Bukan Mainan Pelampiasan

Bukan Mainan Pelampiasan
BMP 29 - Mengajari


__ADS_3

Edward berjalan mendekati Audrey sambil melipat tangan di depan dada.


" Sayang, kamu sudah pulang ? " tanya Audrey mencoba mencairkan suasana.


" Aku tanya kau dari mana saja ? Aku menunggumu sejak tadi " jawab Edward dengan tatapan mengintimidasi.


" Aku habis jalan-jalan di taman " sahut Audrey.


" Benarkah ? Lalu apa yang ada di tanganmu itu ? " tanya Edward lagi sambil melihat paper bag yang dibawa oleh Audrey.


" I, ini... " Audrey melihat ke arah paper bag yang dibawanya.


Aduh... Bagaimana ini ?


" Baby... Apa yang ada di tanganmu itu ? " tanya Edward lagi.


" Ini... Puding. Tadi Mommy Shareena yang memberikannya. Kami bertemu di taman " jawab Audrey sambil meremat kuat paper bag di tangannya.


" Jadi kau masih bertemu dengannya ? " selidik Edward.


" Maaf, maafkan aku. Tadi aku tak sengaja bertemu dengannya " jawab Audrey kemudian.


Edward menghela nafasnya, lalu menggeleng pelan.


" Bukankah sudah kukatakan jika aku... "


" Aku tahu. Aku tahu kau tidak suka jika aku masih berhubungan dengan mereka. Tetapi apa kau tahu perasaanku ? Aku mendapatkan kasih sayang seorang ibu yang telah lama aku rindukan dari mommy Shareena. Bahkan apa kau tahu, anak kita juga menginginkan dekat dengannya, dengan mereka " sela Audrey.


" Jangan mengada-ngada, Audrey ! Bahkan aku tidak akan mengijinkan anakku mengenal mereka" sahut Edward.


" Mereka itu keluargamu, Ed. Ibumu, adikmu, juga ayahmu " tukas Audrey.


Edward mengeraskan rahangnya saat mendengar ucapan Audrey. Dan Audrey menyadari jika ia sudah salah bicara dan membuat Edward begitu marah.


" Maafkan aku, Ed. Tapi aku tidak ingin anak kita lahir dalam keadaan penuh kebencian. Kumohon Ed... Demi anak kita, turunkan egomu. Hilangkan dendam dari hatimu agar kita bisa hidup dengan tenang " jelas Audrey dengan memohon kepada sang suami.


Edward meraup kasar wajahnya, kemudian berjalan mundur beberapa langkah.


" Ed... " Audrey mencoba mendekati Edward kemudian memeluknya.


" Aku dan anak kita menginginkan keluarga yang utuh, damai... Dia juga berhak mendapatkan kasih sayang dari kakek, nenek dan juga pamannya " ucap Audrey.


" Itu tidak akan terjadi, karena bagiku mereka tidak pernah ada " tukas Edward lalu berjalan meninggalkan Audrey sendiri.

__ADS_1


" Jika aku tetap mengenalkan mereka kepada anak kita, apa yang akan kau lakukan ? " tanya Audrey penasaran dan pertanyaan itu membuat Edward langsung menatap tajam pada Audrey.


" Jangan pernah memaksaku, Audrey. Atau aku tidak akan menganggapmu ada seperti mereka " jawab Edward lalu meninggalkan Audrey yang merasa tak percaya dengan ucapan Edward.


Ya Tuhan... Apa dia benar-benar akan melakukan hal itu kepadaku ?


Baby... Apa yang harus mommy lakukan ?


Audrey menghela nafas kemudian mengusap perutnya yang sudah menonjol seolah berbicara dengan sang anak.


Audrey lantas membawa puding ke dapur dan memasukkannya ke dalam lemari es. Setelah itu, ia menuju ke kamar.


Edward sendiri kini berada di ruang kerjanya. Ia duduk di atas kursi kebesarannya, sembari mengurut pelipisnya. Sebelah tangannya memegangi fotonya ketika bersama sang ibu dulu.


" Aku tidak akan membiarkanmu mendekati keluargaku. Kau pikir dengan berbuat baik kepada istriku bisa membuatku memaafkanmu ? Tidak semudah itu, setelah apa yang kau lakukan kepadaku " gumam Edward lalu ia melempar foto ke atas meja.


Hingga kemudian terdengar suara ketukan di depan pintu.


" Ed, boleh aku masuk ? " tanya Audrey.


Edward segera menyimpan foto itu ke dalam laci meja kerjanya.


" Masuklah ! " titah Edward.


Audrey segera masuk dan melihat jika suaminya itu tengah duduk di atas kursinya.


Audrey kini berjalan mendekati Edward, lalu duduk di pangkuan suaminya itu. Ia melingkarkan tangannya di leher Edward sambil menatap pria itu.


Edward membalas tatapan mata Audrey dengan dalam dan kemudian Audrey mencium bibirnya.


" Kau sudah mulai nakal baby ? " ucap Edward tersenyum miring saat ciuman mereka berakhir.


" Jangan menyalahkanku karena kau sendiri yang memancingku " tambah Edward dengan suara berat.


Edward dengan segera mengangkat Audrey lalu membawanya ke atas sofa.


" Pelan-pelan, Ed... Ingat ada dia disana ! " ucap Audrey mengingatkan Edward.


" Ya, aku tahu " jawab Edward lalu segera melancarkan aksinya.


Setelah permainan panas yang mereka lakukan di ruang kerja. Mereka kini berada di dalam kamar mandi untuk membersihkan diri bersama.


Dan setelah itu, Audrey kini tengah duduk dengan berselonjor kaki di atas ranjang. Punggungnya bersandar pada head board ranjang. Ia duduk sambil membaca buku tentang kehamilan.

__ADS_1


Edward yang baru saja masuk ke dalam kamar, tersenyum melihat Audrey yang begitu serius membaca. Ia kemudian berjalan mendekat lalu duduk di samping Audrey, ikut membaca buku.


Mereka membaca bab yang menerangkan jika ibu hamil harus senantiasa tidak banyak berpikir buruk, moodnya harus terjaga dengan baik karena apa yang dirasakan oleh sang ibu, maka bayi dalam kandungannya pun bisa merasakannya.


" Apa kau lapar, baby ? " tanya Edward sambil mengusap perut Audrey yang sudah terlihat menonjol.


" Sedikit " jawab singkat Audrey.


" Aku akan membawakanmu makanan. Katakan apa yang kau dan bayi kita inginkan " ucap Edward dengan lembut.


" Em, sebenarnya aku sangat ingin makan puding yang dibuat oleh Mommy Shareena. Bisakah kau membawakannya untukku ? " pinta Audrey dengan tatapan memohon.


Edward membuang nafasnya,


" Kalau kau tidak mau, biar aku saja yang mengambilnya sendiri " ucap Audrey lagi. Kini ia menutup buku, kemudian menurunkan kakinya turun dari ranjang.


" Biar aku mengambilnya untukmu ! " ucap Edward menahan agar Audrey tidak turun dari tempat tidur.


Edward kemudian bangkit, lalu beranjak keluar dari kamar. Tidak berapa lama, ia kembali dengan membawakan puding.


" Wah... Thank you, daddy ! " ucap Audrey dengan mata berbinar saat Edward membawakannya puding.


Audrey dengan segera melahap puding yang dibawa oleh Edward. Puding rasa strawbery dengan toping vla vanila sukses meluncur ke mulut Audrey.


" Hm... Ini sangat lezat ! Aku harus meminta Mommy Shareena mengajarkanku membuatnya agar nanti aku bisa membuatnya untukmu dan anak kita " ucap Audrey.


Edward tidak menanggapi ucapan Audrey. Ia memilih untuk mengusap perut sang istri.


" Ed, kau harus mencobanya ! Satu suap untukku, satu suap untuk bayi kita, dan satu suap untukmu. Ayo, buka mulutmu... Aaa... " Audrey mencoba menyuapi Edward.


" No, baby. Aku sedang tidak ingin makan apapun ! " tolak Edward.


" Ayolah, Ed... Demi aku dan anak kita ! Dia mau ayahnya ikut makan bersama " bujuk Audrey.


And it works... Edward membuka mulutnya dan hap, satu suapan masuk ke dalam mulut Edward.


" Enak kan daddy ? " tanya Audrey manja.


Edward mengangguk, ya rasanya memang sangat lembut dan lezat. Rasa yang sama yang dulu pernah ia rasakan.


" Kalau begitu, bolehkan aku meminta Mommy Shareena mengajarkan cara membuatnya ? " tanya Audrey penuh harap.


" Tidak ! " jawab Edward dengan tegas.

__ADS_1


" Ck, kau egois sekali ! Padahal dengan aku tahu cara membuatnya, aku kan tidak perlu meminta Mommy Shareena untuk terus membuatkanku " gerutu Audrey sambil merengut.


" Aku akan meminta koki terbaik untuk mengajarimu cara membuat puding ! "


__ADS_2