
Opik dan Yugi tampak lecek bagai bunga yang kebanyakan di siram air seember. Mereka hanya bisa pasrah ketika semua kupon gratis mereka di gunakan oleh para sahabat ciwinya.
Apalagi Yugi sangat putus asa karena ia sedang bertukar hape dengan Nana. Jantungnya kian berdebar dan sering kali merasa panik. Perasaan was-was kalau-kalau di hubungi oleh ciwi-ciwi yang nomernya ia simpan.
Sabtu malam itu mereka baru saja selesai nonton bioskop di salah satu mall di daerah mereka. Setelah nonton mereka duduk di sebuah kafe yang sedang menjadi tongkrongan kaula muda di sana.
Nana yang barus saja kembali dari toilet bersama Jess berjalan mendekati Yugi yang sedang duduk bersama Opik memperhatikan sekitar.
"Kak Yugi, nih hapenya sibuk bener dari tadi nggak berhenti kang ledeng lah, kang galon lah, warung gas lah, dan lebih parah ini dari tadi pemadam kebakaran nggak berhenti berdering. Selama nggak kuliah Kak Yugi kerja sambilan ya banyak banget relasinya?"
Ujar Nana menyodorkan hape Yugi yang sedang berdering.
Yugi pucat pasi, mendengar siapa saja yang menelpon dirinya saat hapenya di pegang Nana. Dengan susah payah pemuda menelan salivanya sambil perlahan meraih hapenya dari tangan Nana.
"Pemadam kebakaran?! Ngapain mereka nelpon lu?!"
Tanya Opik bingung campur penasaran.
"Ehem, ganjil Fik...!"
Opik terdiam setelah mendengar kata ganjil. Ia berusaha mencerna maksud dari kata ganjil yang di sebutkan Yugi.
"Kok nggak di angkat kak?"
"Takut dimarahin saya"
"Sama siapa? Bos kakak ya itu?"
Ujar Nana yang mengira Yugi bekerja sambilan.
"Ehem... amamu" (sama kamu)
Gumam Yugi sangat pelan.
"Apaan sih, ngomongnya kok nggak jelas gitu?!"
Belum sempat Yugi mengangkat panggilan itu, sering hapenya telah berhenti. Yugi menghela napas lega. Ia pun buru-buru mengubah mode hapenya ke pesawat agar tidak lagi membuat cemas dirinya.
"Naku, sini... deketan?!"
Ajaknya setelah di rasa hidupnya kala itu terasa aman.
Nana yang masih malu-malu memamerkan hubungannya dengan Yugi tampak cuek meski dirinya sering merasa cemburu oleh prilaku Yugi.
Karena Nana tidak beranjak dari duduknya, akhirnya Yugi yang berinisiatif untuk pindah dari duduknya.
"Tha, geser?! Saya mau duduk sini"
"Apaan sih bang? Udah pewe juga ini?!"
"Dih, geseeer?! Saya mau deket Naku"
"Ih, ganggu aja!"
Mau tidak mau Tha menggeser duduknya.
Yugi duduk di sebelah Nana dan mulai mesra-mesraan walau di hadapan para sahabatnya.
"Hareudang euy?!"
Ujar Anty sambil melirik Yugi dan Nana.
"Iya, padahal Full AC ini. Apa Ac di mall rusak semua ya?"
Jess menyambung obrolan Anty.
"AC ga mempan jess, disini ada bara, yang satu bara asmara, yang satu bara cemburu, gimana nggak panas banget coba?! Coba tadi aku ngajak Jojo"
"Lah kamu enak, aku ngajak siapa?"
"Ara ada sama tha. Kalau nggak sama daddy aja"
__ADS_1
Ujar Anty menyarankan.
"Nggak ih kalau sama daddy. Ntar aku dikira Sugar Daddy lagi "
Jess menolak dengan wajah sedikit cemberut.
"Wkwkwkwk tua banget kamu Fik?! Tuh nggak ada yang mau bareng kamu"
"Ih, bang Yugi nyela aja"
"Biariin...! Ayang Nana ndak mau pesan lagi makanannya?"
Ujar Yugi yang mencoba mengambil hati Nana.
"Yang haus yang haus yang haus!"
Tha menyindir mereka yang lagi kasmaran.
"Ilih sok-sokan nawarin, ntar juga Nana yang bayar sendiri"
Ujar Ara ikut-ikutan mendiskriminasi Yugi.
"Ish, kalian ngapain sewot sih. Naku aja ndak keberatan"
"Siapa bilang?"
Jawab Nana santai.
"Nah loh?! Kikikikik.... "
Ujar Anty terkekeh.
"Sukurin!"
Tha ikut menimpali.
"Ish, nggak ada yang belain saya Fik..."
Opik mulai ikutan komentar namanya di bawa-bawa.
"Ya udah pulang aja yuk?! Naku kita bareng ya?"
"Kemana?"
Tanya Tha melihat Yugi berdiri memegangi tangan tangan Nana untuk berdiri bersamanya.
"Mau pulang saja, kalian ndak menyayangi saya?!"
"Ilih kang ngambek?!"
Ujar Jess sebel dengan kelakuan Yugi.
"Biariiiin..."
Mau tidak mau mereka semua menyudahi jalan-jalan mereka karena Yugi sudah jalan duluan bersama Nana meninggalkan mereka.
Di parkiran notif pesan Nana berbunyi, ia pun melihat siapa yang telah mengiriminya pesan.
"Kak Yugi maaf, kita nggak bisa pulang bareng. Aku harus nyusul ibu di rumah bibi, ibu minta jemput soalnya habis arisan disana"
"Hmm, ya susah kalau ibu mertua yang minta saya tetap ngalah. Naku hati-hati ya...?"
"Iya, pulang bareng daddy dulu ya kak Yugi.."
"Iyaaa...."
Nana pun berlalu meninggalkan Yugi.
"Loh kok nggak bareng Nana?"
Tanya Ara melihat Yugi berdiri sendiri menunggu mereka.
__ADS_1
"Fik, kita pulang bareng ya?"
"Dih, kenapa jadi sama gue? Nana mana?"
"Saya kasihan kamu naik motor sendirian Fik, jadi saya berinisiatif nemenin kamu"
"Alesan aja terus. Dah buruan naik, gue capek nih"
"Ayok..."
Mereka pun pulang menuju kerumah masing-masing.
Di perjalanan, kedua pemuda itu asik mengobrol sepanjang perjalanan.
"Itu pemadam kebakaran siapa? Sejak kapan lu ikut begituan?"
"Ish, begituan apaan? Ndak enak bener dengarnya begituan"
"Lu aja yang ngeres?! Segala kang galon, kang ledeng, apaan tuh?"
"Hehehehe... Itu nama samaran para ciwi-ciwi kenalan saya Fik. Bisa mam*pus saya di amuk Nana kalau pake nama asli mereka"
"Nyari penyakit lu Yug?!"
"Ish, luyaman loh Fik... buat menghibur diri ketika Nana ngambek"
"Aug ah... Semoga Nana cepet tahu dan ngamuk ma lu?!"
"Dih, doanya baik banget!"
Sedang asing mengobrol, di depan mereka melintas sebuah pickup yang membawa muatan langka untuk di lihat. Yugi dan Opik langsung meledak tertawa.
"Wkwkwkkw..."
Yugi tertawa terbahak-bahak.
"Gila?! Bisa ada segede gaban gitu?!"
Opik sampe melongo melihat ukuran yang tidak biasa itu.
"Ikutin Fik, mau dibawa kemana itu?! Wkwkkwk..."
Saran Yugi pada Opik.
Mereka pun terus mengikuti pickup yang ada di depan mereka. Sepanjang jalan mereka terkekeh melihat pemandangan di depan mereka.
"Gue rasa itu mau di jadiin batup kayanya"
"Coba Yug, lu berendam dalam sono, nggak usah buka baju. Tetap aja pake baju kuning yang lu pakai sekarang"
"Sialan kamu Fik, omonganmu mengancam rasa sabar di hati saya"
"wkwkkwkwk..., maap dah..."
"Ikutin Fik, saya mau lihat itu yang pesan begituan orangnya model kek mana dah, wkwkwk..."
Tiba-tiba Opik menepikan sepeda motornya ke pinggir.
"Ish, kenapa malah berhenti disini sih?!"
"Gue kebelet"
"Wkwkwkwk udah sono, itu closet segede itu nunggu lu buat nyoba. Sana Fik, kejar...! Wkwkwkkwk..."
"Ish, kampret nih anak?!"
Opik meninggalkan Yugi terkekeh sendirian di atas motor. Ia segera berlari ke arah indoapril untuk menumpang buang hajat sesaat.
✨ FAVORITE ❤️, LIKE dan KOMEN ya guys... 🙏😊
__ADS_1