
Jarum jam telah menunjukan pukul 3 pagi,namun perempuan kecil yang semalam berpamitan ke warung depan membeli sate tak kunjung pulang
aza sedari tadi tak henti hentinya menelfon nomor zeira tetapi nihil berdering tapi tak ada jawaban,sedangkan ana sudah lemes karena menangis semalaman
"zei please angkat telfonnya zei,jangan bikin kita khawatir gini" ujar aza mondar-mandir seraya terus menelfon
" za mending kita lapor polisi aja gue takut terjadi sesuatu sama zeira" ujar ana
"gak bisa sulung ini tuh belum 24 jam "
"terus gimana za kita harus lakuin sesuatu, gak mungkin kita diam aja kaya gini sedangkan kita sendiri gak tau keadaan zeira di luar sana"
"Iya gue tau sulung tapi kita harus bisa tenang,kalau kita gak tenang mana bisa kita mau cari zeira"
"ya udah kalau gitu kita cari aja sekarang"
"Iya kita bakalan cari tapi tunggu kayven,gue gak yakin kita bisa cari sendiri"
"gue udah chat kayven tuk minta bantuan"
Tok tok tok
aza bergegas membuka pintu yang sudah ia pastikan adalah kayven tetapi saat pintu di buka bukan hanya kayven tetapi ada mora?
"ngapain ada dia? " tanya aza tak suka
mora melihat kayven seolah meminta kayven tuk menjawab " Katanya dia tau di mana zeira"
aza mengerutkan keningnya bingung apa maksudnya ini kenapa ia bisa tau keberadaan zeira?
aza buang jauh- jauh pikiran negatifnya,sekarang bukan waktunya ia berfikir negatif
"yakin lo? " di jawab anggukan dari mora
"ok tunggu bentar gue panggil ana dulu"
mereka pun menuju lokasi dengan mengendarai mobil kayven dan di arahkan oleh mora,
sesampainya di sana semaunya nampak sedikit ragu,karena sekarang mereka telah berada di depan gedung tua yang sudah berlumutan
kayven menoleh ke mora " lo yakin ini tempatnya? "
mora mengangguk " Iya gue yakin karena titiknya berada di sini"
"ya udah kalau gitu gue masuk kalian tunggu di sini" ujar aza lalu hendak melangkah masuk namun tanganya di tahan kayven
"lo gak bisa masuk sendiri gue ikut"
"gue juga ikut " sambung ana
"gue juga"
__ADS_1
sedangkan di dalam sebuah ruangan yang kusam nan kotor,ada seorang wanita cantik dengan balutan hijab yang sudah berantakan terduduk di sudut ruangan sambil memeluk lutut diiringi tatapan kosong dan mata yang sembab
pikiran dan hatinya seakan bertentangan satu sama lain sekarang,dan dia benci berada dalam posisi seperti ini
entahlah otaknya terus memutar kejadian beberapa tahun yang lalu, semua kata yang diucapkannya terulang kembali di indera pendengarannya tanpa henti,meski ia berusaha menutup telinganya rapat-rapat
"guys gini aja mending kita mencar karena ini gedung gede banget dan gak mungkin kita berempat nyari hanya dengan satu arah" usul kayven
ketiganya mengangguk setuju " kalau gitu gue sama aza,yuk za " menarik tangan aza mulai melangkah menaiki tangga
"huh ayo na cepetan" aza mulai masuk ke salah satu ruangan di ujung lorong diikuti hasanah di belakang tapi perlahan
tap
tap
tap
"zeira? zei lo di mana zei"
"zeira ini gue sama aza zei lo di mana" teriak keduanya berharap zeira dapat mendengar dan menjawab panggilan mereka
"zaaa kok gak ada zeira disini?"
"astagfirullahaladzim hasanah gimana mau tau zeira ada atau gak kalau gelap gini nyalain dulu"
"lampu?"
"allahuakbar dzakira hasanah izzatunisa api lu nyalain na"
mana sempat-sempatnya mereka berdebat hanya karena masalah lampu? ah sudahlah kita kembali ke topik
"lampu hasanah ASTAGHFIRULLAH! lama-lama habis kesabaran gue"
Klik
seketika hasanah dan aza disuguhkan dengan pemandangan zeira yang terduduk di sudut ruangan dengan kondisi yang dikatakan tidak baik-baik saja
terlihat jelas dari matanya yang sembab dan kerudungnya yang sudah acak acakan,dan pakaiannya yang masih sama seperti tadi malam duduk memeluk lututnya sendiri diiringi tatapan kosong
"ASTAGHFIRULLAHALAZIM ZEIRA" ucap keduanya bersamaan dan berlari menghampiri adik bungsu mereka lalu memeluknya dari sisi kedua sisi
"zeira lo kenapa zei? "
"apa yang sebenarnya terjadi sama lo zei? "
"bilang sama kita zei siapa yang udah berani lakuin ini semua sama lo?" kata keduanya masih memeluk zei dengan mata berkaca-kaca melihat kondisi sahabatnya
tiba-tiba tangan zei yang semula berada di atas lutut kini beralih menutupi telinganya sendiri,lalu menangis sejadi-jadinya berusaha menghilangkan lagi suara yang bergema di telinganya,ia bahkan tak segan-segan memukul kepalanya yang terbalut hijab
"AKU BUKAN PELACUR! "
__ADS_1
"BERHENTI MENGGANGGU AKU!!"
"TIDAK! TOLONG PERGI! JANGAN BAWA AKU!"
"AKU MOHON JANGAN LAKUKAN ITU,AKU BUKAN PELACUR!!" teriaknya keras sambil terus memukul kepala dan menutup telinganya
sedangkan aza dan hasanah tidak tinggal diam, mereka mencoba memegang tangannya dan mencegahnya melakukan hal bodoh,dengan mereka yang juga menangis bahkan tangan mereka kini digenggam erat oleh zeira
tanpa penjelasan dari zeira pun keduanya sudah tau akar permasalahan yang terjadi padanya sekarang,walau hanya dengan mendengar ucapan zeira
"zei aku mohon hentikan"
"Istigfar zeira,astagfirullahalazim"
"Istighfar zeira hiks,Astagfirullahalazim" keduanya berusaha memeluknya erat dalam tangisan ketiganya
KEMBALI berada di situasi yang sama dan mendengar tangisan itu LAGI, tangisan yang terdengar begitu menyakitkan di telinga siapapun terutama aza dan hasanah
selama hampir 30 menit mereka memeluknya mencoba menenangkannya dengan membaca istighfar berkali-kali, alhamdulillah kini cengkeraman pada tangan keduanya perlahan melemah namun ia tetap mengucapkan kata yang sama meski hanya terdengar seperti bisikan
"aku bukan pelacur"
"jangan, kumohon jangan bawa aku"
"pergi, tolong lepasin aku"
"aku bukan pelacur!" ucapnya lirih
"Istigar zei istighfar,astagfirullahalazim"
"astagfirullahalazim,astagfirullahalazim,astagfirullahalazim"
perlahan tapi pasti kini ucapannya sudah berganti dengan istighfar
"as tag fii rullah hal adzim,as tag firullah hal adzim" lirihnya
ana dan aza sedikit lega,namun pelukanya tak kunjung lepas dengan isak tangis yang masih terdengar
"jangan kayak gini lagi zei,kamu gak boleh kaya gini lagi" kata Ana membuka suaranya
"kamu gak berhak menyiksa diri kamu kaya gini LAGI zei hiks,kamu masih punya ibu sama kita " sambung aza
"aku takut!" kalimat tersebut mungkin terlihat biasa saja bagi orang lain,namun bagi aza dan hasanah kalimat tersebut memiliki makna tersembunyi yang hanya bisa mereka pahami
setelah mengucapkan itu zeira pun pingsan tak sadarkan diri di pelukan kedua sahabatnya
"zei? zeira? zeira bangun"
"astagfirullahalazim zei bangun zei"
"KAY, KAYVEN TOLONGIN KAY"
__ADS_1
"KAYVEN!!! "
KAYVEN dengan cepat berlari menghampiri asal suara tuk menolongnya