Bukan Mainan Pelampiasan

Bukan Mainan Pelampiasan
BMP 31


__ADS_3

Akhirnya Audrey pergi ke rumah sakit dengan diantar oleh ibu dan ayah mertuanya. Mereka sangat bahagia melihat perkembangan cucu pertama mereka.


" Kalau begitu, sekarang kami antar kau pulang ke apartemen " ucap Mommy Shareena kepada Audrey setelah mereka keluar dari ruang dokter.


" Mom... Bisakah aku ikut pulang bersama dengan kalian ? " tanya Audrey ragu.


" Kau mau ikut kami pulang ? Tentu saja boleh sayang... Tapi apa kamu yakin Edward akan mengijinkannya ? " jawab Mommy Shareena dengan ragu.


" Apa kau sedang ada masalah dengan Edward ? " tanya Dad Arsen.


Audrey tak menjawab, ia hanya bisa menautkan jemari tangannya.


Mommy Shareena dan Dad Arsen saling menatap satu sama lain. Tadi mereka melihat Audrey berjalan di pinggir jalan dengan air mata berderai. Oleh karena itu, mereka membawa Audrey masuk ke dalam mobil.


Dad Arsen mengangguk, memberi tanda kepada sang istri agar Audrey ikut bersama mereka. Biarlah urusan Edward akan jadi urusan belakangan.


" Baiklah, kau bisa ikut bersama kami. Tapi kau harus memberitahu Edward keberadaanmu " ucap Mommy Shareena.


" Benarkah ? Terima kasih mom, dad... " ucap Audrey.


Dari rumah sakit mereka segera meluncur menuju kediaman Dad Arsen dan Mommy Shareena. Audrey sengaja tidak memberi kabar kepada Edward, bahkan ketika suaminya itu menelpon ia tidak mengangkat panggilannya sama sekali.


Dan hal itu tentu saja membuat Edward kelimpungan. Ia menuju ke rumah sakit karena ia tahu jika hari ini Audrey ada pemeriksaan rutin kandungannya.


Edward langsung masuk ke ruangan dokter Ana, dokter kandungan yang merawat Audrey.


" Lho Tuan Edward ? Istri anda baru saja selesai periksa. Apa anda tidak memberi tahu Nyonya Audrey jika anda akan menyusulnya ? " tanya Dokter Ana saat melihat Edward masuk ke dalam ruangannya.


" Tidak, saya tidak memberi tahunya " jawab Edward menutupi permasalahan yang ada.


" Bagaimana keadaan istri saya dan bayi kami ? " tanya Edward.


" Keadaan ibu dan bayinya sangat baik. Bayinya sehat dan berat badannya sudah sesuai. Hanya saja tekanan darah Nyonya Audrey sedikit naik, mungkin karena ia sudah tidak nyaman bergerak. Tapi sejauh ini masih dalam batas normal " jelas Dokter Ana.


Pasti karena salah paham dengan Laura

__ADS_1


Pikir Edward.


" Oh iya, tadi Nyonya memeriksakan kandungan ditemani oleh kakek dan nenek dari bayi kalian. Nyonya Audrey mengatakan jika anda sibuk dan memiliki banyak pekerjaan. Tapi sepertinya Nyonya Audrey salah, karena anda justru ingin memberinya kejutan " seloroh Dokter Ana.


" Ah iya, Istri saya memang tidak tahu tentang hal ini. Kalau begitu, terima kasih infonya, dok. Saya akan menyusul istri saya. Permisi " pamit Edward lalu keluar dari ruangan Dokter Ana.


" Apa kamu pergi ke sana Audrey ? " gumam Edward lalu berusaha menghubungi Audrey namun berkali-kali dihubungi tetapi Audrey tidak menjawab panggilannya.


Edward menyugar rambutnya dengan kasar. Seharusnya tadi ia menolak ajakan Laura untuk makan diluar. Dan bodohnya lagi, ia tidak membawa Rico bersamanya. Tentu saja, Audrey menjadi salah paham.


Edward lantas mengambil ponselnya lalu mengirim pesan kepada sang ibu untuk menanyakan Audrey. Dan sang ibu pun menjawab jika Audrey tengah berada di mansion miliknya.


Dengan segera Edward melajukan kendaraannya menuju mansion sang ibu. Edward sebenarnya enggan untuk pergi kesana sebab disana ia pasti bertemu dengan pria yang sudah merebut ibunya dulu. Tapi demi meluruskan masalahnya dengan Audrey, ia memilih menepikan perasaannya itu.


Edward kini berada di depan pintu kediaman Mommy Shareena. Seorang pelayan membuka pintu kemudian mengantar Edward ke halaman belakang rumah, dimana saat itu Mommy Shareena, Jamie, juga Dad Arsenq tengah berkumpul bersama Audrey.


" Ah, kau sudah datang rupanya. Kemarilah Ed ! " seru Mommy Shareena.


Audrey menatap Edward lantas membuang mukanya. Ia masih merasa kesal dan marah kepada Edward.


" Akhirnya kau menapakkan kakimu disini, kakak. Selamat datang ! " sambut Jamie yang hanya dibalas dengan anggukan kepala oleh Edward.


Edward tak ingin banyak bicara, apalagi di tempat yang sebenarnya tidak ingin ia kunjungi. Edward hanya melirik malas ke arah Dad Arsen yang tersenyum simpul menatapnya.


" Maaf bisakah aku berbicara berdua dengan istriku ? " tanya Edward sambil melihat Mommy Shareena.


" Ya, tentu saja bisa. Mommy yakin ada banyak yang harus kalian bicarakan " jawab Mommy Shareena lalu meninggalkan Edward dan Audrey berdua saja karena ia menggiring suami dan anaknya untuk menjauh.


Edward kini duduk di samping Audrey. Ia juga meraih jemari tangan Audrey lalu menggenggamnya dengan sangat erat.


" Untuk apa kau kemari ? Bukankah sedang ada meeting penting ? Meeting penting berduaan dengan wanita cantik " sindir Audrey.


" Kau cemburu hem ? " tanya Edward sambil memandangi wajah cantik istrinya itu.


Audrey mendelik, lalu berusaha melepaskan genggaman tangan Edward. Namun Edward semakin kuat menggenggamnya.

__ADS_1


" Aku dan dia tidak ada hubungan apapun, hanya sebatas partner bisnis " jelas Edward apa adanya.


" Yang aku lihat tidak begitu " tukas Audrey.


" No, baby... I swear ! Demi anak kita, aku tidak pernah memiliki hubungan apapun dengannya ataupun wanita lain. Hanya kamu satu-satunya wanita yang ada di hatiku " sahut Edward dengan tegas.


" Lalu mengapa kau pergi hanya berdua saja dengannya ? Kau sengaja tidak membawa Rico agar bisa bermesraan dengannya ? " tuduh Audrey lagi, kini air mata lolos di pipinya.


" Astaga, sayang ! Jangan menuduhku, aku tidak seperti itu. Baiklah, akan aku jelaskan. Wanita itu bernama Laura. Ia adalah anak dari partner bisnisku. Hari ini kami akan menyetujui kerja sama baru dan makan siang tadi hanyalah bentuk perayaan atas kerja sama yang terjalin " jelas Edward.


" Tidak ada yang istimewa, hanya jamuan makan siang biasa. Dan tadi Rico masih ada pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan sehingga kami hanya pergi berdua " tambah Edward lagi.


" Tapi aku melihat kalian begitu mesra, apalagi tadi kau membiarkannya menyentuh bibirmu. Kau memberinya kesempatan atau kau memang menginginkannya juga ? " cecar Audrey.


Edward tersenyum tipis, Audrey cemburu seperti ini justru membuatnya gemas sendiri.


" Ish, mengapa kau malah tersenyum begitu " sontak Audrey memukul lengan Edward saat melihat salah satu sudut bibir Edward terangkat.


" Aku suka melihatmu cemburu, karena itu berarti kau memang mencintaiku " ucap Edward sambil memeluk Audrey.


Audrey berusaha melepaskan diri, namun dekapan Edward jauh lebih kuat.


" Maafkan aku sudah membuatmu salah paham ! Tapi sungguh aku tidak ada hubungan apapun bahkan tidak pernah terpikir untuk berhubungan dengan wanita manapun selain dirimu. Cukup kamu saja wanita yang paling aku cintai " ucap Edward yakin.


" Benarkah apa yang kau katakan itu ? Kau tidak membohongiku kan ? " tanya Audrey polos.


" Untuk apa aku membohongimu, Nyonya Edward ? " jawab Edward sambil menatap Audrey lekat-lekat.


" Kamu dan anak kita adalah duniaku saat ini dan aku akan selalu berusaha untuk membahagiakan kalian " ucap Edward lagi.


" Sekarang, kita pulang ya ! " ajak Edward.


" Tidak, aku ingin tinggal disini untuk sementara waktu " tolak Audrey


" Apa ? "

__ADS_1


__ADS_2