Bukan Mainan Pelampiasan

Bukan Mainan Pelampiasan
BMP 26 -


__ADS_3

Edward berjalan memasuki apartemen. Ia melihat Audrey tengah tertidur di atas sofa. Ia lantas berjongkok dan menatapi wajah Audrey yang terlelap. Edward mengangkat tubuh sang istri untuk dibawanya ke kamar, namun belum sampai ke kamar Audrey sudah membuka matanya.


" Ed, kau sudah pulang ? " tanya Audrey sambil mengerjap-ngerjapkan matanya dan hal itu membuat Edward gemas.


" Turunkan aku, aku bisa berjalan sendiri ! " seru Audrey. Namun Edward tak menghiraukan ucapan Audrey dan terus menggendongnya hingga sampai di kamar dan menurunkannya dengan perlahan di atas tempat tidur.


Audrey berusaha bangun, namun Edward menahannya dengan ikut berbaring dan memeluk Audrey.


" Ed... "


" I miss you, baby " ucap Edward sambil mengeratkan pelukannya.


" Ed... Kau membuatku dan anak kita sesak " ucap Audrey.


Edward dengan segera melonggarkan pelukannya lalu mengusap dan mengelus perut Audrey dengan lembut.


" I'm sorry baby... Did daddy hurt you ? " tanya Edward khawatir.


Audrey menahan tawa saat melihat sikap Edward.


" I'm oke, daddy. Don't worry ! " ucap Audrey sambil mengelus kepala Edward yang tengah berada di atas perut Audrey.


" Jadi mommy mempermainkan daddy ya ? " ucap Edward tak terima lalu menyerang Audrey dengan mengecupi wajahnya.


" Ed... Stop ! Please ! " sahut Audrey karena merasa geli dengan apa yang Edward lakukan.


Edward segera menghentikan ulahnya lalu memeluk Audrey.


" Apa yang kau lakukan seharian ini ? " tanya Edward mencoba mencari informasi.


" Hanya merajut saja dan... "


" Dan apa baby ? " tanya Edward seolah begitu ingin tahu.


" Berjanjilah kau tidak akan marah sebelum aku mengatakannya " jawab Audrey.


" Itu tergantung apa yang akan kau katakan " sahut Edward.


" Kalau kau tidak berjanji, aku tidak akan memberitahumu " ucap Audrey.

__ADS_1


Edward menghembuskan nafasnya. Meskipun ia sudah tahu apa yang akan istrinya itu katakan tapi ia memilih untuk mendengarkan apa yang akan Audrey katakan.


" Baiklah... Aku berjanji ! " ucap Edward pada akhirnya.


Audrey kini duduk sambil menyandarkan tubuhnya pada head board ranjang. Ia terlihat menghela nafas beberapa kali sebelum akhirnya mengatakan hal yang sebenarnya kepada sang suami.


" Ed... Sebenarnya tadi Mommy Shareena dan Jamie datang dan aku menyuruh mereka masuk. Tolong jangan marah ! " ucap Audrey dengan tatapan puppy eyesnya yang membuat siapapun yang melihatnya tak kuasa untuk marah.


Edward menghembus nafasnya dengan berat. Ia sudah mengetahui hal itu tapi ia ingin tahu mengapa Audrey melakukannya.


" Mengapa mereka datang ? Lalu mengapa kau membawa mereka masuk ? " tanya Edward penuh rasa ingin tahu.


Audrey menatap Edward dengan lekat. Ia bisa membaca jika Edward memendam emosi namun pria itu mencoba menahannya. Audrey memeluk Edward dan mengusap punggung tegap suaminya itu.


" Maaf... Maafkan aku sudah mengajak mereka masuk. Tidak ada maksud lain Ed... Aku hanya merasa kasihan pada mereka. Mereka hanya ingin mengucapkan selamat atas pernikahan kita dan mengucapkan selamat atas kehamilanku " jelas Audrey.


Edward melepaskan pelukan Audrey lalu bangkit dari ranjang. Ia berjalan menuju balkon. Sebenarnya Edward sangat kesal karena Audrey dengan beraninya membawa masuk orang yang sangat ia benci. Tapi ia tak kuasa untuk memarahi Audrey.


" Kau marah padaku ? " tanya Audrey mendekati Edward.


" Tidak ! Aku hanya butuh menenangkan diri " jawab Edward tanpa memandang Audrey.


" Ed... Aku hanya kasihan melihat Mommy Shareena. Dia sangat ingin berdamai denganmu. Mereka semua menyayangimu, Ed ! " ucap Audrey.


" Tapi, Ed... Mereka datang dengan maksud baik, bahkan mereka membawakan pie buah. Rasanya sangat enak. Mommy Shareena bilang jika kau sangat menyukai pie buatannya itu dulu. Jadi kau harus mencobanya juga " ucap Audrey sambil menarik tangan Edward menuju ke dapur.


Audrey bahkan tak menyadari perubahan wajah Edward saat ini. Ia membuka lemari es lalu mengeluarkan pie buah yang tadi dibawa oleh Mommy Shareena. Audrey memotongnya lalu menyuapkan potongan kecil pada Edward.


" Tidak, aku tidak menyukainya ! " tolak Edward.


" Benarkah ? Tapi mommy Shareena bilang jika kau sangat menyukainya waktu kau kecil dulu " heran Audrey.


" Dia salah dan tidak mengenalku dengan baik " sahut Edward sambil melengos.


" Tapi kumohon cobalah sedikit saja ! Anak kita menginginkanmu untuk memakannya... " rayu Audrey sambil mengusap perutnya.


Edward menghela nafasnya.


" Baiklah ! Demi anak kita, aku akan mencobanya. Tapi hanya sedikit saja " ucap Edward pada akhirnya memilih untuk mengalah.

__ADS_1


Dengan antusias Audrey menyuapkan potongan pie buah ke dalam mulut Edward. Edward mengunyahnya dan kembali merasakan rasa yang sudah lama tidak dirasakannya.


" Aa... Kau harus memakannya kembali. Ayo buka mulutmu ! " seru Audrey sambil menyuapkan potongan kecil ke depan mulut Edward.


" Cukup ! Aku tidak ingin memakannya lagi " tolak Edward lalu menjauh dari ruang makan.


Audrey menatap punggung Edward yang menjauh dari hadapannya. Ia tahu betul bagaimana perasaan Edward terhadap orang tuanya. Tapi Audrey tidak ingin Edward terus berada dalam dendam. Bagaimanapun mereka akan menjadi orang tua nanti dan Audrey tidak ingin anak mereka kehilangan haknya untuk memiliki kasih sayang utuh dari seluruh keluarganya.


Apalagi Audrey juga bisa merasakan jika Mommy Shareena sangat menyayangi Edward dan begitu menyesali perbuatannya dulu.


Edward kini berada di dalam kamar mandi. Ia tengah membersihakan diri sekaligus mendinginkan otaknya dengan cara menyiramnya dengan guyuran air shower.


Rasanya begitu sakit saat ia mengingat kembali masa kecilnya. Bahkan merasakan pie tadi saja sudah membuat hatinya teriris.


Mengapa ? Mengapa kau datang kembali dalam hidupku ?


Membuka kembali luka lama yang sudah terkubur selama ini...


Air mata Edward membasahi wajah Edward yang basah karena guyuran air shower. Lama Edward berdiam di dalam kamar mandi dan Audrey dengan setia menunggu Edward di depan pintu kamar mandi.


" Ed... Are you ok ? " tanya Audrey sambil mengetuk pintu kamar mandi.


Tidak ada sahutan dari Edward, namun bunyi gemericik air masih terdengar. Audrey hanya bisa berdiri di depan pintu menunggu Edward keluar. Lima menit kemudian Edward keluar dari kamar mandi dan ia kaget karena melihat Audrey berdiri di depan pintu.


" Apa yang kau lakukan, baby... ? " tanya Edward.


" Kau baik-baik saja ? "


Bukannya menjawab, Audrey justru bertanya balik kepada Edward.


" I'm oke... " jawab Edward sambil tersenyum paksa. Kemudian pria itu berlalu dari hadapan Audrey sambil mengelap rambutnya yang basah dengan handuk.


Dia marah padaku...


Batin Audrey sambil menatap Edward yang sedang memakai pakaian.


Air mata Audrey luruh tanpa dikomando karena merasa Edward mengacuhkannya. Audrey dengan segera menghapus air matanya, lalu keluar dari dalam kamar.


" Aku akan menyiapkan makanan untukmu " ucap Audrey tanpa melihat Edward.

__ADS_1


Audrey menghangatkan makanan lalu menatanya di atas meja makan. Beberapa kali ia menghapus air mata yang membasahi pipinya.


" Don't cry ! Maafkan aku jika sudah membuatmu menangis "


__ADS_2