Bukan Soulmate

Bukan Soulmate
Episode 2


__ADS_3

Jenuh mungkin itu yang dirasakan lelaki itu, sedari tadi membolak balikkan hapenya, menyalakan layar yang terkunci lalu mematikan kembali setelah memastikan tidak ada apa-apa disana. Ia terlihat menanti kabar seseorang yang jauh disana. Helaan napas yang begitu berat menandakan hatinya sedang rindu pada seseorang.


"Tok.. tok.. tok...!"


(Suara pintu diketuk)


Pemuda itu bangkit dari duduknya, ia segera membukakan pintu dan ingin mengetahui siapa yang bertamu disiang panas begini.


"Krieettt..."(Suara pintu dibuka)


"Haiii... ini saya bawakan nasi tapi ndak ada lauknya, kamu mau??"


Tersenyum ngeles Yugi menyodorkan rantang nasinya.


"Eleh...bilang aja mau numpang makan?!"


"Dihh... saya ndak bilang gitu fik.."


"Sama aja..."


Opik membuka pintunya lebar-lebar.


Yugi melangkahkan kaki masuk dan langsung menuju kedapur. Lelaki itu telah terbiasa dengan situasi rumah itu karena seringnya bertamu kesana.


Opik telah memaklumi kelakuan sahabatnya itu. Walau terkadang mereka bagai musuh namun bila salah seorang dari mereka ada yang bermasalah mereka mencoban untuk saling membantu.


Yugi membuka tudung saji di meja makan.


Ia segera melihat lauk-lauk yang tersaji disana.


"Wih.. ada rendang, lu masak sendiri?"


Teriak Yugi dari dapur.


" Mana bisa gue masak kimo.. masak mie baru bisa. Itu gue beli jadi"


Opik balas teriak dari ruang TV, lelaki itu sesekali masih menatap hape nya.


"Gede - gede banget dagingnya.. bukan lengkoas kan fik?!"


"Elah... lu tinggal makan doang dah kek kritikus makanan aja"


" Wih... sayur bening, saya demen ini"


Guman Yugi dengan senyum sumringah.


"Ini kenapa sayur bening rasa sayur asem fik?!"


Kembali ia berteriak pada Opik.


" Yang itu basi, sorry... sayur kemaren lupa gue buang"


" Sialan... udah kemakan saya lagi?!"


"Wkwkwkwk siapa suruh main nyosor aja".


Opik menghampiri pemuda itu yang sedang lahap menikmati makanannya.


"Lagi nungguin kabar ya? Jangan-jangan disana dia lagi deket sama yang lain"


"Heleh... sok tahu lu?! Dia lagi sibuk kuliah banyak kegiatan katanya"


"Tempe saya doyan. Udah jangan dipikirin ntar kalo kangen pasti bakalan nelpon. Sukur saya ndak LDRan"


"Lah lu.. jomblo monyet, gimana mau LDRan"


" Kalo deket dah saya jitak tu anak buat kamu uring-uringan begini"


Yugi berkata dengan tatapan serius ke arah rendang.


"Jangan songong..,, lu mau jitak?? Dia ngomel aja lu melimpir"


Opik nyengir mendengar perkataan sahabatnya.


"Makanya cari cewek jangan yang galak-galak fik..."

__ADS_1


"Ish...!??"


Opik melirik tajam Yugi.


" Makan fik.. jangan malu-malu"


"Kampret ni anak, lu tamunya..?! Emang belum dapet kiriman lagi?"


Opik sambil membuka kulkas dan mengambil minuman dingin untuk dirinya.


Melihat Yugi yang makan seperti busung lapar sepertinya sahabatnya itu belum mendapat kiriman bulanan dari orangtuanya. Karena ia tahu sahabatnya itu akan numpang makan bila telat dikirm.


" Sudah..."


Dengan santainya Yugi menjawab.


Opik menoleh kearahnya dan terlihat bingung.


"kalo udah ngapain lu makan dimari??"


"Sudah habis maksud saya.. belum juga selesai ngomongnya"


"Hah... kok bisa?!"


Opik makin terlihat bingung.


"Ish.. banyak nanyanya kamu kayak cewek aja"


"Wajar gue nanya pe'ak, gue yakin lu bakalan sebulan makan dimari ini..."


Opik terlihat frustrasi.


" Saya habis traktir si kembar makan di kafe anu, ternyata menu nya mahal banget. Habis kiriman saya sebulan"


Dengan santainya Yugi berkata.


"Astagfirullah... KIMOO....?!! lu bener-bener dah ah, ngapain lu traktir mereka ?! Hidup lu aja pas-pasan.. Juned!"


"Yang bener nama saya yang mana Fik.. ganti-ganti mulu ihh.. ?! Usaha dong bro.. pedekate itu perlu pengorbanan"


"Udah ah....ndak enak piringnya"


Yugi telah menghabiskan makanannya tinggal menyisakan piring kotor dihadapannya.


Opik hanya bisa pasrah. Ia terlihat beberapa kali menghela napas dan menggeleng-gelengkan kepala.


Tidak mungkin ia membiarkan sahabatnya kelaparan tapi hatinya berasa gedeg dengan kelakuan sahabatnya.


" Nasi saya masih banyak buat kamu aja fik... ya sudah saya pulang dulu"


Yugi memang membawa banyak nasi, dan nasi itu masih tersisa banyak. Namun tak satupun lauk yang tersisa. Hanya lengkoas yang kini menghuni mangkok ayam milik opik. Lelaki itupun meninggalkan rumah Opik kembali kekostannya.


" Buseeeet.... lauk gue?! KIMOOOO......?!!!!"


"Ihh... suara apaan itu? Merinding bulu saya"


Gumam Yugi setelah memasuki pintu kamarnya.


*****


Ke esokan harinya dikampus.


InNathajesstyra sebut saja para gadis dengan nama itu. Intan, Nana, Tha, Jess, Anty, dan Ara yang kini dekat dengan mereka, sedang asik nongkrong di kantin kampus setelah melewati pertemuan pertama.


Ara gadis supel yang kadang bisa galak jika seseorang mengusiknya. Ia adalah anak ibu kantin disekolah para gadis itu dulu. Meski telat setahun dari angkatannya namun Ara masih semangat untuk mengejar impiannya. Akhirnya bersama-sama dengan gadis-gadis itu ara memulai kuliahnya di Halu University.


"Jangan makan yang pedes-pedes Na.. ntar maag kamu kambuh, kamu juga An.."


Jess menasihati ketika melihat dua sahabatnya itu makan bakso dengan sambel yang luar biasa banyaknya.


"Enak banget ini..., ini bakso buatan keluargamu tha?"


Tanya Ara.


"Hooh,, enakkan..."

__ADS_1


" Bang Yu sama Daddy kok ga keliatan"


Tanya Anty sambil bersiut-siut kepedasan menikmati baksonya.


" Iya tumben... padahal kalau soal makan gini paling cepet datangnya"


Tanpa mereka sadari sedari tadi dua lelaki yang mereka bicarakan sedang mengintip mereka. Ternyata para lelaki itu memang sengaja menghindar. Pasalnya si kembar mengajak mereka jalan bersama. Yugi berkata bahwa si kembar menunggu mereka di Mall. Merekapun menuju parkiran segera menaiki motornya dan pergi ke Mall.


"Cepet dikit Fik...?!"


Yugi berkata sambil memegang pinggang Opik.


"Mau cepet kek gimana lagi Mo.. ga liat lu macet gini"


Opik berkelok-kelok mengemudikan motor maticnya berusaha menerobos melewati sela-sela kendaraan lain.


"Dih... saya liat Tom Rider itu bisa aja dia nyalip-nyalip kendaraan macet kek gini"


"Set dah.. lu samain ma film, lah gue bukan Tom Rider pe'ak?!"


"Fik.. fik.. kaca helm mu turunin biar ndak muncrat kek waktu itu"


" Etdah... banyak maunya lu Mo.., itu tangan lu singkirin najis gue di pegang-pegang ma lu?!!"


"Biarin kita kan soulmate"


Yugi semakin memegang erat pinggang Opik.


"Idih ogah .. Bukan Soulmate! Lepasin ga pegangan lu, gue turunin nih lu disini kalo ga lepas!!"


Opik ngotot untuk tidak memegang pinggangnya.


"Soulmate ihh..?!"


Yugi melepaskan pegangannya.


"Bukaaan... ga liat lu judulnya Bukan Soulmate?!"


Dan pertengkaran tiada habisnya terjadi disepanjang jalan kenangan. Hingga tiba di Mall mereka menjumpai si kembar sedang ngobrol dengan seorang wanita paruh baya. Yugi memincingkan matanya memperjelas wajah wanita itu. Dan...


" Fik.. fik.. kita balik aja ke anak-anak! "


Wajah Yugi terlihat tidak enak dan sedikit pucat.


"Kampret ni anak.. ini baru aja sampe masa iya balik lagi?!"


"Saya ndak enak sama wanita yang lagi ngobrol sama si kembar"


"Emangnya siapa sih"


"Ibu kost Fik.. udah 2 bulan saya ndak bayar kostan"


Yugi berkata sambil bersembunyi dibalik tubuh opik.


"Astagfirullah...Yug..!"


Opik menepuk jidatnya, ia melambaikan bendera putih atas kelakuan sahabatnya.


Beri dukungan untuk aku dong😘


* Like πŸ‘


* Komen


* favorit ❀️


*Rate⭐⭐⭐⭐⭐


*Hadiah


*Vote, Terima kasih πŸ€—


*Baca juga Cintai Aku Seikhlasmu , bagi yang suka kisah yang menyesakkan dada πŸ˜‚.


* Dream Destiny, kisah romansa istana.

__ADS_1


Terima kasih πŸ™


__ADS_2