
Sudah 1 bulan berselang dan kandungan Audrey pun dinyatakan sehat. Edward semakin perhatian kepada Audrey. Bagi Edward yang terpenting dalam hidupnya saat ini adalah Audrey dan buah hati mereka.
" Baby... Hari ini aku ada banyak meeting. Jadi sepertinya aku akan pulang terlambat. Kau tidak apa kan ? " tanya Edward sambil menyodorkan segelas susu coklat untuk ibu hamil kepada Audrey.
" Aku tidak apa... Jangan terlalu khawatir " jawab Audrey sambil meraih gelas yang disodorkan oleh Edward.
Audrey segera meminum susu yang dibuat oleh Edward.
" Baby, aku pergi ya ! Jangan terlalu lelah, tiduran saja di kamar atau duduk di sofa... Tidak usah memasak, aku akan meminta orang suruhanku untuk mengantarkan makan siangmu " ucap Edward kemudian.
" Oh my God, Ed... I will be ok, don't worry ! Aku bisa memasak sendiri " sahut Audrey kesal karena Edward memperlakukannya seolah sedang sakit parah.
" No, baby ! Aku tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada kalian " timpal Edward lalu mengelus perut Audrey dan menciumnya.
" Daddy pergi dulu ya baby ! Baik-baik sama Mommy. Daddy akan segera pulang setelah ssmua pekerjaan selesai " ucap Edward mengajak bayi dalam perut Audrey bicara.
" Jika terjadi sesuatu, segera hubungi aku ! " tambah Edward sambil mengecup kening kemudian turun ke bibir Audrey.
" Bye, Daddy " ucap Audrey sambil mengantarkan Edward menuju pintu.
Sepeninggal Edward, Audrey memilih untuk menghabiskan waktu dengan merajut syal. Kegiatan Audrey terhenti saat mendengar suara bel pintu apartemen. Audrey bergerak menuju ke pintu dan membukanya. Sungguh Audrey merasa terkejut saat melihat sosok yang berdiri di depan pintu apartemen.
" Aunty Shareena ? " ucap Audrey masih begitu kaget melihat wanita yang diketahuinya adalah ibu kandung suaminya itu kini berada di hadapannya bersama pria muda yang waktu itu ditemuinya di taman.
" Hai, Audrey sayang... Maaf aunty datang tiba-tiba " sahutnya merasa sedikit canggung.
" Halo, kakak ipar. Kau masih ingat padaku kan ? Aku Jamie " sapa pria yang berada di sebelah Aunty Shareena itu dengan ramah.
Audrey mengangguk lalu tersenyum kaku. Sejujurnya ia bingung harus berbuat apa saat ini.
Melihat sikap Audrey yang seperti bingung, Shareena cukup tahu harus bersikap seperti apa. Ia tahu jika Edward tidak memperbolehkan Audrey untuk menemuinya.
" Masuklah, aunty... ! " ucap Audrey lantas membuka pintu lebih lebar.
" Tidak perlu, sayang. Aunty hanya ingin mengucapkan selamat atas pernikahanmu dengan Edward juga ingin melihat keadaan menantu dan calon cucu aunty " sahut Shareena.
" Terima kasih... Maaf kami tidak mengundang aunty dan keluarga... " ucap Audrey merasa tak enak hati.
" Tidak apa-apa, saya sangat mengerti. Sekarang kau sudah menjadi istri Edward, jadi tolong berbahagialah bersama dengan Edward... " ucap Shareena.
" Ini, aunty buatkan pie buah untukmu. Semoga kau menyukainya " tambah Shareena sambil memberikan pie buah yang disimpan di dalam paper bag pada Audrey.
__ADS_1
" Terima kasih, Mom... " ucap Audrey membuat Shareena terharu.
" Apa kau bilang, sayang ? " tanya Shareena dengan mata berkaca-kaca.
" Mom... " jawab Audrey sambil memeluk Shareena. Shareena membalas pelukan Audrey, bahkan kini air matanya luruh sudah.
" Masuklah Mom ! " seru Audrey mengajak Shareena masuk ke dalam apartemen.
Untuk pertama kalinya Shareena masuk ke tempat tinggal sang anak yang telah lama ditinggalkannya. Shareena dan Jamie duduk di sofa sementara Audrey membuatkan minuman untuk mereka.
Shareena memandangi foto pernikahan Edward dan Audrey yang terpajang di dinding.
" Wah, kakak dan kakak ipar serasi sekali ya Mom... " ucap Jamie sambil menatapi foto mereka.
" Ya, mereka sangat serasi. Semoga mereka selalu bahagia " sahut Shareena dengan senyum tersungging di wajahnya.
Tak lama Audrey datang dengan membawakan nampan yang berisi dua gelas minuman. Dengan sigap Jamie mengambil alih nampan dari tangan Audrey.
" Hei, mengapa kakak ipar membawanya sendiri. Biar aku saja yang membawanya. Kakak ipar hanya perlu istirahat agar keponakanku sehat selalu " ucap Jamie lalu membawa nampan itu ke atas meja.
" Kau itu selalu memaksa ya ! " dumel Audrey.
Audrey tersenyum tipis mengingat saat itu. Sungguh ia tak menyangka jika pria muda di depannya ini adalah adik dari suaminya itu.
" Kemarilah, sayang ! " panggil Shareena kepada Audrey.
Audrey mendekati Shareena dan duduk di sisinya. Shareena membuka pie buah yang tadi dibawanya lalu memotongnya. Ia juga menaruh potongan pie buah ke dalam piring kecil yang tadi dibawa oleh Audrey.
" Cobalah sayang ! " ucap Shareena sambil menyuapkan satu sendok pie ke dalam mulut Audrey.
Audrey mengunyahnya dan sangat menyukai rasa pie buah yang dibuatkan oleh ibu mertuanya itu.
" Enak kan kakak ipar ? " tanya Jamie antusias.
" Hm... Ini sangat enak " jawab Audrey sambil kembali memasukkan potongan pie ke dalam mulutnya.
" Kau menyukainya ? " tanya Shareena yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Audrey.
" Syukurlah ! Kau tahu, dulu Edward juga sangat menyukainya. Bahkan hampir setiap hari ia meminta mommy untuk membuatkannya " ucap Shareena mengenang masa lalunya.
" Benarkah ? Kalau begitu, aku akan memberikan pie ini untuknya nanti jika masih ada sisa " sahut Audrey terkekeh.
__ADS_1
Shareena dan Jamie ikut terkekeh mendengar jawaban dari Audrey. Percakapan diantara ketiganya mengalir begitu saja dan berlangsung hangat.
Hingga akhirnya, Shareena dan Jamie pun pamit untuk pulang.
" Apa kalian harus pulang sekarang ? " tanya Audrey merasa sedih karena harus berpisah dengan mereka.
" Kami akan kembali lagi nanti, sayang ! " ucap Shareena sambil memeluk Audrey.
" Semoga nanti Edward mau menerima kalian " harap Audrey.
" Semoga sayang ! Nanti boleh kan kami menemuimu lagi ? " tanya Shareena.
" Tentu saja mom. Aku senang jika kalian mengunjungiku lagi " jawab Audrey tulus.
" Kalau begitu, kami akan berkunjung lagi nanti. Sampai jumpa kakak ipar " ucap Jamie sambil melambaikan tangannya lalu menggandeng tangan sang ibu untuk berlalu.
Sementara itu, Edward baru saja selesai melakukan meeting. Ia memeriksa CCTV untuk melihat keadaan Audrey. Namun betapa terkejutnya dirinya saat melihat rekaman CCTV yang memperlihatkan Audrey sedang berbincang dengan dua orang yang tidak ingin ditemuinya.
Tangan Edward mengepal kencang dengan rahangnya yang mengeras. Ingin rasanya ia segera pulang dan bertanya kepada Audrey maksud dan tujuan kedatangan mereka.
" Tuan, anda mau kemana ? " tanya Rico saat melihat Edward terburu-buru keluar dari ruangannya.
" Aku harus memeriksa keadaan istriku " jawab Edward saat berpapasan dengan Rico.
" Tapi masih ada meeting yang harus anda hadiri setelah makan siang... "
" Kau tangani saja atau jadwal ulang ! " perintah Edward tak peduli dengan penjelasan yang Rico sampaikan.
" Tapi Tuan... "
" Aku bilang kau yang tangani atau gajimu bulan ini kupotong " ancam Edward.
" Baik Tuan, saya mengerti ! " ucap Rico pada akhirnya memilih untuk memimpin meeting yang telah dijadwalkan.
Astaga, ada apa lagi ini ?
Beginilah nasib bawahan...
Rutuk Rico sambil melihat Edward yang tergesa memasuki lift.
Sementara itu di dalam lift, Edward terus berpikir untuk apa sang ibu menjambangi apartemennya dan mengapa Audrey justru membiarkan mereka untuk masuk ke tempat tinggal mereka.
__ADS_1