
Pagi itu luna berjalan melewati koridor menuju kelasnya, kelas bahasa asing. Saat akan memasuki ruang kelas luna menghentikan langkahnya di depan pintu masuk, dia terkejut melihat sosok laki laki yang sedang duduk di bangku barisan belakang. Tanpa berfikir panjang dia melangkahkan kakinya mundur ke belakang pelan pelan.
"serius nih, aku gak salah liahat kan?" (luna terus mengedip kedipkan matanya dan sesekali membenarkan kaca matanya) lalu dia kembali mengintip laki laki tersebut perlahan.
"hayo!!!.. " (cici yang tiba tiba datang dan menepuk pundak luna sontak buku yang tertata rapih di tangan luna berhamburan jatuh)
"iiihhhh... kamu ini ya ci, bikin jantungan tau ga?!" (luna marah marah sembari membereskn bukunya yang berjatuhan)
"lagian ngapain sih kamu berdiri di depan pintu gak jelas gini? kaya orang bodoh,, kamu lagi nguntit siapa" (cici bertanya penasaran sambil mencoba membuang pandanganya ke dalam ruang kelas)
"tuh, coba liat itu beneran aryo bukan? atau aku yang salah liat? apa perlu aku ganti kaca mata ya?" (luna sembari melepas kacamatanya dan membersihkan terus di pakai lagi)
"iya emang bener itu aryo, kenapa emang?" (cici membenarkan perkataan luna sambil mengernyutkan dahinya)
"yessss., Tuhan benar benar tau apa yang di inginkan hambanya," (kata luna kegirangan sambil menghentakkan kakinya) emang dasar luna ya, kemana aryo ambil kelas si luna ngikut mulu, tapi karena cita citanya pengen jadi designer berkelas dia memilih tambahan kelas bahasa asing untuk menunjang karirnya nanti. Tapi untuk yang satu ini luna bener gak tau kalo aryo juga ikut kelas bahasa asing.
"idih idih kaya anak kecil, bener bener ya lun, kamu tuh sama sekali gak pantang menyerah sama yang satu ini, kalo aku jadi kamu, udah aku lupain tuh si aryo dari dulu, yang lain masih banyak ko" (kata cici saking sebelnya liat tingkah luna yang begitu memuja muja aryo)
"semangatin dikit kenapa sih, gak suka banget liat temnnya seneng" (kata luna mulai cemberut)
"lagian ya, kamu tu coba liat deh cewek cewek di sebelah aryo yang selalu ngekor kemanapun aryo pegi, mereka terlihat..." (belum selesai berbisara cici pun berhenti setelah melihat raut muka luna yang mulai frustasi)
"iya aku tau, aku jelek, aku gak bisa dandan, aku gak bisa merawat diri, terus apa lagi" (kata luna mulai sebel)
"bukan gitu lun tap" (cici mencoba menenangkan luna)
"tapi liat aja, aku akan berusaha menjadi seperti apa yang aryo inginkan kita liat nanti" (kata kata luna menyemangati diri sendiri)
__ADS_1
"gimana? berubah jadi cantik gitu? pergi ke salon gitu misalnya? iya?" (kata cici mencoba membujuk luna agar mau mencoba untuk pergi ke salon, bawasannya luna memang tergolong perempuan yang malas dan cuek soal penampilan)
"gak ah males, tapi lihat saja nanti, aku gak akan menyerah kalo jadi dirisendiri tidak bisa membuat aryo menyukaiku, maka aku harus menjadi sperti orang lain, maksutku harus berubah cantik!" (kata luna yang terus mnyemangati dirinya sendiri)
"itu sama aja bodoh iiihhh.,." ( kata cici yang mulai sebel kalo melihat cici yang selalu mengagung agungkan aryo)
"kita liat saja" (kata luna penuh percaya diri)
Lunapun melangkahkan kakinya perlahan memasuki kelas, sebelumnya dia sempat berhenti dan meletakkan tumpukan buku itu di mejanya, dan tidak lama setelah itu dia kembali berjalan perlahan menuju meja dimana aryo dan teman teman ceweknya sedang begurau, sedangkan saat itu cici hanya diam dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah luna dari mejanya.
jantung luna mulai berdegub kencang, aliran darahnya dari kaki menuju kepalanya terasa mulai semakin memanas, luna terus mencoba mengatur nafasnya perlahan dan semakin lama semakin dekat dengan aryo.
"hai..." (luna memberanikan diri untuk menyapa aryo)
"kenapa aku merasa dejavu ya???!!!"(kata aryo pendek sembari berdiri dari tempat duduknya) aryo sama sekali tidak menatap ke arah luna, sembari dia mengambil tas ranselnya dia mulai berjalan melawati luna begitu saja.
Aryopun membalikkan badannya, dan berjalan mendekati luna.
"kenapa? kamu begini sejak saat smp loh, kamu gak bosen apa? aku aja muak tau ga? kalo aku suka sama kamu dari dulu sudah aku embat kamu. Dan kamu bertanya padaku kenapa?,, seharusnya kamu bertanya pada dirimu sendiri kenapa seorang laki laki,.. oh bukan bahkan seekor lalat pun gak mau menghinggap di rambut mu itu, dan kamu masih bertanya padaku kenapa aku tidak mau menatapmu? ahh.. ya ampuunn apa kamu tidak sadar kamu begitu terlihat menj" (kata kata aryo teputus)
"cukup hentikan!!!" (cici memotong kata kata aryo)
Aryopun menoleh ke arah suara itu berasal.
plak
cicipun menampar pipi aryo. Aryo hanya nyengir sembari memegangi pipi yang di tampar oleh cici.
__ADS_1
"hey kata katamu itu sudah keterlaluan banget ya! dan inikah sikap cowok yang sesungguhnya?kalo kamu gak suka ya bilang aja gak suka, selama ini dia berjuang buat kamu, gak setahun dua tahun lo, bertahun tahun! bagiku kamu yang lebih menjijikkan!" (kata kata cici yang begitu emosi melihat temannya di perlakukan seperti itu)
"dasar kurang ajar ya kamu" (temen cewek aryo yang bernama sintya berusaha menampar kembali cici tapi di halau oleh aryo)
"berhenti" (aryo memegangi tangan sintya dengan kencang)
"aduh yo pelan pelan, tanganku sakit" (kata sintya sembari melepas paksa tanganya yang di pegang erat oleh aryo)
"kenapa, dia gak boleh balik nampar aku? mau kamu sendiri yang nampar aku hmmm nih silahkan" (kata cici sambil melangkah mendekati wajah aryo dan mengarahkan pipinya ke aryo)
"heh, dengar ya kamu berhutang satu tamparan sama aku. dan bilang sama temanmu itu untuk berhenti mengejarku!" (kata aryo sambil berlalu)
"dulu kamu sendiri yang bilang kalo kamu memperbolehkan aku agar bisa terus mendekatimu, sampai bisa membuat kamu suka sama aku, tapi" (kata luna dengan penuh kesabaran dan mencoba membela diri) aryo pun menghentikan langkahnya.
"kamu pikir aku serius mengatakan itu?" (memotong kata kata luna sembari berjalan mendekati luna)
"huufft, (aryo menghela nafas) aku benar benar sudak muak dengan tingkahmu yang seperti ini, jadi lebih baik kamu menyerah" (kata aryo sambil meninggal kan luna)
Begitu juga dengan teman teman cewek aryo ikut pergi mengikuti aryo sambil membuang senyum sinis ke arah luna.
"gila ya, tuh lihat sikap cowok yang selama ini kamu perjuangkan, parah!" (cici mulai menenangkan luna yang sedari tadi hanya diam mendegar perkataan aryo yang menghinanya)
"lun? kamu gak papa kan? lun, jangan diam saja dong?" (cici mencoba berbicara pada luna yang terus diam)
Pandangan luna mulai kosong, dia menutup matanya yang berkaca dan airmatanya mulai menetes. Dia pun jatuh terduduk di kursi yang ada adi belakangnya.
"sudah dengar sendirikan? kata kata dari laki laki yang paling kamu puja puja.! sudahlah lun gak usah mikir cowok kaya gitu, mending kamu fokus fokus dan fokus sama masa depan kamu" (cici menunduk sambil memegang tangan luna dan mencoba meyakinkannya)
"kamu benar, aku tidak boleh seperti ini tarus," (kata luna sambil menyingkap air mata yang mangalir ke pipinya)
"benar, kamu harus terus fokus dengan masa" (sambil mengepalkan tanagn penuh semangat kata kata cici terputus)
__ADS_1
"aku harus terus fokus kepada diriku sendiri untuk bertekad berubah menjadi canti seperti yang aryo inginkan" (kata luna penuh semangat menggebu)
"haa???luna apaan sih? kenapa jadi beginiiii" (cici mengacak acak rambutmya sendiri karena frustasi melihat sikap luna yang benar benar memang tidak patah semangat.