Bukan Soulmate

Bukan Soulmate
Episode 6


__ADS_3

Malam yang sunyi dan hanya ditemani suara kipas angin yang terus berputar kiri dan kanan, seorang pemuda beberapa kali mengamati jendela rumah kostan diseberang rumahnya. Tidak ada tanda-tanda kehidupan disana. Jendela itu tertutup rapat dan tidak ada cahaya yang menerangi kamar itu.


Sudah 1 hari 20 jam Yugi tak sekalipun menjambangi kediaman Opik. Pemuda itu menjadi sedikit cemas karena tidak biasanya sahabatnya itu seperti ini. Jika diingat-ingat bila hari libur begini kalau tidak berpergian berdua dengannya Yugi bisa datang 2 sampai 5 kali dalam sehari kerumah Opik.


Opik : Oii.. dimana?


Opik mencoba mengirimkan pesan namun pesan itu centang satu.


Opik : Oiii....


Tanpa balasan. Opik kemudian mengerjakan tugas kuliahnya. Beberapa menit berlalu, kembali Opik melihat layar hapenya masih centang satu.


Pemuda itu melanjutkan lagi tugasnya yang hampir kelar. Dan Satu jam berlalu, tugas kuliah pun akhirnya selesai juga. Kembali Opik melihat layar hapenya. Pesannya untuk Yugi centang dua dan biru artinya pesan itu dibaca namun tidak dibalas. Pemuda itu makin khawatir.


Opik : Lu udah makan?


Ish... kok gue jadi nanyai gini berasa kek orang pacaran..


Cih... jijik gue,,asem!!


Berasa geli mengirim pesan seperti itu namun karena khawatir pesan itu tetap di send juga. Opik tahu kalau Yugi masih belum mendapat kirim dari orang tuanya karena ini masih pertengahan bulan. Uang kiriman telah ia habiskan mentraktir si kembar awal bulan tadi. Dan lagi-lagi pesan itu hanya dibaca tanpa ada balasan.


Akhirnya pukul 22.30 malam.


Kembali lelaki itu meraih hapenya. Ia melihat belum juga ada balasan dipesannya. Opik mulai merasa kesal. Timbul ide jailnya mengerjai Yugi.


Opik : KIMOOO.......!! TOLONGIN GUE!!


Centang dua dan biru. Lalu beberapa detik kemudian...


"BRAKK...!!


BUKK,,!!


GEDUBARKK...!!"


Serasa ada gempa 5,7 SR melanda rumah Opik. Rumahnya yang berlantai 2 dengan lantai papan terdengar suara gaduh bagai sedang di sergap densus88.


Seseorang muncul dari balik pintu kamarnya dengan napas terengah-engah.


Wkwkwkw... berhasil juga rupanya


"Masih hidup lu?! Gue kira ntar malam bakal ada makan gratisan"


"Fiiiiikkkk..... kamu ndak apa-apa?"


Wajah Yugi terlihat panik.


Dih.. care banget ternyata, geli-geli terharu gue


"Apaan?"


Tanya Opik.


"Kamu chat saya begitu ada apa?!"


"Oh... itu aku minta tolong.. tolong bales pesan gue jangan bikin orang khawatir"


Opik menjawab dengan santainya. Ia bernapas lega setelah bisa melihat keadaan Yugi.


" Ish... Vangke.. sialan nih anak. Saya kira kenapa-napa. Duh.. sakit jantung saya. Asem makanan basi kamu Fik..!?


Emang ada yang mau acara?"


" Kalau lu ga nongol juga gue kira lu nongol dibuku yasin. Kan tahlilan jadinya.. makan gratis"


"Sialan... sembarangan..!! Kampret ndak ada ganteng-gantengnya ni anak?!!"


Opik hanya nyengir.


"Udah makan?"

__ADS_1


"Belum"


"Tumben ga kelaperan. Biasanya lauk dan nasi gue dah tinggal kenangan"


"Ish.. saya laper setengah mati sebenarnya. Cuma saya tahan"


"Heleh.. kenapa?"


"Selama muncul di novel ini saya ndak ada jaim-jaimnya.."


"Wkwkwkwk... salahin authornya berani ga lu?"


"Kamu coba dulu Fik... kalau kamu aman saya mau coba. Kalau ga aman.. saya diem-diem aja"


"Asem.., sederhana niat lu menjerumuskan gue"


"Hidup disini dia yang punya Fik.. kita bisa apa. Sekali ketik dia bisa matiin kita"


Yugi melongos.


"Lah.. kek lu ga tahu aja. Kan dia emang begitu dari dulu, kejam"


Samar-samar Opik bergidik ngeri berkata begitu.


"Ssttt... dah ah. Mana sini lauk mu dari pada basi"


"Noh dimeja..?!"


Yugi berjalan kedapur dengan semangat Ia segera membuka tudung saji dan..



Yugi melengos mengusap dada.


*****


Keesokan harinya.


"Kruyuukk....!"


Mata terbuka dan membulat berwarna kemerah-merahan. Hidung mengendus dengan kesadaran sempurna.


Yugi bagai kebakaran jenggot segera berlari kearah rumah Opik.


Disana asap telah mengepul menyeruakan aroma manis, dan gurih. Pertemuan spatula dan kuali memercikan denting-denting lagu indah pelengkap kenikmatan.


Yugi mendekat dibelakang seseorang, mencium aroma masakan dari balik ceruk leher sang koki.


Sang koki meracik bumbu ke dalam kuali hingga makin terkuak aroma masakan. Tetapi..


"Ini kok.. masakan ada bau-bau busuk ga sedap ya? Rasanya bumbu udah pas gue masukin?!


Astagfirullah... kampret ileran?!!"


Opik terkejut saat melihat kesamping wajahnya nyaris bertemu wajah Yugi kalau saja ia tidak segera menghindar bergeser kearah lainnya.


" Wangi Fik... "


" Asem ni anak, ileran lu benerin dulu, lu pasti baru bangun tidur, mana bau jigong lagi. Sana cuci muka?!"


Opik menggerutu kesal.


"Ish.. saya begitu terpesona bau masakanmu Fik.. makanya langsung lari kesini. Yuk..makan Fik.. piring dah saya siapin.."


Benar saja, piring dan gelas telah terisi oleh nasi dan air.


Opik menghela napas lalu menyalin lauk-lauknya di mangkok dan piring yang telah tersedia.


Mereka pun makan dengan nikmat tanpa saling bicara.


" Duduk aja.. biar gue yang sekalian cuci piring kotornya"

__ADS_1


Opik menawarkan diri.


"Wih... baik banget"


Yugi senyum sumringah dia merasa disayangi oleh sahabatnya.


"Gantinya lu bersihin kamar mandi gue ya.."


Senyum Yugi langsung berubah haluan menjadi merengut.


"Kampret ...nyesal saya muji barusan"


Walau ngedumel tapi Yugi tetap membersihkan kamar mandi Opik.


Tenaganya telah terisi penuh, Yugi pun dengan cekatan membersihkan kamar mandi.


"Fik... saya numpang mandi ya sekalian baju saya dah basah ini. Kamu ke kostan saya tolong ambilin cel*na dal*m saya yang warna item sm pakaian saya Fik.."


Teriak Yugi dari dalam kamar mandi.


"Dih.. ogah!"


Opik balas teriak sambil menggerutu.


"Saya udah ndak pake baju ini jadi ndak mungkin keluar dengan tampilan mengesankan begini Fik.."


"Ish.. ya udah"


Dengan kesal Opik pun pergi ke kostan Yugi mengambil apa yang di pesankan lelaki itu.


Tak beberapa lama Opik datang sambil terkekeh. Ia menertawakan cel*na dal*m Yugi yang bergambar konyol.


Suara kekehannya terdengar oleh Yugi.


"Mana baju saya?"


"Nih..."


Opik menunjukkan barang-barang Yugi dari balik pintu.


"Fik... saya cuma mau bilang, jangan gitu dong jadi om, masa cel*na dal*m ponakan kamu pake juga, jamet ihh..."


Yugi berkata dari dalam kamar mandi.


Opik berhenti tertawa dan mendadak terdiam.Ia melupakan cel*na dal*m spidermannya yang tergantung di balik pintu kamar mandi. pemuda itu hanya bisa pasrah dan menghela napas panjang.


" Diem lu.. sesama jamet mingkem aja"


Dan akhirnya Opik menyesal menyuruh Yugi membersihkan kamar mandi.




Beri dukungan untuk aku dong😘


* Like πŸ‘


* Komen


* favorit ❀️


*Rate⭐⭐⭐⭐⭐


*Hadiah


*Vote, Terima kasih πŸ€—


*Baca juga Cintai Aku Seikhlasmu , bagi yang suka kisah yang menyesakkan dada πŸ˜‚.


* Dream Destiny, kisah romansa istana.

__ADS_1


Terima kasih πŸ™


__ADS_2