
''maaf, '' ucap Hana menunduk.
''Iya.'' jawab Arka singkat.
Hana mendongak, ''kamu benar memaafkanku?''
Arka hanya mengangguk. Hana menatap wajah Arka intens, ia memajukan wajahnya mendekat pada Arka hingga Arka jadi gugup.
''no, nona..''??
Jantung Arka berdegup kencang, wajah Hana kini sangat dekat dengan wajahnya.
'Apa dia akan menciumku?' batin Arka. Bukannya tidak mau, tapi jika mendapat serangan tiba tiba tentu saja Arka kaget.
''Hei, dagu mu terluka'' ucap Hana yang masih memperhatikan intens wajah Arka.
''A, apa?'' Arka tergagap.
bukannya ingin menciumku? batin Arka.
''Sebentar, aku ambilkan obat'' Hana mengambil kotak obat yang berada di laci dapur.
Arka masih berdiri, ada rasa kecewa karena ia mengharapkan Hana menciumnya.
Hana menarik tangan Arka dan menyuruhnya duduk sementara ia berdiri di depannya.
''Ini pasti karena luka cakaran wanita liar itu, biar aku obati dulu. Harusnya dari kemarin kamu obati, bagaimana jika kamu jadi terkena penyakit rabies karenanya'' gerutu Hana sambil mengoleskan obat.
Arka hanya diam tersenyum, ia memang kecewa karena Hana bukanlah ingin menciumnya, tapi setidaknya Hana masih mengkhawatirkannya.
''Ayo, mana lagi?'' tanya Hana. Arka mengangkat kedua tangannya. Hana menggulung kemeja Arka hingga terlihat banyak luka cakaran di tangan.
''Oh, ya ampun...wanita itu benar benar''
Arka hanya diam larut dalam lamunan, ia tidak mendengar segala ocehan dan sumpah serapah yang di tujukan pada wanita itu. Ia hanya melihat wanita pujaannya saja, ya.. Hananya yang sangat cantik.
''Apa perih?'' tanya Hana. Arka hanya diam.
Hana mengernyitkan keningnya,
''Arka..'' teriak Hana hingga Arka tersentak.
''I iya, apa?''
''Apa perih? ada lagi tidak?'' tanya Hana kesal.
__ADS_1
Arka hanya menggeleng, Hana menangguk tapi saat ia mundur selangkah kakinya malah menginjak sendalnya sendiri, hingga hampir terjatuh. Arka yang refleks langsung menangkap pinggang Hana dan memeluknya. Menahannya di pangkuannya.
Wajah Hana dan juga Arka begitu dekat,
Hana yang sadar langsung ingin bangun, tapi Arka malah menahannya.
''Obati yang ini juga'' Arka menunjuk lehernya yang juga terlihat garis garis memanjang luka cakaran.
''O, i iya..'' Ucap Hana gugup, ia ingin bangun tapi Arka masih menahannya.
''Duduk saja, agar kaki mu tidak pegal.'' ucap Arka tersenyum.
Hana dapat melihat wajah Arka dari dekat, Arka sangat tampan. Hidung mancungnya, garis wajahnya yang tegas dengan rambut wajah yang menghiasi dagunya menambah kesan maskulinnya.
glek,
Aroma parfum Arka menyeruak di hidung Hana yang sensitif akan bau. Wangi yang menenangkan pikir Hana, ia tidak sadar malah mengendus leher Arka.
''Ehem, '' Arka berdehem.
Hana sadar, lalu menjauhkan wajahnya. Ialangsung berdiri dan menjauh, sungguh ia merasa malu,
''em, i ini sudah selesai'' ucap Hana.
Arka mengangguk, '' terimakasih nona''
''ia, baik'' jawab Arka setuju. Hana tersenyum.
''Ayo, sarapan dulu'' ucapnya lagi.
...----------------...
Di tempat lain, sejak pertemuannya dengan Hana, Doni dan Risa selalu terlibat adu mulut, bahkan saat sarapan Risa masih mendiamkan Doni.
''Ada apa dengan kalian?'' tanya Gunawan ayah dari Risa, ia heran karena keduanya sangat dingin satu sama lain.
Semua diam, tidak ada yang menjawab pertanyan Gunawan.
Gunawan hanya menggelengkan kepalanya.
''Doni, ternyata rencana dari mu berjalan dengan lancar.'' ucap Gunawan tersenyum puas.
Doni hanya menatap mertuanya dan membalas senyum.
''Rencana apa yang Ayah maksud?'' tanya Risa bingung, pasalnya ia sama sekali tidak tau apa yang di bicarakan Ayah dan suaminya.
__ADS_1
''Apa kamu belum di beritau oleh suamimu?'' Gunawan menatap Risa dan Doni bergantian.
Risa hanya melirik Doni sekilas yang juga tengah menatapnya, ia tidak menjawab. Tapi Gunawan sudah mengerti jika hubungan keduanya sedang ada masalah.
''Ayah berangkat duluan ke kantor,'' Gunawan beranjak, ''Don, antarkan dulu Risa seperti biasa.'' perintah Gunawan yang di angguki Doni.
''Gak perlu, aku bisa sendiri'' sanggah Risa cepat.
''Kamu ingat, kamu sedang hamil. Jika ingin tetap bekerja, biarkan Doni yang mengantarmu. Tidak ada bantahan.'' tegas gunawan ia segera pergi, namun kembali menoleh dan berbicara, ''jika kalian memiliki masalah, selesaikan dengan baik baik.''
Risa hanya menghelakan napasnya, hatinya benar benar sangat sakit dengan kejadian kemarin.
''Aku berangkat sekarang'' Risa buru buru bangkit dari duduknya, tapi karena gerakan yang terlalu cepat membuat perutnya sakit.
''aaakh..'' Teriak Risa, ia meringis menahan sakit di perutnya.
Doni langsung berlari menghampiri.
''kenapa? Apa yang sakit?''tanya Doni panik.
''perut aku'' lirih Risa, ia meremas kepala kursi menyalurkan sakitnya
''kita ke rumah sakit'' Doni menuntun Risa, tapi Risa menggeleng.
''Nggak, pagi ini aku ada meeting'' jawab Risa keras kepala.
Doni hanya mendengus kesal, wanita ini memang benar benar keras kepala. ia langsung menggendong Risa tanpa menunggu persetujuannya lagi dan membawa Risa ke dalam mobil, ia melajukan mobilnya menuju rumah sakit yang biasa Risa kunjungi.
''Kita mau kemana?'' tanya Risa.
''Rumah sakit, aku tidak ingin kamu sampai terjadi sesuatu dengan mu'' jawab Doni, ia melirik risa sebentar lalu memfokuskan lagi tatapannya ke depan.
''Bertahanlah sebentar,'' ucap Doni lagi. tangannya meraih tangan Risa dan menggenggamnya.
Risa bisa merasakan tangan Doni yang terasa dingin, sepertinya Doni benar benar panik karena takut terjadi sesuatu dengan kandungan Risa.
Risa menatap Doni, pandangannya kabur karena air mata yang menggenang menghalangi pandangannya.
Doni melirik Risa, ia semakin khawatir melihat Risa berkaca kaca.
''Apa masih sakit?, tahan dulu yah sebentar lagi sampai'' Doni sedikir meremas tangan Risa.
Risa hanya tersenyum dan menggeleng, hatinya sedikit menghangat dengan perhatian Doni yang jarang ia dapatkan lagi beberapa hari ini.
''Apa aku harus merasakan sakit dulu baru kamu akan perhatian padaku?.'' batin Risa dalam hati.
__ADS_1
Risa buru buru menyeka air matanya yang akan jatuh, ia tidak ingin membuat Doni semakin panik dalam berkendara ketika melihatnya menangis. Meski sakit di perutnya, ia senang karena merasa ada perhatian dari Doni untuknya. Terdengar gila, tapi Risa benar benar mendamba akan perhatian Doni padanya.