
''Maaf, anda saya pecat.''
''tapi apa salah saya pak, perasaan saya tidak melakukan kesalahan pada perusahaan ini'' ujar Tesa tidak terima, pagi pagi sekali ia sudah di panggil bagian Hrd.
''Ya, kamu memang tidak memiliki kesalahan pada perusahaan ini, tapi pada saya'' ucap seorang wanita dari balik pintu.
Tesa berdiri melihat ke sumber suara, ia terkejut, ''Kamuu,''
wanita itu tersenyum sinis dengan melipat kedua tangannya di dada.
''Sekarang juga kamu keluar dari perusahaan saya'' bentak Wanita itu lagi.
Tesa tersenyum sinis, ''dengan senang hati''
Tesa meninggalkan perusahaan yang sudah cukup lama menjadi tempatnya bekerja. Saat di parkiran ia baru menyadari jika dirinya tidak membawa ponsel karena terburu buru. Tesa pulang ke kosan.
Sementara Hana baru saja merebahkan badannya, tapi perutnya sudah terasa mual. ia langsung berlari ke kamar mandi, mengeluarkan kembali apa yang ia makan.
Hana menyandarkan tubuhnya di tembok, badannya sangat lemas rasanya ia sudah tidak sanggup berdiri lagi.
ceklek,
"Hana.."
Hana menenoleh ke sumber suara, terlihat Pria yang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Ayah,'' Hana tersenyum namun sedetik kemudian pandangannya mulai kabur, tubuhnya mulai kehilangan keseimbangan, Panji yang melihat putri akan jatuh segera berlari memeluk putrinya.
''HANAA..''
bruk,
Panji menggendong putrinya, ia berteriak pada pelayannya untuk segera memanggil dokter keluarga. Wajah Hana sangat pucat, tangannya pun sedikit dingin.
Setelah menunggu beberapa menit, dokter keluarga pun datang memeriksa. Panji masih menunggu di kamar putri nya dengan raut cemas, ia sangat khawatir dengan kondisi putrinya.
''Bagimana dok keadaan putri saya? dia sakit apa?'' tanya Panji tidak sabar.
''Tekanan darahnya sangat rendah, gula darahnya juga rendah.'' jawab dokter
''kenapa bisa begitu? jadi anak saya sakit apa?'' Panji sangat khawatir, sudah 2 kali dia membantu Hana yang tidak sadarkan diri.
__ADS_1
''Sebenarnya hal ini umum terjadi pada ibu Hamil, tapi bapak tenang. Anak bapak hanya perlu istirahat, dan juga asupan makannanya harus di perhatikan, terlebih jangan terlalu banyak pikiran'' jelas sang dokter
''Ha, hamil? anak saya hamil?'' tanya Panji memastikan jika pendengarannya tidak salah.
''Ia, Hamil'' Dokter tersenyum, ''lebih lanjutnya bisa di bawa ke dokter spesialis kandungan, baik saya permisi ya pak''
Panji hanya mengangguk, ''maaf saya tidak bisa mengantarkan dokter ke depan'' ucap Panji.
Dokter tersenyum dan mengangguk, ia di antarkan oleh salah satu pelayan rumah yang sedari tadi menunggu di luar kamar.
Panji duduk di sisi Hana sambil memijit pelipisnya, sekarang tubuhnya yang ikut lemas, berita yang di dapatnya sangat membuat dirinya terkejut.
''Ayah..'' lirih Hana saat melihat pipi ayahnya basah oleh air mata
Panji buru buru mengusap air matanya, ia menatap sendu putri yang sangat ia sayangi.
''Kenapa ayah menangis?'' tanya Hana lemah.
''Apa anak yang di ada di perut mu anak dari pria b*jingan itu?'' ucap Panji tegas.
deg,
''A, apa maksud ayah?'' Hana mengalihkan pandangannya. Jantungnya berpacu cepat, bagaimana ayahnya bisa tau pikir Hana.
Hana tersentak, wajah ayahnya berubah merah padam.
''Maaf ayah..'' lirih Hana air matanya luruh.
''Apa dia tau jika kamu hamil?'' tanya panji
Hana hanya menggeleng.
Panji mengusap wajahnya kasar. Hatinya sangat hancur, ia merasa telah gagal menjaga putrinya, padahal ia sudah berjanji pada mendiang istrinya untuk selalu menjaganya.
Panji memang selalu menentang hubungan purtinya dengan laki laki b*ngsek yang kini malah menikah dengan wanita lain setelah merusak putrinya. Tadinya ia sempat berpikir untuk menyetujui hubungan Hana dan juga Doni, mengingat Putrinya yang begitu mencintai Doni, namun setelah melihat putrinya di campakkan Panji merasa jika instingnya sebagai seorang ayah tidak pernah salah.
Hana beringsut bangun, bersimpuh dengan memeluk kaki ayahnya, ia juga sangat menyesal, karena tidak mendengarkan ucapan ayahnya. Hana selalu beranggapan jika Doni lah yang selalu ada untuknya dan tidak akan pernah pergi meninggalkannya. Kenyataannya, saat paling tersusah, Ayahnya nya lah yang ada untuknya.
''Ayah, hana minta maaf yah, Hana minta maaf.. hiks, hiks,'' Hana menangis sambil memeluk kaki ayahnya.
''Bangun nak, jangan seperti ini'' Panji berusaha membangunkan Hana, tapi Hana tetap memeluk kaki nya erat.
__ADS_1
Hana menggeleng, ''nggak yah, Hana salah sama ayah, Hana banyak salah. Hana minta maaf''
Panji ikut menangis, sakit hatinya tapi lebih sakit lagi ketika melihat putrinya menangis.
''Ayo bangun, ayah memaafkan mu''
Hana mendongak menatap ayahnya, Panji mengangguk tanda ia memang selalu memaafkan anaknya. ia membantu Hana berdiri, dan memapahnya untuk duduk di ranjang.
''Sebaiknya kamu istirahat, nanti biar ayah panggilkan bibi untuk membawa makanan ke kamar'' Panji berdiri, namun Hana mencegahnya dengan memeluk ayahnya.
Hana tau jika saat ini Ayahnya pasti sangat kecewa padanya.
''Ayah, hana minta maaf, hiks..hiks'' ucap Hana, entah berapa kali ia ucapkan maaf pada ayahnya. Hana rasa semua ucapan maafnya tidak cukup mengingat semua kesalahan dan luka yang ia beri untuk ayahnya.
Panji mengelus punggung putrinya, ia tidak tau lagi apa yang harus ia ucapkan. Ia ingin marah, atau mungkin membunuh pria b*jingan itu, tapi rasanya tidak mungkin saat ini Hana jauh lebih membutuhkannya.
''Ayaah..'' lirih Hana karena panji hanya diam.
''Ayah selalu memafkan mu nak'' panji mencium pucuk kepala Hana
ahh, menyesaal.. satu hal yang menggambarkan perasaan Hana saat ini, ia menangis sesenggukan memeluk erat ayahnya.
''Kamu sebaiknya istirahat, dokter tadi bilang kamu harus banyak istirahat dan makan yang cukup'' Panji mengusap rambut halus hana.
''Dokter?'' Hana mendongak
Panji mengangguk, ''sewaktu kamu pingsan, ayah memanggil Dokter Tina kemari untuk memeriksa lalu ia mengatakan jika kamu,'' Panji menjeda ucapannya sebentar untuk menarik napas dalam dan melanjutkannya lagi, ''ya, mengatakan jika kamu Hamil''
panji melepaskan pelukan Hana, lalu bangkit.
''Ayah mau kemana?'' Hana tau ayahnya, pasti tidak akan melepaskan orang yang sudah melukai putrinya.
''Ayah akan menemui pria b*jingan itu'' Panji mengeraskan rahangnya.
Hana menggeleng, ia meraih tangan ayahnya.
''Jangan ayah, ayah jangan beritau dia kalau aku hamil'' pinta Hana memelas
''Tapi dia harus tau'' jawab panji
''tidak yah. Jangan, biar Hana sendiri yang akan membesarkan anak ini tanpa dia. Hana sudah tidak mau berurusan dengan dia. Lagi pula, wanita yang sekarang jadi istrinya juga tengah mengandung'' ucap Hana pelan di bagian kalimat terakhirnya, tapi panji masih bisa mendengarnya.
__ADS_1
''b*jingan itu benar- benar menjijikan'' batin Panji, ia sungguh muak mendengar tingkah pria yang pernah di cintai putrinya, bisa bisanya ia menghamili 2 wanita sekaligus pikir Panji.
'kau liat saja' ucap Panji dalam hati