
Keesokan paginya Hasan dibangunkan pagi pagi oleh mba Winda.
''Tok tok tok....San apa kmu sudah bangun? dari balik pintu mba Winda memanggil Hasan.
Hasan sebenarnya sudah bangun. Ia sedang shalat subuh di kamarnya, dan tidak menjawab mba Winda.
Mba winda beberapa kali mengetuk pintu Hasan.
Setelah selesai Shalat.
''Ia Mba, ada apa pagi pagi dah gedor gedor kamar saya?'' jawab Hasan dari dalam kamarnya.
Mba winda mendorong pintu kamar hasan, karena gemboknya rusak kamar Hasan tidak terkunci.
''Aku pikir kamu belum solat, tadinya aku ingin mengajakmu solat berjamaah di mosula.''ujar mba Winda.
''Kejauhan mba. Lagian ngapain kita shalat berjamaahnya cuma berdua. Bukan muhrim mba.'' ucap Hasan
Mba winda hanya tersenyum mendengar pernyataan Hasan.
''setelah solat kamu ngapain san, jangan tidur lagi lohh.''
''Engga mba, Aku mandi terus beres beres kamar.''
''Bagaimana kalau berolahraga?'' ujar mba Winda.
''olahraga apa juga.'' tanya kesal Hasan.
''Aku punya dua raket, juga bolanya. Kamu bisa bermain badminton?'' tanya mba Winda.
''Ya. Sedikit'' jawab Hasan.
Mba winda menyeret Hasan keluar ruanganan. Ia masih mengenakan sarung dan kopiahnya.
''e. e. ehhh.. Mba aku gati pakaian dulu''
__ADS_1
''Ah gak usah, pak haji harus bisa ngalahin ustazah Winda.
Mba winda tertawa terpingkal pingkal, saat melihat Hasan terjatuh karena terlilit sarungnya.
Hasan tersenyum sambil menahan kesakitan. Ia sebenarnya kesal atas perlakuan mba Winda kepadanya.
Akhirnya Hasan melepas sarungnya. Mba winda menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
''Astagfirullah san. Kamu.....!! ucap Mba winda dengan nada agak tinggi.
''Gak papa mba Win, aku pakai celana ko''. ujar Hasan sambil tertawa.
Hasan dan mba Winda bermain badminton dihalaman parkir mobil resto. Saat asyik bermain, Nina datang dengan sekuternya melewati halaman mereka bermain. Hasan memukul kuat raketnya dan mengenai helm Nina.
''tokkkk''.......
Nina menoleh dengan wajah kesal. Hasan Hanya tertawa melihat kearahnya.
Nina memarkirkan motornya di samping mes Hasan. Ia mendekati Mba winda.
''Mba boleh pinjam'' tanya Nina kepada mba Winda.
''Akan ku pecahkan kepalanya'' ucap Nina dengan memasang muka jelesnya sambil menatap tajam kearah Hasan.
Dari tadi Mba winda terus tertawa melihat kerah Hasan, karena ia masih menggunakan pecinya dan Hanya bercelana pendek sambil bermain. Terlihat sangat kocak baginya perpaduan antara Taufik Hidayat dan ustad Adi Hidayat.
Rupanya Nina juga mahir bermain badminton. Hasan kewalahan menghadapi Nina. Nina melompat tinggi bak atlet propesional.
Tiba tiba. .
''bouuukkkk'' Akhhhhh... Aduhhh''
Hasan tergeletak dihalaman.
Saat menyemesh bola dengan kuat raketnya, bola mengarah kearah bawah pusar Hasan. Ternyata benar bola mengenai.(...). Hasan..wkwkwk
__ADS_1
Mba winda dan Nina Hanya tertawa terpingkal pingkal. Hasan terus menjerit, sepertinya adik kecilnya mau pecah.
Permainan terhenti karena Hasan tidak bisa melanjutkan permainan. Hasan sudah di tak K'O oleh Nina. Hasan meninggalkan area halaman dan kembali ke mess.
Hasan bergegas mandi dan berisap untuk masuk kerja. Sedang Nina dan Mba winda sibuk bermain badminton.
Setelah mereka selasai bermain. dan masuk jam kerja.
Di depan area weitres ada seorang yang baru. Om iman menunjuk kearah orang itu.
''San, dia juga orang banjar kamu bisa berteman dengannya'' ucap om iman.
''Apa dia temannya om?'' tanya hasan.
''Diaseumuran denganmu, cubalah sapa dia''ujar om iman.
Om iman memanggil weitres baru itu.
''Aku Debri. Salam kenal aku orang bugis''
''Aku Hasan orang sini'' ujar Hasan.
Setelah berkenalan. Tidak banyak bicara mereka melanjutkan pekerjaan. Di dapur Hasan mendekati om Iman.
''Katanya orang banjar, tapi dia bilang orang bugis'' Hasan menatap om Iman.
''Ayahnya keturunan bugis. Dia lahir di kalimantan dan besar di kalimantan'' ujar om iman.
Hasan mengangguk angukan kepalanya dan hanya tersenyum.
Saat pulang kerja, Debri menuju kamar Hasan. Ia membawa koper dan ransel besar.
''Boleh aku tinggal disini.'' ujar Debri.
''Masuk lah, kita ini saudara jangan canggung.'' ujar om Iman.
__ADS_1
Hasan Hanya terdiam mendengar pernyataan Om iman.
Mereka tidur sekamar bertiga. Debri mulai akrab dengan Hasan. Keduanya saling berbagi cerita dan pengalaman.