
Yugi terus berputar-putar di depan cermin memastikan penampilannya. Sedang kan Opik masih sibuk memilih pakaian dalam lemarinya.
Sore itu mereka berencana pergi kondangan tetangga Opik yang mengantarkan undangan tempo hari padanya.
"Fik, udah ganteng belum saya?"
Yugi bertanya pada Opik melalui cermin sambil merapikan batik yang ia kenakan.
"Ganteng... "
Opik menjawab sekenanya.
"Cocok ndak ini bajunya?"
"Cocok... "
"Ya udah yuk?!"
Yugi bersiap meninggalkan kamar Opik menuju pintu depan rumah Opik.
"Ntar dulu, gue lagi nyari amplop nih"
"Saya ada, bentar..."
Yugi bergegas ke kamarnya dan tidak lama kemudian pemuda itu kembali membawa amplo untuk mengisi uang mereka.
"Nih sekalian saya bawain kertasnya kali aja kamu mau nulis kata-kata ucapan berbahagia buat pengantin"
"Apaan nih? Siapa yang mau ngisi amplop pakai surat cinta?! Sarap lu pe'ak...?!"
"Ish, di bantuin malah ngumpat nih orang. Itu dari pada ndak ada"
"Lagian ini lu dapet dari mana amplop beginian?!"
Opik mengambil amplop itu dan menunjukannya pada Yugi.
"Itu dulu, waktu saya mau nembak Nana tapi ndak jadi-jadi. Jadinya suratnya masih saya simpan"
"Terus nembaknya pakai apaan, hape ya karena udah moderen?"
"Ndak pernah nembak saya, yang penting TST aja..."
#TST\= Tahu sama Tempe (salah ya😬)
"Dih, mau aja Nana"
Opik ngedumel kesal.
"Sialan, gini-gini banyak yang ke sum-sum sama saya?!"
"Itu sum-sum tulang dudul!"
"Ish, biarin... mulut-mulut saya, kamu yang sewot?!"
Giliran Yugi yang balik ngedumel sama Opik.
"Dah ah, gue mau buat amplop dulu. Udah nggak keburu kalau singgah di warung"
Ujar Opik sambil memperhatikan sekeliling kamarnya.
"Heleh, bilang aja mau hemat"
Opik melihat ke arah dinding dan di perhatikan oleh Yugi. Ia pun mengambil lem serta gunting yang berada di atas bupet dekat sebuah kalender. Kalender yang memiliki sisi putih di belakangnya pun di potong sedemikian rupa, di lem hingga menjadi sebuah amplop.
"Nah beres. Ayok makan enak kita?!"
Opik kemudian memasukkan uang 25 ribu ke dalam amplop.
"Dikit amat Fik?"
"Disana ada beberapa menu, lu makan mie ayam, gue makan nasi lengkap"
__ADS_1
"Ngapain menu makan saya kamu yang atur Fik?! Ndak, saya mau makan nasi lengkap juga pokoknya"
"Nggak bisa! Itu udah gue jatahin. Lu makan mie ayam kan seporsi 10 ribu. Dan gue makan nasi lengkap 15 ribu sama kayak porsi warteg, nah itu sesuai sama isi amplop ini"
"Ck, Ini mau kondangan apa makan di jalan sih?!"
"Hehehe... Kondangan lah, kuy!"
Mereka pun pergi ke tempat resepsi yang tidak jauh dari rumah Opik.
Ketika sedang mengantri piring, Yugi mendekat ke telinga opik dan membisikkan sesuatu pada Opik.
"Hati-hati milih rendangnya Fik, jangan kayak Bara sama Mimin, yang di angkut malah lengkoas"
"Iya gue tahu, makanya pencet-pencet dulu, kalau keras balikin"
Sesuai saran Opik, Yugi memencet semua daging yang ada dalam tempat prasmanan itu.
"Lama amat, buruan?! Noh di belakang antrian panjang banget ngalahin ngantri BLT"
Ujar Opik pada Yugi yang masih memilih daging.
"Sabar Fik, saya masih milih ini. Kayaknya lengkoas semua Fik, keras soalnya"
"Kalau keras semua bukan lengkoas semua Kimo, itu memang dagingnya yang alot?! Minggir dah lu, sana makan mie ayam aja"
"Dih! Sialan?!"
Yugi buru-buru memasukan tujuh potong daging ke dalam piringnya ketika Opik mulai menggeser tubuhnya. Alhasil, piring Yugi penuh oleh lauk. Pemuda itu mencari tempat di pojokan yang rada sepi untuk bersiap menghabisi buruannya.
Tidak kalah dengan Yugi, piring Opik juga menumpuk oleh lauk. Bedanya sama Yugi hanya sekitar 3 cm dari tinggi permukaan lauk Yugi.
Mereka tersenyum, dan mulai menikmati makanan mereka.
"Pletak!"
Sebuah daging jatuh ke bawah saat hendak di potong oleh Yugi.
"Vangkee... berkurang satu daging saya"
"Puweek, puhh... puhh!"
Opik melepehkan lagi daging yang berhasil masuk ke dalam mulutnya.
Yugi terkekeh tak bersuara.
"Lengkoas Fik?"
"Diem lu?!"
Jawab Opik kesal kemudian melanjutkan makannya.
"Greteekk"
Saat sedang mengunyah daging, Yugi merasa ada sesuatu yang keras melebihi Lengkoas, dan tiba-tiba saja ia merasakan ngilu di dalam mulutnya.
Mencari kesempatan, Yugi berusaha mengeluarkan sesuatu yang keras di antara daging dan nasi yang sedang ia kunyah.
Ketika berhasil, wajah Yugi mendadak kesal terlihat marah.
"Sialan, gigi geraham saya sampai patah. Ini daging keras amat sih?!"
Kembali Opik terkekeh melihat insiden yang menimpa Yugi.
Karena merasa kesal, setelah satu jam selesai makan, Yugi masih tidak beranjak dari duduknya.
"Yuk, pulang?! Ngapain nongki lama-lama di tenda orang?"
Sabar Fik, saya mau nurunin perut"
"Mau ngapain?"
"Mau makan mie ayam pokoknya sesuai saran kamu. Gara-gara daging alot gigi saya sampai patah"
__ADS_1
"Dih, jangan maluin gue dah lu. Gue warga tetap disini lu cuma pendatang gue yang bakal lama malunya. Mana gigi lu gue lihat?"
"Jangan disini dah, dari tadi kita di perhatiin orang"
"Ya udah ayok pulang"
Mau tidak mau pun Yugi menuruti Opik pulang ke rumah Opik.
*****
Ke esokan harinya di kampus.
Wajah Tha tampak patah semangat sambil memeluk tasnya yang berada di atas meja dan meletakkan kepalanya disana.
Anty sedang sibuk sendiri mencari jejak kang kurir melalui hapenya. Dan Jess terkekeh menonton tok tik di sebuah aplikasi sambil mengumpulkan pundi-pundi rupiah.
"Nana nggak sama kalian?"
Tanya Yugi yang datang bersama Opik.
Tha hanya menjawab dengan mengangkat bahu.
"Nana ngilang..."
Jawab Anty singkat.
"Ngilang ke mana?"
Kali ini Anty yang mengangkat bahunya menjawab pertanyaan Opik.
"Samperin ke rumahnya yuk?!"
Ajak Yugi pada semua teman-temannya.
"Kemana? Banjarmasin? Kejauhan..."
Jawab Jess sambil memainkan ponselnya.
"Ish, bukan alamat anu nya. Tapi alamat disini"
"Alamat disini itu dimana?"
"Udah jalan aja, ntar si othor juga bakal ngasi tahu"
Mereka pum perlahan bergerak mengikuti Yugi menuju arah parkiran. Tapi tiba-tiba Yugi menghentikan langkah kakinya ketika. Ketika melihat pesan dari Nana yang mengatakan...
Jangan cari aku lagi sibuk drakoran, awas!
Seketika bulu kuduk Yugi meremang mendapat ancaman dari Nana.
"Emm, kita balik lagi saja. Ndak jadi ke rumah Nana. Dia lagi sibuk drakoran katanya. Nih pesannya baru masuk.
"Ya elah..."
Ujar Tha tapi tetap melangkahkan kakinya mendekati motor keongnya.
"Oii the, mau kemana?"
Tanya Yugi bingung padahal dia sudah mengajak semua untuk balik lagi ke kampus.
"TMI"
"Ikut..."
"Ikut..."
Anty dan Jess dengan semangat menjawab ucapan Tha.
Notes : Nulis nya lagi gabut. Up nya sebulan sekali semoga bisa 🤧
Favorite 💕
Like 👍
__ADS_1
Komen
Terima kasih 🙏