
Di kampus selesai kelas luna mencoba menghubungi barack.
Luna mengambil hpnya dari dalam tas. Segera dia menelpon barack.
tut tut tut, , , tak ada jawaban.
"tumben" kata luna dalm hati.
"huufftt" luna menghelas nafas panjang.
"hei, kenapa mengeluh gitu?" tanya aryo yang baru saja dateng.
"siapa yang ngeluh?" kata luna.
"tuh barusan kamu menghela nafas, itu artinya kamu lagi mengeluh secara halus" kata aryo.
"idiiiih emang mahkluk halus apa" kata luna sewot.
"lah, , ko jadi sewot neng" kata aryo menggoda luna.
"nggak usah nambeh jengkel ya, awas kamu" kata luna mengancam aryo sambil melangkahkan kakinya ke arah pintu gerbang.
"kenapa jadi marah?, , , karena barack nggak angkat telponmu ya" kata aryo sambil mengikuti luna.
Luna hanya membuang tatapan sebelnya ke arah aryo.
"barack nggak jemput, ko sewotnya ke aku, heheheh, , , kalau gitu aku anter pulang ya?" aryo menawarkan
luna menghela nafas lagi.
"yaudah, antar aku ke apartement barack ya mau ambil gaun sama peralatan yang lain" kata luna sambil berjalan ke parkiran.
"emang udah jadi?" tanya aryo sembari memberikan helm ke luna setelah sampai di parkiran motor.
"hm, , , udah donk, tinggal ambil aja di apartemen barack terus kirm ke galeri" kata luna sambil memakai helm.
"yaudah yuk" kata ryo sambil menyalakan motor.
Di bandara barack segera memarkirkan mobilnya dan berjalan ke arah pintu masuk menuju ke blok D, blok kedatangan dari luar negeri.
Sambil mengatur nafasnya karena terengah engah barack membuang pandangannya ke sekitar untuk mencari klara.
"barack" klara memanggil dari arah belakang.
Barackpun membalikkan badannya dan melihat klara sudah berdiri di depannya.
Klara berlari ke arah barack dan segera memeluknya.
Namun barack hanya diam dan tak membalas pelukan klara.
"kenapa raut wajahmu seperti itu?" tanya klara sambil melepas pelukannya.
"e, , mmm , , enggak, aku hanya berfikir, kamu bilang katanya 2 atau 3 bulan lagi baru pulang? kenapa jadi secepat ini?" tanya barack sambil melangkahkan kakinya ke araah pintu keluar.
__ADS_1
"aku mengajukan tanggal event soalnya jadwalku berbentrokan dengan kerjaan yang lain, memangnya kenapa? kamu nggak suka aku datang lebih awal?" tanya klara mengernyutkan dahinya.
"bukan begitu, hanya, , " kat barack.
"hahahah, aku hanya bercanda, mm, , , gimana kalau kita makan siang dulu?" klara sambil meraih tangan barack.
"hm" jawab barack pendek sambil menganggukkan kepalanya.
Merekapun pergi meninggalkan bandara dan menuju ke restoran.
Saat di jalan di lampu merah barack menghentikan mobilnya karena kebetulan lampu merahnya menyala, beberapa detik kemudian motor aryo berhenti di sebelah kiri mobil barack jarak mereka hanya sekitar stengah meter.
Luna mengarahkan pandangannya ke sebelah kanan dan dia merasa kaget saat melihat klara tepat berada si sebelahnya.
Kebetulan kaca mobilnya sengaja di buka sama klara.
"ya ampun, itu bener klara bukan?, , , iya bener, itu klara, , kla" kata kata luna terputus saat akan memanggil klara ketika dia melihat laki laki yang duduk berada di samping luna itu adalah sosok yang sangat dia kenal, yaitu barack.
Luna mengurungkan niatnya untuk memanggil klara, dadanya tiba tiba terasa sesak dan susah untuk bernafas.
Tidak lama kemudian lampu berganti warna dengan hijau dan mobil barack pun pergi ke arah kanan terlebih dulu, sedangkan motor aryo trus berjalan lurus.
Luna terus memandang mobil barack sampai menghilang dari pandangan.
"apa sebenarnya hubungan mereka? sepertinya akrab?" kata luna dalam hati.
Aryo mencoba melirik ke arah luna dari sepion sebelah kiri.
"apartemen aryo di sebelah mana?" kata aryo dengan nada tinggi karena suara bising kendaraan saat di jalan.
Luna hanya diam saja seperti tak mendengar petanyaan aryo.
"lun!! kok malah melamun sih?, , luna" kata aryo semakin manaikkan nada suaranya.
Kemudian aryo meminggirkan motornya ke pinggir jalan dan menghentikan motornya.
Dan luna masih saja diam tak menyadari kalau motornya telah berhenti.
"lun, ,!!" kata aryo sambil melepas helmnya dan menepuk lutut luna
"eh, iya kenapa?" luna baru sadar dari lamunannya.
"kamu kenapa sih? aku dari tadi nanyain kamu, kemana arah apartemen barack?" kata aryo.
"owh, maaf aku nggak dengar, lurus aja depan ntar ada pertigaan belok kiri, apartemnnya di situ" luna menjelaskan.
"yaudah" aryo memakai kembali helmnya.
Dan mnyalakan mesinnya lagi.
Mereka pun akhirnya sampi di apartmen barack.
"kamu tunggu disini saja, aku cuma mau ambil peralatan yang kecil kecil kok" kata luna.
"tarus gaunnya?" kata aryo.
"ntar malem aku ambil pake mobilku aja, nggak enak ngrepotin kamu terus"kata luna sambil melepas helm.
"nggak kok, ntar malem aku jemput kamu pake mobil" aryo menawarkan.
"hm, , kenapa kamu nggak sebaik ini denganku sejak dulu yo? aku pasti bakal merasa bahagia banget" kata luna.
__ADS_1
"maaf, (aryo meraih pipi luna dan mengusapnya) emang sekarang kamu lagi nggak bahagia?" tanya aryo.
", , , , , mmmm aku naik ke atas dulu kamu tunggu sebentar ya" luna tak menjawab pertannyaan aryo, dia pun segera naik ke lantai lima.
Sampainya di aprtement barack, luna langsung masuk dan segera membereskan barang barang ke dalam kardus.
Luna melepas gaun dari patung dan menaruh gaunnya di atas sofa. Luna melepas patung satu persatu dan memasukkannya ke kardus.
"apa lagi yang bisa di bawa ya, mesin sama gaunnya ntar malem aja lah" kemudian luna mengambil tas kecil dari dalam tas ransel saat mengeluarkan itu luna tidak sengaja menjatuhkan flasdisk tapi dia tak menyadarinya.
Tas kecil itu luna gunakan untuk tempat benang dan jarum.
Setelah selesai luna langsung turun membawa kardus dan menuju ketempat aryo menunggu.
"maaf ya menunggu lama" kata luna.
"nggak papa, , udah semuanya?" tanya aryo.
"cuma tinggal gaun sma mesinnya aja" kata kuna sambil terus membawa kardus itu
Aryo pun memakaikan helm ke kepala luna. dan sesekali dia membuang senyum ke arah luna.
"ayo" kata aryo.
Merekapun segera bergegas pergi dari apartemen barack menuju ke rumah luna.
Di sebuah restoran dimana barack dan klara sedang makan siang. Klara terus memandangi wjah barack. Sedangkan barack selalu membuang pandangannya ke sekitar.
Barack memesan nasi goreng telur ceplok makanan kesukaan klara sejak dulu.
"kamu masih ingat aja makanan kesukaanku, ayo dong kamu juga makan" kkara sambil memakan nasi goreng itu.
Dengan sedikit terpaksa barack memakan nasi goreng itu didepan klara. Sesekali terlihat di wajahnya bahwa dia merasa kesusahan menelan nasi goreng itu dan dia meminum air putih untuk membuat tenggorokannya sedikit lega.
"mmm , , om sama tante gimana kabarnya?" tanya klara memecah keheningan.
"baik" jawab barack pendek sambil sesekali meminum air didepannya.
"aku masih merasa takut untuk bertemu dengannya, dia pasti marah besar padaku, karena sudah" kata klara.
"nggak usah di ungkit ungkit lagi" saut barack.
"mmm , , barack, , , , kita mulai dari awal yah?" kata klara sambil meraih tangan barack di atas meja.
Barack yang menyadari itu langsung menarik tangnnya dan pura pura mengambil hp sebelum klara sempat menyentuhnya.
Barack melihat ke layar hpnya, tertulis 'satu panggilan tak terjawab' dan itu dari luna.
"kenapa dia menelponku di jam segitu, apa dia nggak ada kelas?" kata barack dalam hati.
"barack!, , " klara dengan nada tinggi.
"maaf, , aku tidak mendengarmu tadi" kata barack memasukkan kembali hpnya ke kantong jas.
"huufftt,. bagaimana kalau kita mulai dari awal?" tanya klara.
Barack hanya memegangi keningnya dan menghela nafas dengan pelan.
__ADS_1
"aku nggak tahu harus mulai dari mana, tapi di pikiranku, yang terpenting adalah, menjelaskan kesalah pahamman itu sama kedua orangtuaku, mungkin dengan begitu mereka bisa menerimamu kembali, karena bagaimanapun, restu kedua orang tua itu di atas segala galanya" kata barack.