
''emm, bagaimana kamu tau aku suka es krim stowberi?'' Hana mendelik.
''ah, itu-'' Arka gelagapan, ia tidak ingin mengatakannya sekarang.
Hana mengerjapkan matanya, ''kenapa?'' tanya Hana bingung, pasalnya Arka seperti orang yang tengah mengisi lembaran ujian.
Apa sesulit itu menjawabnya batin Hana.
''ehm, itu saya hanya asal mengambil saat di mini market, tapi jika nona Hana menyukainya saya senang'' Arka tersenyum.
''Ck, ku kira apa'' Hana mengigit es krimnya, Arka ikut menganga mengikuti mulut Hana yang tengah melahap es.
Hana yang sadar di perhatikan terus menjadi kesal. " kenapa liatin aja sih" ucapnya risih.
"Apa nona akan makan es krim itu semuanya?'' tanya Arka melihat 1 bungkus yang belum di buka, Hana juga ikut melirik bungkus es yang utuh.
''Kamu mau juga?'' tanya Hana sinis.
Arka tersenyum mengangguk.
''Cih, tadi ngasih tapi di minta balik'' Hana menggembungkan pipinya.
Arka tersenyum malu, ia menunduk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sebenarnya bukan es krim yang ia inginkan, tapi bibir merah yang tambah merona akibat dinginnya es dan juga lelehan es krim yang menempel di sudut bibirnya, entah setan mana yang lewat hingga Arka memikirkan untuk melahapnya juga.
''Gak ah, ini punyaku. kalau kamu mau, beli aja lagi'' ketus Hana, Arka mengangguk. ''Oh iya, kaki mu tidak apa apa kan?'' Hana melirik kaki Arka.
''Tidak apa, sudah tidak sakit lagi'' jawab Arka
''Bagus lah'' Hana manggut manggut, kemudian ia tersenyum sambil menatap es krim yang sudah habis menyisakan stik nya.
''Kamu tau, biasanya aku selalu makan es krim bersama sahabatku Tesa. Dia selalu membeli es krim coklat bertabur kacang, tapi isengnya dia juga selalu ikut mencicipi es krim yang ku punya'' Hana terkekeh, lalu melanjutkan ucapannya ''Dia juga curang, masa nyicipin malah di makan sampe setengahnya, dan itu selalu terulang setiap kali kita membeli es krim''
__ADS_1
Hana tertawa, begitupun Arka ikut tersenyum melihat wanita di sampingnya yang sedang menceritakan sahabatnya.
Tapi sedetik kemudian senyuman itu hilang.
''Sekarang aku gak tau dia dimana, sebenarnya apa yang terjadi dengan anak itu?'' Hana menghelakan napasnya, rasanya sedih di tinggal Sahabat tanpa kabar.
''Ini, buat mu saja'' Hana meletakkan es krim yang masih utuh di pangkuan Arka.
''Loh?, bukannya tadi-''
''Aku mau tidur'' Arka berdiri dan mengangguk, ia meninggalkan Hana.
''Oh iya..'' ucap Hana menghentikan langkah Arka.
Arka menoleh.
''Jangan panggil aku nona lagi, cukup Hana. Mulai sekarang kita berteman''
Arka tersenyum dan mengangguk, ia keluar dari kamar Hana dan menutup pintunya rapat. Sebenarnya ada yang ia ingin tanyakan tentang kejadian tadi, bukan masalah sahabatnya tapi laki laki yang tadi sempat bersitegang dengannya, hingga Arka harus mencium Hana, tapi sepertinya suasana hati Hana sedang kurang baik.
Hana memang cinta pertama Arka, sebenarnya sewaktu kecil Arka dan Hana adalah teman bermain, karena rumah mereka berhadapan hingga waktu itu ia harus pergi pindah rumah, karena sang Ayah yang saat itu membuka bisnis di kota lain.
Bertahun tahun lamanya, Arka tidak pernah melupakan Hana. Sahabat kecilnya, cinta monyetnya. Meskipun sepertinya Hana melupakan dirinya, tapi tidak dengan Arka begitupun janji mereka berdua.
flashback
''aaaa.. sakiiit'' teriak Hana kecil yang terjatuh karena tersandung saat mengejar Arka.
Arka menoleh, ia berlari menghampiri Hana yang menangis memegangi lututnya yang berdarah.
''Hana lutut mu berdarah'' Arka berjongongkok, ''jangan menangis'' Arka mengusap air mata Hana.
__ADS_1
''ini karena tadi aku mengejar kak Rezvan'' ucap Hana sesenggukan. Rezvan aliasa Arka Rezvan Arezhi adalah nama panjang Arka. Sedari kecil ia memang di panggil Rezvan, tapi entah bagaimana awalnya sejak pindah ke kota lain panggilan itu berubah menjadi Arka.
''Maaf ya, jangan menangis lagi. Ayo aku gendong'' Arka berjongkok dan membelakangi Hana
Hana terdiam, ia memiringkan kepalanya melihat raut wajah Arka.
''memangnya bisa'' ucap Hana tidak yakin
Arka hanya mengangguk, ''ayo naik saja, ini sudah mendung nanti hujan'' ucap Arka meyakinkan.
Hana menuruti dan naik ke punggung Arka, ia tersenyum dalam gendongan Arka, Hana sangat senang di gendong dan selalu di perlakukan seperti ratu oleh Arka.
''Apa aku berat?'' Hana bertanya di samping telinga Arka.
Arka menggeleng, ''tidak'' ucapnya bohong, padahal sebenarnya Hana cukup berat, tubuh dia dan Hana tidak berbeda jauh, hanya Arka yang memiliki tinggi yang lebih sedikit dari pada Hana saat itu. Umur mereka juga hanya terpaut 2 tahun saja.
Arka menurunkan Hana saat berada di depan pagar rumah Hana. Ia kemudian melambaikan tangannya berpisah untuk pulang, tapi Hana menarik tangan Arka.
''terimakasih kak Rezvan'' Hana mengelap kening Arka, ''jika besar nanti Hana ingin terus di gendong oleh kaka'' ucap Hana polos.
''tidak boleh'' jawab Arka datar
''kenapa?'' tanya Hana berkaca kaca.
''Jika sudah besar, aku hanya akan menggendong istri ku'' ucap Arka tak kalah polos.
''Kalau begitu, aku saja yang jadi istri kaka'' Hana memelas.
Arka terdiam, lalu mengangguk, ''oke'' ucapnya tersenyum, Hana melompat melupakan sakit di lututnya.
''Janji'' Hana mengacungkan kelingkingnya
__ADS_1
''Janji'' Arka membalas pautan kelingkingnya
Namun sejak saat itu mereka berpisah, bahkan Arka belum sempat berpamitan pada Hana saat itu.