
Keesokan harinya, saat jam masuk kerja Hasan dan Nina berpapasan di parkiran.
" hai, Kamu udah makan belum". Ucap Hasan.
Nina mengabaikan Hasan, Ia menuju ruang kasir dan meletakkan ranselnya di bawah laci. Kali ini Nina memasang raut muka yang dingin.
" Kenapa dia, apa dia marah". Ucap Hasan.
Hasan melanjutkan pekerjaannya di dapur. Terlihat celanga celongo kepalanya berbolak-balik ke arah jendela Bar. Ternyata benar benar tidak ada Nina kali ini.
Mbak Winda berjalan menuju ke tempat potongan ikan.
"San, kamu udah makan belon?
" belum, Mba win!!"
"Aku mau makan ayam hari ini. Kamu bisa nggak bakarin buat aku? Ujar Mba Winda sambil senyum senyum.
" Boleh saja, tapi izin dulu sama pak Adi". Ucap Hasan.
"Aku boleh makan ayam kapan aja. Ia tidak pernah melarangku. "
Hasan melepas pegangan ikan ditangannya dan beralih memegang panggangan ayam, kemudian membakarnya. Ia memberikannya kepada Mba winda.
Sebenarnya ia lapar, namun ia ragu dengan pernyataan mba Winda. Hasan tidak ikut makan dia beralasan alergi kalau makan ayam ia hanya makan ikan.
Saat asyik makan mereka dikejutkan oleh pak Adi.
__ADS_1
" Huwwwaaa. Hayooo ketahuan ada yang maling ayam".
Dengan santainya mba Winda masih melanjutkan makan. Hasan kelihatan gugup, ia tidak menghiraukan pak Adi dan fokus dengan kerjaannya.
"Siapa yang bertanggung jawab ini" ucap Pak Adi.
"Hasan yang masak ini untukku, iya kan San? ujar mba Winda Sambil menoleh kearah Hasan.
Hasan dimarahi oleh pak Adi dan di beri peringatan. Sedangkan Mba winda hanya membela diri.
Kemudian datang om Iman menjelaskan,karena ia melihat kejadian sebenarnya. Suara gaduh terdengar Terjadi keributan di belakang dan pak meneger menghampiri mereka.
"Ada apa ini, kenapa kalian bertengkar? Ujar pak Alex(meneger area).
Tidak lama kemudian Mba winda berlari menuju mess dan mengurung diri. Pak Adi mengejar dan membujuknya agar ia segera membuka pintu. Sedangkan disisi dapur Om Iman banyak berbicara dan menceritakan yang terjadi.
Akhirnya mba Winda keluar kamarnya dan di arahkan keruang Hrd. Dari kejauhan di balik jendela kaca ruang HRD hasan memandangi para senior berdebat didalam ruangan yang kedap suara. Terdengar kabar setelahnya bahwa mba Winda dipecat dari resto. Hasan terkejud mendengarnya. Kemudian ia menemui Mba winda di mess.
"Asalamulaikum, mba boleh aku bicara" ucap Hasan.
"Kamu gak usah bela'in aku san. Lagian aku dah lama mau berhenti dari sini" terdengar agak kecil suara mba winda didalam kamar.
"Aku juga mau berhenti" ujar Hasan.
Dooorrr.. pintu kamar terbuka, Hasan terkejut.
"Kok kamu juga risen"? Ujar mba Winda dengan suara ter engah.
__ADS_1
Mba winda keluar kamarnya tiba tiba, dan duduk bersandar di samping pintu.
"Aku akan risen nanti" kata Hasan sambil tersenyum.
"Kenapa kamu peduli sama Mba, padahal mba sudah membuat kamu dalam masalah."
"Aku penasaran kenapa mba Berani ambil ayam padahal itu tidak diperbolehkan." Ucap Hasan
Mba winda kemudian menceritakan masalah pribadinya dengan pak Adi kalau mereka sebenarnya ada hubungan. Hasan terkejut mendengarnya.
Hasan terus saja mendengarkan banyak cerita dari mba Winda.
Hampir semalaman mereka mengobrol di depan mess. Setelah mulai mengantuk Hasan kembali ke kamarnya dan tidur sedikit.
Pagi itu terlihat sepi dan tidak ada terdengar candaan atau tegur sapa antar karyawan. Semua terasa hening. Hasan ngelamun di ruang dapur ia memikirkan nasib mba Winda setelah ia dipecat.
"Baaaaaa"
Hasan kaget. Serasa mau copot jantungnya.
"Mba winda, kok masih disini? Ucap Hasan.
"Aku masih bekerja disini. Karena Nina" jawabnya sambil menari nari di hadapan Hasan.
""Hahh, , . Apa yang di lakukan Nina? Hasan melototot kewajah mba Winda.
"Nina membantuku. Ia menjelaskan kepada pak Alex. Kalau aku jangan dipecat. Aku tidak tahu apa yang ia katakan kepada pak Alex. Yang pasti aku sekarang masih bekerja disini." Ujar mba Winda
__ADS_1
Hasan dan Mba winda sering berduaan di ruang dapur samping bakar ikan. Makan bersama, shalat berjamaah dan mengobrol disaat bekerja. Membuat kecemburuan pak Adi dan Om iman meledak.
Pak adi sering membuli Hasan kalau ia melakukan kesalahan sedikit saja, itu akan di besar besarkannya. Sedang om Iman sering menjauh dari mereka berdua. Rupanya om iman masih menaruh perasaannya kepada Mba winda. Ia beberapa kali di tolak cintanya Winda ia tidak punya kekuatan lagi untuk menyatakannya.