
Sibuk, satu kata yang pas untuk menggambarkan keadaan para sahabat ini. Setelah kedekatan mereka selama ini mereka sepakat membentuk squad bernama Anu. Entah apa yang memotivasi mereka hingga mereka menjadi memilih nama itu.
"Neng, nggak ngampus?"
"Nggak Na, aku mau menepi dulu hari ini"
"Ntar kerumah daddy nggak?"
"Kalo dah pada ngumpul semua aku kesana. Sama siapa jadinya kamu ke kampus?"
"Tha ada, sama jess. Ya udah aku tutup"
"Iya, neng juga mau ibak"
"Kluk"
Panggilan telepon pun berakhir. Nana mengambil tasnya dan berangkat ke kampus. Gadis itu mamakai helmnya dan bersiap menemui dosen dan sahabatnya disana. Baru saja ia akan memutar pedal gasnya, kembali smartphone miliknya berdering.
"Napa...?"
"Jawab telpon itu ngucapin salam dulu"
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh..., gini kan enak dengernya"
"Buruan ada apa"
"Ish... ndak sabaran banget?!"
"Aku udah mau otewe kampus soalnya"
"Nah kebetulan...., jemput saya sekalian ya Naku?"
"Dih... kan ada daddy, kenapa nggak bareng daddy aja?!"
"Si Taufik lagi ada sodaranya yang dateng. Dia mau nganterin ke terminal sekalian"
"Ya udah. Tunggu aja disana..."
"Siap Naku, miss u...."
"Kluk"
Nana mematikan hapenya, ia pun berangkat dengan motor meticnya.
*****
Opik bersiap mengantar saudaranya ke terminal, ia melihat Yugi masih duduk diteras menunggu jemput.
"Lu mau gue jemput nggak nih? Ntar gue balik lagi kesini"
"Ndak usah, saya tadi udah telpon Nana minta jemput"
Tolak Yugi pada tawaran Opik.
"Ya udah, gue duluan ya"
Opik pun pamit meninggalkan Yugi.
Dengan sabar pemuda itu menunggu kedatangan Nana. Ia mencoba telpon, tapi tidak di angkat, berkali-kali mencoba masih tetap tidak di angkat. Pemuda itu lalu meninggalkan beberapa pesan untuk Nana, dan lagi-lagi pesan itu hanya terkirim centang dua abu-abu dan belum berubah warna biru. Hampir 1 jam pun berlalu tanpa terasa, hingga akhirnya Yugi menyerah dan masuk kembali ke rumah Opik.
Sementara itu, di kampus Nana menyapa Jess dan Tha yang sudah duduk di kelas.
"Kok sendiri? Nggak bareng neng ya?"
Tanya Tha yang melihat Nana datang sendirian.
"Neng nggak ngampus hari ini katanya"
Jawab Nana sambil meletakkan tasnya.
"Anak cowok juga pada belum dateng"
Kata Jess menambahkan.
"Astagfirullah...?!"
Nana sontak berdiri, ia baru teringat Yugi yang minta di jemput olehnya. Gadis itu lalu mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Yugi.
Tha dan Jess diam tanpa berkata sedikit pun. Mereka saling mengangkat bahu setelah saling bertanya lewat tatapan masing-masing. Mereka hanya mengamati sikap Nana dan berusaha menerka sendiri apa yang terjadi pada sahabatnya.
Sekali lagi Nana terkejut melihat panggilan dari Yugi yang begitu banyaknya. Ia juga melihat sederet chat yang dikirim oleh Yugi dan belum terbaca olehnya. Nana mencoba menelepon Yugi, berapa kali ia mencoba namun di tolak oleh pemuda itu. Gadis itu tak menyerah, ia mencoba mengirim pesan kepada Yugi dan centang dua belum juga berubah warna.
"Mati dah aku, kak Yugi pasti ngambek"
Nana terduduk lemas di kursinya.
"Kenapa?"
__ADS_1
Tanya Jess yang menjadi penasaran karena sikap Nana.
"Tadi dia nelpon minta jemput, tapi aku lupa"
"Lah..."
"Ihh... parah. Pantes dong kalau bang Yu ngambek"
Tha mulai ngomporin.
"Tadinya aku dijalan mau kerumah daddy jemput Kak Yugi, pas di pertigaan aku nggak sengaja lihat cowok mirip banget sama Lee Seung-Gi. Jadinya aku kepikiran pengen nonton drakornya pulang kampus nanti. Lah.. malah jadi lupa jemput kak Yugj, aku malah langsung belok ke arah kampus. Barusan aku coba telpon di tolak, chat juga nggak di baca"
Nana terlihat menyesal.
"Wkwkwkkw...., Oppa memang ngalahin kenyataan yang ada"
Jess ngakak mendengar pengakuan Nana.
Tha hanya diam, dirinya tak mengerti akan oppa-oppa yang di gandrungi kaum hawa masa kini.
"Kenapa nggak bareng Daddy? Biasanya juga bareng"
Tanya Jess kembali.
"Daddy sekalian nganterin sodaranya ke terminal, makanya kak Yugi nelpon minta jemput"
"Kenapa nggak coba nelpon Daddy aja"
Saran Tha sambil menatap layar ponselnya.
"Nah iya, Daddy"
Ucap Jess membenarkan perkataan Tha.
Nana lalu mengeluarkan lagi layar ponselnya. Ia mencari nama Opik dan melakukan panggilan disana.
"Tuuuut...."
"Tuuuut..."
"Hallo Dad?!"
"Assalamualaikum Na..?" Β°
"Waalaikumsalam Dad.., dad bisa minta tolong tanyain kak Yugi dimana?"
"Aku tadi lupa jemput kak Yugi, dan kayaknya dia ngambek sama aku. Telpon sama Dm ku ga di respon Dad..."
"Haish.... jadi tadi dia nungguin kamu yang jemput? Ya udah Daddy coba telpon dulu"
"Makasih ya Dad"
"Kluk"
Panggilan pun berakhir, Nana sedikit bernapas lega meski belum tahu hasilnya bagaimana. Ia masih melihat centang chat di layar hapenya yang belum juga berubah warna.
*****
"Tuuut..."
"Assalamualaikum, halo ada apa?"
"Waalaikumsalam, cepet juga lu angkat?! Baru juga sekali tuuut..."
"Ya udah ulang lagi, biar lama sedikit baru saya angkat..."
"Sialan....! Lu dimana? Nana nyariin?!"
"Dirumah, biarin... nyebelin dia"
"Nggak ngampus lu?"
"Udah telat"
"Ke mall aja yuk...?"
"Mau ngapain?? Ngedate?? Bareng kamu? Ogah...?!"
"Sialan... siapa juga mau ngedate sama lu?! Gue dapet voucher belanja nih, sayang kan kalo nggak di pake"
"Buruan jemput saya?!"
"Kampret emang nih anak?! Giliran gratisan aja cepet?! Tunggu, gue kesana?!"
"Kluk"
Panggilan berakhir, Opik pun menyusul Yugi kembali ke rumahnya.
Sampai di rumah Yugi segera menghampiri motor Opik dan menaikinya. Mereka pun akhirnya memilih pergi ke mall ketimbang belajar ke kampus.
__ADS_1
Di mall, Opik dan Yugi benar-benar memuaskan diri mereka menikmati makanan gratisan yang ada di salah satu stand di mall.
"Dapet voucher beginian dari mana sih?"
Yugi membuka obrolan saat mereka sedang makan.
"Saudara gue, tadi ngasi. Lah dia juga di kasi orang cuma dia nggak tahu cara makainya. Maklum dah tinggal di kampung terdalam"
"Ndak apa, toh bermanfaat juga buat kita"
Jawab Yugi santai sambil menyedot minumannya.
"Buat lu pastinya?!"
"Hehehe..."
"Lu masih nggak mau bales chat Nana?"
Tanya Opik, mencoba mendamaikan dua kubu yang sedang perang dingin.
"Biarin... saya mau sendiri dulu 3 hari"
Jawab Yugi malas.
"Dih... gaya lu, ntar perang status kangen..."
"Kali ini ndak akan..."
Kata Yugi memastikan.
"Mereka pasti lagi kuliah ini jam segini..."
Opik berkata sambil melihat jam di tangannya.
"Kita selfie yuk, lagi nyantai disini... pasti pada ngamuk mereka nggak di ajakin"
Ajak Yugi.
"Boleh juga..."
Timbul lah ide jahil ke dua pemuda itu untuk memanasi para sabahatnya.
"Gaya apa ke kinian buat selfie?"
Opik bertanya karena dirinya jarang sekali selfie.
"Senyum manis aja"
Saran Yugi sekenanya.
Dan benar saja, tanpa ragu mereka selfie dengan gaya senyum manis begitu pede nya. Foto itu lalu di kirim ke wasgap. Dalam hitungan detik, para sahabat nya langsung nongol berkomentar.
"Ting...!"
Suara notif.
Anty : Astaga mereka siapaπ
Jess : ππππ
Nana : Telpon ga di angkat, chat ga bales, gini kerjaannya rupanya π€
Tha : Pada ngapain dah ga kuliah, enak bener ya..
Dan masih banyak lagi chat bermunculan tanpa di respon Yugi dan Opik. Mereka hanya terkekeh membaca Dm teman-temannya sambil menikmati makanan hasil voucher gratisan.
Notes : visual yang tampil hanya untuk melengkapi imajinasi reader saja, bukan berdasarkan real yaπ
Beri dukungan untuk aku dongπ
* Like π
* Komen
* favorit β€οΈ
*Rateβββββ
*Hadiah
*Vote, Terima kasih π€
*Baca juga Cintai Aku Seikhlasmu , bagi yang suka kisah yang menyesakkan dada π.
* Dream Destiny, kisah romansa istana.
Terima kasih π
__ADS_1