Cerita Cinta Hana

Cerita Cinta Hana
Bab 3


__ADS_3

1 minggu berlalu,


Hoek


Hoek


Tesa mengurut lembut punggung Hana, menemani hingga ia memuntahkan semua isi perutnya. Ya inilah kegiatan setiap pagi yang selalu di lalui Hana.


Hana mengusap mulutnya dengan handuk yang di berikan Tesa, sedang tangan satunya mengusap perutnya yang masih sedikit mual.


"Ck, pokoknya hari ini kita periksa" ucap Tesa memapah Hana ke tempat tidur.


Hana menggeleng, pelupuk mata nya sudah menggenang siap untuk tumpah.


Tesa menghelakan napasnya, "kenapa?" Ia duduk di samping Hana yang menunduk.


"Gue takut" cicit Hana pelan


Tesa mengernyitkan dahi "takut?"


Hana menatap sahabatnya, "gue.. takut kalau nanti.. nanti.. "


"Hamil?" ucap Tesa yang langsung membuat air mata Hana lolos.


"Sudah, tenang aja. Siapa tau hanya sakit biasa karena stress, makanya harus periksa" bujuk Tesa, padahal perasaannya mengatakan jika Hana memang hamil, tapi ia ingin memastikan dengan memeriksakan Hana langsung ke dokter mengingat kondisi Hana juga yang sedikit mengkhawatirkan karena tidak ada asupan makanan yang masuk ke dalam tubuhnya, makanan yang Hana makan seolah hanya mampir lalu memaksa untuk keluar lagi.


"Tapi, lu juga kan harus berangkat kerja" ujar Hana.


Tesa mengangkat ponselnya, "gue udah ijin" Tesa tersenyum seolah mengatakan tidak ada alasan lagi buat lu Hana.


"Ayo, sebaiknya kamu cepat bersiap" ucap Tesa yang di angguki Hana


Di tempat lain,

__ADS_1


"Ada apa? Aku perhatikan semenjak kedatangan gadis itu kamu jadi banyak melamun. Apa kamu sedang memikirkannya?" Tanya wanita cantik yang duduk di depan cermin yang sedang di dandani.


Pria yang ia tanyai itu masih diam.


Wanita itu melihatnya dari cermin dan berkata,


"Apa kamu menyesal?" ia sambil menunjukkan anak rambut yang belum rapi pada periasnya.


"Apa dengan menyesal aku bisa kembali?" Ucap Doni dengan nada sedikit meninggi, Risa tersentak kaget, begitupun perias dan pelayan yang ada di kamar tersebut.


Rissa mengepalkan tangannya, ucapan apa yang barusan Doni ucapkan padanya di depan semua orang


Kembali? Heh, jangan harap. Aku pun takkan melepaskan mu Batin Risa


Risa menatap Doni yang duduk di ranjang melalui cermin dan tersenyum.


"Lebih baik kamu cepat bersiap, nanti malam adalah pesta pernikahan kita sayang, ibu pasti juga tengah bersiap" ucap Risa lembut namun penuh penekanan, berharap Doni sadar akan statusnya kini.


Terlihat Doni yang menghelakan napas beratnya, lalu beranjak meninggalkan kamar itu untuk bersiap.


Hari semakin larut, tapi Hana masih saja meringkuk di atas kasur, sejak pulang dari Rumah sakit ia terus saja berdiam diri.


"Han, makan dulu nih" Tesa menyodorkan nasi bungkus yang sengaja ia simpan di meja lipat dekat kasur, karena tempat tidur mereka tidak memakai ranjang lagi.


"Gue tau lu gak tidur, ayo..lu harus makan" Tesa menghelakan napasnya berat, ia benar benar tidak tau harus bagaimana lagi untuk membujuk Hana. "Kalau lu gak peduli sama diri lu terserah, setidaknya lu pikirin janin dalam tubuh lu itu, dia perlu nutrisi untuk perkembangannya."


Hana langsung bangun dan berteriak, "gue gak pengen anak ini, gue gak siap"


Tesa melotot kaget "Hana barusan lu ngomong apa? Lu gak boleh ngomong gitu"


Hana berteriak sambil meremas rambutnya


"Gue gak mau anak ini, gak mau" Hana memukul mukul bagian perutnya, Tesa segera mencekal lengan Hana agar ia tidak melakukan hal bodoh yang akan melukai janin nya nanti.

__ADS_1


"Han.. sadar Han.. HANAAA" teriak Tesa


Hana diam tersentak oleh bentakan Tesa


"Ari maneh goblog teh ulah dua kali, geus sakali wae, lu kaya gitu bisa aja nyakitin anak lu. Cukup satu kali lu berbuat hal bodoh, jangan buat lagi kesalahan yang bakal lu nyesel seumur hidup. Anak yang ada di perut lu sekarang, dia gak salah, dia gak tau apa apa"


(Kamu jangan bodoh untuk yang kedua kali, cukup satu kali saja )


"Tapi gue gak siap, Doni ninggalin gue, terus kalau dia sampai lahir, dia gak bakal punya Ayah, terus kalau Ayah gue tau gimana? " isak Hana frustasi memikirkan segala hal yang akan terjadi kedepannya.


"Atuh kenapa baru sekarang kepikiran, waktu enak enak sama si Doni mikir sampai situ engga ari kamu?" Tesa melepas tangan Hana kesal, bisa bisanya baru sekarang Hana baru sadar dengan semua yang akan menimpanya padahal berkali kali Tesa mengingatkan.


Hana menangis, benar ucapan sahabatnya, ia begitu bodoh percaya ucapan dan perlakuan manis Doni hingga ia merelakan apa saja untuk laki laki bajingan tersebut.


Hana juga sampai kabur dan menentang ucapan Ayahnya hanya untuk membela kekasihnya.


"Sekarang, semua sudah terjadi Han. Lu cuma perlu ngejalanin yang sekarang, yang udah ya udah" Tesa mengusap bahu sahabatnya.


"Tapi, kalau Ayah tau gimana?" cicit Hana takut saat mengingat Ayahnya


"Lu harus jujur, ini adalah hasil perbuatan lu, jadi lu harus tanggung jawab, jika Doni sebagai ayahnya tidak bisa bertanggung jawab, lu sebagai ibunya yang harus berjuang demi anak lu itu. Inget Han, anak itu gak salah, seandainya dia bisa milih dia juga gak pengen orang tua seperti lu dan Doni. Besarin anak itu dengan penuh kasih sayang Han" ucap Tesa yang kini menangis, "jangan kaya gue, gue gak tau bapak gue siapa, ibu gue juga gak sayang sama gue bahkan gak pernah menganggap gue hidup. Jangan jadikan anak lu nanti kaya gue Han, yang gak kenal kasih sayang orang tua" Tesa menunduk mengingat hidupnya sendiri.


Tesa sedari kecil hidup bersama neneknya, ibunya tidak pernah peduli padanya, ia di kampung di juluki "anak haram" bahkan oleh ibunya sendiri.


Menyakitkan, ya sangat menyakitkan bagi Tesa. Jika di pikir, apa yang salah pada dirinya, dia tidak mengetahui apa pun, orang tuanya yang salah namun saat ia di lahirkan harus menanggung dosa atas perbuatan orangtuanya. Hal ini lah yang membuat Tesa membulatkan tekadnya untuk segera pergi dari kampungnya setelah neneknya meninggal.


Hana menatap sahabatnya lalu memeluknya, ia tak menyangka jika Tesa wanita yang selalu bersikap kuat akan segala hal ternyata menyimpan banyak luka yang ia pendam.


"Makasih sa, Lu selalu ada buat gue"


Tesa membalas pelukan Hana, mereka berdua sama sama menangis, dan saling menguatkan satu sama lain.


Hana berdiri mencari sesuatu, lalu mengambil tasnya.

__ADS_1


"Gue harus temui Doni"


__ADS_2