BUNGA AMPLANG

BUNGA AMPLANG
Kesalahan fatal


__ADS_3

Nina bergegas meninggalkan Hasan mengambil barang dan memasukan kedalam ransel nya.


Ia di jemput Hendra. Hasan melambai dari kejauhan Nina membalasa melambai.


Hasan bingung kenapa begitu banyak pria di kehidupan Nina. ''apa dia play girl'' itu yang ada di benaknya.


Hasan tidak memperdulikan hal itu. Yang ada di fikirannya bekerja dan orang tuanya.


Sepulang kerja Mas Bima hendak meminjam motor Hasan untuk membeli rokok. ''Aku juga mau keluar mas bim beli sabun'' ujar Hasan.


Akhirnya mereka berboncengan naik motor Hasan. Di perjalanan ada sesuatu yang mengagetkan Mas Bima.


''Aduhhh. . kenapa kamu berhenti tiba tiba san''?


''Lihat kearah kirimu Mas bim, aku rasa itu Nina''ujar Hasan.


''yaa. itu sudah biasa begitu dia'' ucap Bima.


''Hahhh. . . rambut warna warni, pakai singlet celana pendek mengangkut sampah di jalan.''Hasan melotot kewajah Mas Bima.


''iya . Kamu belum tau yaa, kerjaan orang tuanya kan tukang sampah keliling.'' ujar Bima.


Hasan kembali kebingungan, padahal sepulang kerja Nina di jemput Hendra kemudian ia bertemu ditempat sampah.


''Ayo mas Bim kita samperin, aku tidak yakin itu Nina''ucap Hasan.


Mas bima mengambil alih motor Hasan. Ia mengemudikannya. melaju dengan kencang.


''Aduh aku lupa pak Rudi(meneger resto) minta di belikan rokok juga.'' ujar mas Bima.


Nina melihat dari arah kejauhan ia mengenakan kerudungnya dan memalingkan wajahnya.


Ke esok nan harinya. Waktu istirahat kerja setelah Shalat dzuhur di mosula Hasan mendekati Nina yang duduk di depan pintu musola.


''Aku melihatmu semalam'' ujar Hasan.

__ADS_1


''Setelah ayahku bangkrut, ia tak lagi bekerja. Ibuku terpaksa memungut sampah dijalan untuk mendapat upah. demi keperluan anaknya. Aku tak tega melihat ibu sendirian bekerja'' ujar Nina.


''Ayah mu dulu kerja apa''? tanya Hasan.


'' Dulu Ayahku punya usaha jual beli alat elextronik dengan pak Rudi( meneger resto). Mereka bekerjasama kemudian ayah bangkrut kerena sesuatu yang aku tidak mengetahuinya. Aku tidak mungkin dipecat walaupun aku membuat onar di resto. Aku bekerja disini juga karena mereka berteman.


''Kamu itu anak yang baik dan juga kuat'' ujar Hasan tersenyum ke arah Nina.


Dari dapur Mba winda memanggil Hasan. Hasan meninggalkan Nina.


''Ini ada nota buat orderan malam, kamu selesaikan sebelum tamu datang nanti'' ujar Mba winda.


Hasan Hanya menganggukan kepala dan tetsenyum kerah mba winda.


Mba winda merupakan patner kerja om Agus mereka sama sama di bidang cheker koki.


Om agus mendekati Hasan.


''Nota baru san,?'' tanya Om agus.


''Kamu di bantu Aiman nanti'' ujar om agus.


Om Aiman bekerja khusus bakar ikan. Ia hanya sibuk dengan ponselnya bermain game dan mengabaikan om agus.


''Om Aiman bisa bantu saya'' ujar Hasan.


''hehhhh. . Aku sebenarnya mau bantu cuman itu tidak boleh karena aturan resto.'' ujar om iman.


Hasan bekerja sendirian. Om iman hanya mengeles karena sibuk dengan gamenya. Hasan tidak mengerti aturan resto ia diam saja.


Setelah beberapa jam kemudian.Tamu mulai berdatangan. Menu orderan disajikan dan di hantar kehadapan tamu.


Menu yang dibuatkan kan Hasan mendapat komplain. Meneger memasuki area dapur.


''Siapa yang membuat ini'' dengan nada tinggi sambil menunjuk kearah masakan yang ada di meja cheker.

__ADS_1


''Hasan pak'' ujar om Agus.


Pak meneger memanggil Hasan. Ia dimarahi karena salah orderan. Hasan hanya bisa diam ia tidak bisa membantah karena merasa bersalah.


Seharian bekerja dan lembur membuat Hasan kelelahan. Ia ketiduran lagi didapur sepulang kerja Nina memasuki kawasan dapur dan membangunkannya.


''Hemmh.. Bangun jangan tidur disini.''


Hasan membuka matanya.


''Astaga punggungku sakit sekali'' Hasan duduk menghadap Nina dengan mata setengah terbuka.


''Cepat balik lah disini banyak hantunya'' ujar Nina.


Nina keluar dapur menuju parkiran, kemudian Hasan mengejarnya dan duduk di motor Nina.


''Aku mau tidur di rumahmu yaa, aku ikut'' ujar Hasan.


''Apa kau mau menemui ayahku'' ucap Nina.


''Emhhh. . . Boleh juga, ide bagus'' ujar Hasan.


Nina menekan tombol starternya sambil senyum senyum malu.


Kemudian Om iman datang mendekati hasan dan Nina.


''Kamu gak boleh kemana mana san. Besok barang datang lagi nanti kamu ga boleh kesiangan bangun'' ujar om iwan.


''Kamu jadi ikut tidak'' tanya Nina dengan wajah serius menghadap Hasan.


''Ahh, nanti aja. Lain kali ya Nin aku kerumah kamu siang siang aja.''ucap Hasan.


Nina langsung meninggalkan Hasan dengan kecepatan tinggi menggunakan skuternya.


Hasan terdiam, ia menganggap itu tidak masalah padahal Nina pulang dalam keadaan merajuk.

__ADS_1


__ADS_2