
Edward kembali melajukan kendaraannya menuju tempat yang ia yakini bisa menyelesaikan semuanya. Kini semua telah terkuak kebenarannya.
Mobil yang dikendarainya berhenti di sebuah komplek pemakaman elit. Tempat ayah yang sangat disayanginya bersemayam untuk selamanya.
Edward sudah berdiri di depan pusara sang ayah.
" Aku datang Dad... Untuk berterimakasih atas semua kasih sayangmu juga ketidak adilanmu padaku. Terima kasih sudah membuatku tumbuh menjadi anak yang kuat dengan segala kelebihan dan kekuranganku.Terima kasih karena sudah membuatku membenci orang tuaku sendiri... " ucap Edward.
" Kenapa kau melakukan semua ini ? Mewariskan semua kebencianmu kepadaku ? " tambah Edward dengan suara tertahan.
" Lalu, saat ini kau pergi tanpa bertanggung jawab atas apa yang terjadi selama ini ? Dan akulah yang harus menyelesaikan kesalahpahaman ini... " sambung Edward lagi.
" Tapi aku tidak akan membiarkanmu menang, Dad. Akan aku tunjukkan kepadamu bahwa akulah pemenangnya. Aku bisa hidup tanpa dendam masa lalu. Aku bisa merasakan dan menciptakan kebahagiaanku sendiri. Terima kasih karena sudah menjadikanmu sebuah contoh buruk yang nyata. Kau tahu, aku sangat beruntung karena aku mendapatkan hal terbaik dan terindah yang membuatku menyadari kebrengsekanku dan mengubahku menjadi pria bertanggung jawab. Aku pamit, Dad ! Aku tidak akan pernah datang lagi. Semoga Tuhan memaafkan segala kesalahanmu " harap Edward lalu meninggalkan komplek pemakaman.
Hujan mulai turun saat Edward melajukan mobilnya menjauh. Kini ia kembali menuju apartemennya. Saat Edward sampai, rupanya Laura sudah menunggunya di depan lobi apartemen.
" Edward, tunggu ! " pekik Laura saat melihat Edward memasuki gedung apartemen. Ia kemudian mendekati Edward.
" Syukurlah, akhirnya kau kembali. Sejak tadi aku menunggumu " ucap Laura lagi.
" Ada perlu apa ? " tanya Edward dingin.
" Ed, kumohon tolong lanjutkan kerja sama kita. Ayahku sangat marah kepadaku karena kau membatalkannya. Kau bersedia kan ? Aku akan melakukan segalanya asalkan kerja sama ini tetap berlanjut " ucap Laura sambil memegang tangan Edward
" Lepaskan tanganmu ! " seru Edward melepaskan tangan Laura yang menyentuh tangannya.
" Kumohon Ed, bersikaplah profesional. Kau membatalkan kerja sama kita hanya karena urusan pribadi " sahut Laura tak terima.
Edward menaikkan sebelah alisnya.
" Apa maksudmu ? " tanya Edward sambil menatap tajam kepada Laura.
" Hanya karena istrimu itu, kau membatalkan kerja sama kita. Bukankah itu terlalu kekanakan dan tidak profesional ? " jawab Laura merasa benar sendiri.
" Lalu menurutmu, apa yang harus aku lakukan ? " tanya Edward lagi.
Merasa diberi angin, Laura menyampaikan pemikirannya
__ADS_1
" Menurutku, istrimu itu terlalu posesif. Seharusnya ia bisa menerima jika kau ini seorang pebisnis dan tentu saja akan bertemu dengan banyak wanita cantik. Sepertinya istrimu itu tidak pantas bersanding denganmu. Ia tidak memahami pekerjaanmu dan hanya menghambat bisnismu saja " papar Laura tanpa melihat perubahan air muka Edward.
" Jadi, wanita seperti apa yang pantas bersanding denganku ? " pancing Edward kemudian.
" Tentu saja seorang wanita karir yang cantik dan pintar. Karena ia akan selalu mendukung bisnismu bukan malah menghambat kemajuan bisnismu " sahut Laura lagi.
" Wanita karir ? Sepertimu ? " selidik Edward yang sesungguhnya muak melihat wanita di hadapannya ini yang seolah membanggakan dirinya sendiri.
Laura tersenyum lebar, ia seperti diberikan jalan oleh Edward. Ia berpikir jika Edward setuju dengan pemikirannya dan merasa jika Edward akan tertarik kepadanya.
" Ya, tentu saja. Selain cantik, aku juga sangat pandai dalam bisnis. Rasa-rasanya, aku lebih tepat berada di posisi istrimu. Benar kan ? " Laura berkelakar dengan percaya diri
Edward menarik sudut bibirnya.
" Ya, kau memang benar " ucap Edward yang tentunya membuat Laura sangat gembira.
" Benar-benar pantas untuk kuusir. Sekarang pergi dari hadapanku ! " usir Edward kemudian.
" What ? Apa yang kau katakan ? " Laura seolah tak percaya mendengar ucapan Edward.
" Kau... " Laura menghentikan ucapannya saat melihat dua petugas keamanan mendekatinya.
" Tunggu saja kau akan menyesali apa yang kau lakukan ! " ancam Laura yang merasa dipermalukan oleh Edward.
Laura kemudian pergi dengan menggerutu. Sementara Edward segera memasuki lift. Dari kejauhan nampak Audrey memperhatikan Edward. Ia merasa bersalah telah berpikiran buruk mengenai Edward. Ia berpikir suaminya itu meladeni Laura, namun kini ia melihat dengan mata kepalanya sendiri jika suaminya itu memang telah berubah.
" Kakak ipar, kau akan diam saja disini atau akan kembali pulang bersamaku ? " tanya Jamie yang memang ditugaskan untuk mengantarkan Audrey pulang ke apartemen.
" Kau pulang saja sendiri. Aku akan pulang ke apartemen " jawab Audrey.
" Baiklah kalau begitu. Aku akan mengantarmu sampai depan pintu apartemen kalian " ucap Jamie, lalu berjalan bersama Audrey memasuki lift.
Setelah mengantarkan Audrey sampai depan unit apartemennya lalu Jamie meninggalkan Audrey. Audrey menekan bel pintu berulang kali namun Edward tak kunjung membukanya. Namun tak patah arang, Audrey terus menekan bel pintu. Edward yang baru saja keluar dari kamar mandi, mendengar bel pintu yang terus berbunyi lantas bergegas menuju pintu lalu membukanya. Dan betapa terkejutnya saat ia melihat Audrey berdiri di depan pintu dengan senyum mengembang di wajahnya.
Edward memeluk Audrey begitu erat bahkan hingga membuat Audrey sesak.
" Ed... Kau membuat kami sesak " ucap Audrey yang membuat Edward mengendurkan pelukannya lalu menurunkan tubuhnya dan mencium perut Audrey.
__ADS_1
" Maafkan daddy, baby... " ucap Edward lalu mengusap lembut perut Audrey.
Mereka berdua kemudian masuk ke dalam apartemen. Audrey duduk di sofa, sementara Edward kini membaringkan tubuhnya di sofa dimana kepalanya berada di atas pangkuan Audrey. Sesekali Edward juga menciumi perut Audrey.
" Kau baik-baik saja ? " tanya Audrey sambil mengusap kepala Edward.
" Hem... Selama ada kalian di sisiku, aku akan baik-baik saja " jawab Edward sambil menatap wajah cantik Audrey.
" Maafkan aku karena telah berpikiran buruk tentangmu dan wanita itu " ucap Audrey.
" Who ? Laura ? Aku tidak ada hubungan apapun dengannya ataupun wanita lain. Setelah mengenalmu, hanya kamu satu-satunya wanita yang aku mau " tutur Edward.
" Yes, i know it... Thank you ! " ucap Audrey menatap Edward dengan lembut.
" Aku yang seharusnya berterima kasih kepadamu, karena kau sudah mengubah hidupku menjadi lebih baik " sahut Edward lantas menyambar bibir ranum Audrey.
" Nanti kita temui Mom Shareena dan Dad Arsen. Aku harus meminta maaf kepada mereka " ucap Edward.
" Kau sudah... "
" Hem, sepertinya sikapku salah selama ini. Aku sudah memaafkan mereka dan aku juga harus meminta mereka memaafkanku atas sikapku selama ini " sela Edward.
" Mereka pasti sangat bahagia. Akhirnya kesalahpahaman ini berakhir juga " ucap Audrey begitu lega.
Kini Edward dan Audrey tengah menuju ke mansion kedua orang tua Edward. Saat mereka tiba, baik Mom Shareena maupun Dad Arsen menyambut mereka.
" Edward... " ucap mereka saat Audrey dan Edward mendekat.
Mommy Shareena merentangkan tangannya dan Edward dengan senang hati menyambutnya.
" Maafkan aku mom... " ucap Edward sambil memeluk sang ibu.
Mommy Shareena meneteskan air mata haru. Begitu pula dengan Dad Arsen yang berada di samping Mom Shareena.
" Maafkan aku dad... " ucap Edward lalu memeluk Dad Arsen.
Semua mengangis haru karena kini Edward telah kembali ke pelukan mereka. Mommy Shareena juga merangkul Audrey. Merasa bahagia karena akhirnya Tuhan memberikan jalan untuk bisa bersama dengan bantuan Audrey.
__ADS_1