
" Edward " ucap Shareena lirih saat melihat sang anak menghampiri Audrey.
Mata Edward menatap nyalang kepada wanita yang kini berdiri sambil menatapnya. Edward merengkuh pinggang Audrey kemudian membawa paksa Audrey untuk segera menjauh dari sana.
" Ed... Apa-apaan ini ? " tanya Audrey sambil menatap Edward.
" Ed ! Aku belum berpamitan pada Aunty Shareena " ucap Audrey sambil menahan langkah Edward.
Edward menghentikan langkahnya.
" Tidak perlu ! Dan aku melarangmu untuk berdekatan dengannya ! " seru Edward memerintah Audrey.
" Tapi kenapa Ed ? Tolong jelaskan kenapa aku tidak boleh berdekatan dengannya ? " tanya Audrey heran.
" Aku bilang tidak ya tidak ! Tidak perlu penjelasan lagi " tegas Edward.
" Edward " panggil Shareena yang tentunya membuat Edward dan Audrey menoleh ke arah datangnya suara.
" Anda mengenalnya ? " tanya Audrey menatap penuh tanya pada Shareena.
" Ya, Audrey... Edward adalah anakku " jawab Shareena dengan penuh rasa rindu.
Astaga... !
Audrey menutup mulut dengan sebelah tangannya.
Sementara Edward mengeraskan rahangnya. Tanpa basa basi, ia langsung menarik Audrey.
" Edward... Mama bahagia kamu bersama dengan Audrey. Mama yakin Audrey wanita yang baik... "
" Tentu saja, dia wanita yang baik. Tidak seperti anda yang tega meninggalkan anaknya sendiri " sinis Edward.
" Edward... Mama... Biarkan Mama menjelaskan semuanya padamu, Nak " pinta Shareena.
" Tidak perlu ! Aku tidak butuh penjelasan apapun. Jadi tidak perlu menjelaskan apa-apa padaku " potong Edward tanpa melihat Shareena.
" Dan satu hal lagi, jangan panggil aku anakmu. Karena anakmu telah lama mati setelah kau meninggalkannya ! " seru Edward lagi lalu menarik tangan Audrey untuk menjauh.
Audrey menoleh ke arah Shareena lalu mengangguk memberi hormat kepada Shareena. Sementara Shareena hanya bisa melihat Edward berlalu tanpa sedikitpun menatapnya.
Maafkan Mama, Edward... Maaf ! Percayalah, semua yang Mama lakukan itu untuk kebaikanmu
__ADS_1
Batin Shareena sambil menatap kepergian Edward dan Audrey.
Blug...
Edward menutup pintu mobilnya dengan kasar membuat Audrey terjingkat karena kaget. Wajahnya memerah menahan amarah.
Mengapa ia harus datang kembali dalam kehidupanku ? Damn !!
Edward menyalakan mobilnya lalu menjalankannya dengan kecepatan tinggi.
" Ed... " ucap Audrey sambil memegangi handle yang berada di atas pintu.
Namun Edward terus melajukan kendaraannya tanpa mengurangi kecepatannya.
" Edward... " ucap Audrey lagi mengeraskan suaranya.
Ini kali kedua, Audrey menyaksikan Edward berlaku seperti ini. Dan tentunya dengan sebab yang sama.
" Ed, berhenti ! Lebih baik kau langsung membunuhku daripada membuatku mati karena serangan jantung ! " teriak Audrey yang langsung membuat Edward sedikit mengurangi laju kendaraannya.
Edward menghentikan mobilnya di tepian danau yang berada di wilayah hutan kota. Ia mencengkram erat kemudi lalu menempelkan wajahnya diatas kemudi.
Audrey menyentuh pundak Edward lalu mengelus punggung pria itu dengan lembut.
Audrey masih mengusap punggung Edward meskipun pria itu masih belum mengangkat wajahnya.
" Ed... Kau bisa berbagi masalah denganku ! Bukankah aku adalah wanitamu sekarang ? Aku akan berbagi suka dan duka denganmu " ucap Audrey.
Edward lagi-lagi bergeming.
" Ed... "
Audrey menghembus kasar nafasnya karena merasa jika Edward seolah tak acuh dengan kehadirannya.
" Baiklah, aku akan meninggalkanmu sendiri. Aku tak akan mengganggumu " ucap Audrey pada akhirnya memilih untuk keluar dari dalam mobil.
Audrey melepas seat belt yang melingkar di tubuhnya lalu membuka handle pintu. Belum sempat Audrey keluar, Edward dengan segera merengkuh Audrey.
" Jangan tinggalkan aku ! Please stay here, with me ! " ucap Edward lirih.
Tak ada kata yang terucap setelahnya. Edward masih betah menyandarkan kepalanya ke punggung Audrey. Pun begitu pula dengan Audrey yang tetap diam membiarkan Edward menyandarkan diri padanya.
__ADS_1
" Mengapa dia datang kembali saat aku sudah mampu melupakan sakit yang mendera. Kini dia kembali dan membuka luka yang telah lama kukubur dalam-dalam... " lirih Edward.
Audrey menarik nafas lalu menghembuskannya. Perlahan Audrey membalik badannya hingga dapat menghadap Edward.
Audrey kemudian memeluk Edward. Pria yang biasanya penuh percaya diri itu kini tertunduk lesu. Siapa yang menyangka jika pria yang selalu tebar pesona itu ternyata memiliki permasalahan yang pelik dalam hidupnya.
Audrey semakin yakin jika apa yang Edward lakukan selama ini hanyalah sebagai pelampiasan untuk menutupi luka di hatinya.
" Kalau menangis bisa membuatmu lebih baik, maka menangislah. Aku akan selalu bersamamu, membuatmu merasa lebih baik " ucap Audrey jujur.
Dan kemudian, Edward pun menangis dalam pelukan Audrey. Audrey yang sudah mengetahui cerita masa lalu Edward kini hanya bisa mengusap-usap punggung Edward. Membuatnya setenang dan senyaman mungkin.
...****************...
Sementara itu, Shareena baru saja sampai di kediamannya. Ia segera memasuki kamarnya dan hal itu membuat Arsen, sang suami yang tengah berada di ruang tengah menatap heran. Arsen kemudian menyusul sang istri ke dalam kamar dan melihat Shareena tengah menangis.
" Honey, apa yang terjadi ? " tanya Arsen heran. Dengan segera ia menghampiri Shareena dan memeluknya.
" Katakan padaku, apa yang terjadi ? " tanya Arsen mengulang pertanyaannya lagi.
" Tadi aku bertemu Edward " jawab Shareena lirih.
" Lalu dia menolakmu ? " selidik Arsen kemudian.
Shareena mengangguk pelan.
" Astaga honey... Bukankah sudah kukatakan jika kita harus bersabar untuk menghadapi Edward " Arsen menyugar rambutnya.
" Tapi sampai kapan aku harus menahan kerinduanku ini ? Melihat anak kita yang kutinggalkan 22 tahun yang lalu, kini sudah dewasa. Dan dia justru membenciku " sahut Shareena begitu sedih.
" Ini salahku... Maafkan aku ! Seandainya saja dulu aku berani mengakui dirimu dan anak kita tentunya masalahnya tidak akan serumit ini " ucap Arsen penuh penyesalan.
Arsen teringat saat dulu ia dan Shareena masih menjadi sepasang kekasih. Shareena hamil anaknya, namun ia tak berani untuk berterus terang kepada orang tuanya dan hal itu membuat Shareena kecewa lalu meninggalkannya bersama bayi dalam kandungannya.
Setelah kepergian Shareena, Arsen barulah berterus terang kepada orang tuanya dan membuat kedua orang tuanya marah serta memintanya untuk menikahi Shareena. Tetapi semuanya terlambat karena Shareena telah pergi meninggalkannya tanpa kabar.
Hingga akhirnya 7 tahun kemudian, Arsen dipertemukan lagi dengan Shareena pada acara gala dinner. Namun sayangnya, Shareena ternyata telah menikah dengan seorang pengusaha muda yang Arsen kenal sebagai sahabat Shareena.
Arsen yang masih begitu mencintai Shareena berusaha untuk mendapatkan kembali cinta dari Shareena. Dan bak gayung bersambut, Shareena yang menjalani pernikahan tanpa rasa cinta dan hanya karena bayi yang dikandungnya itu memutuskan untuk kembali pada Arsen
Akan tetapi, Gabriel ternyata tidak ingin melepaskannya dengan mudah. Gabriel yang sangat mencintai Shareena mengabulkan permohonan cerai dari Shareena dengan syarat Shareena tidak membawa Edward bersamanya. Walaupun Gabriel bukan ayah kandung dari Edward, tapi Gabriel sangat menyayangi Edward layaknya anak kandungnya sendiri.
__ADS_1
Meskipun berat, akhirnya Shareena menerimanya. Ia kembali bersama Arsen, pria yang sangat ia cintai. Namun, ia harus kehilangan cinta dari anaknya sendiri. Bahkan kini anaknya itu justru membencinya.
Jika saja waktu bisa ia putar kembali, Shareena tak akan meninggalkan Edward. Ia akan memohon kepada Gabriel agar membolehkan Edward tinggal bersamanya dan tak memisahkan mereka.