
Setelah makan makan di warung, Hasan dan Nisa bergerak untuk pulang. Hasan mengantar Nisa kerumahnya.
Beberapa kali Hasan mulai sering mengunjungi Nisa kerumahnya setiap ia libur kerja.
Sekarang mungkin sudah tepat waktunya untuk Hasan melamar Nisa, karena mereka sudah beberapa bulan berhubungan.
''Sa, kamu dimana? Hasan menelpon Nisa
''Aku masih kerja'' jawab Nisa
''kapan kamu balik'' tanya Hasan lagi
''Beberapa hari lagi, ada apa sayang, kamu nanya begitu'' jawab Nisa
''Aku sudah bicara kepada orang tuaku, mereka akan ke rumahmu, kalau kamu pulang kabari aku'' ujar Hasan
''iya, nanti aku kabari, aku tutup telponnya dulu ya nanti ketahuan bos aku main hp'' jawab Nisa
''ok cantik'' Hasan menutup telponnya
Hasan tersenyum mendengar sebutan sayang dari Nisa. padahal mereka bicara tidak pernah mengatakan itu selama ini.
Beberapa hari kemudian Nisa mengabari Hasan bahwa dia sedang ada di rumah. Hasan segera mengabari ayahnya dan memintanya untuk melamar Nisa hari ini. Namun karena ada kesibukan ayahnya hanya bisa malam hari untuk kerumah Nisa.
Hasan dan Nisa mengatur waktu pertemuan mereka, akhirnya jam 20:00 malam ayah dan ibunya Hasan sedang menuju rumah Nisa. Di perjalanan hujan sangat deras, ayah dan ibu Hasan memutuskan berteduh di tengah perjalanan.
Sudah hampir dua jam hujan belum reda. ayah dan ibu Hasan mulai merasa bimbang. melanjutkan perjalanan menuju rumah Nisa atau pulang kerumah. Karena hari mulai larut malam.
''Sebaiknya kita ketempat Nisa dulu buk, kita kan udah janji kerumahnya hari ini '' ucap ayah Hasan
''Tapi, kalau kita kesana sekarang kita juga akan basah'' jawab ibu Hasan
''Kalau begitu kita pulang saja ya buk?!! ucap ayah Hasan
''kita ketempat Nisa sebentar lalu pulang, tanda kita benar benar menepati janji hari ini'' ujar ibu Hasan
Akhirnya ayah dan ibunya Hasan basah basahan menuju kerumah Nisa. Sesampainya di depan rumah Nisa, halaman rumah Nisa dipenuhi air. Sepertinya hujan malam ini membuat banjir dadakan.
__ADS_1
Hampir setengah badan ayah dan ibunya Hasan terendam di halaman rumah Nisa, dengan jarak 20 meter dari aspal.
Kedua orang tua Hasan disambut hangat oleh ibunya Nisa. Hasan tidak ikut, karena dilarang ayahnya. Di pihak laki laki tidak di anjurkan ikut saat lamaran. Jadi Hasan menunggu keputusan saat orang tuanya pulang.
'Assalamualaikum''
''Waalaikumsalam''
''Maksud kedatangan kami adalah untuk melamar putri ibu untuk anak kami'' ucap ayahnya Hasan
''Iya pak, saya sebagai ibu Nisa sudah menyetujui hubungan mereka untuk kejenjang pernikahan. Ini saya menyerahkan keputusan kepada Nisa anak saya. karena ia yang lebih berhak dalam hal ini'' ucap ibu Nisa
''Bagaiman nak Nisa, apakah nak bersedia untuk menikah dengan anak kami'' ucap ayah Hasan kearah Nisa
Nisa hanya terdiam menundukkan wajahnya kelantai ia tidak menjawab pertanyaan ayahnya Hasan.
''Kami tidak bisa berlama lama disini karena sudah larut malam dan kami juga kedinginan'' ucap ibunya Hasan
''Iya, sebaiknya kalian pulang dulu. saya tidak bermaksud mengundurkan kalian orang tuanya Hasan. Mungkin Nisa juga masih bimbang tunggulah besok nanti saya kabari untuk jawaban dari nisa'' ujar ibunya Nisa
Orang tua Hasan berpamitan kepada Nisa dan ibunya.
''Bagaimana yah, tadi keputusan dari pihak Nisa'' ucap Hasan
''Mereka belum menjawab'' jawab ayah hasan
''Aku tidak mengerti maksud ayah'' ucap Hasan
''Mereka meminta kita untuk menunggu jawaban dari cewekmu itu san'' ucap ibunya Hasan
Hasan mulai menghubungi Nisa. Hasan dan Nisa saling tulis pesan singkat lewat WhatsApp. Sepertinya Nisa sedang mengulur waktu. Ada apa dengan Nisa, ada sesuatu yang di sembunyikannya.
Hasan sering menanyakan jawaban dari Nisa tentang hubungan mereka. Sekali lagi Nisa menjawab dengan kata tunggu dulu. Hasan mulai bimbang dengan pernyataan Nisa yang ia anggap Nisa tidak serius.
Setelah beberapa Minggu terdengar kabar bahwa Nisa sudah menikah. betapa terkejutnya Hasan mendengar kabar itu.
''Ahh, tidak mungkin lalu aku ini apa?!! gumam Hasan
__ADS_1
setelah melihat foto resepsi undangan dari teman Hasan.
Hasan segera menghubungi Nisa.
''Annisa kenapa kamu bohongin aku'' ucap Hasan lewat telpon
''Maafkan kan aku san'' jawab Nisa
''Iya, tapi kenapa? tanya Hasan lagi dengan nada lesu
Nisa tidak berkata selain kata maaf diulanginya. Hasan berbicara banyak namun Nisa hanya terdiam. merasa diacuhkan Hasan menutup telpon Nisa dan memblokir nomernya.
Hasan termenung agak lama dan memandangi langit. tidak ada kata yang terucap dari mulutnya. didalam hatinya hanya ada kata kenapa kenapa dan kenapa?.
Setelah kejadian itu Hasan tidak bisa tidur nyenyak. ia terus memikirkan Nisa ia tidak habis pikir kenapa ini menimpanya.
''San, ayah menyarankan kamu untuk tidak terbebani hati dalam hal ini. seorang peria tidak boleh sakit hati karena wanita'' ucap ayah Hasan
''Yah, aku harus apa? jawab Hasan
''Kalau kamu setuju dengan ayah, ayah akan melamar wanita lain untuk mu'' ucap ayahnya
''Sebenarnya aku terus memikirkannya. Akan tetapi aku tidak mungkin berharap lagi dengannya, aku akan setuju dengan ayah'' jawab Hasan
Sudah hampir 4 atau 5 wanita sekampung Hasan menolak lamaran ayahnya dengan alasan yang beragam. Anak perempuan zaman sekarang jarang sekali tidak punya kekasih. mereka saling terhubung dengan media yang memudahkan komunikasi.
Ayahnya sudah mulai bosan bergerak, ia tak juga menemukan pasangan untuk Hasan. ibunya juga hampir sama.
Akhirnya Hasan memutuskan untuk tidak memikirkan soal pasangan hidupnya.
''Ayah, ibu . Aku tidak papa jangan terlalu di paksakan nanti kalau sudah sampai waktunya akan datang sendiri'' ucap Hasan
''Tapi san kamu sudah dewasa, usia mu juga sudah 30 tahun kapan kamu akan menikah kalau tidak sekarang'' ujar ibunya
''Kali ini aku akan bersabar Bu, lagian uangnya juga sedikit'' ucap Hasan
Kedua orang tua Hasan hanya terdiam. mereka juga tidak dapat membantu biaya karena sulit nya perekonomian mereka.
__ADS_1
Dengan modal yang direncanakan untuk melamar Nisa, di rubah menjadi usaha ternak. Hasan membeli itik lagi. Ia berharap dapat mengandalkan uang tabungannya untuk menambah modal dan mengesampingkan wanita di pikirannya.