Bukan Soulmate

Bukan Soulmate
Episode 5


__ADS_3

Mendung yang tidak berarti hujan menghiasi langit siang kala itu. Angin sepoy-sepoy yang berhembus dengan lembut sangat menyegarkan saat tersentuh oleh tubuh.


Cuaca hari itu mendukung rencana mereka untuk ngemall istilah anak sekarang. Serombongan anak-anak muda itu penuh canda tawa menjelajahi seluruh antero mall. Walaupun hanya sekedar melihat-lihat dan tidak berbelanja namun mereka merasa senang menikmati waktu senggang mereka.


Nathajestyra, mereka terlihat begitu ceria apalagi banyak cogan berseliweran yang benar-benar refreshing mata bagi mereka. Dan cowok-cowok itu juga tersenyum balik ditatap oleh mereka.


Tetapi, ada yang tidak senang dengan hal itu.


Opik dan Yugi sedikit menjauh dari mereka. Kedua lelaki itu terlihat jenuh dan tak bersemangat. Mereka hanya bisa duduk sambil memandang gadis-gadis itu memancarkan kharismanya


"Dih..benar-bener jadi satpam kita Fik.."


Yugi menghela napas sambil melipat kedua tangannya ke depan dada.


Opik yang ikut melihat arah pandangan Yugi hanya melengos mendengarkan perkataan Yugi.


"Apa sih yang di liat para ciwi dari mereka-mereka itu?! Menang tampang doang uhh.."


"Heleh... jangan suka iri"


"Siapa juga yang iri..saya juga bisa seperti mereka. Ndak perlu tampan, saya yang ndak tampan aja banyak yang suka."


"Justru itu ngeri...! lu jelek aja bisa jadi buaya apalagi tampan bisa jadi apa coba"


" Jleb Fik... Sialan!! Ndak pernah kamu dukung saya"


" Gue ngerii kalo mau dukung lu.."


Yugi menghela napas. Perutnya sedari tadi keruyukan, cancing di dalam perutnya mulai uzur karena tidak dapat asupan makanan.


"Aduh!! sakiiit..."


"Kenapa lu?"


"Perut saya sakit Fik..."


Yugi memegang perutnya.


Opik yang tadinya biasa aja jadi khawatir melihat Yugi sampe membungkuk kesakitan.


"Lu nggak papa?!"


Opik memegang perut Yugi.


" Laper saya Fik.."


"Setan.. kampret ni anak!"


Opik langsung ngedumel kesal.


"Ish.. jadi sahabat ndak ada perhatiannya kamu ke saya. Nyebelin ihh.."


"Buat apa? Lah lu bukan cewek gue Kimoo.."


Opik terlihat frustrasi sambil menggaruk belakang kepalanya walau tidak gatal.


"Kalau saya mati kelaperan gimana?"


Yugi memelas menatap sahabatnya.


"Dih.. tadi dikantin kenapa makanan nggak lu abisin?!"


"Ish... udah saya bilang ngeri liat tatapan mata Nana. Ya sudah.. punya duit ndak Fik..? Saya ada 10ribuan aja ini"


Yugi mengeluarkan uang dari dalam dompetnya.


Merasa kasihan Opik merogoh-rogoh disemua kocek tas, lalu saku dan membuka isi dompetnya.


"Cuma ada ini doang"


Selembar uang 5ribuan Opik perlihatkan kepada Yugi.


"Dih... kere!"


Celetuk Yugi.


"Kampret ni anak?! gue tadi dah bayarin makanan lu dikantin 20ribu Kimoo..."


Jerit Opik tidak habis pikir.


"Masa? Kan saya ndak nyuruh kamu bayar"


Yugi merespon dengan wajah santai tak bersalah.

__ADS_1


"Lama-lama pen gue pepes juga nih,. ngeselin banget.."


Opik mulai terlihat kesal terhadap Yugi.


"Hehehe... iya.. makasih. Udah jangan marah lagi ya.."


Yugi mencoba membujuk opik.


" Njiiir.... ngerii gue lama-lama ma lu"


"Jadi ini 15 ribu kita beli apaan? Ya udah kita ambil keputusan secara dewasa musyawarah mufakat aja yang menang yang pilih makanan. Gimana kalo kita swit"


Yugi memberi saran dengan wajah serius.


" Batu, gunting, kertas!" (Serempak)


"Yes.. saya yang menang hahaha... Kalau gitu saya mau makan paha Fik...."


Pandangan Yugi teralihkan ketika melihat seorang gadis yang berjalan lenggak lenggok dengan kaki putih mulus yang memakai celana pendek.


"Ehem..?!"


Opik berdehem karena tenggorokannya yang terasa gatal.


Gadis bercelana pendek itu menoleh kebelakang lalu tersenyum manis. Yugi yang melihat senyum itu menjadi girang. Pemuda itu balik tersenyum pada sang gadis.


"Yes... dia tersenyum Fik.. lampu ijo itu tandanya. Bisa juga kamu Fik.."


"Apaan orang gue cuma benerin tenggorokan yang ganjel"


Opik meluruskan kesalahan pahaman Yugi.


"Terserah.. yang penting ada tanda, saya deketin ahh..."


"Buset Kimoo..nggak jera-jera apa lu?! Bosen idup kayaknya"


"Ish... nyebelin punya temen ndak bisa di ajak hepi"


Yugi kesal dengan mulut monyong kedepan.


" Dih.. gue ogah, aliran lu aliran sesat"


"Jadi ini 15ribu di mall dapat apa ya Fik..."


"Kantong kresek dapet 5!"


"Asem ni anak!"



Jess melihat dua laki-laki itu sedang berbicara serius dari kejauhan. Gadis itu terkekeh geli hingga Tha, Anty dan yang lain ikut melihat ekspresi Jess.


"Liat apaan sih?"


Nana melihat arah pandangan mata Jess.


"Itu.. kalau diperhatikan mereka berdua kek pacaran ya"


Ungkap Jess tanpa menutupi pemikirannya.


"Wkwkkwkw... Homosapien maksudnya"


Tha terkekeh.


"Huss.. urang purba ieu teh.."


Anty mengomentari.


"La terus apa?"


Tanya tha penasaran yang ternyata tebakannya salah.


" Ieu mah.. cinta ngancik kana talang atuh.."


Anty menjelaskan namun ikut terkekeh.


" Ihh.... kamus-kamus, googlob translet mana ini?!"


Nana sewot tidak mengerti yang dikatakan Anty.


"Wkwkkwkwkk.."


Jess tak mampu menahan tawa.

__ADS_1


" Padahal dulu waktu sekolah nggak gitu ya"


Ara ikut cikikan.


"Lah.. Ara aja yang ga tahu. Kalian inget ga dulu saking mau nguber Ross sama Quin mereka berdua ngikutin kita ke mall yang akhirnya Quin jadi ngamuk gara-gara Daddy cipika-cipiki sama si... siapa ya aku lupa?"


"Bessy ya kalo nggak salah"


Nana mengingat kan.


"Nah.. iya Bessy. Dan Eh iya.. sorry Na.. jadi ngingetin kamu ma dia"


Jess lupa jika peristiwa saat itu juga mengingatkan Nana akan Ojin yang menduakannya.


"Nggak papa Jess aku juga udah lupa sama dia. Udah berlalu juga"


"Maaf ya Na.."


Jess memeluk Nana, dan gadis itu membalas rangkulan Jess dengan hangat.


"Kalau ingat yang dulu-dulu lucu juga ya. Jess dan Nana yang patah hati, Anty yang galon mulu, dan Ross yang pindah ke kampung karena perjodohan. Dini apa kabar ya, mungkin lagi bahagia sama Xavier"


Tha mengenang masa-masa dulu.


Mereka sejenak terhanyut dalam memori masa lalu.


"Iya ya... aku jadi kangen masa-masa itu.."


Ucap Nana terlihat melamun.


"Wkwkwkwkwk..."


Tiba-tiba Jess ngakak tanpa sebab. Smua terlihat bingung dengan Jess.


"Sorry...aku jadi teringat Nana dulu waktu booming nya covid. Dia pake jas hujan kek astronot saking takutnya mau keluar rumah saat aku ngajakin cari buku. Wkwkwkk... "


Semua ikut tertawa mendengar cerita Jess.


"Ish.. masih aja itu di ingat. Kan aku lupa ada sanitizer"


Nana terlihat kesal dan malu.


"Tapi ni ya.. yang aku heran banget.. sejak kapan Nana sama bang Yu?"


Tha melihat ke arah Nana. Dan semua ikut melihat ke arah Nana.


"Ish.. apaan sih?! Aku ga tau!!"


"Cieee...."


"Wkwkkwwk..."


Begitu lah.. keseruan para gadis menghabiskan waktu senggangnya. Tiada henti bercanda dan selalu kepo terhadap sesuatu hal. Mereka pun bergabung dengan Opik dan Yugi. Akhirnya sebagai penutup jalan-jalan itu mereka makan bakso di warung langganan mereka.


Notes : visual yang tampil hanya untuk melengkapi imajinasi reader saja, bukan berdasarkan real yaπŸ™


Beri dukungan untuk aku dong😘


* Like πŸ‘


* Komen


* favorit ❀️


*Rate⭐⭐⭐⭐⭐


*Hadiah


*Vote, Terima kasih πŸ€—


*Baca juga Cintai Aku Seikhlasmu , bagi yang suka kisah yang menyesakkan dada πŸ˜‚.


* Dream Destiny, kisah romansa istana.


Terima kasih πŸ™





__ADS_1



__ADS_2