
''hallo" hana mengangkat panggilan telepon.
" Hana, lu gak papa? sory tadi hape gue ketinggalan di rumah" ucap Tesa menjelaskan, ia khawatir saat suara hana terdengar lemas.
"ia, gak apa apa, ini lagi tiduran aja makanya suaranya lemes" bohong Hana, ia tidak mengatakan jika dirinya bangun dari pingsan.
"bagus deh, lu emang harus banyak istirahat. makan juga, jangan sampe gak makan. Inget tuh di badan ada yang hidup. Lu harus jaga kesehatan" ucap Tesa
"hmm, ia bawel. eh, tadi bukannya lu bilang kalau ponselnya ketinggalan kan? lu pulang lagi buat ambil? bukannya ini masih jam kerja ya?" Hana melirik jam dinding yang masih jam 11.
"oh, i iya.. itu.. apa, ada yang harus di ambil juga soalnya" jawab Tesa tergagap.
Hana mengeryitkan dahinya, ada yang aneh dengan sahabatnya. "Apa emangnya?" tanya nya penasaran.
Tesa jadi gugup, ia memang paling tidak bisa membohongi.
" Han, udah dulu yah soalnya lagi buru buru" Tesa langsung saja mematikan telponnya.
''Hallo Sa, Tesa. ih ni anak main matiin aja'' gerutu Hana, ia merasa ada sesuatu yang di sembunyikan Tesa, tapi saat berpikir pintu kamarnya terbuka.
ceklek
Hana menoleh.
''Ayah, '' Hana melihat ayahnya yang datang dengan membawa nampan dengan makanan,
''Ayah belum berangkat ke kantor lagi?'' tanya Hana.
Panji menggeleng, ia tidak tega meninggalkan putrinya sendiri.
''Tadinya ayah pulang karena ingin mengambil berkas dan juga beberapa barang yang tertinggal, tapi melihat mu seperti ini ayah jafi tidak tega meninggalkan mu sendiri'' Panji duduk di sebelah Hana, sedari di kantor perasaan nya selalu tidak enak, ingin segera pulang dan benar saja saat ia pulang Hana hampir saja terjatuh karena pingsan.
Panji menyuapi Hana bubur yang ia bawa, ''sekarang makan. Ayo buka mulutnya. aaaa''
Hana pun menuruti ucapan Ayahnya, ia mengunyah sambil tersenyum, air matanya ikut meleleh. Ini yang selalu ia inginkan dari dulu, perhatian seorang ayah untuk anaknya.
__ADS_1
''kenapa menangis? apa tidak enak'' Panji mengusap air mata Hana.
''Tidak, ini enak. sangat enak, ini adalah makanan terenak yang pernah Hana makan setelah ibu pergi, karena ayah yang menyuapinya'' ucap Hana.
Mata panji langsung memerah, ia tidak menyangka jika putrinya selama ini sangat merindukan sosoknya sebagai seorang Ayah.
''Maafkan ayah sayang'' lirih panji
Hana menggeleng, ''ayah gak salah. Hana yang salah''
''Ayah sudah gagal menjagamu, Ayah bukan ayah yang baik'' Panji tak kuasa menahan air matanya.
Hana memeluknya erat.
''Ayah adalah ayah terhebat buat Hana dan cucu ayah nantinya'' Hana menangis di pelukan Ayahnya.
Panji mengusap rambut indah coklat yang sangat mirip dengan mendiang Belia istrinya. Hana adalah duplikat nyata dari ibunya. Itulah kenapa dulu ia selalu menghindari hana dengan alasan sibuk berbisnis saat ia kehilangan istri tercintanya. Semakin melihat Hana, semakin ia teringat istrinya, dan itu membuatnya semakin sakit, mengingat jika istrinya tidak akan pernah bisa kembali.
Hana melepas pelukannya dan menatap wajah ayahnya yang sudah mulai terlihat garis kerutan.
jujur, ia sangat khawatir jika ayahnya tidak bisa menerima anaknya karena kesalahan dirinya dan juga mantan kekasihnya yang sudah banyak mengecewakannya.
Panji tersenyum, ''mana mungkin ayah akan tega membenci kamu dan juga darah daging mu sendiri,''
''benarkah?'' tanya Hana memastikan
Panji mengangguk pasti, ''tentu saja. Ayah akan menerima dan menyayangi cucu ayah nantinya'' Panji tersenyum mem ayangkan rumahnya yang akan hangat oleh tangisan anak kecil.
''haahh.. sudahlah jangan berpikir aneh aneh. Sebaiknya cepat habiskan'' panji kembali menyuapi bubur yang mulai dingin karena tertunda adegan haru ayah dan anak.
''em, cukup yah'' hana menghentikan suapan bubur ke mulutnya.
''tapi ini masih banyak.'' ucap panji.
''perutku begah'' Hana mengelus perutnya.
__ADS_1
''baiklah'' panji meletakkan kembali mangkuk bubur di atas nampan, bubur itu hanya habis setengahnya, tapi panji bersyukur ada makanan yang bisa masuk dan semoga saja tidak di keluarkan lagi oleh putrinya.
''em, hana..'' panggil panji, wajah nya memancarkan sedikit keraguan
''hmm. ada apa ayah?''
''melihat kondisi mu sekarang, ayah jadi khawatir. jadi ayah akan memberimu seorang asisten. Dia akan menemanimu dan juga membantumu'' jawab panji
''Asisten?''
panji mengangguk, ''ya dia salah seorang yang ayah percaya''
''siapa namanya?''
''Arka'' jawab panji
''Arka? bukannya itu nama laki laki?'' tanya Hana heran.
''ya, dia memang laki laki'' ucap panji
''kenapa laki laki? kenapa tidak perempuan? bagaimana jika temanku saja yang menemaniku'' ujar Hana tidak terima jika asistennya laki laki.
''Ayah takut jika sewaktu waktu kamu pingsan dan tidak ada yang mengetahui, dia bisa dengan sigap membantu mu, dan lagi bukannya kamu bilang ingin belajar tentang perusahaan kan? kamu bisa belajar padanya juga nantinya. Dan untuk teman mu, memangnya dia tidak bekerja? apa dia mau jadi asisten mu? ayah pikir, jika dia malah akan tersinggung'' jelas panji panjang lebar.
Hana diam berpikir sejenak, lalu ia pun memutuskan untuk menyetujui ucapan ayahnya.
''baiklah, aku setuju'' ucap Hana
panji tersenyum lega,
''ya sudah, ayah akan kembali bekerja di ruang kerja ayah. kamu istirahat ya''
hana tersenyum mengangguk.
Panji berdiri dan meninggalkan kamar hana, ia segera pergi ke ruang kerjanya. Di sana ia menelpon seseorang.
__ADS_1
''semua yang kamu inginkan, sudah ku penuhi''