Catatan Hijrah Zeira

Catatan Hijrah Zeira
Bab 24


__ADS_3

"APA!? " ujar keduanya hampir bersamaan, saat ketiganya kini tengah berada di kamar zeira


"gak zei,kita udah pasti gak ngijinin lo buat ketemu sama dia, lo tau itu"


"buat apa? buat apa lagi zei? "


"huh tunggu, dengerin penjelasan gue dulu"


"gue gak bisa terus-terusan begini, bagaimana masalah ini selesai kalau gue sendiri slalu menghindar dari dia"


"dan ini masalah juga gak akan selesai hanya dengan satu pihak yang berusaha buat nyelesain"


"di sini hanya lo yang berjuang dan berusaha buat selesaikan masalah kalian, dia gak zeira"


"iya gue tau, makanya selama ini gue slalu berdoa sama Allah minta petunjuk agar masalah ini bisa benar-benar selesai,dan ini jawabannya sekarang"


"dulu gue slalu berusaha buat nyelesain masalahnya,tapi gak mau ketemu langsung sama dia dan selalu menghindar dari dia,tapi sekarang gue harus ketemu sama dia dan ngomong langsung sama dia, ya walaupun gue tau kemungkinannya kecil"


aza terkekeh mendengarnya "wow, zei lo sadar gak sih hah? selama ini lo selalu berusaha buat ngomong sama dia agar masalah kalian selesai tapi apa? semuanya zonk,lo sendiri tau itu "


"udah gak ada lagi yang perlu lo omongin sama dia zei, gak ada"


"lo lupa sama semua apa yang udah dia lakuin ke lo? dia tuh iblis berkedok manusia, mau lu kasi penjelasan,kasi paham, apapun itu ga bakalan di denger sama dia karena di otaknya hanya ada penderitaan lo, dan maybe kematian lo, itu kan yang dia mau dari lo" aza yang tersulut emosi sudah tak bisa lagi menahan setiap perkataan yang keluar dari mulutnya


"aza stop! " cegah ana sambil menggeleng memberi tanda,


ketiganya seketika diam dengan pikiran masing-masing "gue punya alasan za" ujar zeira diiringi isak tangis


"selama ini gue berfikir, dengan gue menjauh dan menghindar dari dia mungkin bisa membuat semuanya akan berakhir, tapi ternyata kenyataannya gak sesuai ekspetasi gue dan kalian"


"gak ada cara lain za,sekarang gue benar-benar pasrah, gue hanya butuh ngomong sama dia itupun kalau dia mau, sekarang udah bukan waktunya buat gue terus menghindar,tapi gue hadapi apapun resiko kedepanya" air mata tak henti hentinya mengalir membasahi pipinya


"gue benar-benar capek, capek banget, walaupun berkemungkinan kecil tapi kalau gue gak coba, terus sampai kapan? sampai kapan gue terus ada dalam masalah ini? sampai gue mati? "


"iya za? sampai gue mati? gue udah gak mau hidup kaya buronan gini, kalau emang iya berarti okay gue turuti saran dari kalian"


aza dan ana sontak langsung berhambur memeluknya " gak gitu maksud gue zei" ujar aza


"gue minta maaf"


ana melepaskan pelukannya lalu beralih menggenggam tangannya "zei,lakukan apapun yang terbaik menurut lo, lo berhak milih dan menentukan pilihan sendiri mana yang terbaik buat kehidupan lo"


"iya memang selama ini lo selalu cerita semua apapun tentang lo dan masalah lo, tapi gue yakin walaupun lo udah berbagai cerita ke kita, di sini lo masih ada kejanggalan yang membuat lo terus tertekan" sambil menunjuk dada kirinya

__ADS_1


"kalau emang sekarang lo mau ketemu sama dia, gue sebagai kaka buat lo gue ijinin"


aza mengangguk lalu menarik nafas dalam-dalam "gue juga ijinin zei, gue gak mau lo terus berada dalam lingkaran masalah ini sendiri"


"kita ada sama lo zei, kita hadapi bareng-bareng" ketiganya pun berpelukan sambil masih terus menangis


"makasih, makasih banyak kak"


...----------------...


usai sholat magrib kini ketiganya telah siap dan rapi dengan outfit masing-masing, malam ini adalah waktunya mereka menemani zeira bertemu dengan seseorang di masalalunya alias Rafael


"udah siap semua? " tanya si sulung


"iya udah nih, yuk berangkat"


"zei, udah siap? " zeira menghembuskan nafasnya lalu mengangguk


"siap gak siap harus siap za"


"ok, ya udah yuk takut telat" mereka pun berangkat tak lupa berpamitan pada ibunda tercinta,namun tak mengatakan yang sejujurnya kemana mereka pergi dan tujuannya


hampir 30 menit dalam perjalanan menggunakan taksi online, kini ketiganya telah sampai di sebuah cafe yang berada di bibir pantai


"beneran di sini zei? " tanya ana memastikan


"eh itu bukan sih mereka" ujar aza sembari menunjuk ke arah dia orang insan yang sedang duduk berhadapan dengan punggung laki-laki membelakangi mereka


zeira memjamkan matanya berusaha menenangkan dirinya sendri lalu menghela nafas " mau kita temani? " zeira menggeleng disertai senyum manisnya


"gak usah gak apa-apa" ana menepuk pelan bahu kanannya "everything is gonna be ok" ia mengangguk lalu melangkah perlahan menuju salah satu meja yang ia tuju


"assalamu'alaikum" ucapnya membuat kedua insan yang tadinya sibuk dengan pikiran masing-masing lantas menoleh


"wa'alaiqumussalam"


"ekhm, ka gue kesana dulu ya" pamit mora yang hanya di angguki oleh Rafael dan zeira


hening kembali menyapa keduanya hingga akhirnya Rafa membuka suara


"lo apa kabar? "


"to the point aja"

__ADS_1


"huff gue minta maaf soal kejadian waktu itu dib"


"udah, gak usah di bahas"


"adiba gue"


"zeira, nama gue zeira" potongnya cepat


"tapi gue lebih suka manggil adiba"


"adiba udah gak ada, yang ada sekarang hanya zeira"


"terserah gue dong,terus apa masalahnya? "


"ya jelas masalah lah, karena gue yang punya nama dan gue merasa terganggu dengan panggilan itu"


rafael terkekeh sembari mengangguk " oh iya lupa, kan dari awal hanya jadi pelampiasan, jadinya menganggu"


"elo yang berfikir kaya gitu"


"tapi emang Kenyataanya kaya gitu kan"


"terserah lo deh, lo slalu aja mikir disini hanya lo yang tersakiti"


"terus apa kabar sama gue? "


"adiba gak kaya gitu dib,gue bingung tau gak sih sama lo, dari awal lo yang buat keputusan tanpa ngerti sama perasaan gue, terus dengan perlakuan gue selama ini lo bilang gue ini lah itu lah, aneh tau gak"


"gak kaya gitu gimana?sedangkan faktanya udah ada,iya gue yang buat keputusan tapi kan gue bilang sama lo secara baik-baik, bahkan gue minta tolong sama ana buat kasi penjelasan sama lo waktu itu"


"lagian gue ngambil keputusan itu untuk kebaikan gue, malahan bukan hanya gue tapi lo juga"


rafael mengangguk "iya dib kebaikan, lo gak tau sesakit apa dib, sakit banget bahkan sampai sekrang,gue ngelakuin hal-hal aneh selama ini ke lo itu semua gak lain hanya karena rasa sakit hati yang teramat gue rasakan"


"lo mikir gak sih waktu ngambil keputusan itu,sedikit aja dib mikir gak sih?di saat udah sayang banget sama lo tapi malah lo buat kaya gini"


"terus pantas kah lo fikir dengan logika lo secara manusiawi memperlakukan anak orang kaya gitu?iya gue ngerti sama perasaan lo makannya sebelum makin jauh mending waktu itu"


"lagipula gue ambil keputusan itu bukan untuk hal lain melainkan karena Allah, terus lo mau menyalahkan Allah? "


"adiba, cowok kalau udah sayang yang sayang banget sama cewek kadang mereka bisa aja ke dukun terus buat dia gila, bahkan nyulik tuh cewek terus di bunuh itu pun udah banyak kejadiannya" rafael menghembuskan nafas berat


"udah gak usah di bahas lagi, sekarang gue cuman mau ngomong baik-baik sama lo"

__ADS_1


zeira tersenyum, bukan senyum manisnya melainkan smirk"terus lo mau ngelakuin hal sama kaya gitu? silahkan, kalau emang lo rasa itu bisa buat nebus rasa sakit hati lo"


"dari dulu kan gue slalu bilang sama lo, bunuh aja gue sekalian daripada lo siksa gue dengan semua perlakuan lo yang gak ada rasa kemanusiaan"


__ADS_2