta Akira dengan senyum penuh kemenangan.


" Biarkan Laila di sini, kamu pergi ya pergi sendiri saja!" Perintah Kakek sambil meayunkan tangannya untuk mengusir Akira.


"Tidak bisa begitu, Kek!" Ucap Akira tidak terima.


"Kenapa?"


"Tadi Laila pergi kesini bersama Akira, dan Akira sudah berjanji kepada adik Laila untuk membawa Laila kembali dengan selamat!" Bujuk Akira.


Akira memberi kode kepada Laila untuk ikut pulang bersamanya.


"Kakek." Panggil Laila lembut sambil mengusap telaak tangan kakek. "Benar apa yang di katakan Akira, lebih baik Laila pulang dulu bersama Akira, kalau kakek masih mau bercerita apapun tentang Akira dan segala kebutukannya akan kita lalukan itu dilain waktu!" Bujuk Laila lembut.


"Kapan?" Tanya Kakek menuntut.


"Kalian akan punya banyak waktu untuk saling bercerita nanti!" Janji Akira.


"Janji dengan mulut manismu itu tidak bisa di percaya, cucu durhaka!" Uca Kakek tidak percaya dengan janji yang di ucapkan oleh Akira.


"Kan ini memang mulut manis yang Akira pelajari dari Kakek!" Ucap Akira sambil berjalan ke belakang tempat duduk Laila.


"Dasar, cucu tidak sopan!" Maki Kakek pelan yang hanya bisa di dengar oleh mereka bertiga saja.


"Jika Laila tidak sibuk, dan juga tidak ada jadwal sidang, kita akan buat janji untuk bertemu bagaimana?" Tanya Laila menengahi.


"Janji?" Tanya Kakek senang mendengar tawaran Laila.


Laila melihat ke arah Akira meminta persetujuan untuk mengiyakan permintaan Kakek.


Akira menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan usulan dan perjanjian itu.


"Iya!" Jawab Laila lembut.


"Kamu dengar itu Akira?" Tanya Kakek kepada cucunya yang berdiri di belakang Laila.


"Nanti Akira akan sering-sering bawa Laila ke rumah utama!" Janji Akira

__ADS_1


"Awas sampai kamu tidak membawa cucu kesayangan kakek ini pergi menjengukku!" Ancam Kakek sambil menunjuk Akira.


"Jadi sekarang yang jadi cucu Kakek sudah bukan Akira lagi?" Tanya Akira sambil tersenyum.


"Iya!" Jawab Kakek sambil melepaskan genggaman tangannya pada Laila.


"Kakek, Laila pamit dulu ya, besok kalau Laila ada waktu pasti akan pergi menemui Kakek." Pamit Laila.


"Iya!" Ucap Kakek lembut.


Akira dan Laila berjalan meninggalkan tempat pesta yang mewah itu dengan bergandengan tangan. Di saksikan oleh beberapa gadis yang panas melihat kedekatan Laila dengan sang perwaris yang begitu tampan dan mempesona itu.


***


Dalam perjalanan pulang Laila tidak banyak bicara dan memilih untuk mendengarkan musik yang ada di dalam mobil Akira.


Perjalanan itu terasa hening hingga tiba-tiba Akira mengungkapkan sesuatu yang membuat Laila kaget.


"Laila..." Panggilan Akira, tanpa menggunakan panggilan sopan seperti biasa dengan sebutan Kakak.


"Hm?" Laila yang merasa salah dengar mengernyitkan dahinya bingung, dan berfikir bahwa dia salah dengar.


"Laila kalau kita menikah saja bagaimana?" Tanya Akira lagi.


"Apa?" Tanya Laila, sambil mematikan musik dari mobil yang mereka tumpangi.


"Kalau kita menikah saja bagaimana?" Tanya Akira lagi, mengulangi pertanyaannya.


"Aku nggak salah dengernya?" Tanya Laila pelan, karena merasa aneh dengan pertanyaan Akira.


Laila mengerjapkan matanya sambil memandang Akira yang duduk di kursi kemudi tepat disampingnya.


"Kamu nggak panas atau lagi demamkan?" Tanya Laila sambil memegang dahi Akira dengan telapak tangan Kanannya, dan memegang dahinya dengan telapak tangan kirinya. Laila melakukan itu untuk mengecek suhu tubuh Akira.


Akira hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Terus kalau nggak panas atau demam, kenapa ngajak kakak nikah?" Tanya Laila menuntut jawaban Akira.


"Kan Kakek sudah suka banget sama Kamu!" Jawab Akira asal.


"Kakek yang suka sama Kakak?" Tanya Laila meyakinkan, sambil menatap Akira dengan seksama


"Iya!" Jawab Akira yang tidak merubah arah pandangannya sedikitpun. Akira tidak berani menatap mata Laila.


"Oke..." Jawab Laila memberi jeda sedikit untuk melanjutkan kata-katanya.


Sedang Akira tersenyum mendengar jawaban Laila yg sengaja di potong itu.


"Kalau begitu Kakak akan menikah dengan Kakek!" Jawab Laila sambil tersenyum.


"Bagaimana?" Tanya Akira sambil mengijak rem dengan cepat. Hal itu membuat Laila terpelanting kedepan dan terbentur kaca depan mobil, karena Laila tidak menggunakan sabuk pengaman.


"Aduh!" Rengek Laila memegangi jidatnya yang memerah, karena terbentur itu.

__ADS_1


"Tadi bilang apa?" Tanya Akira sambil memutar badannya menghadap Laila, setelah menepikan mobilnya ke tempat yang lebih aman.


"Aku nikah sama Kakek kamu aja, Kira!" Jawab Laila santai.


"Kakak suka sama Kakek?" Tanya Akira tidak terima harus bersangi dengan sang Kakek.


"Ya nggak!" Jawab Laila sambil masih memegangi kepalanya yang terbentur itu.


"Terus kenapa mau nikah sama Kakek?" Tanya Akira sewot.


"Kan tadi kamu bilang Kakek kamu suka sama Kakak!" Jawab Laila santai.


"Maksud aku nggak gitu!" Ucap Akira geram.


"Terus?, kamu yang mau nikah sama kakak?" Tantang Laila.


"Iya!" Jawab Akira tegas.


Laila yang mendengar itu hanya tersenyum miring dan menggelengkan kepalanya tidak percaya.


"Ayo jalan lagi, bentar lagi sampai ini!" Perintah Laila sambil melihat kanan kiri.


Akira mengemudikan kembali mobilnya menuju rumah Laila yang sudah tidak begitu jauh dari tempat mereka berhenti itu.


"Jadi gimana?" Tanya Akira lagi setelah mereka sampai di depan rumah Laila.


"Apa?" Tanya Laila tidak begitu paham arah pembicaraan Akira.


"Kita menikah?" Tanya Akira.


"Bercandanya nggak lucu, Kira!" Jawab Laila, sambil hendak membuka pintu mobil di sampingnya.


Tangan Kanan Laila di tarik oleh Akira cukup kuat untuk menahan dia agar tidak bisa keluar dari mobil yang mereka tempati.


***


bersambung


Maaf udah lama nggak upload, dunia nyata lagi tidak baik-baik saja. awalnya saya kira bisa lancar nulis ketika kerjaan selesai, ternyata kerjaan memang selesai tepat waktu, tapi masalah datang juga tepat waktu.


Baca karya aku yang lain juga yok ada




Ruang Dosen (15 bab)




JODOH: Cinta Pertama (58 bab)

__ADS_1




__ADS_2