Catatan Hijrah Zeira

Catatan Hijrah Zeira
Bab 25


__ADS_3

rafael tertawa hambar "gak mungkin gue ngelakuin kaya gitu dib,karena gue masih sayang banget sama lo" perlahan wajahnya berubah sendu, ia lalu menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya menghembuskannya


"adiba, apapun yang masih ada sangkut pautnya sama lo masih gue simpan rapi sampai sekarang, jadi jangan salahin gue, udah stop gue juga capek"


"sayang gak akan mungkin kaya gini, iya gue tau kok tanpa lo kasi tau,maka dari itu gue slalu ngerasa gak ada harga dirinya sama sekali, dan apapun yang gue lakukan sekarang entah itu perubahan gue pun gak ada ngaruhnya buat lo"


"berapa kali gue bilang sama lo gue yang dosa raf" seraya mnunjuk dirinya sendiri "mungkin benar apa yang lo bilang beberapa tahun yang lalu kalau gue adalah pelacur, ya karena memang gue sama aja gak ada harga diri sama sekali di mata lo"


"lo tau raf? perempuan di hadapan lo ini, perempuan yang lo sakiti,yang lo perlakuan sesuka hati lo, adalah perempuan yang tidak pernah cerita apapun ke orangtuanya raf, yang kehidupan pribadinya hanya di pendam sendiri,hanya gue yang tau diri gue sendiri raf, gue capek banget" tuturnya menatap kosong lautan dengan air mata yang sudah lolos membasahi pipinya


"adiba,iya gue minta maaf atas semua apa yang dulu pernah gue lakuin ke lo, udah sekarang bukan waktunya bahas itu"


"terus bahas apa lagi? bahas kalau gue"


"udah deh dib, bukannya lo ngajak ketemuan buat ngomong baik-baik, ya udah kenapa jadi bahas yang dulu-dulu sih,capek gue"


"ya justru itu rafael, gue ngajak ketemu biar kita bisa ngomong"


"hm terus sekarang apa yang mau lo omongin"


"huft gini, apalagi yg lo harapin dari gue? lo sendiri juga bilang kan kalau lo juga capek, jadi ya udah cari cara atau hal apa yang buat semua ini benar-benar selesai"


"gue capek terus-terusan jadi kaya boneka lo, sesuka hati lo mau ngatain gue atau lakukan sesuatu sesuai keinginan lo" rafael menoleh tak terima


"tunggu, apa tadi boneka? emangnya gue ada nyuruh lo berbuat apaan dib,gue kaya gitu karena terbawa emosi adiba"


"iya boneka pelampiasan lo kan? pelacur, perempuan gak ada harga diri, perempuan murahan,memperlakukan gue kaya perempuan yang gak ada harga diri sama sekali, oh iya cacimaki gue juga udah, terus apalagi yang belum? "


"adiba gue"


"gue capek raf, mungkin lo bosan dengar gue bilang kaya gini tapi gue berani bersumpah gue benar-benar capek,gue cuman mau masalah ini selesai terus kembali menjadi asing yang gak saling kenal satu sama lain" rafael di depanya sudah terisak sambil menggeleng kuat


"gue yang gak bisa adiba, gue gak mau"


"bisa raf harus bisa,sampai kapan lo terus berharap sama manusia? kalau lo terus berharap sama manusia maka yang lo dapat bukan lagi kebahagiaan tapi sakit hati"


"itu adalah resikonya, karena berharap sama manusia berarti sama aja mengharapkan ketidakpastian, lebih baik lo berharap sama Allah yang jelas kepastiannya"


"lo nyuruh gue buat berharap sama Allah,terus gue berharap sama Allah dengan minta gue sama lo, boleh? " zeira terpaku di buatnya


"fokus aja sama yang menciptakanmu, bukan ciptaannya"


"harapan gue hanya mau masalah ini selesai, gue gak tau apalagi yang lo mau dari gue raf"


"gue cuman mau lo dib, hanya lo adiba"


"tapi kenapa rafael? " tak kala sarkasnya dari Rafael


"karena gue cinta sama lo"


"bukan raf bukan cinta,tapi lo hanya terobsesi sama gue, karena cinta hanya ada setelah menikah, selain dari itu hanyalah hawa nafsu dari dalam diri manusia yang menjerumuskan diri sendiri ke jalan yang salah"


"gue gak terobsesi sama lo dib, gue hanya mau lo itu aja,lo beda dari semua cewek yang selama ini gue kenal dib, gue nyaman sama lo"


"beda apanya? raf rasa nyaman itu bisa di dapatkan dari siapapun,kalau bilang nyaman ya berteman juga harus nyaman dulu"


"buat gue beda adiba, demi nama Allah dan rasulullah gue cuman mau lo adiba"


"raf, lo gak bisa memaksakan sesuatu yang udah jelas bukan di takdirkan buat lo, umar bin Khattab pernah berkata, apa yang melewati lo berarti bukan takdir lo dan apa yang udah menjadi takdir lo gak akan ngelewatin lo"


" gue capek adiba, lo pikir cuman lo yang capek? gue juga capek"


"alhamdulillah kalau udah capek, selama ini gue biarin lo ngelakuin semuanya sampai lo ngerasa capek sendiri, dan sekarang lo udah capek kan?gue harap dengan ini bisa buat semuanya selesai"


"gue tau kok gue juga salah karena udah ngambil keputusan secara sepihak, dan gue juga tau lo sesayang itu sama gue, tapi cara lo salah raf, gue minta maaf" rafael hanya diam


"mau berdamai? " rafael menoleh menatap sendu zeira lalu mengusap jejak air matanya


detik berikutnya ia mengangguk " gue juga minta maaf atas semua kesalahan yang udah gue perbuat, tolong maafin gue ya dib eh zeira" ujarnya membenahi ucapannya sendiri


sudut bibir zeira terangkat membentuk bulan sabit kala mendengar ia sendiri merubah panggilan itu " gue senang sama perubahan lo sekarang" lanjutnya lagi


"udah beneran selesai kan ini? " tanyanya memastikan


"ck kenapa?ga percaya banget sama gue"


"iya begitulah"


"kali ini beneran dib, gue juga udah berada di titik capek sendiri"


"makasih ya, gue berharap lo bahagia kedepannya"


"walaupun tanpa lo, iya kan? " jawabnya

__ADS_1


"maaf" cicitnya


"haha iya gak apa-apa, ya udah gue pamit duluan assalamu'alaikum, nitip salam buat ana sama gak sabaran aza" lalu beranjak pergi dari hadapan zeira


zei menatap punggung tegapnya yang kian menjauh keluar cafe bersama seorang perempuan yang tak lain adalah sepupunya, amora


"ZEIRA ADIBA HUMAYRAH! " teriak keduanya sontak membuat zeira menatap keduanya kesal


"ck astagfirullahaladzim, kenapa sih teriak-teriak"


"salah sendiri bengong"


"ya tapi gak teriak juga kali ah, tuh lihat kita jadi bahan tonton" reflek keduanya memperhatikan sekeliling mereke yang ternyata benar membuat keduanya langsung cengir


"gimana? " tanya ana menggebu-gebu


"gimana apanya? " balas zeira seolah tak tau


"minta di timpuk nih kepalanya pake beton"


"haha jangan astagfirullah, jahat banget sih"


"makanya kalau di tanya serius tuh di jawab"


"kamu nanya? kamu bertanya tanya" mengikuti trend sekarang yang langsung mendapat tatapan tajam dari kedua kakaknya


"hehe iya iya maaf deh, iya udah kok"


"udah apa? "


"menurut kalian? " lantas keduanya langsung berhambur memeluknya


"aaa serius zei? beneran? lo gak bohong kan? "


"beneran kan zei? "


"iya yuk pulang, udah jam 9"


"lah zeira kan lo" zeira membungkam mulut keduanya dengan tisu karena tau mereka akan protes


"iya pulang rumah dulu baru gue cerita, ayok" menarik tangan aza dan ana dan beranjak pergi meninggalkan cafe


di sisi lain seorang cowok masih terus melihat ketiga perempuan yang baru saja berjalan keluar cafe dengan wajah penuh senyum, terutama perempuan mungil di tengah yang di apit kedua kakaknya


"gue gak bisa bohong sama perasaan gue mor" amora mengangguk mengiyakan pernyataan sepupunya


"iya gue tau kok,itu hak lo buat mencintai dia, yuk pulang mommy udah nelfon nanyain kita" mereka pun kemudian masuk ke dalam mobil dan pulang


...----------------...


kini ketiga sahabat pengganti saudara ini sedang adik bercanda ria di taman yang tak jauh dari rumah mereka, karena kebetulan hari minggu membuat mereka bisa sedikit meregangkan otot-otot setelah berperang melawan tugas demi tugas setiap minggunya


setelah beberapa bulan yang lalu,si bungsu berdamai dengan masalalunya, sekarang secara perlahan zeira sudah kembali menjadi zeira yang seperti dulu, zeira dan adiba yang aza dan ana kenal


"eh angel di sini bagus deh, coba lo berdiri di situ zei"


"di mana za? "


"nah iya di situ, kanan dikit, dikit lagi oke mantap, 1 2 3"


cekrek


"mana coba liat hasilnya"


"nih liat deh bagus kan"


"wuih mashaAllah bagus banget za, eh tapi coba kalau gue ke kiri dikit nih, coba ulang" sedangkan sulung hanya menyaksikan kedua adiknya tanpa berniat nimbrung


usai dengan sesi pemotretan yang tiada habisnya, biasalah perempuan tidak akan bosan dengan yang namanya foto,


"huh ternyata capek juga ya fotoin lo"


"Ya ilah za,hitung-hitung amal tau"


"sulung liat deh bagus kan hasilnya, coba aja tadi lo ikut" sembari menunjukkan hasil pemotretan aza


"coba zei gue liat, nah ini bagus nih gue suka yang ini" si sulung yang sedari tadi hanya diam kini membuka suara


"girl"


"hm, kenapa na? "


"ada sesuatu yang mau gue kasi tau" sontak aza dan zei saling melempar tatapan tanda tanya

__ADS_1


"na? jangan aneh-aneh deh" pikiran mereka sudah was was antara takut dan penasaran


"gak kok,serius"


"terus apa dong? " ia mengulum senyumnya lalu detik berikutnya mengangkat tangan kirinya seperti menunjukkan sesuatu


terlihat ada sebuah cicin yang tersemat di jari manisnya, otak keduanya mendadak berhenti bekerja saat melihat itu


"AAAAAAAA"


"SULUNG, SERIUSAN? "


"SULUNG INI,INI GAK BOHONG KAN? "ana mengangguk sebagai jawaban, ketiganya langsung saling memeluk menyalurkan kebahagiaan satu sama lain


"aa sulung udah di iket dong" ujar aza diiringi isak tangis


"hiks kaka gue jadi berkurang satu"


"eh eh kok pada nangis sih"


"huwaa siapa sih na, yang udah berani ngiket lo tanpa sepengetahuan kita berdua? "


"kalian kenal kok orangnya"


"siapa? " tanya mereka polos


"sumpah ya tu dosen satu-satunya paling ngeselin tau gak, dasar dosen tua muka datar, pantesan aja gak ada cewe yang mau sama dia, orang dia aja gak punya hati gak berperasaan" ucap ana mengulangi kalimat yang pernah ia ucapkan


"coba deh tebak gue pernah ngomong gini ke siapa? "


"pak rasya!? " jawab keduanya serempak yang kemudian di angguki oleh ana


"HAA?!"


"na lo lagi gak bercanda kan,pak rasya? pak rasya dosen kita?"


"dosen yang kata lo kalau ngasi tugas gak ngotak? " lagi-lagi di jawab anggukan dari ana


"mashaAllah, tuh kan kemanakan omongan sendiri sih lo"


"aaa beneran jadi dong za"


"eh tapi tunggu,emang pak rasya kapan ngelamar dah perasaan lo bareng kita mulu"


"hmm gue lupa kasi tau kalian, bukan lupa sih tapi emang waktunya belum tepat karena waktu itu kita lagi sibuk sama masalahnya zeira"


"terus gimana ceritanya dah na? "


"pak rasya tiba-tiba aja ke rumah, awalnya gue juga kaget tapi ternyata emang mama sama orangtuanya pak rasya temenan"


"berarti selama lo di kampus pak rasya tau dong kalau lo anak teman mamanya"


"iya bisa di bilang gitu"


"ihhh jadi gemes tau, kaya di dunia oren gitu ceritanya"


"yee lu mah dunia oren mulu"


"biarin kenapa sih, sirik aja lu"


"eh btw congratulations ya, maaf banget kita telat ngucapinnya"


"iyaa lu sih gak ngasih tau kita, selamat ya"


"iya gak apa-apa makasih ya"


"cieee udah jadi calonnya pak rasya"


"dih apaan sih" ketiganya pun langsung tertawa dan kembali berpelukan


"girls,tetap kaya gini ya apapun yang terjadi kedepannya" ujar ana masih dengan memeluk kedua adiknya


"selalu kak, makasih juga ya udah slalu ada buat aku dan temani aku hingga sekarang"


"aku juga berterimakasih banget sama kalian, udah mau menemani proses pendewasaanku, jangan berbuah ya"


"terimakasih ya Allah masih memberiku kenikmatan yang tiada duanya hingga sekarang, terimakasih atas pelajaran hidup yang teramat berarti untukku, terimakasih juga rafael sudah menjadi salah satu ujian dalam proses hijrah dan pendewasaanku,kini usai sudah catatan perjalanan hijrah dariku zeira adiba humayrah" ujarnya membatin


Hijrah,


untukmu sahabatku para anak cucu adam! jangan pernah menunda untuk bertaubat hanya karena alasan belum siap berubah, atau belum siap taat, kita sudah sangat salah dengan berfikir seperti itu, karena datangnya ajal tidak menunggu diri ini sudah siap atau belum, sama halnya dengan kita.berubah menjadi lebih baik lagi bukan menunggu waktu yang tepat.


Dunia adalah kadang amal, dan kita hidup untuk mencari amal tuk bekal kita di akhirat nanti, jadi berubah/hijrah tidak menunggu waktu yang tepat namun Hijrahlah selagi masih ada waktu, jangan biarkan penyesalan menghantui setelah semuanya berakhir.

__ADS_1


@fazhiralvarezha.


__ADS_2