Child Of A Maid

Child Of A Maid
Bab 15


__ADS_3

Seketika rasa takut didalam hati Rilia mulai timbul ketika melihat kediaman dari Ibunya yang sedari tadi tidak bersuara, Rilia tidak berani untuk menatap wajah Ibunya, Rilia memutuskan untuk menundukkan kepalanya tanpa menoleh sedikitpun.


Tak beberapa lama kemudian, Ibunya kembali menarik tangannya untuk pergi dari tempat itu, Rilia tidak bisa berkata kata lagi selain hanya pasrah mengikuti langkah dari Ibunya itu tanpa membantah sedikitpun.


Tak beberapa lama kemudian Rilia dan Ibunya telah sampailah dirumah mereka, Rilia segera kembali kekamarnya karena rasa mengantuknya yang mulai hadir dengan begitu saja, sementara Ibunya memutuskan untuk menginap dirumah neneknya yang berada disebelah rumah Rilia setelah Rilia tertidur dengan begitu pulasnya.


Keesokan harinya Rilia terbangun dari tidurnya dengan suasana hati yang berbeda, kali ini Rilia nampak begitu murung dan bahkan untuk makan saja dirinya tidak berselera sama sekali sehingga Rilia hanya meminum air putih saja sebelum berangkat kesekolah.


"Li, ngak makan dulu?". Tanya Ibunya.


"Ngak Bu, lagi ngak berselera makan, masih kenyang".


"Kamu kan belom makan apa apa dari pagi, bagaimana bisa kenyang Nak?".


"Lia mau berangkat sekolah sekarang Bu, nanti telat".


"Bentar benar, biar Ibu siapin bekal dulu buat kamu, nanti dimakan ya di sekolahan".


"Ngak usah Bu, Lia sudah telat, Assalamualaikum". Ucap Rilia sambil menjabat tangan Ibunya dan menciumnya untuk berpamitan berangkat sekolah.


"Waalaikumussalam".


Rilia segera bergegas berangkat kesekolahnya, sesampainya disekolah Rilia nampak begitu murung dan tidak berselera untuk bergabung dengan yang lainnya, hal itu membuat teman temannya kebingungan dengan apa yang dilakukan oleh Rilia pagi ini.


"Li? Apa kamu sakit?". Tanya Suci.


"Ngak, aku ngak papa kok". Jawab Rilia.


"Li, apa kamu ada masalah? Cerita dong ke kita, siapa tau kita bisa bantu". Ucap Vivi teman sekelasnya.


"Aku ngak papa, hanya rasanya malas saja hari ini".


"Beneran kamu ngak papa Li? Sikapmu kali ini beda banget, biasanya juga bikin ulah dikelas, tapi kenapa sekarang tiba tiba kamu diam saja seperti ini".


"Mungkin aku hanya lelah saja, aku ngak papa kok beneran".

__ADS_1


"Ya susah kalau begitu Li, kalau ada apa apa cerita lah ke kita, siapa tau kita bisa bantu, ya kan teman teman". Ucap Bayu.


"Betul tuh Li". Jawab mereka serempak.


kringg.... kringg....


Suara bel masuk sekolah berbunyi dengan begitu nyaringnya dikelas Rilia, mendengar bel itu para siswa segera bergegas keluar kelas untuk berbaris sebelum masuk kedalam kelas, setelah itu mereka segera bergegas menuju ke bangkunya masing masing dan memulai pelajaran.


Pelajaran itu segera dimulai, guru kelas mereka segera menerangkan pelajaran sementara para siswa mendengarkannya dengan seksama, ketika ditengah tengah pelajaran tiba tiba pintu kelas mereka diketuk oleh seseorang, guru yang mengajar kelas itu segera melihat siapa yang tengah mengetuk pintu tersebut.


Guru dan orang yang mengetuk pintu tersebut berbincang bincang cukup lama, seluruh siswa tidak memperhatikan itu, mereka lebih memilih untuk memperhatikan buku mereka masing masing.


"Rilia, kemari". Ucap guru tersebut.


Rilia yang fokus kepada bukunya segera mengangkat kepalanya ketika mendengar namanya dipanggil oleh guru tersebut, Rilia merasa kebingungan kenapa tiba tiba dirinya dipanggil setelah seseorang mengetuk pintu tersebut.


"Ada apa Bu?". Tanya Rilia.


Mendengar namanya dipanggil membuat Rilia segera bergegas untuk berdiri didepan guru kelas itu, Rilia tidak mengetahui kenapa dirinya yang panggil saat ini, apakah Rilia telah melakukan kesalahan, akan tetapi seingat Rilia, pagi ini dia tidak melakukan apapun yang membuat siapapun marah padanya.


"Kamu tadi belum makan kan Nak, ini Ibu bawakan bekal, dan tadi uang sakumu juga ketinggalan Nak, jadi Ibu antarkan kemari".


Ucap Ibunya sambil menyodorkan sekotak makanan kepada Rilia, Ibunya juga memberikan selembar uang lima ribuan kepada Rilia sebagai uang sakunya, Rilia merasa sedih ketika melihat Ibunya yang sangat menghawatirkan dirinya saat ini, Rilia tidak bisa berkata kata lagi selain air matanya yang keluar dari pelupuk matanya yang sayup itu.


"Nanti kalau istirahat cepat dimakan ya Nak, Ibu tidak ingin kamu kelaparan". Ucap Ibu Rilia.


Rilia segera menjatuhkan diri didalam pelukan Ibunya, ia tidak tau lagi harus mengatakan apa kepada Ibunya, dirinya begitu bahagia ketika ada sosok seseorang yang sangat peduli dengan dirinya, hanya sosok Ibunyalah yang mau mengerti dirinya selama ini.


Ibunya segera membalas pelukan dari anaknya itu, kejadian kemarin malam begitu membekas dihati Rilia, didalam hatinya masih tersimpan sebuah kemarahan, kekecewaan, dan bahkan kesedihan sehingga membuat Rilia sangat tidak berselera untuk makan ataupun bercanda gurau dengan teman temannya tidak seperti biasanya.


"Ya sudah, Ibu pulang dulu ya Nak, kamu belajar yang rajin, dengarkan apa yang Bapak Ibu guru katakan".


"Iya Bu, Rilia mengerti".


"Jangan lupa dimakan bekalnya, Ibu sudah susah payah untuk membuatkanmu bekal dan membawanya kemari, nanti Ibu sedih kalau Rilia tidak memakannya".

__ADS_1


"Iya Bu, nanti kalau istirahat Rilia pasti memakannya kok, Rilia tidak mau melihat Ibu sedih".


"Maafkan Ibu, Ibu belum bisa menjadi Ibu yang terbaik untuk Rilia, Ibu akan berusaha sebisa Ibu untuk menjadi Ibu yang paling terbaik untuk Rilia".


"Bagi Rilia, Ibu adalah Ibu terbaik untuk Rilia, Rilia sangat menyayangi Ibu".


"Ya sudah Ibu pulang ya, belajar yang rajin biar bisa meraih apa yang Rilia impikan selama ini".


"Iya Bu".


Ibunya segera bergegas pergi dari sekolah itu setelah Rilis mencium tangannya dan mengucapkan salam, setelah bayangan Ibunya sudah tidak terlihat, Rilia segera bergegas untuk masuk kedalam kelasnya untuk melanjutkan pelajarannya.


Bau dari bekal tersebut seketika membuat perut Rilia berbunyi akan tetapi Rilia sama sekali tidak berselera untuk makan, dari baunya Rilia dapat menebaknya bahwa ini adalah makanan kesukaannya, yakni ayam kecap buatan Ibu tercintanya.


"Lia, masakan Ibumu wangi banget ya, bikin perut lapar". Ucap Febi teman Rilia yang berada disebelahnya.


"Iya dong, masakan Ibuku tuh enak banget, ngak ada yang menandingi deh pokoknya". Jawab Rilia.


"Beneran? Nanti aku minta ya".


"Tidak! Ini dia siapkan khusus untuk aku seorang, kalau kamu mau minta ya datang saja kerumah langsung, jangan minta yang ini, ini Ibuku bawakan hanya untuk aku bukan untuk yang lainnya". Ucap Rilia.


"Yah, Lia mah gitu, ngak mau berbagi".


"Ngak mau berbagi katamu? Lah selama ini kalau kamu minta selalu aku kasih itu apa? Kan hanya baru ini saja aku tida memberimu karena ini adalah usaha Ibuku agar aku memakannya, bukannya aku tidak mau berbagi, tapi aku tidak mau melihat Ibuku sedih karena makanannya bukan aku yang makan".


"Ya sudah kalau emang begitu, makan saja sendiri".


"Ya iya lah, mau aku makan dengan siapa lagi kalau ngak sendiri, ini Ibuku buatkan khusus untukku masak iya harus diberikan kepada yang lainnya".


Febi terlihat begitu kecewa dengan Rilia karena Rilia menolak untuk membagikan makanan itu kepadanya, tanpa Rilia sadari bahwa Febi tengah menghasut teman temannya untuk membenci Rilia karena Rilia tidak mau memberikan makanan itu kepadanya.


Berbagai macam kebohongan yang diucapan oleh Febi agar teman temannya mempercayai dirinya untuk membenci Rilia.


...Jangan lupa like dan dukungannya 🥰...

__ADS_1


__ADS_2