Cerita Cinta Hana

Cerita Cinta Hana
Bab 1


__ADS_3

"maaf mbak, cafenya sebentar lagi mau tutup" ucap pelayan cafe, mengingatkan pada 2 wanita cantik yang masih duduk setia dari awal cafe buka hingga akan tutup.


"Oh, i iya ini juga mau pulang." Tesa tersenyum canggung pada pelayan, lalu melirik sahabatnya yang masih duduk menopang dagu sibuk memperhatikan ponselnya.


Tesa menghela napas kasar lalu menarik lengan sahabatnya, "ayo kita pulang "


"Bentar lagi, kita pesan 1 gelas minuman lagi" rengek Hana


Tesa berdiri kesal, "cafe sudah mau tutup, lagian perut gue udah kembung dari tadi minum terus" Tesa menunjuk gelas gelas yang berjejer yang dia dan Hana pesan selama di cafe.


"Tapi.."


"Terserah lah gue mau balik, kalau lu mau di sini silahkan, tuh sekalian bantuin pegawai beres beres" Tesa menunjuk dengan dagunya ke arah pelayan cafe yang sudah mulai membereskan meja, ia mengambil tasnya beranjak meninggalkan Hana


Hana celingukan, memang sudah tidak ada pengunjung lain selain dia dan juga sahabatnya, hanya ada pelayan cafe yang sedang membereskan meja sambil menatap sinis dirinya.


"Tesa, tungguin" Hana berlari mengejar Tesa


Tesa melirik jengah sahabatnya, bisa bisa nya dia selalu menuruti keinginan sahabatnya sendiri, diam di cafe itu mulai dari sebelum cafe buka sampai tutup kembali hanya untuk menunggu ke datangan seseorang.


"Ngapain kesini, bukannya tetap mau di dalam nungguin sampe si Dion datang" Hana hanya mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan sahabatnya, meskipun ucapan Tesa ketus


Hana yakin jika sahanatnya tidak akan tega jika meninggalkan nya seorang diri, itu terbukti dari setianya Tesa menemani Hana menunggu kedatangan Pacar nya di tempat yang biasa mereka nongkrong, padahal Tesa baru saja pulang kerja.


"aku mau ikut pulang" Hana mengambil helm lalu memakainya, sementara Tesa sudah siap dengan menghidupkan motor matic nya.


"Lagian yah lu tuh aneh udah di bilang si Dion itu gak bener, masih aja di cari cari" omel Tesa dalam perjalanan.


"Aku yakin Dion cuma lagi sibuk aja makanya dia gak bisa kabarin aku" jawab Hana yakin jika pacarnya itu tidak mengabarinya hanya karena sibuk, ia selalu berpikiran positif terhadap sikap pacarnya meskipun sudah 1 minggu lebih tidak mengabarinya.


"Sibuk? Sibuk apa? Masa hanya mengabari saja gak bisa, sudah hampir 2 minggu dia menghilang begitu saja, terus kalau benar emang sayang, sesibuk sibuknya dia pasti ngabarin, terus-"

__ADS_1


"Eh, bentar-bentar itu bukannya Dion ya" Hana menunjuk mobil yang melintas mendahului motornya, ia mengabaikan celotehan sahabatnya.


"Ck, Dion deui Dion deui ari aing titadi ngacapruk teu di dengekeun sugan?" Sungut Tesa mengeluarkan bahasa daerahnya karena kesal.


(Ck, Dion lagi Dion lagi, dari tadi aku ngomong gak di dengerin apa?)


"Duh, lu ngomong apa? itu Dion di mobil putih, tuh liat tuh.. buruan kejar" Hana menarik narik baju Tesa dan menepuk bahunya agar mempercepat laju motornya.


"Mana?"


"Itu yang mobil putih, makanya di gas dong.. ayo ih buruan, nanti malah hilang lagi" teriak Hana


"Nya sabar ari maneh, sugan mah motor bisa hiber"


( ya sabar, memangnya motor bisa terbang)


Kesal Tesa karena Hana terus memukul bahunya dan terus berteriak.


"Diooonn, woii Dionn tungguan ari maneh tong ngebut ngebut belegug" teriak Tesa dalam sesi pengejaran hingga semua orang yang berada di jalan melihat dirinya.


Hana melototkan matanya saat Tesa berteriak lalu memukul lagi punggung sahabatnya.


"Ngapain teriak teriak? Malu tau"


"Aww, ngapain mukul mulu sih. Gue teriak biar si Dion gak ngebut terus, dikira ini jalan nenek moyang nya apa" ucap Tesa


"Terserah" Hana menggigit bibir bawahnya, ia sangat ingin bertemu Dion melepas rindunya dan juga menanyakan kenapa selama ini Dion menghindarinya.


Setelah beberapa waktu di perjalanan, hingga mobil putih itu memasuki kawasan Apartemen, dan Tesa tetap mengikutinya.


Doni sudah masuk lebih dulu kedalam gedung Apartemen bersama seorang wanita, sementara Tesa dan Hana baru saja sampai di depan lobi gedung itu.

__ADS_1


''maaf, stop nona" ucap satpam memberhentikan motor Tesa


"Eeeh..ehh awas pak" Tesa mengerem motor matic nya mendadak.


"Nona mau kemana?" tanya satpam yang berjaga, karena hapal penghuni Apartemen tidak ada yang mengendarai motor.


Hana turun dari motor Tesa, ia melepas helmnya.


"Udah lu sana susul si Doni biar aku yang hadepin satpam gelo ini" Hana mengangguk, sementara pak satpam mengernyitkan dahinya.


Hana berlari menyusul Doni sementara Tesa menunggunya di luar dengan motor kesayangannya.


Sekitar 30 menit Hana keluar dari gedung itu sambil sesenggukan menangis menghampiri Tesa yang sedang berjongkok di samping motornya di bawah pohon besar


"Ah.. akhirnya kaluar oge, aing geus jiga kuntilanak nangkring didieu" ucap Tia yang melihat Tari berlari ke arahnya.


"Tesaaaa" isak Hana yang berhambur memeluknya


"Kenapa? Lu kenapa nangis? di apain sama si borokokok hah? wani wani ka awewe nya"


(Berani nya sama cewek)


Tesa menggulung lengan bajunya hendak menyusul Doni untuk melabraknya tapi di hentikan Hana


Hana menggeleng, "kita pulang saja"


Tesa menghelakan napasnya berat , "ya sudah ayo, lagian gua ngantuk"


Tesa beberapa kali menguap, bahkan saat menunggu Hana ia sempat ketiduran saking mengantuk, badannya sebenarnya sangat lelah setelah seharian bekerja tapi ia tidak bisa menolak permintaan sahabatnya yang selalu merengek padanya.


Tesa menghidupkan motornya, Hana pun sudah siap duduk di belakang Tesa yang menyupiri, air matanya tak hentinya membasahi wajahnya.

__ADS_1


Sakit.. satu kata yang mewakili rasa di hatinya malam ini.


__ADS_2