
Audrey menarik nafasnya dalam-dalam saat Edward mengatakan maksud kedatangan mereka menemui ayahnya.
Tuan Darren bergeming, hanya bola matanya yang bergerak menatap Audrey dan Edward bergantian. Lantas ia pun menghela nafasnya.
" Yang berhak menjawab permintaanmu hanyalah Audrey. Bagi seorang ayah, kebahagiaan anaknya adalah hal yang paling utama. Jika bersama anda Audrey bahagia, maka tidak ada alasan untuk menolak permintaan anda mempersunting Audrey " ucap Darren.
" Ayah... " lirih Audrey kembali memeluk sang ayah dengan erat
" Nak... Apakah kamu bersedia menerima Tuan Edward ? " tanya sang ayah sembari menatap Audrey.
Audrey menoleh ke arah Edward yang tersenyum teduh padanya. Ia menghela nafas, lalu memantapkan hatinya.
" Ya, Audrey bersedia yah " jawab Audrey dengan lantang sambil melemparkan senyum ke arah Edward.
Mendengar jawaban dari Audrey tentu saja membuat perasaan Edward begitu membuncah dipenuhi rasa bahagia. Bergegas ia menghampiri Audrey yang masih setia berada di samping sang ayah.
" Terima kasih ! Terima kasih karena sudah mau menerimaku dengan segala kebaikan dan keburukanku " ucap Edward seraya menggenggam tangan Audrey.
Edward lantas mengeluarkan kotak cincin dari dalam saku jasnya lalu mengeluarkan cincin dan menyematkannya di jari manis Audrey.
" Di depan ayahmu, aku berjanji akan selalu membahagiakanmu. Terima kasih sudah bersedia menjadi bagian dari hidupku. I love you, Audrey ! " tutur Edward sambil merapikan anakan rambu audrey ke belakang telinga dengan lembut
" I love you to, Tuan mesum pemaksa " bisik Audrey sambil mengerlingkan matanya.
" Ehem, ehem... " Ayah Audrey berdehem untuk mengalihkan perhatian kedua insan yang tengah bucin itu.
" Iya, ayah ? " tanya Audrey, matanya kini beralih menuju sang ayah.
" Kemarilah, kalian berdua ! " titah sang ayah.
Audrey dan Edward segera mendekati Tuan Darren. Kemudian Tuan Darren mengambil satu tangan Audrey dan satu tangan Edward.
" Kalian harus berjanji untuk selalu bersama. Tidak ada hubungan tanpa masalah. Saya harap kalian dapat menyelesaikan masalah demi masalah yang nanti menghadang hubungan kalian. Cukup percaya dan saling terbuka satu sama lain. Niscaya semua permasalahan akan terlewati. Saya percayakan putri kesayangan saya pada anda, Tuan Edward. Cintai dia dengan tulus, sepenuh hati anda. Dan tolong jaga dia dengan segenap jiwa dan raga anda " ucap ayah Audrey.
" Anda tidak perlu khawatir, karena aku akan selalu menjaga, melindungi juga mencintai Audrey dengan seluruh jiwa dan ragaku " sahut Edward dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
" Syukurlah ! Saya bisa tenang sekarang " ucap Tuan Darren dengan senyuman tersungging di wajahnya.
Audrey tersenyum menatap Edward yang juga tengah menatapnya. Setelah beberapa lama berbincang disana, akhirnya mereka berdua kembali menuju apartemen.
Keesokan harinya, seperti biasa Edward tengah bersiap menuju ke kantor. Begitupun dengan Audrey. Setelah menyiapkan segala kebutuhan pria itu, kini Audrey tengah membuat sarapan untuk mereka berdua.
" Good morning, baby ! " sapa Edward sambil mencium pipi Audrey.
Audrey hanya tersenyum tipis saja dengan perlakuan manis Edward kepadanya. Jika dulu, ia sangat membenci sikap Edward, kini ia mulai terbiasa dengan hal-hal manis yang selalu diucapkan juga dilakukan oleh Edward.
" Baby, nanti siang kita pergi ke dinas pencatatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan kita " seru Edward.
" Pencatatan sipil ? " tanya Audrey bingung.
" Ya, untuk mendaftarkan pernikahan kita " jawab Edward.
" Kau yakin dengan keputusanmu itu ? Kau tidak mengada-ada kan ? " selidik Audrey lagi.
" No baby... Aku sudah yakin dengan keputusanku untuk menjadikanmu wanita satu-satunya dalam hidupku " jawab Edward lalu memeluk Audrey.
Entahlah sudah berapa kali Edward menyatakan rasa cintanya pada Audrey dan ia pun tak pernah bosan untuk mengatakannya.
" I love you to, tuan mesum pemaksaku " gumam Audrey sambil tersenyum manis.
Setelah sarapan, mereka segera berangkat menuju ke kantor. Namun sebelum sampai ke kantor, pria itu melaksanakan keinginannya dengan mendaftarkan rencana pernikahan mereka di kantor pencatatan sipil.
Edward melangkahkan kaki menuju ke ruangannya setelah sampai di kantor. Kali ini, ia menggenggam tangan Audrey hingga menarik perhatian para pegawai lainnya.
Awalnya Audrey menolak, namun jangan harap ia bisa menolak tuan pemaksa seperti Edward. Hingga akhirnya ia pun hanya bisa menuruti keinginan Edward.
" Tuan, ada Tuan Ramon dan Nona Claire di ruang meeting " ucap Rico saat melihat Edward dan Audrey keluar dari lift.
Edward mengangkat sebelah alisnya.
" Ada perlu apa pagi-pagi mereka sudah menemuiku ? " tanya Edward heran.
__ADS_1
" Maaf Tuan....Sepertinya ada masalah dengan proyek kerja sama kita " jawab Rico.
Edward mengangguk, lalu merapikan jasnya.
" Ayo, kau ikut denganku baby " titah Edward tanpa melepaskan genggamannya.
" Tidak, Ed... Sebaiknya hanya kau dan Tuan Rico saja " ucap Audrey.
" No, kau itu asistenku juga calon istriku ! Jadi kau ikutlah denganku ! Dan kau Rico, kau juga ikut bersamaku " titah Edward yang tentu saja harus dilakukan oleh Rico.
Dan disinilah mereka berada, di ruang meeting berhadapan dengan Tuan Ramon dan sekretarisnya, Claire. Sebelumnya, Edward memperkenalkan Audrey kepada mereka sebagai calon istrinya.
Tuan Ramon nampak terkejut namun kemudian ia memberikan selamat kepada Edward dan juga Audrey. Mungkin hanya Claire saja yang enggan mengucapkan selamat kepada Audrey dan juga Edward. Jauh di dalam hatinya, Claire merasa kesal karena ternyata Edward jatuh ke pelukan wanita lain, bahkan menurut Claire, dirinya jauh lebih menarik dibanding Audrey.
Setelah penyelesaiaan akan permasalahan yang ada didapatkan. Tuan Ramon pamit undur diri. Seperti biasa, Claire akan keluar lebih lama karena ingin berduaan dengan Edward dan hal itu tentunya membuat Audrey merasa kesal.
Seperti biasa, Claire yang selalu mengenakan pakaian mini dan sexy itu kini berjalan mendekati Edward. Sengaja tiga kancing bagian atas kemejanya ia buka untuk memperlihatkan bongkahan dadanya yang berukuran besar.
" Tuan Edward, bagaimana jika malam ini kita makan malam bersama. Sudah lama kita tidak melakukannya berdua " ucap Claire memegang tangan Edward dengan nada menggoda.
Audrey yang mendengarnya tentu saja merasa muak. Tetapi ia menahan rasa yang bergemuruh di dadanya. Audrey ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Edward. Apakah pria itu memang sudah berubah atau belum.
Edward menyingkirkan tangan Claire dari tangannya.
" Tentu saja, nona Claire. Saya sangat senang menerima undangan dari anda. Saya akan datang tentunya bersama calon istri saya " ucap Edward dengan santainya.
" Ah iya, tentu saja... Nanti akan saya siapkan segalanya " sahut Claire menutupi rasa kesalnya.
" Kalau tidak ada yang ingin disampaikan lagi, kami akan kembali ke ruangan kami " ucap Edward sambil meraih dan menggandeng tangan Audrey.
Audrey berjalan dengan tegak di samping Edward. Ia tersenyum penuh kemenangan karena ternyata Edward sudah berubah, walaupun Audrey belum yakin 100 persen. Namun Audrey yakin jika Edward lambat laun akan berubah.
" Sebaiknya kau cari pria lain dan lupakan calon suamiku " bisik Audrey kepada Claire saat ia berjalan melewatinya.
Tangan Claire mengepal. Ia merasa kesal karena usahanya untuk mendapatkan Edward dapat dipastikan gagal. Namun Claire tidak menyerah begitu saja.
__ADS_1
Kau nikmati saja hari-harimu bersamanya saat ini karena akan kupastikan jika aku yang akan berada di sisinya