
"Fik, udah berapa lama ini kita ndak masuk kuliah? Apa kita ndak di DO nantinya?"
Tanya Yugi yang berbaring menatap langit-langit sambil beralaskan lengan di kepalanya.
"Oh, udah sadar lu?"
"Ish, saya masih ngambek ini sebenarnya sama Naku"
"Jangan kelamaan, ntar dia balik ngambek lu yang repot"
Ujar Opik sambil melihat ke arah luar jendela.
"Cewek itu susah sekali dimengerti, ndak mengerti saya Fik"
"Nggak usah di mengerti kalau susah"
Jawab Opik yang masih menatap keluar jendela.
Mendengar jawaban sahabatnya itu hanya sekenanya saja, Yugi menoleh ke arah Opik kesal yang ternyata lelaki itu sedang asik memperhatikan ke luar.
"Lihat apa sih, asik bener?"
Tanya Yugi yang langsung bangun dari rebahannya dan ikut melihat ke arah luar jendela.
"Itu bukannya cewek yang mau kost tempo hari kan?"
Tanya Yugi yang masih ingat wajah cewek yang mereka temui di rumah ibu kost.
"Udah kost kayaknya. Itu lagi ngangkutin barang-barangnya"
Jawab Opik melihat kedua gadis itu sedang berusaha membawa barang-barang mereka.
"Tolongin yuk Fik, siapa tahu dapat nomer hapenya?"
"Suka bener ngoleksi nomer hape orang"
"Bukan orang Fik, cewek ini?!"
"Lah..., cewek kan orang juga?!"
"Sakarepmu lah"
Mereka pun langsung menghampiri dua gadis yang sedang memilih barang untuk mereka angkut ke kostan mereka.
"Hai..., saya bantu ya?"
Ujar Yugi menawarkan diri.
"Oh, om yang waktu itu?! Boleh om, makasih"
Jawab salah seorang gadis itu yang ternyata juga mengingat wajah mereka.
"Kikikik, om? Emang tampang lu om-om Fik "
"Sialan?! Diem lu!"
Mereka lalu mulai mengangkuti barang-barang kedua gadis itu hingga selesai.
Keringat mulai membasahi baju yang mereka kenakan. Opik dan Yugi duduk di tangga kost sambil mengipas diri mereka dengan mengibaskan baju yang sedang mereka kenakan.
"Minum dulu bang?"
Ujar gadis yang di bantu tadi sambil membawa dua botol minuman dingin.
"Nggak panggil om lagi?"
Tanya Yugi sambil meneguk minumnya.
"Nggak bang, masih muda ternyata. Hehehe..."
"Nah tu tahu, ya udah sini nomer hapenya?"
"Buat apa bang?"
"lain kali kalau butuh batuan kita, telpon aja"
"Oh gitu, boleh bang. Nih...?!"
Gadis itu menyodorkan hapenya kepada Yugi. Lelaki itu pun menerimanya dan memiscall nomernya sendiri.
"Kasih nama siapa nih?"
Tanya Yugi pada gadis itu.
"Dina bang"
Tanpa sengaja hand phone Yugi terlepas dari tangannya karena terperangah mendengar nama itu.
"Loh kok di buang bang?"
__ADS_1
"Licin. Ya udah kami balik dulu ya?"
"Iya bang. Makasih loh bantuannya?"
"Sama-sama. Ayo Fik kita balik?!"
Ajak Yugi pada Opik.
"Tumben cepet"
Gumam Opik yang di dengar Yugi sambil berjalan meninggalkan kostan itu.
"Yang ini ndak berani saya"
"Kenapa, insaf?!"
"Namanya mirip sama nenek saya. Takut kualat"
"Hehehe..., bisa takut juga lu?"
"Ish. Besok kita kuliah lagi yuk bosen saya berdua mulu sama kamu. Mata saya sepet"
"Ilih...asem nih anak"
Malam harinya ketika opik menyiapkan segala sesuatunya untuk kuliah di esok hari, pemuda itu melihat Yugi sedang serius berkutat pada hapenya.
"Lagi apa? Ganti pola?"
Ujar Opik melihat Yugi menyetel ulang pola hapenya.
"Hooh, besok pasti ketemu Naku jadi bahaya"
Jawab Yugi tanpa melihat ke arah Opik.
"Banyak nomer ganjil ya? Lu sih, demen banget nyimpan nomer tu ciwi-ciwi"
"Dih, ganjil genap ada semua. Memiliki teman banyak kan bagus"
"Iya, iya..."
"Tok... Tok...! Assalamualaikum?"
Suara salam serta ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka. Opik pun segera melihat siapa yang datang bertamu ke rumahnya.
"Waalaikumsalam, oh Raya ada apa?"
Remaja muda yang bernama Raya itu memberikan sebuah undang pada Opik. Opik lalu menerima dan melihat siapa yang sebentar lagi akan melaksanakan pernikahan.
"Reva ya, kakakmu kan?"
"Iya acaranya kak Reva, datang ya bang?"
"Insyaallah datang deh"
"Ya udah, Raya permisi ya bang. Assalamualaikum...?"
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh..."
Opik lalu menutup pintu dan masuk kedalam.
"Siapa?"
Tanya Yugi yang mendengar suara cewek ketika berbicara dengan Opik tadi.
"Tetangga, nganterin undangan kawinan"
"Kapan?"
"Disini di tulis minggu besok"
"Saya ikut ya?"
"Dih, giliran makan enak cepet lu?!"
*****
Keesokan harinya, kedatangan Opik dan Yugi ke kampus disambut oleh tatapan tajam sahabat-sahabatnya. Mereka seperti bertemu mangsa dan siap untuk menerkam.
"Fik, apa ndak salah kita ini? Rasanya bukan ke kampus tapi ke kandang macan ya Fik"
Bisik Yugi merasa takut melihat tatapan para sahabatnya yang kesal kepada dirinya dan Opik.
"Lu sih?! Mau gimana lagi. Ya hadapi aja"
"Hai Naku?"
Sapa Yugi pada Nana dengan senyum sepolos tuyul.
"Oh, kirain udah lupa?"
__ADS_1
Sindir Nana melirik sekilas lalu kembali menatap ponselnya.
"Ndak lah... masa lupa"
Ujar Yugi merasa tidak nyaman. Tapi dalam hatinya bingung seperti ada sesuatu yang salah menurutnya.
"Bagus ya, kita di lupain?! Apa-apa nggak ngajak kita. Ke Mall berdua doang, hangout sekarang berdua doang"
Tha menyindir Opik dan Yugi.
"Iya jahat banget sih kita nggak di ajak"
Anty menimpali dengan wajah cemberut.
"Saya begitu karena ada alasannya"
Ucap Yugi sambil menjeling Nana yang masih fokus pada ponselnya.
"Ya udah, lain kali kita hangout bareng semua ya"
Opik mencoba meredam cemberut di wajah semua sahabatnya.
Selama beberapa menit suasana canggung. Jess dan Anty serta Ara sibuk berdiskusi tugas kelompok mereka yang baru saja terbentuk.
Tha sendiri asik mengotak ngatik hapenya karena dia kini sedang asik mengikuti dunia selebgram. Dan Nana tersenyum-senyum sendiri melihat hapenya.
Yugi tidak menyukai Nana yang tersenyum menatap hapenya ketimbang dirinya. Pemuda itu mencoba mendekati Nana untuk mencari tahu apa yang mengalihkan perhatian Nana dari dirinya.
"Asik bener?"
Nana melihat ke arah Yugi. Melihat Yugi berusaha melihat hapenya, Nana segera mematikan layar ponselnya untuk menyembunyikan apa yang sedang ia lihat.
"Ck, gitu ya? Sudah main rahasia-rahasiaan sekarang"
Ujar Yugi kesal. Ia pun mengeluarkan hapenya sambil senyum-senyum sendiri menatap layar hapenya.
"Chatan sama siapa?!"
Nana mulai kesal karena dirinya di abaikan.
"Ish, mau tahu aja. Sanaaa urus hape masing-masing"
Ujar Yugi membalas perlakuan Nana padanya.
Tanpa ijin Nana tiba-tiba saja mengambil hape milik Yugi. Yugi terkejut dan tertawa ketika Nana mencoba membuka layar ponsel itu namun tidak bisa.
"Kenapa polanya di ganti sih?! Pasti ada sesuatu kan?"
"Hehehe ndak akan bisa, kalau mau lihat isinya sini hape mu dulu"
"Ih, kak Yugi nyebelin"
Sedikit ragu Nana memberikan hapenya pada Yugi. Dengan kesal mau tidak mau ia berikan juga hapenya untuk mengetahui apa yang Yugi sembunyikan darinya dengan mengganti pola baru.
Namun wajah Nana sekilas nampak senyum seringai yang membuat Yugi menjadi curiga. Ia pun perlahan mengambil hape milik Nana. Dan benar saja, hape Nana juga di ganti dengan pola yang baru.
"Ish, kamu juga di ganti polanya. Ini gimana bukanya?"
"Kak Yugi dulu bukain ini?!"
Ujar Nana menyodorkan hape milik Yugi padanya.
"Pola saya canggih, kamu ndak akan bisa. Nih lihat..."
Dengan cepat Yugi mengerakkan jarinya hingga membentuk sebuah pola.
"Hehehe bisa nggak?!"
Tantang Yugi pada Nana.
Dengan percaya diri Nana mengikuti gerak jari Yugi dan berhasil.
"Ish, nih gimana caranya?"
Yugi kesal Nana hanya cukup sekali meniru dirinya dan berhasil. Kini giliran dirinya yang menanyakan cara membuka pola Nana.
Dengan cepat Nana menggerakkan jarinya hingga membuat Yugi bingung dan tampak kesal.
"Ulang"
Pinta Yugi pada Nana.
Sekali lagi Nana mengulang polanya dengan gerakan sedikit lambat. Kembali Yugi kemudian mengikuti gerak Nana dah akhirnya gagal lagi. Setelah ke lima kalinya akhirnya berhasil juga.
✨ FAVORITE ❤️, LIKE dan KOMEN ya guys... 🙏😊
__ADS_1