
Edward mendekap Audrey dari belakang. Ia juga mengecupi bahu istrinya yang terbuka karena mengenakan pakaian atas model off shoulder.
" Kau marah padaku, Ed ? Maaf... Maafkan aku " lirih Audrey.
Edward membalik tubuh Audrey hingga menghadap ke arahnya. Ia menghapus sisa air mata yang membasahi pipi sang istri dengan lembut.
" It's ok, baby... Tidak perlu meminta maaf. Seharusnya aku yang minta maaf karena tidak bisa mengerti perasaanmu " ucap Edward lalu memeluk Audrey kembali.
Air mata kembali menggenangi pelupuk mata Audrey dan ia menumpahkan air matanya di dada bidang Edward.
" Aku hanya ingin kau berdamai dengan masa lalu. Tidak baik menyimpan dendam yang hanya akan menyakiti dirimu sendiri... " ucap Audrey.
Edward tak mengatakan apapun. Ia hanya mengusap punggung Audrey sambil memikirkan ucapan istrinya itu.
" Kau tahu betul apa alasanku membencinya " ucap Edward.
Audrey mengangkat wajahnya hingga ia dapat menatap wajah Edward yang tengah menatap dengan tatapan kosong.
Audrey menyentuh rahang sang suami yang mengeras.
" Tapi apa kau benar-benar tahu alasannya meninggalkanmu ? Apa kau sudah mencari tahu kebenarannya ? " tanya Audrey membuat Edward menatap tajam pada sang istri.
" Kebenaran apa yang kau maksud ? Dia sudah meninggalkan suami dan anaknya hanya karena pria lain. Kau bisa menilai wanita seperti apa dirinya ! " jawab Edward dengan emosional.
" Ed... Mungkin kau salah menilainya. Setidaknya biarkan dia menjelaskan alasannya meninggalkanmu " sahut Audrey mencoba memberi pengertian kepada Edward.
Edward melangkah mundur, matanya memicing melihat Audrey.
" Jadi kau membelanya ? Kau membela wanita itu padahal kau tidak mengenalnya dengan baik " tuduh Edward.
" Tidak... Bukan begitu maksudku. Aku hanya merasa jika Mommy Shareena orang baik. Mungkin ada kesalahpahaman diantara kalian berdua... " jelas Audrey.
" Cukup Audrey ! Aku tidak ingin kau membahas tentangnya lagi ! " tukas Edward lantas segera berlalu meninggalkan Audrey sendiri
Audrey menghela nafasnya dalam-dalam. Ia duduk di kursi makan. Tangan kanannya berada di atas meja makan, sementara tangan kirinya memijat pelipisnya.
Ya Tuhan... Bagaimana cara membuat hatinya luluh ?
Baby... Tolong bantu mommy meyakinkan daddymu !
__ADS_1
Audrey berbicara sendiri dengan bayi yang ada di dalam perutnya. Sementara Edward kini mengurung diri di dalam kamar. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa.
Edward hanya ingin Audrey mengerti perasaannya bukan malah membela wanita yang telah meninggalkannya.
Hari sudah berganti malam, namun Edward tak jua keluar dari kamar. Audrey yang tengah duduk di sofa, hanya bisa memandangi pintu kamar yang tertutup itu. Berharap jika pintu itu terbuka dan menampakkan Edward. Sayangnya, harapannya tak terealisasi. Edward tidak muncul juga.
Audrey mengetuk pintu kamar, namun tak terdengar sahutan dari Edward. Ia mencoba membuka pintu, akan tetapi pintu terkunci dari dalam.
" Ed... Tolong buka pintunya ! " pinta Audrey namun masih tak ada sahutan dari dalam kamar.
Apakah kau semarah itu padaku, Ed ?
Aku hanya ingin tak ada dendam dalam hatimu. Apakah itu salah ?
Hingga akhirnya, Audrey memilih untuk berbaring di sofa setelah menunggu lama di depan pintu.
Edward baru saja keluar dari kamar mandi. Perutnya terasa mual dan ia semenjak tadi memuntahkan isi perutnya. Ia ingin sekali memanggil Audrey, namun karena masih kesal ia melalui semuanya sendiri. Padahal ia sangat menginginkan pelukan dari sang istri.
Akhirnya Edward merebahkan dirinya di atas ranjang. Semalaman ia hanya berguling ke kanan dan ke kiri. Hingga akhirnya, ia memutuskan keluar dari kamar.
Edward melihat sang istri meringkuk di atas sofa. Hatinya berdenyut saat melihat raga Audrey yang tertidur memeluk perutnya dalam posisi tak nyaman.
" Maafkan aku... Aku hanya perlu waktu untuk menerima semua ini " ucap Edward kemudian mengangkat tubuh Audrey dan memindahkannya ke kamar mereka.
Edward membaringkan Audrey dengan hati-hati, ia mengelus perut Audrey kemudian menciumnya. Tak lama ia pun segera memejamkan matanya setelah merasa nyaman bisa memeluk raga istrinya.
Pagi hari, Edward merasakan perutnya serasa diaduk. Ia segera turun dari tempat tidur, kemudian menuju kamar mandi. Ia kembali memuntahkan isi perutnya.
Audrey yang sayup-sayup mendengar suara orang yang tengah muntah-muntah. Audrey segera membuka matanya dan menyadari jika ia kini tengah berada di kamarnya.
Pikiran Audrey sudah bisa menebak jika Edward kini tengah berada di toilet. Audrey segera bangun lalu menuju ke kamar mandi. Ia melihat Edward tengah memuntahkan isi perutnya. Segera Audrey mendekat lalu memijat tengkuk pria tampan itu.
" Kau sudah bangun ? " tanya Edward saat menyadari kehadiran Audrey disana.
" Kau baik-baik saja ? " tanya Audrey begitu khawatir melihat kondisi Edward.
" Ya ... " jawab Edward mengangguk pelan.
" Aku akan minta Kak Rico membawa dokter untuk memeriksa dirimu " ucap Audrey lalu membantu Edward kembali ke tempat tidur.
__ADS_1
Wajah pria itu nampak pucat dengan keringat dingin mengalir di sekujur tubuhnya.
Audrey segera menghubungi Rico dan memintanya untuk membawa dokter ke apartemen guna memeriksa kondisi Edward.
Audrey membuatkan segelas minuman herbal hangat untuk Edward. Ia berharap suaminya itu segera pulih seperti biasanya.
30 menit kemudian, Rico datang bersama dokter kepercayaan keluarga Edward.
" Maaf... Jalanan sangat sibuk di jam seperti ini " ucap Rico dengan rasa bersalah.
" Tidak apa, Kak... Terima kasih sudah mau datang ke apartemen ini. Ayo, aku antar kalian ke kamar " ucap Audrey lalu memimpin jalan menuju ke kamarnya.
Dokter pun segera memeriksa Edward. Tidak ada yang salah dalam tubuhnya.
" Apakah nyonya sedang hamil ? " tanya dokter itu sambil memandang Audrey.
" I iya... Usia kandunganku saat ini sudah memasuki minggu ke 10 " jawab Audrey.
Dokter itu pun mengulum senyum.
" Ada hubungan apa kehamilan istriku dengan sakit ku sendiri ? " tanya Edward heran.
" Sepertinya Tuan Edward mengalami Couvade Syndrom " jawab dokter tersebut.
" Apa itu ? " tanya Edward penasaran.
" Itu kehamilan simpatik, dimana ketika istri anda tengah hamil, justru anda yang merasakan ngidam dan gejala lainnya " jawab dokter itu lagi.
" Kenapa bisa begitu ? " tanya Audrey bingung.
" Hal ini disebabkan karena rasa empati serya kecemasan tinggi kepada pasangan yang tengah hamil " jelas dokter.
" Bisakah diobati ? " tanya Audrey lagi.
" Selama ini, belum obatnya. Tetapi untuk mengurangi keluhan yang terjadi, anda bisa melakukan teknik relaksasi seperti yoga, meditasi. Bakan bisa dengan cara olahraga teratur, meminum obat herbal "
" Sampai kapan suami saya mengalaminya ? " tanya Audrey kembali.
" Biasanya terjadi di trimester pertama dan trimester ketiga, menjelang persalinan " jawab dokter.
__ADS_1