
Sungguh hari yang sial. Hari hari dilalui setelahnya Hasan selalu memasang wajah muram dan badannya lesu.
''Tidak ada jalan lagi, tidak ada ide. ada apa ini dengan diriku. Aku harap ini hanya mimpi'' ucap Hasan di dalam hatinya.
Tap. tap. . taps (suara kaki mendekati kamar Hasan).
''San ibu mau bicara sama kamu''. ucap ibu nya sambil membuka sedikit pintu kamar Hasan.
''Iya ..Aku juga mau ke dapur Bu!!'' jawab Hasan.
Ibunya menunggu Hasan di depan ruang tamu rumahnya. Hasan bergegas keluar dari kamarnya dan menuju ke dapur, ia mengapa ibunya mau meminta bantuannya.
''Bu, tadi katanya mau bicara tapi ko' ngilang?''. ucap Hasan celanga celongo memutar lehernya ke kanan dan ke kiri.
Saat berbalik badan, Hasan tersenyum melihat ibu memandanginya dengan wajah yang serius dari ruang depan . Ia berjalan sambil menggaruk kecil kepalanya menuju ke hadapan ibunya.
''San, dengarkan ibumu ini. Kamu punya pilihan iya atau tidak itu tergantung keputusanmu'' ucap ibunya.
''Kalau ibu meminta atau menyuruhku tentu aku akan berkata iya Bu.'' jawab Hasan.
''Iya, kali ini ibu tidak ingin memaksamu. Ibu punya teman ia punya anak perempuan dan ibu ingin mengenalkannya kepadamu!!''. ucap ibunya.
Hasan hanya diam ia tidak menjawab ibunya. Ia tidak tau harus jawab apa kepada ibunya. Ayahnya hanya menoleh sedikit kearah pembicaraan Hasan dan ibunya, seolah sudah dalam rencana keduanya.
''Bu, aku tidak punya harta lagi bagaiman kalau permintaan maharnya se....'' ucap Hasan terhenti.
''Aku tau ia(teman ibu Hasan) wanita pekerja keras dan anaknya juga, ayahnya sudah tiada. Aku yakin dia mengerti keadaan kita'' ucap ibunya.
Hasan tersenyum haru melihat ibunya yang berusa keras membahagiakan anaknya.
Tidak berselang waktu lama hanya beberapa jam kemudian Hasan diajak ke rumah bibinya. Rupanya wanita yang di bicarakan kebetulan sedang ada di rumah bibinya Hasan.
Hasan dijemput bibinya ia diminta segera ke rumahnya. Hanya beberapa menit Hasan sudah sampai duluan ketimbang bibinya yang hanya menggunakan sepeda kayuh.
''Masuk san'' ucap pamannya.
Hasan tersenyum kerah pamannya, karena ia belum mengucap salam.
''Assalamualaikum'' ucap Hasan.
''waalaikumsalam'' jawab serentak di dalam rumah pamannya.
Setelah sampai kerumah bibinya Hasan terheran dengan yang ia lihat. Ia mengira wanita yang di temuinya akan secantik teman ibunya. wanita itu terlihat kusam dan kurus. sepertinya dia tidak terurus.
''Siapa namanya'' tanya Hasan ke depan wanita di hadapannya
Si Wanita hanya tersenyum kerah Hasan sambil membungkukkan wajahnya. sepertinya dia pemalu.
''Nomer wa kamu ada punya kan'' ucap paman Hasan.
__ADS_1
Si wanita hanya menganggukkan kepalanya.
''Dia tidak punya teman selain adik adiknya. Namanya Annisa'' jawab ibu wanita di depan Hasan.
Ibu dari Annisa bercerita banyak tentang biografi anaknya dan kesehariannya. Sebenarnya Hasan tidak tertarik dengan Annisa. Namun ia tetap bersikap ramah di hadapan Annisa dan ibunya.
Pembicaraan berakhir dengan ibu Annisa yang bergegas hendak pulang kerumah takut suaminya(ayah tiri Annisa) pulang cepat dari pekerjaannya, karena ia memegang kunci rumah.
''Ka, saya izin pamit pulang sudah mau gelap. Maaf sudah merepotkan kaka'' ucap ibu Annisa kepada paman Hasan.
''Sering seringlah jalan jalan kesini. anggap saja kita keluarga kalau berjodoh mereka berdua jangan lupakan paman ini'' ucap paman Hasan.
Mereka pamit bersalaman dan Hasan dan Nisa bertukar nomer whatsap.
Hasan selalu mengirim pesan ke Nisa. Mereka mulai akrab dan mereka saling berbagi cerita lewat chat wa.
Suatu hari hasan berkunjung kerumah Nisa tanpa sepengetahuan Nisa. Hanya ibunya Nisa yang ada di rumah. Ibu Nisa menyambut Hasan dengan ramah dan membuatkan nya minum.
Hasan sengaja melakukan tanpa memberitahu Nisa atau ibunya. Ia ingin melihat keseharian Nisa dan ibunya dengan seadanya.
Dut dut.. suara handphone bergetar sepertinya ada yang menghubungi Hasan. Ia segera mengambil handphonenya kedalam saku tas kecil.
''Halo ada apa AnNisa kamu menghubungi ibu lagi'' ucap ibunya Nisa sambil meletakkan handphone ke telinga kirinya.
Rupanya bukan hp Hasan yang bergetar. Hasan mendengar percakapan Nisa dan ibunya. Sepertinya Nisa sudah dekat dan berharap ibunya menjemputnya di pasar. Nisa sedang cuti bekerja, ia adalah baby sister di sebuah rumah mewah di perkomplekan dekat bandara.
''Ibu tidak bisa jemput Nis, motor ibu mogok lagi''
Naluri peria sejati Hasan bangkit, ia menawarkan diri untuk menjemput Nisa.
''Kalau boleh biar saya yang jemput Nisa bi?
ucap Hasan kepada ibu Nisa.
Ibu Nisa mematikan telponnya.
''Aku minta maaf san harus melibatkan mu'' ucap ibu Nisa.
''Tidak apa apa bi, aku merasa tidak direpotkan'' jawab Hasan
''Terimakasih san, tapi jangan buru buru''
Hasan bergegas pamit dan menuju ke pasar menjemput Nisa. Di jalan sambil memegangi handphone Hasan menelpon Nisa.
''Kamu dimana, aku akan jemput'' ucap Hasan sambil menaiki motor dengan tangan sebelah.
''Ahhh... Apa, aku bisa naik ojek atau taksi. Gak usah san'' ucap Nisa.
'' Aku sudah dekat pasar, kamu bisa share lok?'' ucap Hasan .
__ADS_1
Sepertinya Nisa tidak bisa menolak tawaran Hasan. Ia segera mengirim titik lokasi maps.
Sudah 3 bulan Hasan tidak pernah melihat Nisa lagi.
Mereka akhirnya bertemu di depan pagar jalan Bank BRI. Hasan terkejut dengan wanita cantik yang tersenyum lebar kearahnya.
''Siapa dia, kenapa menatap ke arahku'' ucap Hasan di dalam hatinya.
''Hei, kamu kenapa bengong san, ? ucap wanita itu.
Setelah semakin dekat Hasan sadar bahwa yang ada dihadapannya adalah Nisa. Hasan merasa takjub, sangat berbeda dari sebelum nya Meraka bertemu.
Nisa merasa sangat malu baru pertama kali ia boncengan dengan lelaki, ia juga merasa senang Hasan menjemputnya.
''Kamu pasti lelah, kita langsung pulang atau kamu mau makan dulu'' ucap Hasan sambil berkendara dengan Nisa.
''Ya, aku lapar. Tapi ibu mungkin masak sesuatu di rumah'' ucap Nisa.
''Tadi aku ke rumahmu, ibumu membuatkan ku kopi dingin'' ucap Hasan
''Emhhh, pasti habis gas lagi. Maaf merepotkan mu san'' ucap Nisa (malu malu)
Hasan berhenti didepan warung sate didekat mereka.
''Aku tidak suka ayam'' ucap Nisa. sambil tersenyum kearah Hasan
''Kamu mau makan apa? tanya Hasan.
''Bakso? ucap Nisa. Bola matanya memiring ke arah kiri
Akhirnya mereka berdua singgah di warung bakso. Nisa memesan 6 porsi, Hasan terkaget.
''Haduh, bisa bangkrut ane ini'' ucap Hasan didalam hatinya.
Nisa tersenyum kearah Hasan.
''San, apa kau menyukaiku?'' tanya Nisa
Hasan bengong sejenak.
''Tentu saja'' jawab hasan
''Apa kau akan melamar ku? tanya Nisa lagi.
'' Yaa.. itu, pasti .Tapi aku harus menanyakan itu dulu kepadamu!! ucap Hasan
''Aku tergantung ibuku, kalau dia setuju aku akan mematuhinya'' ucap Nisa.
''Ahh, aku juga harus bicara kepada orang tuaku!! ucap Hasan
__ADS_1
Hasan dan nisa bicara agak lama, karena pesanan belum juga datang.