Child Of A Maid

Child Of A Maid
Bab 2


__ADS_3

Sore itu belalu dengan cepatnya, hingga waktu memisahkan mereka untuk bermain, setelah mendengar adzan magrib Rilia langsung bergegas mengambil mukenanya dan berangkat ke mushola terdekat dari rumahnya.


Setelah pulang dari mushola, Rilia segera bergegas pulang kerumah, ia mendapati bahwa kedua orang tuanya tengah bertengkar dan ibunya menangis, Rilia segera memeluk ibunya dan ikut menangis dipelukannya.


"Ibu, kenapa ibu menangis". Ucap Rilia sambil sesenggukan.


"Kamu kekamar dulu ya". Jawab ibunya dengan mengusap kepala Rilia.


Rilia hanya mengangguk menanggapi ucapan ibunya, ia lalu bergegas menuju kamarnya, Rilia membaringkan tubuhnya sambil memeluk boneka kesayangannya, airmatanya terus mengalir hingga membasahi bantal yang ia gunakan untuk tidur.


Diruang keluarga ibu dan ayahnya sedang bertengkar, mendengar pertengkaran itu membuat Rilia merasa begitu ketakutan, karena watak dari ibunya yang keras sementara ayahnya terus saja membela diri dan tidak mau disalahkan.


Brak... Ciarr...


Suara benda benda yang dilempar dapat terdengar dengan nyaring dari kamar Rilia, membuat hati Rilia merasa tersayat sayat, dapat terdengar suara isak tangis dari balik bantal tersebut.


Rilia begitu merasa terpukul karena hal itu, pertengkaran sebuah keluarga membuatnya hatinya begitu terluka, tiada kata yang mampu mengungkapkan isi hatinya, ia menutupi dirinya dengan selimut yang berlapis agar tangisnya tidak mampu terdengar oleh siapapun.


Tak lama kemudian datanglah neneknya kerumahnya, rumahnya dan rumah neneknya memang bersebelahan sehingga pertengkaran itu dapat terdengar dari rumah neneknya.


Setelah neneknya menasehati begitu banyak, akhirnya pertengkaran itu mulai meredah tak terasa Rilia pun tertidur dalam sambil memeluk boneka kesayangannya, sejak Rilia berusia 4 tahun, Rilia sudah terbiasa tidur sendiri dikamarnya.


****


Hari Hari berikutnya ayah Rilia diterima disebuah bank keliling sehingga ia sudah tidak berjualan cireng sambal lagi, sebenarnya itu adalah hal yang baik bagi keluarganya tetapi hal itu berbanding terbalik dengan apa yang keluarga harapkan.


Semakin bertambahnya hari semakin pula ayahnya berubah, yang tadinya hanya berpakaian biasa sekarang menjadi begitu rapi, yang tadinya tidak pernah memakai minyak wangi sekarang satu botol pun akan habis, ayahnya pun membeli hp baru dan sering memanfaatkan waktu luangnya untuk ber chatingan dengan hp tersebut.


Kadang kala Rilia meminjam hp tersebut karena ia begitu penasaran bagaimana caranya untuk menggunakan sebuah hp asli, karena Rilia tidak pernah memegang hp asli biasanya ia akan bermain dengan hp mainan.


Pada suatu hari didesa Kembang sore mengadakan sebuah pasar malam disepanjang jalan yang ada didesanya tersebut, Rilia begitu senang dan berjalan jalan sendirian untuk menikmati gemerlapnya lampu pasar malam, tidak sengaja ia lewati sebuah stand tempat orang berjualan mainan.


Rilia melihat kearah dimana sepatu barbie terpajang rapi distand tersebut, Rilia segera mendekat kearahnya dan melihatnya dengan teliti, Rilia terpanah dengan mainan tersebut.


"Pak ini berapaan ya?". Tanya Rilia dengan semangatnya.


"Itu lima belas ribu nak".


Rilia berdiam diri ketika mengetahui harga mainan tersebut, ia segera berpesan kepada penjual tersebut bahwa ia akan pulang untuk membelinya, setelah itu Rilia bergegas menuju kerumahnya.


Rilia mengeledahi seluruh isi kamarnya, untuk mencari uang yang selama ini ia tabungkan, uang yang ia temukan dikamarnya hanyalah sepuluh ribu saja, Rilia meminta uang kepada ibunya, tetapi hanya diberi ibunya sebesar tiga ribu rupiah saja, karena ibunya tidak memegang uang sama sekali sementara ayahnya belum juga pulang dari kerjanya, biasanya ayahnya akan sampai dirumah sebelum adzan magrib tetapi kali ini sampai setelah adzan isya' belum kunjung pulang.


Rilia menerima uang tersebut dengan senangnya, setelah itu ia mengumpulkannya menjadi satu, uang tersebut belumlah cukup untuk membeli mainan sepatu barbie tersebut, akhirnya ia berlari menuju rumah kakeknya.


"Kek, mau dipijat?". Tanya Rilia dengan semangatnya.


"Eh kenapa ini? kenapa tiba tiba menawari pijatan?". Kakeknya tersenyum kepada Rilia.


"Tapi ada syaratnya kek".


"Firasat kakek tiba tiba tidak enak, ada apa Rilia?".


"Nanti kakek harus bayar dua ribu". Rilia berkata sambil meringis.


"Hahaha... masih kecil sudah bisa bernegosiasi". Kakek tertawa lantang mendengar syarat yang diucapkan oleh Rilia.

__ADS_1


Rilia hanya tersenyum canggung karena sebenarnya ia tidak tau apa itu negoisasi, yang ia tau setiap kali ibunya menyuruhnya ia akan mendapatkan uang dari ibunya, hal itu lah yang membuat Rilia mencari kakeknya untuk memberinya upah karena hasil dari memijatnya.


Kakeknya pun dengan senang hati dipijat oleh Rilia, meskipun pijatan tersebut tidak terasa baginya, dengan semangatnya Rilia memijat agar ia mendapatkan mainan yang ia inginkan tersebut, setelah selesai memijat kakeknya segera memberinya uang itu.


Rilia segera bergegas menuju ketempat orang yang berjualan, tapi sayang sekali salah satu uang koin yang ada ditangannya hilang entah kemana, Rilia terlihat begitu sedih karena hilangnya uang tersebut sehingga uang yang ada ditangannya kini kembali tidak cukup untuk membeli mainan tersebut.


Tetapi untung saja, penjual tersebut sangat baik hati sehingga ia menerima uang tersebut dengan senangnya setelah itu penjual tersebut memberikan mainan yang diinginkan oleh Rilia, Rilia menerima mainan tersebut dan berlarian kegirangan menuju rumahnya.


Ibunya merasa senang melihat anak bungsunya begitu bahagia, tetapi hatinya begitu sedih karena suaminya belum juga pulang, tepat jam 10 malam ayah Rilia baru pulang dari kerjanya, kedua matanya begitu sangat merah dan seperti orang yang linglung.


Saat itu Rilia belum tidur karena ia begitu senangnya mendapatkan mainan baru, sehingga ia mengetahui bahwa ayahnya sudah pulang.


"Dek, kenapa kamu berubah menjadi jelek seperti ini?".


"Apa yang kau bilang mas?".


"Kamu berubah dek".


Rilia mendengarkan perkataan keduanya tersebut, Rilia benar benar tidak mengerti apa yang diucapkan oleh ayahnya, yang Rilia ketahui bahwa ibunya masih tetap sama cantiknya seperti biasa, tetapi mengapa ayahnya mengatakan bahwa ibunya jelek.


Tak beberapa lama kemudian keduanya kembali bertengkar seperti biasanya, Rilia membuang mainan tersebut hingga berserakan dilantai, Rilia ikut menangis ketika ibunya menangis seperti itu.


"Lihatlah anakmu!! dari tadi menunggumu pulang, ia ingin dibelikan mainan baru!! kau justru pulang selarut ini sampai sampai matamu berubah jadi merah".


"Diamlah!!! aku capek mendengar ocehanmu yang tidak jelas itu".


Ayah Rilia segera pergi meninggalkan rumah tersebut, melihat itu Rilia segera mengejarnya dan meminta ayahnya untuk menggendongnya, Rilia menangis dalam gendongan tersebut karena sedari tadi ia ingin mengajak ayahnya untuk pergi melihat pasar malam, karena masih ada satu mainan yang menarik minatnya.


Sesampainya ditempat yang ingin Rilia datangi dengan ayahnya, nampaknya pasar malam tersebut sudah berakhir dan jalanan tersebut sudah terlihat begitu sepinya, ayahnya mengajak Rilia untuk pulang kembali karena sudah tidak ada yang bisa dilihat lagi.


Rilia merasa aneh, karena para pemuda tersebut terus saja muntah muntah seakan mereka keracunan, ayahnya mengajak untuk mendekat para pemuda itu dan menanyakan sesuatu kepada mereka.


"Yah, mereka kenapa?". Tanya Rilia begitu polosnya.


"Mabuk nak".


"Mabuk? emang mereka dari mana? apa mereka naik bus terlalu jauh sehingga mabuk?".


Difikiran Rilia kata mabuk tercipta dari perjalanan jauh, karena waktu kecil Rilia diajak oleh ibunya naik bus sehingga dirinya mabuk dan muntah muntah diperjalanan tetapi seingatnya meskipun Rilia mabuk tetapi tidak pernah tuh terlihat seperti beberapa pemuda itu.


Rilia merasa takut ketika melihat para pemuda itu berteriak seakan akan mereka begitu kesakitan, ia segera bersembunyi dibalik dada ayahnya, Ayahnya mengambil sebuah botol yang berada dekat dengannya, botol tersebut berisi sebuah cairan berwarna sedikit coklat.


"Ayah, aku mau teh itu, aku haus".


Karena warnanya yang hampir mirip dengan Teh, Rilia berpikir bahwa itu adalah teh yang memang sengaja dimasukkan kedalam botol tersebut, Rilia berpikir bahwa para pemuda itu membawa bekal teh dari rumahnya seperti yang Rilia lakukan ketika Rilia diajak ibunya naik bus atau perjalanan jauh.


Ayahnya tersebut membuka tutup botol tersebut dan mencium aroma yang tercipta dari dalam botol tersebut, Rilia ikut menciumnya dan Rilia segera menutup hidungnya karena aroma yang ia hirup sama persis dengan aroma yang dikeluarkan oleh pemuda itu dari muntahnya.


"Huek". Rilia merasa jijik melihat pemuda itu terus saja memuntahkan sebuah cairan.


"Ini bukan teh, ini obat nak".


"Obat?". Rilia sontak merasa bingung mengenai ucapan ayahnya. "Lalu mengapa mereka memuntahkan obatnya? Ibu bilang kalo obatnya dimuntahkan itu artinya obatnya tidak bisa merasuk dan mereka tidak akan sembuh".


"Ini obat yang berbeda nak".

__ADS_1


"Obat untuk apa yah?".


"Untuk menghilangkannya masalah".


"Emang ada yah, aku mau coba dong yah, biar ayah dan ibu ngak berantem lagi karena membuatku ada masalah".


Ayahnya hanya diam mendengar ucapan anaknya itu, Rilia penasaran dengan minuman tersebut, ketika ia menyentuh botol yang ada ditangan ayahnya seketika seorang pemuda merebutnya dan kembali meminumnya.


"Yah,, kenapa matanya merah seperti ayah?".


Rilia memperhatikan kedua mata ayahnya dan kedua mata pemuda tersebut secara bergantian, seketika pemuda tersebut kembali terbaring didekat Rilia dan juga ayahnya, dan pemuda itu kembali termuntah muntah setelah meminumnya.


"Wek.. Rilia ngak mau tau, ayo pulang yah, Rilia ingin muntah melihat mereka".


Ayahnya segera kembali menggendong Rilia dan mengajak Rilia untuk pulang kerumahnya, setelah sampai dirumah ayahnya segera menurunkan Rilia didepan pintu rumahnya, setelah menurunkan Rilia ayahnya kembali melangkah menjauhi rumah tersebut.


"Ayah mau kemana?". Tanya Rilia.


"Kembali melihat mereka".


"Jangan yah, aku ngak mau ayah kembali, aku ingin tidur dengan ayah malam ini".


Rilia terus mengejar ayahnya dan menarik tangan ayahnya untuk masuk kedalam rumah dengan terpaksa ia mematuhi apa yang dikatakan oleh anaknya, setelah Rilia tertidur Rilia tidak mengetahui apa yang terjadi selanjutnya, ayahnya kembali keluar untuk menemui para pemuda itu.


Keesokan harinya adalah hari minggu, seperti biasanya ayahnya akan mengajaknya untuk berekreasi diwisata terdekat dengan dimana Rilia tinggal selama ini, Rilia mengajak ayahnya untuk berenang disebuah wisata yang bernama Tirta Agung, Keplaksari, Jombang.


Rilia masuk dengan ibunya saja, sementara ayahnya menunggu mereka ditepi jalan raya, entah mengapa ayahnya tidak ikut masuk kedalam untuk menemani Rilia bermain air dan perosotan didalam wisata tersebut.


Tetapi Rilia mengabaikan hal tersebut karena Rilia merasa begitu senang bisa bermain air dengan ibunya, ibunya juga tertawa ketika Rilia mencipratkan air padanya begitupun sebaliknya.


Setelah tiga jam berenang akhirnya ibunya mengajaknya untuk pulang, Rilia segera mengikuti perintah ibunya karena tubuhnya juga mulai kedinginan setelah berenang ditempat itu, perutnya juga sudah kenyang karena terus makan ditepi kolam renang karena ibunya yang menyuapinya.


Setelah Rilia berganti baju, keduanya segera bergegas menuju ketempat dimana ayahnya berada, dari kejauhan Rilia melihat bahwa ayahnya sedang mengobrol dengan seseorang melalui hp nya, ketika Rilia dan ibunya mulai mendekat seketika ayahnya memutuskan sambungan telfon tersebut dan dengan sesegeranya ia menyimpan hpnya disaku bajunya.


"Kenapa begitu cepat?". Tanya ayahnya.


"Cepat? ini hampir dhuhur lo yah". Jawab Rilia.


Rilia menatap kearah langit, ia melihat matahari sudah berada diatas kepalanya itu pertanda bahwa adzan dhuhur akan segera berkumandang, Rilia segera naik kesepedah motor ayahnya begitu pun ibunya melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Rilia.


Seketika sepedah itu melesat jauh meninggalkan tempat tersebut, tak beberapa lama kemudian sepeda motor tersebut berhenti disebuah warung pinggir jalan, Rilia dan ibunya segera turun dari sepedah motor itu, ayahnya mengajak masuk kedalam warung untuk mengisi perut mereka.


Ibu dan ayahnya hanya memesan bakso, sementara Rilia memesan mie ayam, pesanan itu tak lama kemudian datang kemeja mereka, Rilia langsung menikmatinya karena lamanya berenang membuatnya mudah sekali lapar sehingga Rilia mampu menghabiskan satu mangkuk mie ayam dan juga segelas es jeruk kesukaannya.


Rilia tetap fokus kepada makanannya tampa mempedulikan situasi disekitarnya, ia tidak mempedulikan percakapan antara ibu dan ayahnya, Rilia lebih memilih untuk segera menghabiskannya dan segera pulang kerumah karena ia begitu lelah hari ini karena habis berenang dan juga berjalan jalan.


(Author : Andaikan waktu bisa aku putar kembali, aku sangat merindukannya)


Rilia terlihat begitu bahagia karena kedua orang tuanya kembali akur seperti semula, seakan akan tidak ada pertengkaran diantara keduanya disaat mereka makan diwarung seperti ini.


Setelah menghabiskan semua pesanan mereka, mereka segera bergegas pulang, karena waktu sudah semakin siang dan dijalan sudah semakin panas, sehingga membuat ayahnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan tersebut.


Setelah beberapa lama kemudian akhirnya mereka sampai dirumah dengan selamat, Rilia langsung menuju kekamar mandi untuk mendinginkan tubuhnya dengan berwudhu karena terkena sengatan matahari siang yang begitu panas, setelah itu Rilia pergi kekamarnya dan Sholat. Setelah itu ia langsung membaringkan tubuhnya dikasurnya dengan menyalah kipas angin listrik.


Tak beberapa lama kemudian Rilia tertidur dengan pulasnya karena sejuknya udara yang diciptakan dari kipas tersebut dan juga nyamannya tempat tidurnya.

__ADS_1


__ADS_2