Cerita Cinta Hana

Cerita Cinta Hana
bab 8


__ADS_3

Malam ini Hana dan juga Panji makan malam bersama, mereka selalu menyempatkan waktu untuk sekedar sarapan atau makan malam bersama. Panji tidak ingin menyiakan waktu seperti dulu lagi, ia ingin menebus kesalahan nya.


''sudah cukup sayang'' Panji menghentikan Hana yang terus menimbun lauk di piring Panji.


''Ayah harus makan yang banyak, dan ini juga jangan lupa tambah sayur'' Hana menyendokan capcai hingga nasi di piring itu tidak terlihat lagi.


Panji hanya menggelengkan kepalanya, sementara Hana tersenyum senang. Entah kenapa semenjak hamil hana senang sekali jika melihat orang lain makan dengan lahap, karena ia juga menjadi semangat untuk makan.


''Tuan, maaf di depan ada tamu'' ucap pelayan yang datang. Pelayan itu juga melirik piring panji yang penuh.


'ah,selera makan tuan akhir ini memang sangat bagus' batin pelayan.


''Suruh dia masuk, dan ajak dia kemari'' jawab panji tanpa melihat pelayan, ia hanya menatap piringnya, rasanya perutnya sudah kenyang duluan.


''Siapa ayah?'' tanya Hana yang penasaran sejak tadi. Ia menggigit ayam goreng dengan rakus.


''Nanti kamu akan tau'' Panji mulai menyendok makanan, Hana tersenyum melihat wajah ayahnya yang terlihat lucu.


''Selamat malam Pak'' ucap seorang Pria yang berdiri di samping Panji dengan tegap.


Panji menoleh, begitu pula Hana. Ia melihat wajah pria yang juga tengah tersenyum menatapnya. Pria dengan perawakan gagah, tinggi dan tampan meski wajahnya banyak di tumbuhi jambang tipis.


'wajahnya seperti pernah melihatnya' gumam Hana dalam hati.


Panji berdehem, ''Oh, kamu sudah datang? ayo duduk dan makan bersama'' Panji mempersilahkannya duduk, ''Hana, ini dia yang namanya Arka'' Panji melirik anaknya yang masih menatap meneliti pria yang duduk di samping Panji.


Hana tersadar, dan hanya mengangguk lalu meneruskan makan ayam goreng kesukaannya. Jika malam tiba memang selera makan Hana bertambah, meskipun paginya ia harus siap mengeluarkannya kembali. Arka tersenyum melihat pipi Hana yang terkena bumbu dari serundeng ayamnya, cara Hana makan sangat menggemaskan, ia ingin sekali membantu wanita yang kini menjadi atasan yang harus ia jaga.


''Ayo, kamu juga harus makan sepertiku'' Panji menatap Arka lalu berganti menatap piringnya yang masih saja penuh dan tidak berkurang meskipun ia sudah mulai makan.


Arka melirik piring Panji yang munjung, ia tidak menyangka jika atasannya memiliki selera makan yang luar biasa pikirnya, sementara Panji berkali kali ia menghelakan napas beratnya.


jangan ditanya sang pelaku hanya cuek sambil menikmati hidangan di meja tanpa memperdulikan Panji apalagi pria yang sesekali mencuri pandang padanya sambil tersenyum tipis.


Setelah makan malam, Hana kembali ke kamarnya. Ia sangat kesal karena semenjak ia pulang, Sahabatnya susah sekali di hubungi atau terkesan menjauhinya.


''Tesa kemana sih, hapenya gak aktif lagi. Nyebelin banget tuh anak'' gerutu Hana.


tok tok tok,

__ADS_1


''masuk aja, gak di kunci'' ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya pada ponsel, ia terus saja mengirimi pesan pada tesa meski masih bercentang satu.


''ini susu nya non'' ucap pria yang berdiri depan pintu,


Hana menoleh suara itu bukan ayahnya tau pelayan rumahnya.


''Kamu..'' kaget Hana.


''Pak Panji meminta saya untuk mengantarkan susu, karena beliau sedang ada yang harus di kerjakan'' ucap Arka


Hana menangguk, Arka berjalan menyerahkan gelas berisi susu hangat tapi tangan Hana meleset hingga susunya mengenai tangannya sendiri.


''akh'' teriak Hana


''Maaf, nona. maaf saya tidak sengaja'' Arka langsung membantu mengelap tangan Hana yang basah, beruntung susu itu tidak terlalu panas.


''Maaf nona saya benar benar tidak sengaja'' ucap Arka lagi


''Tidak, ini salah saya yang tidak terlalu memperhatikan'' jawab Hana, ia memang tidak fokus akibat memikirkan Tesa.


''Apa disini ada kotak p3k?'' tanya Arka


Arka berdiri langsung mengambil kotak tersebut


''tapi ini tidak-''


''tetap harus diobati, takut jika kulitnya sampai melepuh'' potong Arka mengoleskan salep


Hana diam, menatap lekat wajah pria yang berjongkok di hadapannya.


''selesai'' ucap Arka membereskan kotak obat


hana tersadar, ia memundurkan badannya.


''emm, terimakasih.'' Hana masih meneliti wajah pria itu. Arka yang ditatap hana merasa canggung, ia segera berdiri dan mengangguk.


''saya akan buatkan susu lagi'' Arka bergegas pergi, tapi hana mencegahnya


''jangan'' teriak Hana

__ADS_1


Arka berbalik mengerutkan keningnya.


''se sebenarnya aku gak suka susu, tapi ayah terus saja memaksa'' hana nyengir


''tapi susu itu baik untuk ibu hamil'' ujar Arka


Hana tersentak, ''kamu tau kalau aku-''


Arka gelagapan, ia keceplosan padahal Panji sudah mengatakan jangan menyinggung kehamilan hana.


''Maaf,'' ucap Arka merasa tidak enak


Hana mendongak dan tersenyum, ''tidak apa apa, kamu bisa keluar''


Arka mengangguk.


''hei, tunggu'' hana menghentikannya lagi,


''ia nona?'' tanya arka heran.


''Apa kamu tinggal di sini sekarang'' tanya Hana, karena sudah malam Arka masih berada di rumahnya.


Arka mengangguk, '' ia, seperti yang di perintahkan pak panji untuk saya''


Hana manggut manggut mengerti.


''Apa ada lagi nona?'' Arka menatap Hana yang juga sekarang menatap ke arahnya.


''emm, apa sebelumnya kita pernah bertemu?''


Arka hanya berdehem karena terkejut lalu mengatur wajahnya kembali.


''sepertinya tidak'' ucapnya.


Hana hanya ber'oh-oh'ria saja.


Arka segera berpamitan pergi, menuju kamarnya sendiri yang sudah di siapkan pelayan Panji.


''Hampir saja'' gumam Arka mengusap dadanya sambil mengunci kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2