
Edward memijat-mijat pelipisnya setelah mendengar keinginan Audrey. Dengan cara apapun ia membujuk istrinya itu, tetap saja Audrey memilih untuk tinggal di kediaman mertuanya itu.
" Baby, kau yakin akan tinggal disini ? " tanya Edward sekali lagi kepada Audrey.
" Ya, disini aku merasa aman dan nyaman. Lagi pula jika aku akan melahirkan, ada mommy Shareena disini. Jika tinggal di apartemen, aku hanya sendirian. Selain itu, bisa saja kau malah pergi dengan wanita itu bukannya menemani dan menjagaku " jawab Audrey menatap sinis kepada Edward.
" Oh my God... Baby, berapa kali harus aku katakan kalau aku tidak ada hubungan apapun dengannya. Hubungan kami pure karena bisnis " jelas Edward kembali menegaskan bahwa dia tidak ada hubungan lain dengan Laura.
" Cukup, Ed... Aku tidak ingin membahasnya lagi. Kalau kau tidak ingin tinggal, maka pergilah ! " seru Audrey membuat Edward tercengang.
" Baby, kau mengusirku ? " tanya Edward heran.
" Aku tidak mengusirmu. Aku hanya tidak ingin berdebat denganmu... Sudah aku katakan jika aku akan tinggal disini bersama dengan kedua orang tuamu dan adikmu " jawab Audrey.
" Orang tuaku hanyalah ibuku ! Dan pria yang bersamanya bukanlah ayahku " sahut Edward dengan nada suara meninggi.
Audrey tersenyum tipis lalu menggeleng pelan.
" Mereka adalah orang tuamu ! Selama ini, orang yang kau benci adalah ayah kandungmu. Dan orang yang kau anggap ayahmu bukalah ayahmu. Itulah kebenarannya " tukas Audrey tanpa takut.
Edward bergeming. Ia benar-benar tak percaya dengan ucapan Audrey. Lagi pula darimana Audrey mengetahui hal ini. Ini pasti karena istrinya itu sudah termakan hasutan dari orang-orang yang ada di mansion ini.
" Seharusnya, sejak dulu aku melarangmu berhubungan dengan mereka. Sekarang lihat dirimu, lebih mempercayai mereka daripada suamimu sendiri " ucap Edward sambil tertawa kecil.
" Dan itu semakin membuatku yakin untuk membawamu pergi dari sini " tambah Edward lalu menarik tangan Audrey membawanya segera pergi dari mansion ibunya itu.
" Lepaskan ! Aku tidak mau ikut denganmu. Lepaskan aku ! " teriak Audrey sambil berusaha melepaskan pegangan tangan Edward.
Edward menarik Audrey melewati Mom Shareena dan Dan Arsen yang tengah duduk di sofa.
" Astaga ! Ada apa ini Ed ? " tanya Mommy Shareena menghadang langkah Edward.
" Mom, tolong aku. Aku tidak ingin pergi bersamanya ! " ucap Audrey memohon pada Mom Shareena.
__ADS_1
" Ed, lepaskan Audrey ! Lihatlah, dia kesakitan " ucap Mom Shareena kepada Edward.
" Ini bukan urusan anda ! " sahut Edward dingin.
" Edward, lepaskan Audrey... ! " seru Dad Arsen sambil memegang lengan Edward
Edward memandang sinis kepada pria yang memegang tangannya itu. Ia lalu menyingkirkan tangan Dad Arsen dari lengannya.
" Jangan pernah menyentuhku ! Karena kaulah kehidupanku bahagiaku hancur " ucap Edward sambil menunjuk wajah Dad Arsen.
Pria paruh baya itu hanya bisa menatapi Edward. Anak yang selama ini ia rindukan dan kini malah sangat membencinya.
" Cukup, Ed... Hormatilah Dad Arsen, dia ayahmu ! " seru Audrey.
" Ayahku sudah tidak ada, Audrey... Apa kau lupa ? Bukankah aku sudah mengatakan semuanya kepadamu ? "
" Kau harus mendengar penjelasan Mom Shareena juga Dad Arsen " sahut Audrey dengan lantang.
" Tidak ada yang harus aku dengar lagi. Ayo kita harus pulang ! " timpal Edward lalu membawa Audrey pergi.
" Edward, setidaknya dengarkan dulu penjelasan kami. Dan setelahnya kau bisa berbuat sesuai yang kau inginkan " tambah Mommy Shareena.
" Ed... Kumohon dengarkan dulu mereka " mohon Audrey dengan sangat.
Edward menarik nafas lalu menghembusnya perlahan. Kemudian mereka duduk di sofa saling berhadapan dimana Edward duduk bersama Audrey dan di depannya Mom Shareena duduk bersama Dad Arsen.
Dad Arsen mulai menceritakan semua dari awal sampai saat ini tanpa ada yang ditutupi. Sesekali Mom Shareena ikut menambahkan. Edward mendengarkan dengan seksama. Berulang kali ia
Menghela nafasnya tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Apalagi mendapati kenyataan jika ayah yang selama ini ia hormati bukanlah ayah kandungnya namun Edward masih berusaha menyanggahnya.
" Mana bukti yang menunjukkan jika aku adalah anak anda ? " tanya Kevin sembari menatap Dad Arsen.
" Kau ingin bukti ? Baiklah akan aku bawa buktinya ! " ucap Dad Arsen.
__ADS_1
Dad Arsen menuju ruang kerja, ia mencari bukti yang diinginkan oleh Edward. Setelah itu, ia kembali untuk menyerahkannya kepada Edward.
" Di dalam amplop ini, ada bukti yang kau inginkan " ucap Dad Arsen sambil memberikan amplop tersebut.
Edward mengambilnya kemudian membukanya. Ia membaca isi di dalam amplop yang merupakan hasil tes DNA antara dirinya dengan Dad Arsen juga hasil tes DNA antara Edward dengan Dad Freddy dimana jelas tertulis hasil positif antara dirinya dengan Dad Arsen. Dan itu dibuat saat ibunya dan ayahnya berpisah.
" Kalian pasti merekayasanya " ucap Edward sambil melemparkan surat itu ke atas meja.
" Kami tidak merekayasa apapun, Ed. Itu adalah kenyataannya... " sahut Mommy Shareena.
Edward mengusap wajahnya, kemudian ia berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari mansion orang tuanya. Audrey berjalan mengikuti Edward.
" Ed... Kau mau kemana ? " tanya Audrey yang akhirnya bisa menahan laju Edward sebelum ia masuk ke dalam mobil.
" Aku butuh menenangkan diri. Kau tunggulah disini ! " ucap Edward sambil mengelus wajah Audrey.
" Berjanjilah kau tidak akan berbuat macam-macam " mohon Audrey karena ia tahu jika Edward akan melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
" Aku tidak akan macam-macam, baby... I promise, i will be back for you and our baby " ucap Edward sambil mengecup kening Audrey.
" Be carefull, daddy ! " ucap Audrey saat Edward masuk ke dalam mobilnya lalu melambaikan tangannya.
Seperti yang dikhawatirkan oleh Audrey, Edward memang mengemudikan kendaraannya demgan kecepatan tinggi. Ia ingin semuanya menjadi jelas sehingga ia berniat untuk menemui Paman Duncan, ayah Rico.
Edward sampai di mansion keluarga Rico, lalu menemui Paman Duncan. Dan saat ini, mereka berdua berada di ruang kerja. Setelah mengetahui jika Edward sudah tahu segalanya, akhirnya Paman Duncan pun menceritakannya.
Bahwa yang disampaikan oleh Tuan Arsen dan Nyonya Shareena itu benar. Tes DNA dilakukan agar Tuan Freddy bersedia menceraikan Nyonya Shareena. Akan tetapi, Tuan Freddy bersedia untuk bercerai dengan syarat Edward tidak boleh ikut dengan kedua orang tuanya.
Tentu saja dengan alasan dia menyayangi Edward. Padahal bukan hanya karena itu, Tuan Freddy memang sangat menyayangi Edward. Akan tetapi ia juga ingin Nyonya Shareena dan Tuan Arsen menderita karena berpisah dengan anak mereka.
Paman Duncan sengaja memasukkan Edward ke sekolah asrama, agar ia tidak terus-menerus melihat perilaku buruk Tuan Freddy.
Mendengar hal itu, membuat Edward marah terhadap ayah Freddy. Ayah yang selama ini ia hormati dan sayangi, ternyata hanya ingin membalas dendam kepada kedua orang tuanya.
__ADS_1
Lantas Edward segera pergi dari mansion Paman Duncan untuk menemui yang paling bertanggung jawab atas semua hal yang telah terjadi.