
Hana membuka pintu kamar kosannya ia segera masuk di ikuti Tesa yang juga mendorong motor maticnya masuk ke dalam kosan. Kamar kosan itu cukup luas terdapat kamar mandi di dalamnya dan juga dapur hingga privasi penghuninya sangat terjaga.
Tesa hanya bisa menghelakan napasnya, karena sepanjang perjalanan Hana terus saja menangis.
"Lu kenapa sih? Bukannya tadi udah ketemu sama si Doni? Harusnya lu seneng ya kan" Tesa berdiri di depan Tari yang sedang berbaring menelungkupkan wajahnya di bantal.
"Pusing aku mah" Tesa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Hana bangun meraih tas miliknya untuk mengambil sesuatu, menyodorkan pada Tesa yang langsung membacanya.
"What?" Tesa terkejut saat membaca undangan itu yang ternyata tertulis pernikahan Doni dan Risa.
"Doni..Sa.. Doni hiks.. hiks.. dia selingkuh, sekarang dia malah bilang mau menikah sama cewek lain.. Huaaa" jerit Hana penuh sesak.
Flashback on
Hana mengejar Doni ke Apartemenya, sebelumnya ia sudah bertanya ke resepsionis awalnya resepsionis enggan memberikan data Doni namun setelah sedikit ancaman dan seribu alasan akhirnya Hana mendapatkan info tempat tinggal Doni.
Hana memencet bel Apartemen Doni. Berkali kali Hana menekan bel namun tidak ada tanda jika sang pemilik akan keluar juga.
"Nih bel rusak atau orang di dalem budek sih" gerutu Hana, tapi tidak menyurutkan keinginannya untuk bertemu dengan kekasih yang di rindukannya.
Akhirnya suara kunci di tekan dan pintu pun terbuka.
"Siapa sih, malam malam ribut ba-" Doni melebarkan matanya saat melihat wanita yang ia kenal berdiri di hadapannya.
"Doni.." Hana langsung memeluk tubuh Doni yang masih diam mematung. "Kamu kemana aja sih selama ini, aku hubungin tapi kamu gak pernah ngerespon aku" Hana mempererat pelukannya, ia sangat Rindu kekasihnya.
"Sayang, ada siapa sih?" Ucap seorang wanita dari dalam.
Deg,
Hana melepaskan pelukannya dan mendongak melihat wajah Doni yang berubah panik.
"Sayang?" tanya Hana lirih
"I.. ini, ada teman aku, kamu tidur aja duluan nanti aku menyusul" ucap Doni
Deg,
__ADS_1
Air mata Hana lolos, hati nya mencelos. Teman katanya, aku temannya? Batin Hana
"Maksud kamu apa Don? Jadi selama ini kamu mempermainkan aku?" ucap Hana
Doni mengusap wajahnya kasar.
"Sory Hana, aku pikir selama kita lost contact itu artinya hubungan kita sudah berakhir." ujar Doni enteng.
Hana menggelengkan kepalanya dan tersenyum getir, "kamu gila? Kamu gak bilang kalau hubungan kita berakhir, kamu menghilang gitu aja. Terus tadi siapa? Siapa yang panggil kamu sayang" Hana sengaja mengencangkan suaranya, ia berusaha untuk masuk tapi di halangi oleh Doni.
Hana terus saja berontak ingin menemui wanita tadi, tapi lagi lagi Doni menghalangi hingga mendorong tubuh Hana.
"Aww.." Hana mengusap lengan nya yang terbentur pintu
"Kamu ngapain sih, ini sudah malam. Lebih baik kamu pulang, dan gak usah ganggu hidup ku lagi. Hubungan kita sudah berakhir" teriak Doni yang kembali mendorong Hana agar menjauh dari pintu Apartemennya.
Hana menangis, tidak pernah sekalipun ada yang berbuat kasar padanya. Begitu pula Doni, dulu dia sangat baik, perhatian dan romantis bahkan selalu memperlakukannya dengan lembut.
"Gak, aku gak mau putus Don" Hana menggenggam tangan Doni berharap ucapannya hanya sebatas candaan untuknya.
"Harus kaya gimana sih cara ngomong sama kamu biar ngerti huh?" Doni menghempaskan tangan Hana kasar.
Hana memandang tangannya yang di lepaskan dengan jijik oleh Doni.
"Denger, aku sama kamu cuma sekedar main main. Aku deketin kamu, ya.. karena aku lagi suntuk aja" Doni tersenyum tanpa beban.
Tapi untuk Hana senyuman dan ucapan Doni bagai pisau yang mengoyak hatinya.
"Kamu pasti bercanda kan Don" ucap Hana yang belum menerima sepenuhnya ucapan Doni.
" tunggu disini" Hana hanya diam memandang Doni yang masuk ke dalam, lalu datang lagi dengan membawa sesuatu yang ia serahkan pada Hana
"Apa ini?" Hana menatap Doni heran.
"Bacalah, disana tulisannya sangat jelas. Kamu pasti ngerti " Doni melipat tangan nya di dada dan bersandar di pintu.
Sementara Hana hanya bisa menutup mulutnya, sungguh sakit membaca setiap baris tulisan yang ada di kertas tersebut.
"Bohong, kamu bohong. Kamu bilang kamu cinta aku, tapi kenapa kamu malah nikah dengan wanita lain bahkan setelah semua yang aku lakukan untukmu Don" Hana memukul dada bidang Doni melampiaskan kekesalan hatinya.
__ADS_1
Doni mencekal kedua tangan Hana.
"See..? sudah jelas kan, lebih baik kamu pulang. Kamu tidak ingin jadi bahan tontonan yang lain kan, kalau saja mereka semua terbangun oleh teriakan wanita yang mengemis cinta di depan Apartemen seorang pria. Oh, atau kamu mau jadi selingkuhan ku nantinya? Aku tidak masalah jika kamu mau tapi kita harus melakukannya dengan rapi" Doni tersenyum miring.
Hana melepaskan tangan Doni dengan jijik.
Bisa bisanya laki laki ini mengatakan hal
seperti itu di hadapannya. Hana mengusap pipi nya yang basah dengan kasar, ia berbalik dan berlari meninggalkan Doni yang masih diam memandang kepergiannya.
Flashback off.
"Tuh kan, hue bilang juga apa. Si Doni itu udah jelas gak bener, Lu sih gak percayaan kalau di bilangin" ucap Tesa kesal.
"Tapi dulu dia tuh baik Sa, dia selalu perhatian dan romantis" sanggah Hana.
"Mamam tuh romantis. Cowok kalau ada maunya ya emang begitu. lu tuh ya orang baru kenal, terus baik dikit di bilang dia baik banget, bapak lu noh, ngurus dari kecil giliran salah dikit di tinggal kabur terus di bilang jahat. Aneh lu mah" Tesa melempar undangan itu kesembarang, ia sangat kesal dengan kelakuan sahabatnya itu yang cenderung keras kepala.
"Udah, sekarang lupain tuh si borokok Doni" Tesa berbaring di sebelah Hana dan menarik selimutnya untuk tidur.
"Aku gak bisa" lirih Hana mulai terisak
Tesa mengahadapkan badannya melihat Hana yang masih menangis menutupi wajahnya dengan tangan.
"Gue.. gak bisa, dia.. Dia mau nikah, gue harus gimana?" Gumam Hana yang masih di dengar Tesa
"Hmhh.. ya udah tinggal bilang selamat aja apa susahnya, terus tinggal move on deh" Tesa hendak menutup mata, ia sudah benar benar lelah dan mengantuk.
"Ta. tapi.. gue, sama dia udah.. udahh-"
Tesa menyingkap selimutnya, bangun lalu menatap tajam Hana.
"Jangan bilang lu udah di unboxing sama si Doni"
Hana menatap nanar wajah sahabatnya lalu menangis kencang.
"Ya Allah gusti..." teriak Tesa yang ikut pusing permasalahan sahabatnya.
......................
__ADS_1
Sementara di tempat lain,
"Maafin aku.." lirihnya sambil mengusap air matanya