
Rilia terlahir dari keluarga yang sederhana disebuah desa yang dinamakan dengan desa Kembang sore, ayahnya adalah seorang buruh tani sementara ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga.
Kehidupannya bisa dibilang sederhana karena jauh dari kemewahan, rumahnya hanyalah sebuah gubuk kecil yang terdiri dari 3 kamar, sementara kamar mandinya masih bergabung dengan tetangganya.
Rilia memiliki kakak perempuan yang bernama Ruri, Ruri dan Rilia adalah saudara kadung tetapi sikap keduanya sangat berbeda, jarak antara usia Rilia dan Ruri berbeda 10 Tahun, disaat itu Rilia masih berusia 7 tahun dan ia masih duduk dibangku Sekolah Dasar kelas 1.
Kehidupan Rilia begitu bahagia dikala itu begitu bahagianya karena memiliki orang tua yang begitu sangat menyayanginya meskipun Rilia adalah anak yang sangat bandel untuk dibilangi, kadang kala ia sampai membuat ibunya marah kepadanya karena hal sepele.
Karena dapurnya yang masih terbuat dari bambu membuat anak ayam suka masuk kedalamnya, hal tersebut membuat Rilia bahagia karena bisa bermain dengan anak ayam yang pada akhirnya akan berujung dengan membunuh anak ayam tersebut.
Karena kejadian itu membuat ibunya marah besar kepadanya sehingga ia dihukum tidak diberi uang jajan selama 2 hari, meskipun begitu Rilia selalu suka menggoda kemarahan ibunya dan pada akhirnya seluruh tubuhnya akan tercipta luka memar karena cubitan dari sang ibu, tetapi Rilia tidak pernah menyerah akan hal itu.
Rilia adalah seorang gadis kecil yang begitu lugu, dan aktif dalam hari harinya, tiada hari tanpa adanya ombelan dari sang ibu. Rilia memiliki watak yang keras kepala, ceria, suka tertawa, murah senyum, baik, polos, dan suka membantah apabila dibilangi, tetapi ia tidak pernah membantah ucapan dari orang tuanya.
Rilia memiliki sahabat yang bernama Suci, Vina, dan juga Nadia. mereka berempat selalu bermain bersama dan berbagi cerita bersama, kehidupan didesa sungguhlah indah. Rilia biasanya menghabiskan waktunya untuk bercanda gurau dengan sahabat disebuah gubuk kecil yang berada ditepi sawah.
Setiap pulang sekolah Rilia selalu bermain ditempat itu bersama sahabatnya, kadang kala Rilia akan memanjat sebuah pohon mangga yang berada ditengah sawah hanya karena melihat mangga yang sudah matang diatas pohon.
Kehidupan didesa begitu sangat menyenangkan hingga takdir mengubah semuanya, perceraian keluarganya telah merubah semua kehidupannya, yang awalnya Rilia adalah seorang gadis yang periang kini berubah menjadi gadis yang pendiam, gadis yang takut akan kegelapan menjadi temannya kegelapan, yang dulunya menangis karena terluka kini menjadi tertawa karena menutupi luka.
Awal kisah
Sepulang sekolah Rilia melihat ibunya yang tengah memasak cireng sambal untuk dijual oleh ayahnya, Rilia langsung ganti baju dan bergegas membantu sang ibu.
"Bu, biar aku bantu". Ucap Rilia.
"Emang kamu bisa nak? Nanti perih lo kena aroma cabe".
"Bisa bu".
Rilia langsung duduk disamping ibunya yang kini tengah mengulek bumbu yang digunakan untuk membuat sambal, sementara Rilia membantu ibunya dengan membulat bulatkan adonan cireng seperti yang ibunya lakukan setiap harinya.
__ADS_1
Tetapi hasil bulatannya sama sekali tidak rata ada yang besar dan ada yang kecil membuat ibunya menghela nafas panjang setelah itu ibunya memberi Rilia uang untuk menyuruhnya membeli jajan agar dagangan suaminya tidak rugi karena ukuran yang dibuat oleh Rilia berbeda beda.
Rilia lalu berlari keluar rumahnya untuk mencari penjual keliling yang biasanya lewat depan rumahnya, tak beberapa lama kemudian lewatlah seorang penjual buah potong keliling, Rilia segera mengejar penjual tersebut untuk membeli buah melon kesukaannya.
Tak beberapa lama Rilia mengejar akhirnya penjual tersebut berhenti, Rilia memberikan uang lima ribu kepada penjual tersebut, setelah itu ia memilih buah apa yang akan ia beli, setelah itu Rilia tidak mendapatkan kembalian.
"Pak kembaliannya!!". Ucap Rilia.
"Loh dek uangnya dua ribu, iya ngak ada kembaliannya dek".
"Tapi pak, aku ingat tadi ibuku memberiku uang lima ribu".
"Ah adek pasti salah menghitung, coba tanyakan kepada ibumu dulu".
"Aku akan tanya, tapi bapak tunggu disini ya".
"Iya".
Rilia segera berlari kerumahnya dan bertanya kepada sang ibu, sang ibu begitu terkejut mendengarnya, karena tadinya Rilia diberinya uang sejumlah lima ribu tetapi mengapa penjual itu mengatakan bahwa uangnya dua ribu, ibu Rilia segera memeriksa sakunya dan menemukan bahwa memang benar uang tadi berjumlah lima ribu.
Rilia merasa begitu kecewa karena hal itu, sebenarnya masih ada kembalian tiga ribu yang harus Rilia dapatkan tetapi kepergian penjualan tersebut membuat hatinya terluka, ibunya lalu mengajaknya pulang walaupun Rilia tidak ikhlas dengan itu.
"Sudahlah nak, mungkin bukan rezeki, ikhlaskan saja biar menjadi berkah". Ucap Ibunya untuk menenangkan Rilia yang tengah menangis.
"Tapi bu, uangku". Dengan mata berkaca kaca Rilia menatap wajah ibunya.
"Nanti dirumah ibu ganti, sekarang Rilia ngak boleh nangis".
"Tapi bu, ibu kan ngak salah kenapa harus ibu yang ganti? Rilia ngak mau ibu yang menggantinya, Rilia maunya orang itu yang harus menggantinya".
"Rilia ingat apa kata Pak Ustadz? mengenai amal?".
__ADS_1
"Ingat bu, tapi bukannya amal itu harus didoakan dulu sebelum diberikan kepada orang? tapi uang itu belum didoakan".
"Maksud Pak Ustadz, didoakan itu agar Rilia ikhlas memberikannya, kalo sekarang Rilia ikhlas itu artinya Rilia juga sudah beramal dengan penjual itu".
"Oh.. seperti itu ya bu, baiklah Rilia akan mencoba ikhlas".
Setelah perkataan ibunya tersebut membuat Rilia kembali tersenyum dan memakan buah yang ia beri baru saja, setelah buah yang ada ditangannya habis tak tersisa, Rilia segera bergegas mandi untuk pergi mengaji.
Rilia selalu berangkat mengaji paling awal daripada yang lainnya sehingga biasanya tempat dia mengaji masih tertutup dan guru yang mengajarnya masih belum datang, kali ini Rilia tetap berangkat paling awal ketempat ngajinya, karena tempat itu masih tertutup membuat Rilia mengeja iqro' yang ada ditangannya saat ini.
Tak beberapa lama kemudian datanglah Nadia dan Vina yang ikut serta mengaji ditempat itu, Rilia begitu bahagia ketika melihat teman temannya yang baru datang, karena Rilia menjadi yang pertama kali diajar oleh guru karena ia datang lebih awal.
"Aku pertama". Ucap Rilia dengan bangganya.
"Aku kedua". Ucap Vina dengan semangatnya.
"Yah aku yang terakhir". Ucap Nadia dengan pasrahnya.
Didesa itu seluruh anak kecil disiplin dalam mengajinya sehingga mereka akan berebutan tempat pertama yang akan diajar oleh sang kyai, tak beberapa lama kemudian segerombolan anak yang berusia sama sengan Rilia datang dan membuat keramaian ditempat itu karena berebutan nomor urut mengaji meskipun pihak pengajian tidak memberi beraturan seperti itu.
Bukan hanya anak yang sepantaran dengan Rilia yang mengaji ditempat itu, ada juga anak yang lebih tua dari mereka semua yang masih mengaji ditempat itu, sekelompok anak yang berusia sama dengan Rilia akan datang kepengajian lebih awal dari pada yang lainnya, kelompok dewasa akan datang terakhir karena banyak yang akan diberitahukan oleh sang kyai kepada mereka karena mereka sudah beranjak dewasa.
"Eh setelah ngaji kamu mau kemana Mbak Lia?". Tanya Vina.
"Ngak tau juga". Jawab Rilia dengan malasnya
"Ayo kerumahku, kita main boneka bonekaan".
"Wah, ide yang bagus itu, baiklah, eh Mbak Nad ikut ngak?". Wajah malas Rilia kini berubah menjadi wajah semangatnya, ia segera mengajak Nadia untuk bergabung dengan mereka.
Nadia dan Vina masih termasuk saudara sepupu Rilia, Vina adalah anak adik kandung dari ayah Rilia sehingga Vina memanggil Rilia sebagai kakak, sementara Nadia adalah anak adik kandung dari neneknya.
__ADS_1
"Boleh tu, kalo gitu setelah selesai ngaji ayo berkumpul dirumah Dek Vina, nanti aku ajak Suci sekalian gimana?". Tanya balik Nadia.
"Okeh". Jawab Vina dan Rilia serempak.