
Pagi yang lemas dilalui oleh Opik hari itu. Sudah tiga kali pemuda itu muntah tiap kali ingatan mimpinya kembali terlintas di kepalanya. Apalagi saat teringat ia mengecup ubun-ubun apek milik Yugi.
Pemuda itu sebenarnya enggan ke kampus, namun bila kali ini ia tidak mengikuti lagi mata kuliah yang sama berarti kurang dari 75% kehadirannya bisa menyebabkan nilainya anjlok. Mau tidak mau ia pun tetap kuliah walau keadaannya sedang tidak fit.
"Sini biar saya saja yang bawa motornya"
Yugi menawarkan diri setelah melihat keadaan Opik.
Opik lalu menaiki motornya di gonceng oleh Yugi. Perlahan motor itu mulai bergerak.
"Gara-gara elu, kampret.."
"Dih... gara-gara mati lampu Fik"
"Apa hubungannya?"
"Ndak ada sih...."
"Lah.. terus?!"
"Saya kedinginan ndak ada selimut. Saya lupa nyuci rendaman selimut saya. Jadi saya ikutan masuk ke dalam selimut mu, anget Fik..."
"Ish.. najis?!!"
Saat di pertigaan tiba-tiba seorang cewek melintas begitu saja. Yugi dan Opik kaget hingga menyebabkan hilangnya keseimbangan.
"Yug hati-hati... aaa....."
"Brukk... brakk!!"
Tabrakan tak terhindarkan, gadis itu terjatuh dari motornya. Yugi dan Opik juga mengalami hal yang sama. Yugi langsung menghampiri gadis itu mencoba untuk menolongnya. Gadis itu mengalami lecet di tangan dan kakinya. Pemuda itu mencoba menenangkan gadis itu dan meminta maaf. Padahal sebenarnya salah gadis itu yang langsung lewat tanpa memperhatikan pengemudi disekitarnya.
"Kamu ndak apa-apa?"
"Sakit..."
Rintihan sang gadis membuat iba Yugi.
Yugi meniup luka lecet ditangan gadis itu, tanpa ia sadari Opik telah dilarikan kerumah sakit oleh warga sekitar yang menolongnya.
"Kamu bisa bawa motor?"
Gadis itu mengangguk menjawab pertanyaan Yugi.
"Ya udah berarti ndak apa-apa. Kamu punya nomer hape? Nanti kalau urusan saya dah selesai saya anterin salap buat ngobati lukamu ya.."
Gadis itu menurut saja apa yang dikatakan Yugi. Ia memberikan hapenya begitu saja, mereka pun saling bertukar nomer hand phone.
Setelah urusannya dan sang gadis selesai Yugi baru sadar dengan Opik yang tadi jatuh bersama dengan dirinya.
" Loh.. mana dia?! "
Lelaki itu celingukan mencari keberadaan Opik. Ia bingung Opik menghilang begitu saja.
Ia pun mencoba bertanya pada penjaga warung yang tak berada jauh dari lokasi tabrakan.
"Bang.. permisi, lihat temen saya yang tadi saya boceng ndak.."
Abang yang sedang mengaduk kopi untuk pembelinya pun melihat ke arah Yugi.
"Lah.. kamu nggak lihat tadi dia di gotong naik ambulans?"
"APA.. Astagfirullah.. ??!!"
Setengah berteriak Yugi pun terkejut mendengar ucapan abang warung. Ia tak mengira Opik akan terluka separah itu.
"Rumah sakit mana bang? Apa judul ambulannya?!"
"Pesan Terakhir.."
"Dih.. itu sih judul lagu?!"
Yugi terlihat sedikit kesal.
"Lah.. situ nanya merek ambulan pake judul, Noh.. dia dibawa ke RS. Husada"
"Nah.. gutu kek dari tadi, makasih bang"
__ADS_1
Pemuda itu langsung bergegas ke RS yang disebutkan.
Yugi Ngebut di jalan raya mengalahkan kecepatan Tom Riders. Ia panik mendengar Opik yang di larikan ke rumah sakit. Sesampai disana lelaki itu langsung menuju UGD.
"Mbak saya mau cari pasien yang baru saja masuk?"
"Oh anda siapa? Suami, saudara, apa pacaranya?"
"Ish... sembarang mbak ini, saya temennya"
"Oh...maafkan saya, pasien berada di bad ujung sana"
Perawat menunjuk di sisi sebelah kanan ruangan itu.
Yugi segera menghampiri ranjang itu, ia terkejut melihat seorang wanita cantik sedang berbaring di ranjang itu.
"Dih.. cantik banget ternyata, nyesel saya cuma bilang temen. Coba tadi saya bilang suaminya"
Gumam Yugi pelan.
"Maaf anda bilang apa?"
Perawat menanyakan apa yang baru saja pemuda itu katakan.
"Oh.. maksud saya temen saya bukan nona ini mbak. Temen saya batangan"
"Apa?!"
"Maksud saya cowok"
"Yang ini ya..?!"
Perawat itu membuka horden di samping ranjang wanita cantik tadi. Terlihat lah Opik yang sedang terpejam disana.Tangannya di pasang infus cairan nutrisi. Lalu horden itu kembali di tutup. Yugi segera menghampiri Opik.
"Dih... sialan, enak banget tiduran di samping cewek cakep nih anak"
Yugi memperhatikan dengan seksama seluruh tubuh Opik. Terlihat sepertinya tidak ada luka maupun lecet di tubuhnya.
"Sakit apa dia mbak?"
"Oh... gitu, makasih mbak"
"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi"
Yugi menjawab dengan anggukan kepala. Lalu ia segera duduk di kursi disamping ranjang Opik.
Ia segera mengeluarkan hapenya, memfoto Opik yang sedang tidur lalu mengirimkan pesan kepada teman-temannya.
Anty : Itu siapa?
Yugi : Opik lagi dirawat di Husada
Anty : innalillah...
Jess : Daddy kenapa?
Tha : Kok bisa?
Yugi : Ntar aja kalau mau tau detailnya. 3 jam lagi dah boleh pulang jenguk di rumahnya aja.
Jess : Ya udah ntar aku bareng Nana kesana
Tha : Jemput aku Jess
Jess : Ya boleh ntar sekalian aku jemput kamu Tha. Anty ga sekalian?
Anty : Neng minta anter sama Jojo aja, dia sekalian lewat ke arah sana.
Jess : Ya udah.. kita ketemu rumah Daddy aja.
Anty : Siap..
Yugi : Kalian jenguk dateng jangan tangan kosong. Bawa nasi bungkus, buah, roti juga es Bomba ya
__ADS_1
Tha : Ini jenguk apa mau piknik.
Yugi : Saya belum makan siang ihh...
Jess : wkwkkwkwk
Anty : Kan Daddy yang sakit bukan bang Yugi
Yugi : Biarin...kan saya bantuin merawat jadi butuh tenaga juga.
Jess : Iya.. iya...
Percakapan pun di akhiri setelah melihat Opik yang telah bangun.
"Kok gue disini?"
Opik terlihat bingung.
"Kamu pingsan, dih... Laki-laki kok bisa pingsan gara-gara jatuh doang"
"Gue lagi nggak sehat hari ini gara-gara lu Kimo!"
"Ish... saya lagi.. saya lagi.."
"Tapi tadi saya dapet nomer tu cewek Fik.."
Yugi langsung bersemangat untuk menceritakan kepada Opik.
"Ya udah laporin ke polisi segera"
"Kok ke polisi... ogah saya, buat gebetan baru lah.. lumayan cakep orangnya"
"Hmm...buaya nggak ada kenyang-kenyangnya.."
"Ish... sembarangan!"
Yugi lalu lebih mendekat ke Opik.
"Ngomong-ngomong pasien di sebelah mu cakep banget Fik..., tadi saya salah ranjang nyariin kamu. saya bilangnya temen pas di lihat ternyata cewek cakep nyesel saya"
Yugi berbisik.
Terlihat Opik tidak mempercayai ucapan Yugi.
"Ihh... ndak percaya, Nih lihat sendiri"
Yugi lalu membuka pembatas horden dan ingin memperlihatkan wanita yang dimaksud.
"Astagfirullah... kok berubah?!"
Yugi terkejut saat melihat ranjang itu telah di gantikan oleh nenek-nenek.
"Dosa lu... nenek-nenek lu ejekin juga"
"Beneran Fik... tadi itu cewek cakep banget. Saya ndak bohong"
Akhirnya Yugi kebingungan sendiri kemana perginya cewek cantik di ranjang 13.
Notes : visual yang tampil hanya untuk melengkapi imajinasi reader saja, bukan berdasarkan real yaπ
Beri dukungan untuk aku dongπ
* Like π
* Komen
* favorit β€οΈ
*Rateβββββ
*Hadiah
*Vote, Terima kasih π€
*Baca juga Cintai Aku Seikhlasmu , bagi yang suka kisah yang menyesakkan dada π.
__ADS_1
* Dream Destiny, kisah romansa istana.
Terima kasih π