
Hana dan Arka sekarang berada di depan gedung tempat Tesa bekerja. Arka sekarang berjalan menemani Hana ke arah resepsionis, ia memaksa agar mengantar Hana karena tidak ingin melihat Hana di bentak seperti tadi.
''Non, maaf saya ada telpon'' ucap Arka menghentikan langkahnya, Hana mengangguk mengerti, ia melanjutkan berjalan. Belum sempat bertanya terdengar suara wanita menyapa di belakangnya.
''sangat kebetulan yah,'' ucap seorang wanita.
Hana menoleh, tubuhnya menegang.
''Ka kamu-'' ucap Hana kaget.
Risa tersenyum, '' gak nyangka yah, kamu mau mengunjungi perusahaan ku'' ucapnya sinis.
Hana semakin kaget, jadi selama ini Tesa bekerja pada Risa, wanita yang merebut kekasihnya.
Hana mengepalkan tangannya, ia ingin segera pergi dari tempat itu dan tidak ingin berdebat dengan wanita yang ia benci.
''Hei tunggu, kamu kesini pasti mencari teman kampungan mu itu kan'' teriak Risa
Hana berbalik, ''temanku punya nama'' jawab Hana tersulut emosi saat temannya di juluki kampungan.
''terserah.'' Risa memutar matanya malas, ''yang jelas dia sudah ku pecat. Dia tidak cocok bekerja di perusahaan ku dengan sikapnya yang urakan seperti gadis jalanan''
''Kamu, berani,-''
''Risa.. ini berkas kamu tertinggal di,-'' Hana menoleh pada sumber suara yang sangat ia kenal,
deg,
Doni, laki laki yang pernah mengisi hari hari Hana dengan indah. Doni berdiri mematung, ia kaget begitu pula Hana, ia tak menyangka akan bertemu dua orang yang sangat ingin ia hindari untuk saat ini.
Risa yang melihat Hana dan Doni saling berpandangan segera memeluk lengan Doni posesif.
''terimakasih sayang'' ucap Risa lembut, Hana yang mendengar ucapan Risa segera sadar dan memalingkan wajahnya, matanya terasa perih.
'akh, plis jangan nangis' batin Hana.
Hana segera pergi, Doni segera melepaskan tangan Risa dan memberikan berkas nya yang tertinggal di mobil saat Doni mengantar Risa.
''Hana tunggu,'' teriak Doni.
Risa mencekal Doni, namun Doni tidak memperdulikan Risa. Ia ingin mengejar suaminya, namun sekertarisnya memanggil untuk segera mengadakan rapat penting.
Risa menghentakkan kakinya karena kesal tidak bisa mengejar atau menghentikan Doni suaminya.
__ADS_1
''Hana tunggu'' Doni berlari mengejar Hana dan menarik tangannya.
Hana menepis tangan Doni.
''Tunggu Han, aku pengen ngomong sama kamu'' ucap Doni, ia memandang wajah Hana yang sejujurnya sangat ia rindukan bahkan ia tidak bisa melupakan sosok Hana meskipun ia sudah menikahi Risa.
''udah gak ada yang perlu di omongin lagi'' Hana menarik pintu mobil, tapi lagi lagi Doni mennghentikannya dengan menahan pintu mobil.
''Tunggu, ada yang ingin aku jelaskan'' Doni ingin meraih tangan Hana tapi Hana mundur dan menolak.
''Jangan ganggu dia lagi'' suara bariton terdengar dari balik tubuh Doni.
Doni memutar tubuhnya, terlihat pria yang mendekat ke arah Hana dan menarik Hana agar mendekat ke arahnya.
Doni mengerutkan keningnya melihat kedekatan antara Hana dengan pria yang terbilang lebih tampan darinya, namun Doni enggan mengakuinya.
''siapa kamu? jangan ikut campur'' tegas Doni. ia ingin menarik Hana, tapi Hana malah memeluk Arka.
''Dia calon suamiku'' sela Hana memotong Arka yang hendak bicara.
Arka membulatkan matanya, begitu pula Doni. Mereka kaget, tapi Arka segera mengubah wajah terkejutnya karena mendapat kode berupa cubitan kecil di punggungnya.
''ya, aku calon suaminya'' jawab Arka membenarkan.
Arka mengepalkan tangannya, jika saja Hana tidak sedang memeluknya sudah ia tonjok wajah pria menyebalkan di hadapannya itu. Hana juga kesal dengan sikap sombong Doni yang baru ia ketahui.
Arka tersenyum miring, ia meraih dagu Hana agar mendongak menatapnya dan,
cup
Arka mencium bibir Hana.
Hana melebarkan matanya, tapi ia tidak bisa menolaknya. Doni mengeratkan giginya. Pemandangan ini, sungguh membuat dirinya tidak bisa menahan rasa cemburunya. Doni segera pergi meninggalkan mereka berdua menuju mobilnya.
Hana melirik Doni yang sudah pergi, mendorong tubuh Arka hingga ciuman itu lepas. Ia segera masuk ke dalam mobil, wajahnya merah menahan malu karena saat Arka menciumnya ada beberapa karyawan perusahaan dan juga sekurity di situ yang menyaksikan.
Arka tersenyum tipis saat Hana buru buru masuk ke dalam mobil karena malu dengan kegilaan yang baru saja ia lakukan.
Saat berjalan pulang hanya ada keheningan di antara mereka berdua, bahkan Hana terlihat enggan menatap Arka membuang pandangan keluar jendela, entah malu atau marah. Arka juga hanya diam tanpa ingin memulai pembicaraan.
Sampai di kediaman keluarga Panji, Arka ingin bicara pada Hana, tapi Hana segera berlari meninggalkannya.
Di dalam kamar, Hana duduk di tepi ranjang, ia menyentuh dadanya dan juga bibirnya. Ah, perasaan ini seperti pertama saat Doni dan dirinya berciuman, jantungnya berdegup cepat.
__ADS_1
''huhh, aku kenapa'' gumam Hana.
tok tok tok
''siapa?'' teriak Hana, tapi tidak ada yang menjawab.
tok tok tok.
Hana mengerutkan keningnya, ia berjalan mendekat ke pintu.
''Siapa sih, iseng banget'' gerutu Hana, ia membuka pintu tapi tidak ada orang di depannya.
Hana membuka mulutnya, ia ingin berteriak tapi tiba tiba 2 bungkus es krim muncul di hadapannya.
''Maaf, '' ucap Arka yang langsung muncul dan menempelkan es krim masing masing di pipinya, ia terlihat lucu.
Hana tersenyum, tapi ia buru buru menyembunyikan senyumnya lalu menarik gagang pintu untuk menutupnta kembali. Arka menahannya dengan kaki, hingga kakinya tergencet.
''Aw, kaki ku'' teriak Arka.
Hana terkejut langsung melebarkan pintunya.
''Aduh, maaf maaf. Aku gak tau kaki kamu di situ'' Hana menarik tangan Arka agar mengikutinya dan duduk di sofa kamarnya.
''duh, sakit ya'' tanya Hana ia membungkuk ingin mengecek kaki Arka, tapi Arka segera menarik badan Hana agar tetap duduk.
''sakit, tapi gak apa apa asal non Hana mau memaafkan kelancangan saya tadi'' ucap Arka sambil menyodorkan es krim rasa stowbery pada Hana.
Hana memicingkan matanya, ''kamu nyogok?''
Arka menggeleng, ''saya menyesal'' ucapnya menunduk.
Hana sebenarnya ingin tertawa, terlebih wajah Arka yang tadi terlihat dingin dan seram sekarang malah berbalik jadi lucu.
''Baiklah, aku maafin'' Hana menarik dua eskrim di tangan Arka.
Arka tersenyum, melihat Hana yang langsung membuka es krimnya dan langsung memakannya.
''Non Hana sudah gak marah?'' tanya Arka
Hana menggeleng, sebenarnya ia memang tidak marah. Ya, anehnya Hana sama sekali tidak marah, bukan kah seharusnya marah?
''emm, bagaimana kamu tau aku suka es krim stowberi?'' Hana mendelik.
__ADS_1
''ah, itu-''