
Hana mengerjapkan matanya, kepalanya terasa berat, badannya pun sangat lemas untuk di gerakkan. Hana menatap langit langit lalu mengedarkan pandangannya.
''Ini.. ini, bukan di kosan Tesa'' gumam Hana
ceklek
''Kamu sudah bangun?'' suara bariton terdengar dari balik pintu, Hana menoleh.
''A, ayah'' lirih Hana
Laki laki paruh baya itu tersenyum, berjalan mendekat ke arah Hana dan duduk di sampingnya.
Hana mencoba bangun, Ayahnya dengan sigap membantu dengan menumpukkan bantal di belakang punggung anaknya.
''Apa sekarang lebih baik'' ucap Ayah
Hana mengangguk, memandang wajah Ayahnya sendu, air matanya lolos begitu saja.
''Maafkan Hana ayah, Hana-,''
Ayah Panji mengusap kepala putrinya yang menunduk.
''Ayah selalu memaafkan mu nak'' balas Panji, matanya pun berkaca kaca melihat putri semata wayangnya telah kembali. Ia senang sekaligus sedih dengan apa yang sudah terjadi dalam kehidupannya.
Panji mengusap air mata di pipi putrinya,
''Sebaiknya kamu kembali istirahat sayang'' ucap Panji dan Hana pun menuruti Ayahnya.
Panji membantu membenarkan posisi bantal dan juga memasangkan selimut pada Hana. ia pun meninggalkan Hana dari kamarnya.
''Ayah..'' panggil Hana.
Panji berbalik menatap putrinya,
''Bukannya tadi aku ada-''
''Teman mu yang menelpon ayah, memberitahukan mu yang sedang pingsan setelah menghadiri mantan kekasih mu itu'' jawab Panji yang tau jika Hana pasti penasaran kenapa dia sampai ada di rumahnya.
''Sudah terlalu larut, sebaiknya kamu tidur''
Panji keluar dan menutup pintunya perlahan.
__ADS_1
Tangannya mengepal, ingin rasanya memaki pria ba*jingan itu saat putrinya menanyakan keadaannya saat pingsan tadi, tapi sebisa mungkin Panji menahan amarahnya, ia tidak ingin Putrinya kembali menangis karena perasaan bersalah.
Panji melangkahkan kakinya ke kamarnya, sesampainya di sana ia mengeluarkan ponselnya untuk menelpon seseorang.
Paginya, Panji sudah berada di ruang makan seorang diri seperti hari hari yang sudah ia lalui bertahun tahun setelah kematian istri tercintanya. Meskipun sebelum Hana pergi dari rumahnya, mereka berdua sangat jarang sekali meluangkan waktu walaupun hanya untuk sarapan bersama.
Dulu Panji yang sibuk, dan Hana yang selalu berlaku semaunya dengan segala aktifitasnya yang kadang Panji tidak tau. Panji hanya tau jika anaknya hanya bersenang senang dengan uang yang di dapatnya, itu sudah cukup untuk Hana. Tapi pemikiran Panji ternyata salah, Hana selalu mencari sosok yang menyuguhkan perhatian padanya, hingga Hana mengenal Doni dan menjalin hubungan kadih dengannya.
''Ayah'' panggil Hana yang menuruni anak tangga, ''ayah meninggalkan ku untuk sarapan'' ucapnya cemberut.
Panji menepuk keningnya, ia lupa jika putrinya sudah pulang. Pantas saja sedari tadi ia seperti melupakan sesuatu.
''Maaf sayang, akhir akhir ini Ayah menjadi pelupa'' Panji terkekeh.
''Yah.. berarti ayah sudah tua'' ledek Hana, ia duduk di kursi samping ayahnya.
''hahaha, kau benar. Itulah sebabnya ayah ingin kamu segera menikah'' jawab panji sambil masukkan potongan sandwich ke mulutnya.
''Ayah selalu memaksaku untuk menikah. Kenapa tidak ayah saja yang menikah lagi'' ketus Hana, ia selalu kesal dari dulu hingga sekarang tidak ada yang berubah dari pembicaraan ayahnya, selalu saja tentang perjodohan dan menikah.
Panji terdiam, aktifitasnya terhenti. Hana menyadari, jika ucapannya sudah berlebihan.
''Apa kamu menginginkan seorang ibu baru untuk menggantikan ibumu? Apa kamu sudah rela?'' Panji menatap putrinya dengan tajam.
Hana diam, ia lalu bertanya pada dirinya sendiri. Ada rasa tak tega pada ayahnya yang hidup seorang diri, tak ada teman berbagi. Namun, ia juga belum rela jika ada wanita baru yang akan menggantikan posisi ibunya di hati ayahnya.
Panji meletakkan sendok di piring sedikit kasar hingga Hana mendongak.
''Dengar, sampai kapan pun hati ayah mu ini tidak akan pernah bisa lagi terisi oleh kehadiran wanita lain selain ibu mu. Ayah sangat mencintai ibu mu dari dulu hingga saat ini. Itulah kenapa ayah tidak berniat mencari wanita lain meskipun kamu yang meminta.'' ucap Panji dengan mata memerah menahan tangis.
''Ibu mu satu satunya wanita yang Ayah cintai, dan akan seperti itu selamanya''
Hana menangis, ia tidak menyangka jika Ayahnya sangat setia pada mendiang Ibunya. Ia bangga pada Ayahnya yang setia, padahal Hana yakin di luar sana pasti banyak wanita yang mengincar Ayahnya yang terbilang masih tampan, gagah dan apalagi kaya.
''Maaf ayah, Hana tidak bermaksud melukai hati ayah'' Hana menggenggam tangan ayahnya.
Panji tersenyum, ''itulah kenapa ayah selalu meminta mu untuk segera menikah, biarkan rumah ini ramai dengan suara cucu cucu ku nantinya''
deg,
'anak? apa ayah tau batin Hana'
__ADS_1
''ehem, ayah.. emm, apa tadi malam temanku yang mengantar ke rumah?'' tanya Hana sedikit khawatir.
Panji menggeleng, ''tidak, dia menelpon ayah dan memberitau keadaan mu yang pingsan. Ayah hanya menjemputmu dan dia pun pulang. Bahkan ayah lupa mengucapkan terimaksih dan menanyai namanya saat itu saking paniknya''
Hana tersenyum lega, sepertinya Ayahnya memang belum mengetahui keadaan dirinya yang sebenarnya.
''Namanya Tessa ayah, dia sahabatku yang baik. Dia selalu ada dan menolongku saat aku susah'' jelas Hana antusias saat menceritakan sahabatnya.
''Oh ya, suruh dia ke sini. Ayah ingin mengucapkan terimakasih untuknya'' Hana tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, ia senang jika ayahnya bisa menerima sahabatnya juga.
''Baiklah, ayah akan pergi ke kantor dulu. Kamu cepat habiskan makanan mu'' Panji membereskan sarapannya dan berdiri.
''Ayah..'' Hana mencekal tangan Panji saat hendak berdiri.
''hemm?''
''Ayah, mulai saat ini aku akan berubah untuk ayah, Hana janji akan menuruti ucapan Ayah. Aku juga mau mulai belajar menangani salah satu perusahaan Ayah'' Hana menatap serius wajah ayahnya.
Panji tersenyum geli melihat wajah serius putrinya, karena selama ini putrinya hanya tau cara menghabiskan uang tanpa mau tau seperti apa Ayahnya bekerja.
''Benarkah? memang bisa'' goda Panji
''ish, benar lah. Ayah tidak percaya sama Hana?'' ucap Hana cemberut sambil melipat kedua tangannya di dada.
Panji tertawa. ''ya.. Ayah percaya padamu nak. Kamu bisa memulainya kapan pun kamu siap''
Hana tersenyum, tapi senyuman itu tiba tiba luntur.
''Ada apa?'' tanya Panji melihat perubahan air muka Hana.
''Aku akan menuruti semua ucapan ayah, tapi tidak dengan perjodohan'' ucap Hana tegas.
Panji hanya menghelakan napasnya lalu mengangguk, ia pun segera bergegas menuju kantornya untuk melakukan rapat dengan kliennya pagi ini.
Hana yang telah melakukan sarapannya kembali ke kamarnya. Ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Tessa. Namun berkali kali menghubungi sahabatnya, tidak sekali pun mendapatkan balasan.
''hemhh..sepertinya dia sudah berangkat kerja'' Hana merebahkan tubuhnya di atas kasur.
sementara di lain tempat,
''Maaf, anda saya pecat.''
__ADS_1